Bab Seratus Tujuh: Penjumlahan dan Pengurangan dalam Angka Seratus
Begitu mendengar nama "Selir Hui Zhao", Xiao Yan yang sedang berbaring di dipan sambil tidur mangap langsung membuka matanya lebar-lebar seperti ayam jantan yang siap bertarung.
"Kenapa dia datang? Untuk apa dia ke sini?"
"Kakak Ipar, tenanglah. Biar aku yang keluar melihatnya. Tang Er, bantu Nona keluarga Ning bangun, lalu ajarkan padanya apa yang baru saja Bibi ajarkan kepadamu."
Helan Shuwan melangkah keluar.
Helan Tang melirik Ning Shangchu, lalu menatap Tao Zhuozhuo.
"Zhuozhuo, kau ajarkan apa yang baru saja Bibi ajarkan padaku kepada Kak Shangchu, aku akan keluar melihatnya."
Ia bangkit dari lantai, memukuli kakinya yang pegal, lalu berlari keluar.
Helan Tang bersembunyi di balik pilar, mengamati Selir Hui Zhao yang sedang memberi hormat dengan sopan kepada Helan Shuwan.
"Salam hormat untuk Yang Mulia Putri Sulung. Kedatangan saya hari ini adalah khusus untuk meminta maaf. Kata-kata saya di aula besar tadi mungkin membuat Yang Mulia tidak berkenan, saya mohon Yang Mulia berjiwa besar dan tidak memasukkannya ke dalam hati."
Helan Shuwan tersenyum, "Selir Hui Zhao bisa dibilang sudah lama kukenal. Sejak Kakanda masih tinggal di kediaman pangeran, Selir Hui Zhao sudah masuk ke istana. Karena kita sudah lama saling mengenal, tidak perlu sungkan dan kaku seperti ini. Selir Hui Zhao melakukan segalanya demi Kakanda, bagaimana mungkin aku merasa marah?"
"Yang Mulia sungguh murah hati, saya pun merasa lega. Sejujurnya, kedatangan saya hari ini adalah untuk memohon bantuan."
"Katakanlah, Selir Hui Zhao."
"Di istana ada seorang Selir Gui yang telah melahirkan Putri Kelima bagi Baginda. Namun, karena perbuatannya yang keji dan meracuni para selir lain, dia dimasukkan ke istana dingin hingga meninggal dunia. Kasihan sekali Putri Kelima, di usia yang sangat muda sudah kehilangan ibunya. Baginda pun menyerahkan tanggung jawab pengasuhannya kepada saya. Kini usianya baru enam tahun, sudah saatnya dia mendaftar ke akademi. Saya ingin memohon bantuan Yang Mulia, apakah berkenan menerimanya untuk belajar bersama?"
Helan Tang baru sadar, ternyata ini rencana Selir Hui Zhao.
Helan Shuwan sendiri tidak memiliki masalah pribadi dengan Selir Hui Zhao.
Putri Kelima Helan Zhu, siapa pun ibunya, tetaplah darah daging Helan Yongren.
Tentu saja tidak boleh pilih kasih.
Pastinya Helan Shuwan akan menyetujuinya, tidak ada yang menarik untuk ditonton.
Hanya saja, aneh rasanya. Selir Hui Zhao yang tiba-tiba muncul ini seperti lintah yang terus menempel pada ibu dan dirinya.
Beberapa hari lalu ia bertanya pada ibunya, baru tahu bahwa saat acara bercerita, Selir Xie Wanyi membuat keributan, dan Selir Hui Zhao adalah orang yang ikut memprovokasi.
Tindakan menyudutkan seperti ini bukan kali pertama terjadi.
Jika saja tugasnya tidak terlalu menumpuk, ia pasti sudah menyelidiki apa sebenarnya niat tersembunyi Selir Hui Zhao itu.
Di dalam ruangan, Ning Shangchu sedang menelungkup di meja. Tidak peduli bagaimana Tao Zhuozhuo membangunkannya, ia tetap tidak mau membuka mata.
"Menulis tentang bunga dan pohon aku bisa, menulis tentang buah-buahan pun aku bisa. Kak Zhuozhuo, jangan siksa aku lagi. Kau tahu sendiri kalau kembali ke istana berarti harus belajar, aku lebih baik mati daripada harus kembali ke sana!"
Helan Tang menggeleng pasrah, lalu menatap ibunya.
"Selir Hui Zhao ingin menitipkan Helan Zhu untuk belajar. Nanti kalau Bibi menanyakannya, Ibu setujui saja, jangan sampai membuat orang lain merasa sulit."
"Tentu, aku mengerti tata krama duniawi seperti itu."
***
Keesokan paginya.
Saat tiba di Istana Yaxin, mereka mendapati Helan Zhu sudah datang lebih dulu.
Lama tidak bertemu, Helan Zhu masih tetap sombong seperti biasa. Ia menatap Helan Tang dengan dagu terangkat, menunjukkan rasa tidak sukanya.
Hari ini, Helan Shuwan mengajarkan belasan karakter sederhana lagi.
Helan Zhu sengaja berteriak dengan suara keras, "Bibi, semua ini aku sudah bisa! Bisakah Bibi mengajarkan yang lain? Misalnya cara membuat puisi. Kemarin aku sudah membuat beberapa, bagaimana kalau Bibi mendengarkannya dan menilai bagaimana puisi buatanku?"
