Bab 148 Bantuan Cuma-cuma
Kasim Ding, seharusnya adalah Kakek Ding yang barusan dipikirkan oleh bibi kecil Ao.
Suara hati seseorang tidak akan berbohong.
Karena ia berpikir demikian, sudah pasti Kasim Ding masih hidup.
Paman ipar kecil Ao terhitung sebagai pejabat penting istiadat di pengadilan, dan ia menduduki posisi yang begitu sensitif.
Jika keluarganya benar-benar memiliki keterikatan dengan kasim dari dinasti sebelumnya, apabila masalah ini diberitahukan kepada Ning Huaiyan, konon ia tidak akan tinggal diam dan melepaskan kesempatan bagi Helan Min untuk berjasa ini.
Helan Tang menurunkan pandangannya dan merenung sejenak.
"Paman Kelima, aku sudah paham dalam hatiku mengenai masalah ini, aku akan berusaha sekuat tenaga membantu Ao kecil."
Helan Tang menyetujui permintaannya, Paman Kelima pun merasa lebih tenang, raut wajahnya sedikit mereda.
"Terima kasih, Nyonya Muda, urusan ini merepotkan Nyonya Muda."
-
Duduk di dalam kereta kuda, begitu kereta melaju, Tao Zhuozhuo langsung memasang ekspresi hendak berbicara namun ragu-ragu.
Helan Tang meliriknya beberapa kali, melihatnya terus-menerus menunda untuk bertanya, ia pun langsung membuka suara.
"Apa yang ingin ditanyakan oleh Kakak Zhuozhuo?"
Tao Zhuozhuo mengatupkan bibirnya, menatap ibunya dengan perasaan cemas.
"Yang Mulia, Hamba rasa... Hamba rasa Ao kecil hanyalah seorang anak liar, demi hubungan kenalan dan Paman Kelima, adalah wajar jika kita membantunya. Namun, tidak perlu sampai harus pergi secara khusus ke kediaman Tuan Ning dan membuat Tuan Ning yang maju mengatasi masalah ini."
Benar saja, begitu ucapannya keluar, wajah Chunshui langsung menjadi muram.
"Gadis sepertimu, coba dengar apa yang baru saja kaukatakan? Kenapa setelah lama masuk istana, lama berada di sisi Yang Mulia, kau jadi tidak mengenali siapa dirimu lagi? Jika Yang Mulia tidak berhati baik, bagaimana mungkin hari itu berbaik hati menyelamatkan kau dan aku dari tangan Selir Helan? Kau sendiri yang sudah mendapatkan rahmat, dalam sekejap terbang hinggap di dahan tinggi. Dulu, apa bedanya kita dengan Ao kecil?"
Ucapan Chunshui membuat Tao Zhuozhuo merasa malu hingga wajahnya memerah, bahkan kelopak matanya mulai digenangi air mata.
"Ibu, aku tidak berpikir seperti itu. Aku hanya merasa demi urusan Ao kecil, kita harus memohon kepada Tuan Ning, bagaimanapun Yang Mulia telah menggunakan wibawa dan memanfaatkan hubungan budi. Budi ini, di kemudian hari Yang Mulia pasti harus mengembalikannya."
Ibu dan anak itu berdebat tiada henti.
Helan Tang menepuk punggung tangan Tao Zhuozhuo dengan tangannya, mengisyaratkan agar ia tidak lagi berdebat dengan Chunshui.
"Apa yang kalian katakan semuanya benar. Namun, dalam masalah ini, aku tidak semata-mata hanya untuk menyelamatkan Ao kecil. Sekarang kita telah menyingkirkan Tuan Niu itu, masih akan ada ribuan atau bahkan jutaan pejabat yang serupa dengannya. Jika setiap kali seseorang datang kita membuat keributan, itu akan terlalu merepotkan. Jika kita ingin toko-toko dibuka dengan tenang, jangankan harus memiliki sandaran, setidaknya kita harus memastikan tidak ada orang yang datang membuat kekacauan sembarangan. Sebelumnya kudengar Kakak Ketiga ingin menjadikan Xiangnanli sebagai wilayah feodal miliknya, sekarang ia hanya kurang satu jasa agar Baginda Kaisar menganggukkan kepala."
Helan Tang berhenti sejenak, lalu melanjutkan: "Paman ipar Ao kecil adalah seorang pejabat eselon tiga penuh. Namun bibi Ao kecil justru hendak menyerahkan Ao kecil kepada seorang buronan pelarian dari dinasti sebelumnya untuk dijadikan anak angkat. Bersekongkol dengan sisa-sisa pemberontak dinasti sebelumnya, ini adalah kejahatan besar bagi keluarga Zhu. Tetapi bagi Kakak Ketiga, ini adalah jasa besar."
Mata Chunshui berbinar, ia langsung memahami apa yang dikatakan oleh Helan Tang.
"Hamba mengerti. Jika kejahatan keluarga paman ipar Ao kecil yang bersekongkol dengan sisa-sisa pemberontak dinasti sebelumnya terbukti, Ao kecil tentu saja tidak perlu dibawa pergi lagi."
Helan Tang mengangguk.
