Bab Tiga Puluh Satu: Pemberian Gelar untuk Tao Zhuozhuo
Helan Tang memeriksa berkas baru dengan saksama, memastikan tidak ada masalah.
“Hari ini sungguh merepotkan Bibi,” katanya.
Chun Rong membalas dengan senyuman, “Itu memang sudah menjadi tugasku.”
Chun Rong selalu tampil tenang dan tersenyum, seolah-olah menyimpan banyak rahasia yang sulit ditebak oleh siapa pun.
Aneh sekali, Helan Tang tak pernah bisa membaca isi hati Chun Rong.
Menggunakan jasa Chun Rong, namun di saat yang sama harus terus waspada terhadapnya—perasaan semacam itu membuat Helan Tang sangat tidak nyaman.
“Kali ini semua bisa berjalan lancar berkat bantuan Bibi. Namun, sebelumnya aku sudah bilang, saat meminta uang dari Xie Wanyi, cukup katakan bahwa pengeluaranku terlalu besar. Mengapa Bibi justru menggunakan diri sendiri sebagai alasan? Bukankah itu membuat Xie Wanyi merasa telah memegang kelemahan Bibi? Jika ia menyebarkan cerita, nama baik Bibi akan tercemar.”
“Putri, mohon maaf karena hamba bertindak atas inisiatif sendiri. Hamba berpikir, jika menggunakan nama Putri sebagai alasan, tentu akan menyeret Permaisuri. Lagi pula, semua pengeluaran Putri tercatat rapi di Sembilan Biro Utama. Jika Xie Wanyi membalikkan keadaan dan ingin menyelidiki, kesalahan pasti akan jatuh pada kita.”
Chun Rong menatap Helan Tang.
“Tapi jika hamba mengaku karena kepentingan pribadi, biarlah Xie Wanyi mengadu, toh ia hanya bisa mengadu pada Permaisuri. Putri tahu siapa hamba, dan hamba yakin Putri tidak akan membiarkan hamba diperlakukan tidak adil.”
Apakah ini yang disebut berpikir tiga langkah ke depan?
Mendadak Helan Tang mulai menyukai ketelitian Chun Rong.
Ia tersenyum tipis, bulu matanya yang bergetar memantulkan bayangan lembut di bawah cahaya lilin.
“Andai aku benar-benar tidak membela Bibi? Bukankah Bibi baru datang ke Istana Fengxi setelah ibuku keluar dari Istana Dingin? Hitungan hari pun baru belasan. Aku tidak mengenal Bibi, Bibi pun tidak mengenalku, tapi Bibi begitu yakin dan tegas.”
Untuk pertama kalinya, Chun Rong melihat sang putri menampilkan wajah yang begitu sulit ditebak.
Ia tahu, meski sang putri bertanya mengapa dirinya dipercaya, sesungguhnya ia sedang meragukan kesetiaan Chun Rong.
“Hamba adalah pelayan yang dibawa dari kediaman Selir Ru sejak kecil.”
Selir Ru?
Kenapa nama itu terasa begitu familiar?
Helan Tang mengernyitkan dahi.
Melihat kebingungannya, Chun Rong menjelaskan lagi.
“Permaisuri masuk ke Istana Dingin karena kematian Selir Ru.”
Helan Tang menghela napas dalam-dalam, menatap wajah tenang Chun Rong tanpa berkedip.
“Lanjutkan.”
“Dulu, Permaisuri dikenal anggun, tegas, dan jarang bicara. Setiap hari hamba menemani Nona menghaturkan salam, kami hanya bisa melihat siluet Permaisuri dari balik tirai. Meski ada perjamuan besar di istana, tetap saja sulit bertemu beliau. Nona pernah berkata, Permaisuri adalah satu dari sedikit orang yang benar-benar sadar di istana ini. Lalu, ketika Nona mengandung, Selir Kong kerap datang dengan alasan menjenguk, tapi sesungguhnya hanya untuk menyindir Nona.”
Helan Tang mengangguk paham.
“Jadi, kau tahu, ibuku bukanlah pembunuh Selir Ru.”
“Benar. Tapi hamba tidak punya bukti, dan suara hamba tak berarti apa-apa. Hamba sudah siap mengorbankan diri, bahkan sempat ingin mencari kesempatan untuk meracuni Selir Kong demi membalaskan dendam Nona. Namun sebelum sempat bertindak, sudah terdengar kabar Selir Kong dimasukkan ke Istana Dingin dan Permaisuri akhirnya mendapat keadilan. Saat itu, hamba sadar, Permaisuri adalah orang luar biasa. Karena ingin membalas budi Nona, hamba pun ikut seleksi sebagai pengurus di Istana Fengxi. Untungnya, takdir mempertemukan hamba dengan Permaisuri.”
Helan Tang mengamati Chun Rong, dalam hati penuh pertanyaan.
Chun Rong memang selalu tampak tenang, tapi saat bercerita barusan, tangannya berulang kali mengepal dan melepas dengan gugup.
Apa yang ia khawatirkan? Apakah ia berbohong, atau ada sesuatu yang ia sembunyikan?
Suasana di dalam ruangan sungguh hening, membuat siapa saja merasa tertekan.
Namun, Helan Tang tiba-tiba tersenyum cerah, menyingkirkan seluruh kewaspadaan dan kecurigaannya.
