Bab Delapan Puluh Lima: Perubahan di Desa Xiangnan
Begitu melihat Helan Tang, mata Xiao Lan langsung berbinar, ia buru-buru meletakkan barang di tangannya dan berlari ke arah Helan Tang.
“Itu kamu! Nona!”
Beberapa hari tidak bertemu, Xiao Lan seakan berubah menjadi orang yang berbeda. Dulu, pakaian yang ia kenakan seperti karung goni, kotor dan compang-camping, wajahnya pun berdebu. Kini, ia mengenakan gaun berwarna merah muda bersih, kulitnya tampak cerah, rambutnya tersisir rapi dan diselipkan setangkai bunga azalea, membuatnya terlihat begitu segar dan cantik.
“Kakak Xiao Lan, baru beberapa hari tak bertemu, kamu jadi makin cantik!”
Xiao Lan tersipu malu, menepuk bahu Helan Tang. Helan Tang sampai merasa nyeri dan tak tahan untuk tidak mengaduh.
“Kamu—”
Di samping, Tao Zhuozhuo hendak menegur, tetapi Helan Tang segera menggelengkan kepala padanya.
Xiao Lan dengan bersemangat menunjuk ke arah jalanan, “Nona, tempat kita ini sudah berubah, kan? Sampai-sampai hampir tak dikenali!”
“Memang tak dikenali lagi. Hanya beberapa hari, perubahannya sudah sebesar ini.”
“Itu semua berkat Anda! Beberapa hari lalu, tuan muda yang datang bersama Anda juga sempat mampir menjenguk kami! Katanya Anda kenal dengan Pangeran Ketiga, semua penderitaan kami diceritakan pada beliau! Baginda juga sudah tahu, kami dibebaskan dari status hina, diberi rumah, dan diizinkan berdagang. Kini, Xiangnan tidak lagi jadi tempat yang menakutkan! Kami juga warga Fengzhou sekarang, rakyat Fengyuan!”
Semakin Xiao Lan bercerita, wajahnya semakin berseri-seri. Mendengar itu, Helan Tang justru merasa haru.
Ada orang yang tiap hari mengeluh meski hidup di puncak kemewahan, ada pula yang sudah merasa cukup hanya dengan perut kenyang, pakaian hangat, dan tempat berteduh.
Xiao Lan menggandeng tangan Helan Tang, mengajaknya ke tepian.
Matahari senja menggantung di atas permukaan laut, ombak berkilauan keemasan bergulung-gulung di lautan. Para nelayan bertelanjang dada sedang menarik jala, kulit mereka yang kecokelatan berkilat-kilat diterpa cahaya sore.
Xiao Lan melambaikan tangan ke arah kejauhan.
“Hei! Berhenti dulu! Lihat siapa yang datang!”
Para nelayan mendengar suara itu, menoleh, dan ketika melihat Helan Tang, mereka tersenyum lebar, memperlihatkan gigi putih mereka, berlari ke arahnya dengan penuh suka cita.
Xiao Ao menyelip di antara kerumunan, menjadi yang pertama tiba di hadapan Helan Tang.
Tapi begitu sampai di depannya, ia malah mendadak berhenti.
Raut wajahnya agak canggung menatap Helan Tang, nadanya galak.
“Putri siapa yang datang jauh-jauh ke tempat sesuram ini?”
Helan Tang tersenyum, merasa anak ini memang keras kepala.
Padahal jelas-jelas senang bertemu dirinya, tapi mulutnya tetap saja bicara ketus.
“Kalau kamu tak mau aku datang, aku pergi saja!”
Ia pura-pura menakut-nakuti, berbalik hendak pergi, Xiao Ao langsung panik menghadangnya.
“Siapa bilang aku tak mau kamu datang! Kalau sudah datang, tak boleh pergi lagi! Ketawa-ketawa saja, lihat-lihat apa, nanti matamu dicungkil!”
Paman Wu yang baru datang melihat Xiao Ao bertingkah, langsung menepuk leher Xiao Ao.
“Kamu ini! Nona kita ini penyelamat kita, mana boleh kurang ajar begitu!”
Xiao Ao mengelus lehernya, meringis kesakitan, tapi matanya tetap melirik ke arah Helan Tang.
“Nona, Anda datang!”
Paman Wu menyapa dengan ramah, yang lain pun ikut mengerubungi, silih berganti mengucapkan terima kasih kepada Helan Tang.
“Nona adalah penolong besar kami!”
“Semua berkat bantuan Nona!”
“Nona, mampirlah ke rumahku! Sekarang kami sudah punya air bersih dan makanan!”
Paman Wu mengangkat tangan, “Sudah, sudah! Jangan ramai-ramai, nanti Nona jadi takut.”
