Bab Seratus Lima Puluh Empat: Pembukaan Rumah Makan
Helan Tang tersenyum tipis, tidak memedulikannya.
"Kakak Ketiga adalah orang yang selalu terburu-buru mengejar hasil instan. Perjalanan kali ini tidak memberinya keuntungan secara langsung, jadi tentu saja dia merasa aku tidak membantunya sama sekali. Namun, tidak apa-apa, aku pergi demi Ning Huaiyan, bukan demi dirinya. Masalah ini akan segera menemui kejelasan. Bagaimanapun, tindakan memanggil orang untuk meramal menunjukkan bahwa dia masih sangat takut terhadap masalah ini. Jika Tuan Jin itu benar-benar seorang manusia dewa, dia pasti mampu meramalkan urusan di Zezhou."
"Jadi, Yang Mulia pasti akan menghukum si penjahat Ding Guan dan pejabat bejat Luan Yushu itu?"
"Hampir bisa dipastikan. Hanya saja, kita harus melihat cara apa yang akan dia gunakan."
Helan Tang menatap Tao Zhuozhuo, lalu menggoda, "Bukankah kau ingin menjadi pejabat wanita? Kenapa sekarang urusan pengadilan istana juga kau perhatikan? Mungkinkah kau ingin masuk ke istana untuk menjadi pejabat?"
Tao Zhuozhuo seketika membelalakkan kedua matanya dan menggelengkan kepala berulang-ulang.
"Mana mungkin hamba layak menjadi pejabat di istana! Mengenal satu karakter saja tidak becus, kepala pun tidak cerdas. Jika hamba menjadi pejabat istana, bukankah hamba akan menjadi Pendosa Fengyuan? Memikirkannya saja hamba sudah merasa konyol. Bisa menjadi pejabat wanita seumur hidup ini sudah merupakan kemampuan terbesar hamba."
Ucapannya yang polos dan jujur itu berhasil membuat Helan Tang tertawa.
"Tenang saja, aku pasti akan membantumu mewujudkan impian menjadi pejabat wanita. Namun besok kau harus mengumpulkan semangatmu untuk membambut para tamu dengan baik. Jika pembukaan toko kita besok berjalan lancar, ke depannya kita tidak perlu sering-sering keluar istana dan mengkhawatirkan hal-hal semacam ini lagi."
"Yang Mulia tenang saja. Hari ini saat Yang Mulia pergi ke kediaman Ning, hamba menyelinap masuk ke Kuil Dewi Taohua dan membakar banyak dupa. Besok Dewi Langit pasti akan memberkati toko kita agar pembukaannya berjalan lancar!"
Keduanya berjalan masuk sambil berbicara dan tertawa.
Keesokan harinya, tatkala langit belum sepenuhnya terang, suara gaduh dari halaman sudah merayap masuk ke telinga Helan Tang.
Ia membuka matanya, lalu menghela napas dengan sedikit kelelahan.
Ia baru saja tidur sekitar satu jam, tetapi sudah dibangunkan.
Tao Zhuozhuo mendorong pintu dari luar. Melihat Helan Tang berbaring di atas tempat tidur dengan mata terbuka dan ekspresi yang kurang menyenangkan, rasa bersalah pun muncul di hatinya.
"Yang Mulia, Anda terbangun ya? Hamba baru saja berpesan kepada mereka agar tidak terlalu berisik."
Helan Tang mengucek matanya, bangkit dari tempat tidur, lalu menyipitkan mata memandang ke luar jendela.
"Begitu gaduh di luar, ada apa?"
Tao Zhuozhuo menurunkan gaun yang telah disiapkan untuk Helan Tang dari gantungan baju.
"Bukankah rumah makan kita buka hari ini? Semua orang tidak bisa tidur, jadi mereka bangun pagi-pagi sekali, katanya untuk menyambut Dewa Kekayaan. Saat ini Kak Dachu sedang berdiri di luar pintu sambil memegang petasan, menunggu waktu yang tepat untuk menyulutnya. Apakah Yang Mulia ingin bangun? Hamba akan keluar untuk mengambilkan air bagi Yang Mulia..."