“Bibi, aku tidak punya maksud lain, hanya bertanya karena sedang senggang saja. Jika suatu hari Bibi dijebak orang, aku dan ibuku pasti akan melindungi Bibi dengan segala cara.”
Chun Rong pun ikut tersenyum, seolah-olah percakapan barusan tak pernah terjadi.
“Hamba sangat berterima kasih, Putri.”
“Silakan duduk,” ujar Helan Tang sambil menunjuk kursi di sebelahnya, tersenyum saat Chun Rong duduk.
“Besok aku ingin merepotkan Bibi lagi untuk mengantar Kakak Zhuozhuo membuat dua stel pakaian istana yang indah dan sesuai keinginannya, tidak perlu mengikuti pola pakaian istana pada umumnya. Lalu, berapa tingkatan pelayan perempuan di istana? Aku pikir sekalian besok daftarkan saja Zhuozhuo ke Biro Pengurus Istana.”
Chun Rong lalu menjelaskan dengan rinci kepada Helan Tang.
Di dalam istana terdapat delapan tingkatan pelayan perempuan, setiap tingkat terdiri dari tujuh golongan.
Tingkat pertama adalah pejabat pengurus dari Sembilan Biro Utama dan di bawahnya.
Tingkat kedua adalah pelayan khusus Kaisar.
Tingkat ketiga adalah pelayan khusus Permaisuri.
Tingkat keempat adalah pelayan khusus Pangeran dan Putri.
Tingkat kelima adalah pelayan untuk para selir berpangkat tinggi.
Tingkat keenam adalah pelayan untuk para wanita istana berpangkat menengah.
Tingkat ketujuh adalah pelayan untuk wanita istana berpangkat rendah.
Tingkat kedelapan adalah pelayan untuk wanita istana berpangkat paling rendah.
Tingkat keempat, pelayan khusus Pangeran dan Putri, dibagi lagi menjadi: kepala pengurus tingkat satu, pengurus tingkat dua, asisten tingkat tiga, pembantu tingkat empat, pencatat tingkat lima, bendahara tingkat enam, dan penjaga tingkat tujuh.
Setelah menjelaskan, Chun Rong berkata, “Nona Zhuozhuo memang baru masuk ke istana, tapi ia sudah merawat Putri dengan baik dan sesuai harapan. Bagaimana jika ia diberikan jabatan pelayan tingkat enam? Lagi pula, ibunya yang kini merawat He Ronghua juga hanya seorang pelayan tingkat lima di golongan keenam.”
Pelayan tingkat enam...
Helan Tang mengusap ujung meja dengan jarinya, berpikir sejenak.
Tak lama kemudian, ia perlahan menggeleng.
“Tidak, aku ingin mengangkatnya menjadi pelayan tingkat tiga.”
Chun Rong langsung berdiri menentang, “Putri, itu tidak sesuai aturan. Usianya masih sangat muda, baru masuk istana pula. Jika ia langsung diangkat menjadi pelayan tingkat tiga, bagaimana dengan para pelayan lain yang sudah lama mengabdi di istana ini? Selain itu, jika pakaian istana yang ia kenakan berbeda dari aturan, ia akan jadi sasaran banyak orang. Ini melanggar tata tertib, bahkan jika Permaisuri menyetujui, Biro Pengurus Istana bisa saja mengadukan ke Kaisar.”
Maksud Chun Rong jelas terbaca oleh Helan Tang.
Demi seorang anak perempuan yang entah dari mana asalnya, tak pantas menimbulkan masalah sebesar ini.
Namun Helan Tang tetap pada pendiriannya, nadanya kini tegas, lebih seperti perintah.
“Bibi, lakukan saja seperti yang kukatakan.”
Chun Rong tidak lagi membantah. Ia mengangguk, berjanji akan mengurusnya, lalu pamit keluar.
Helan Tang melompat turun dari tempat duduk, berjalan tanpa alas kaki di atas lantai batu, lalu naik ke atas ranjang.
Meski sudah berselimut, kakinya yang lama terpapar udara dingin tetap saja tidak merasakan kehangatan.
Helan Tang pun menghela napas, miringkan kepala dan larut dalam lamunan.
Tao Zhuozhuo memang cantik.
Meskipun dahinya tertutup rambut, kecantikannya tetap terpancar.
Jika ia bisa melihat kecantikan Tao Zhuozhuo, orang lain pun pasti bisa.
Seperti tadi siang, saat bertemu Bai Lan, matanya sempat terhenti beberapa detik di wajah Tao Zhuozhuo.
Ibu pun kadang tanpa sengaja memuji kecantikan Tao Zhuozhuo.
Seperti He Ronghua yang tiba-tiba merasa cemburu pada seorang anak.
Seperti Bibi Chun Rong yang saat pertama kali bertemu, langsung ingin memotong rambutnya.
Dan juga...
Hari ini, saat Helan Min meninggalkan aula, sekilas melirik Tao Zhuozhuo, sorot matanya langsung menunjukkan kekaguman.
Helan Min adalah seorang pangeran, yang punya kesempatan menjadi pewaris takhta.
Ia takkan membiarkan orang seperti itu menjadi musuh bagi dirinya dan ibunya.
Tidak akan pernah.