Ia tersenyum ke arah Helan Tang, “Nona, di luar panas. Lebih baik singgah ke rumahku, biar kubuatkan teh dingin.”
“Baik, terima kasih Paman Wu.”
Penduduk Xiangnan kini tinggal di sebuah bangunan bertingkat tiga yang terbuat dari tanah, tak jauh dari situ.
Paman Wu berkata, tempat itu dulunya adalah penampungan pengungsi di Fengzhou. Setelah Kaisar terdahulu memindahkan ibukota ke Fengzhou, tempat itu pun kosong. Camat kemudian memberikan tempat itu untuk mereka.
Helan Tang berdiri di halaman dalam, menengadah, melihat kamar-kamar yang tertata rapat, walau padat tapi bersih dan terawat.
Paman Wu membawa Helan Tang dan dua temannya masuk ke rumahnya.
“Nona, silakan duduk bersama kedua gadis ini. Xiao Ao, ambilkan teh dingin.”
“Ayah, aku ambil sekarang.”
Xiao Ao melompat ke dalam, mengambil sendok kayu besar lalu bergegas keluar.
Ayah?
Helan Tang menoleh heran pada Paman Wu, “Kenapa dia memanggil ayah?”
Paman Wu tersenyum menjelaskan, “Orang tua Xiao Ao sudah tiada. Setelah status kami dipulihkan, dia butuh tempat bernaung. Aku ini juga hidup sebatang kara, jadi kuangkat dia jadi anakku, supaya mudah kujaga. Nanti kalau aku tua, ada yang mengurusku.”
Helan Tang mengangguk.
“Paman Wu, bagaimana kesehatan Anda sekarang?”
“Berkat Nona, sudah jauh lebih baik. Ada tempat berteduh, tak lagi kehujanan dan kedinginan, segalanya membaik. Juga berkat Nona. Sekarang kami boleh berdagang, punya tempat tinggal, dan Baginda sudah membagi laut di Xiangnan untuk tiap keluarga. Kami diizinkan melaut, dan masing-masing diberi tiga tael perak.”
Ia berhenti sejenak, “Toko milik Anda, sudah kami bersihkan dan rapikan, pintunya juga sudah dipasang. Beberapa hari lalu aku ke tukang kunci, sebentar lagi kuncinya akan diantar. Apa Nona ingin membuka usaha di toko itu? Mau jual hasil laut juga?”
Chunshui yang sedari tadi mendengar, mengerutkan dahi.
“Kalian tiap hari bisa dapat berapa ikan? Jangan-jangan, untuk makan saja tidak cukup. Lagi pula, hasil laut pun tak selalu mengenyangkan.”
Paman Wu tertawa polos.
“Anda benar. Kami memang tinggal di pesisir, tapi tidak punya keahlian lain, cuma bisa menangkap ikan untuk ditukar kebutuhan pokok.”
Ucapan Chunshui memang masuk akal.
Tak lama kemudian, Xiao Ao masuk dengan membawa teh dingin.
Ia menaruh mangkuk-mangkuk di depan Helan Tang dan kawan-kawan, lalu duduk di kursi, kaki di atas bangku, dagu terangkat.
“Aku sudah punya rencana untuk belajar keahlian di luar. Ikan yang kami tangkap saja tak cukup dimakan, sebagian lagi harus ditukar beras, sebagian dibuat ikan asin untuk dijual. Lebih baik aku cari kerja, dapat uang buat menghidupi semua, tapi ayah tidak setuju, maunya tetap di laut. Gadis kecil, kamu pintar, tolong bujuk ayahku.”
Helan Tang menyesap teh dingin, terasa segar dan manis.
Ia menelan, lalu menatap Paman Wu.
“Menjaga laut tidak salah, mau cari kerja di luar pun tak salah. Pada dasarnya, masalahnya adalah hasil laut yang didapat terlalu sedikit. Tanpa kapal, ikan yang bisa ditangkap di pesisir pasti terbatas. Kapal yang ditinggalkan para perompak laut waktu itu, ke mana perginya?”
Paman Wu menggelengkan kepala.
“Itu aku kurang tahu, malam itu langsung dibawa pergi oleh petugas penjaga laut.”
“Kalau begitu, satu kapal nelayan besar, harganya berapa?”
“Kira-kira lima puluh tael emas.”
Itu sekitar lima ratus tael perak, sedangkan gajinya sebulan ada empat ratus tael perak.
Kalau diinvestasikan untuk membeli kapal, hasil tangkapan bisa lebih banyak, selain dijual, toko itu juga bisa dijadikan rumah makan.
Nanti, bisa dibuka restoran prasmanan seafood di tepi pantai, hasil laut sendiri, dijual sendiri. Bukankah itu bagus?