Suara letupan petasan "pletus-pletus" tiba-tiba bergemuruh di luar pintu.
Separuh kalimat terakhir Tao Zhuozhuo langsung tenggelam dalam suara gemuruh petasan yang memekakkan telinga.
-
Semua orang berdiri di luar Gedung Haiping sambil menutup telinga dan tersenyum lebar, menyaksikan rentetan petasan yang diikat pada sebatang kayu terbakar dan meledak berderai-derai.
Petasan pun selesai dinyalakan.
Paman Kelima berdiri di pintu masuk utama, memegang sebuah gong emas dan pemukul berbalut kain merah, lalu memukulnya dengan kuat sebanyak tiga kali.
"Dewa Kekayaan tersenyum, emas dan perak datang! Segala urusan berjalan lancar membawa berkah! Gedung Haiping menyambut Dewa Kekayaan!"
Begitu suaranya reda, beberapa pelayan pria yang kekar dari Xiangnan memikul sebuah patung besar Dewa Kekayaan, berjalan keluar dari balik kerumunan.
Mereka memikul Dewa Kekayaan dan mengelilingi lantai dasar Gedung Haiping beberapa putaran.
Paman Kelima berjalan di samping sambil mengucapkan kata-kata sanjungan dan keberuntungan kepada Dewa Kekayaan.
Setelah itu, mereka memikul patung Dewa Kekayaan keluar dari Gedung Haiping sekali lagi.
Chunshui berdandan khusus hari ini. Ia yang biasanya selalu mengenakan pakaian berwarna polos kini berganti mengenakan gaun merah, rambutnya disanggul rapi, wajahnya dibubuhi bedak dan perona pipi, membuatnya tampak begitu ceria dan berseri-seri.
Ia berdiri di atas tangga, meraih selembar kain merah besar yang menutupi plakat, lalu menariknya dengan kuat.
Kain merah itu jatuh ke tanah, menampakkan plakat berlatar hitam dengan tulisan emas bertuliskan tiga karakter "Gedung Haiping".
"Gedung Haiping hari ini resmi dibuka! Mulai hari ini, dipersilakan para tamu agung sekalian untuk datang dan memberikan dukungan!"
Para pelayan di toko berseru memanggil para pengunjung yang datang untuk masuk ke dalam.
Sebagai pemilik toko, Chunshui tentu saja harus menyambut para tamu agung terlebih dahulu.
Ia berjalan ke hadapan ketiga kakak beradik bangsawan, yaitu Helan Tang, Helan Min, dan Helan Zhi, lalu membungkuk memberikan hormat yang dalam.
"Terima kasih yang sebesar-besarnya hamba haturkan kepada Tiga Yang Mulia dan para tamu agung karena telah sudi datang memberikan dukungan! Silakan, mari masuk!"
Chunshui memimpin ketiga kakak beradik istana beserta Xiu Bo dan Ning Huaiyan langsung menuju ke lantai dua.
Karena memang tidak banyak meja di sana, kedatangan mereka langsung memenuhi ruangan.
"Hari ini hamba secara khusus memerintahkan orang untuk menyiapkan tempat duduk privat di lantai dua bagi Yang Mulia sekalian. Silakan menikmati makanan dan minuman dengan nyaman. Hari ini situasinya ramai dan sibuk, jika ada pelayanan yang kurang berkenan, mohon dimaafkan oleh Yang Mulia sekalian."
Helan Min, yang melipat kedua tangannya di punggung, mengamati sekeliling toko dari atas ke bawah dengan ekspresi penuh cemoohan.
"Baru kali ini aku melihat rumah makan yang begitu kecil."