Helan Shuwan menatapnya dengan raut tidak suka.
"Adikmu saja belum mengenal semua huruf dasar, bagaimana mungkin bisa membuat puisi? Zhu'er, kau harus belajar rendah hati. Jangan karena merasa sudah belajar lebih banyak dan lebih cepat dari yang lain, kau lantas menjadi sombong."
Helan Zhu yang ditegur merasa tidak terima.
"Bibi jelas pilih kasih! Aku dan Tang Er sama-sama anak Ayahanda, kenapa Bibi hanya memedulikan apa yang dia pelajari dan tidak mempedulikan apa yang ingin kupelajari? Bibi pilih kasih, Bibi bukan hanya bibinya dia, tapi juga bibiku, kenapa harus lebih memihak padanya?"
Helan Zhu menangis tersedu-sedu.
Tangisan itu membuat Helan Shuwan merasa serba salah.
Xiao Yan yang berada di samping merasa jengah, tetapi karena Helan Zhu masih anak-anak, ia sebagai orang dewasa tidak bisa berkata kasar.
Ning Shangchu menunjuk Helan Zhu, "Lihat dia—"
Helan Tang membekap mulut Ning Shangchu dan memaksanya duduk.
"Jangan hiraukan dia. Semakin diladeni, dia akan semakin menjadi-jadi, merepotkan sekali."
Ning Shangchu hanya bisa menurut dan bergumam pelan, "Aku benar-benar ingin memberinya cambukan."
Helan Tang menatap tulisan-tulisan jeleknya sendiri, lalu menghela napas.
"Bibi, turuti saja keinginan Kakak Kelima."
Helan Shuwan menatap Helan Tang dengan bingung, "Tang Er, kau saja belum mengenal semua huruf sederhana, bagaimana bisa mengerti nanti?"
Helan Tang tersenyum manis.
"Aku bisa mengerti, sambil mendengar sambil belajar. Yang tidak mengerti akan kutandai, nanti malam aku akan menghafal dan mempelajarinya pelan-pelan."
Helan Shuwan menatap Helan Tang dengan bangga, lalu melirik Helan Zhu dengan tatapan tidak suka.
[Sama-sama putri Kakanda, tapi perbedaannya sungguh bagai langit dan bumi.]
"Baiklah, kalau begitu kita belajar berhitung, nanti baru belajar Kitab Puisi."
Helan Shuwan berkata, "Pertanyaan: Di sebuah desa, ada sebuah keluarga yang memelihara lima ekor babi, empat ekor sapi, serta sepuluh ekor ayam dan bebek masing-masing. Berapakah jumlah total hewan ternak keluarga tersebut?"
Begitu mendengar pertanyaan itu, mata Helan Tang berbinar.
"Soal ini aku bisa!"
Helan Zhu yang baru saja memegang kuas untuk menghitung menoleh ke arah Helan Tang dan mengejek, "Kau saja tidak bisa menulis, jangan sok pintar."
"Aku benar-benar bisa! Jumlah hewan ternaknya ada dua puluh sembilan."
Helan Shuwan bertepuk tangan dengan gembira, "Benar, Tang Er sungguh pintar."
Helan Zhu terpaku, menoleh ke arah Helan Tang dengan wajah merah padam.
"Bibi, dia pasti cuma menebak-nebak!"
"Baiklah, kalau begitu Bibi beri soal yang lebih sulit. Kira-kira saat ujian masuk nanti, soal seperti ini akan muncul. Kalau Tang Tang tidak bisa menjawab juga tidak apa-apa."
Ia menopang dagu dengan jari telunjuknya, menunduk sejenak untuk berpikir.
"Pertanyaan: Sebuah toko perhiasan memiliki total seratus perhiasan; terdiri dari tiga puluh tusuk konde, sepuluh pasang gelang giok, dua puluh lima tusuk hiasan rambut, dan lima belas buah cincin. Saat toko tutup, tersisa lima tusuk konde, tiga pasang gelang giok, lima belas tusuk hiasan rambut, dan tujuh buah cincin. Berapa total perhiasan yang terjual hari itu, dan berapa jumlah masing-masing jenis yang terjual?"
Helan Tang menatap semua orang yang menatapnya dengan antusias—kecuali Xiao Yan.
"Itu..."
Ia menggaruk kepalanya, "Tadi hiasan rambutnya ada berapa ya?"
Xiao Yan hampir pingsan karena memutar bola matanya.
Apakah daya ingat anak ini sangat buruk?
"Ingat, ingat! Hari itu terjual enam puluh tujuh buah perhiasan. Tusuk konde terjual dua puluh lima, gelang giok terjual tujuh pasang, hiasan rambut terjual sepuluh, dan cincin terjual delapan."
"Tang Er, kau benar-benar anak ajaib yang turun ke dunia!"
Helan Shuwan menerjang maju dan meremas pipi Helan Tang dengan gemas.
"Begitu cepat menghitung semua angka itu, kau benar-benar hebat! Sungguh cerdas! Jika belajar dengan giat, kau pasti bisa masuk ke Akademi Lingxiao!"
Helan Tang membuka matanya lebar-lebar.
Ia tidak pernah menyangka, momen kejayaannya setelah bereinkarnasi justru adalah saat menghitung penjumlahan dan pengurangan di bawah seratus.