Helan Tang di samping sengaja memasang ekspresi tidak terima, "Rumah makan tidak harus selalu besar baru bagus, yang penting makanannya enak, bukan begitu Kakak Kedua?"
Helan Zhi tersenyum dan mengangguk menyetujui, "Apa yang dikatakan Keenam Adik benar sekali."
Helan Min melirik Helan Zhi dengan pandangan meremehkan, mengibaskan kipas di tangannya untuk mendinginkan diri, lalu menoleh ke arah Helan Tang.
"Rumah makan ini dibuka oleh orangmu, makanan apa yang ada di sini? Hidangkan semua yang ada."
Mendengar hal itu, Helan Tang seketika tampak bersemangat.
Ia menarik tangan kakak keduanya dengan satu tangan, dan menarik tangan kakak ketiganya dengan tangan yang lain.
"Kakak Kedua, Kakak Ketiga, ikuti aku."
Ia menyeret keduanya dari lantai atas ke halaman belakang rumah makan, lalu menunjuk ke arah delapan atau sembilan kolam cetek di atas tanah.
"Makan apa pun di sini dipilih sendiri. Ingin makan yang mana, panggil orang untuk mengambilnya, ditimbang, lalu dipilih cara memasaknya."
Chunshui menjelaskan di samping, "Gedung Haiping kami khusus menyajikan hidangan hasil laut. Demi memastikan para tamu dapat menikmati makanan yang masih hidup dan segar, kami meminta para tamu untuk memilihnya sendiri. Silakan Tiga Yang Mulia lihat-lihat, ingin makan apa, silakan pilih sesuka hati."
Cara bersantap seperti ini belum pernah dilihat oleh siapapun yang hadir di sana.
Helan Zhi merasa hal ini sangat menarik. Ia menjulurkan lehernya, berjalan kian kemari di depan beberapa kolam cetek, dan akhirnya berhenti di depan kolam kerang benang perak.
"Ini... benda apa ini? Berkilau-kilau."
Tao Zhuozhuo, yang sedari tadi mengikuti di sisi Chunshui, maju untuk memperkenalkan.
"Menjawab Yang Mulia Ketiga, ini adalah kerang benang perak. Karena cangkangnya memantulkan kilau perak samar di bawah sinar matahari, dan kilaunya bergaris-garis, maka dinamakan kerang benang perak. Daging kerang benang perak terasa sangat segar dan kenyal. Umumnya, dua rasa yaitu tumis pedas membara dan tumis bawang putih adalah yang paling lezat. Tentu saja, jika Yang Mulia menyukai cita rasa aslinya yang segar, dipanggang garam maupun dikukus sama-sama lezat."
Tumis pedas membara, tumis bawang putih, panggang garam...
Makanan apa sajakah ini?
Penjelasan panjang lebar dari Chunshui membuat kepala Helan Min terasa pusing.
Dibandingkan dengannya, Helan Zhi yang pernah keluar dari Fengyuan sedikit lebih baik.
Masakan pedas jarang ditemui di Fengyuan, tetapi orang-orang di Qingzhou menyukai makanan asin dan kerap menambahkan cabai ke dalamnya.
Ia menoleh ke arah Helan Min, dengan senyum penuh nada menggoda, "Jika Adik Ketiga tidak memahaminya, bagaimana kalau aku yang memilih lebih dulu?"
Helan Min adalah tipe orang yang paling tidak bisa diprovokasi.
Begitu mendengar Helan Zhi berkata demikian, ia langsung merasa tidak terima.
"Untuk apa Kakak Kedua terburu-buru? Tentu harus ada urutan siapa yang lebih dulu."
Dengan ekspresi angkuh, Helan Min menunjuk secara sembarangan, "Yang ini, yang itu, dan yang itu lagi, lalu ambilkan satu ekor ikan. Ikannya harus utuh satu ekor, udangnya dua jin, dan sisanya ambil masing-masing satu jin untuk dicicipi."