"Menyelamatkan Ao kecil memang benar adanya, hanya saja memanfaatkan masalah ini sebagai batu loncatan untuk melakukan budi timbal balik. Bicara soal berutang, bagaimana pun dihitung, sepertinya keluarga Ning justru lebih banyak berutang budi padaku."
Tao Zhuozhuo menatap Helan Tang dengan penuh kekaguman.
Jika ia memiliki kecerdasan seperti Yang Mulia, mungkin mencapai posisi pejabat wanita tingkat tinggi tidak lagi menjadi impian yang tak tergapai.
Chunshui mendesah kagum: "Yang Mulia sungguh amat cerdas. Zhuozhuo, kau berada di sisi Yang Mulia, pastikan untuk belajar dengan baik."
Ketika mereka bertiga tiba di kediaman Ning, Nyonya Ning sedang duduk di halaman sambil memegang sebuah sepatu dan menyulam di atasnya.
Mendengar Helan Tang berkata bahwa ia datang untuk mencari Ning Huaiyan karena urusan mendesak, ia pun bergegas berlari keluar untuk mencari Tuan Ning yang sedang pergi ke restoran untuk membeli makanan, dan menyuruh Tuan Ning mengirimkan surat ke istana.
Menjelang sore hari, barulah Ning Huaiyan pulang ke kediaman bersama ayahnya dengan menempuh perjalanan yang melelahkan.
Demi kemudahan berbicara, Ning Huaiyan secara khusus mengundang Helan Tang masuk ke ruang kerjanya.
Ia menatap Helan Tang dengan ekspresi gelisah.
"Yang Mulia, apakah telah terjadi suatu peristiwa besar?"
Helan Tang menatap lekat-lekat pada Ning Huaiyan, lalu mengangguk kecil, "Peristiwa besar."
Biasanya Helan Tang selalu menunjukkan sikap tenang tanpa beban, belum pernah ia terlihat begitu tergesa-gesa seperti ini.
Hati Ning Huaiyan merasa cemas dan tidak tenang, ia buru-buru mempersilakan Helan Tang duduk.
Helan Tang bertanya: "Apakah kau tahu, di dinasti sebelumnya ada seorang yang bernama Kasim Ding?"
Ning Huaiyan mengangguk.
"Aku tahu. Kudengar Kasim Ding itu melakukan banyak perbuatan keji, mengandalkan posisinya sebagai kepala pelayan di sisi kaisar, ia bertindak sewenang-wenang dan menindas orang lain, merampas emas dan perak, serta memiliki kebiasaan aneh yang memalukan hingga menyebabkan banyak anak dari berbagai keluarga kehilangan nyawa. Mengapa Yang Mulia tiba-tiba mengangkat masalah ini? Bukankah mendiang kaisar sudah memenggal kepalanya?"
Helan Tang tidak mempedulikan pertanyaannya, ia melanjutkan bertanya: "Kalau begitu, apakah kau tahu bagaimana perangai Tuan Zhu, selaku Penata Sejarah Kiri di Direktorat Penyelidikan Bersama?"
Ning Huaiyan yang mengerutkan keningnya dalam-dalam merenung sejenak.
"Hamba kurang begitu akrab dengan Tuan Zhu, Ayah juga tidak memiliki hubungan dekat dengannya. Hamba hanya tahu bahwa ayah Tuan Zhu sangat dihargai oleh mendiang kaisar, kemudian seluruh keluarga Zhu masuk ke istana untuk menjadi pejabat. Tuan Zhu dari Direktorat Penyelidikan Bersama itu adalah putra bungsu di keluarganya, saat ini ia menjabat sebagai Penata Sejarah Kiri di Direktorat Penyelidikan Bersama Prefektur Ze, dan sangat dihargai oleh Menteri Bai. Kudengar Prefektur Ze aman dan tenteram, serta rakyatnya hidup damai, sebagian besar jasa tersebut berasal dari Tuan Zhu ini."
Semula ia mengira bahwa Tuan Zhu itu adalah seorang pejabat korup dan jahat yang melakukan segala keburukan hingga membuat rakyat menderita.
Namun setelah mendengarkan ucapan Ning Huaiyan ini, justru membuat Helan Tang merasa sedikit bimbang di dalam hatinya.
Jika semua ini murni tindakan pribadi bibi Ao kecil, seandainya ia menggunakan cara seperti ini untuk menghadapinya, alangkah tidak baik jika sampai melukai orang yang tidak bersalah secara keliru.
Helan Tang mengangkat pandangannya menatap Ning Huaiyan, kilatan kecerdikan terpancar di matanya.
Namun mengenai urusan Ao kecil, selama keluarga Zhu mulai menemui masalah, maka sang bibi seharusnya tidak akan tinggal lebih lama lagi di Prefektur Feng.
Mengenai apakah Tuan Zhu adalah pejabat yang baik atau jahat, ia hanya bertugas menyampaikan berita tersebut.
Bagaimana cara bertindak, dan keputusan apa yang diambil, semuanya bergantung pada Helan Min dan Ning Huaiyan.
Ia bangkit berdiri, lalu menatap Ning Huaiyan dengan pura-pura meminta maaf, "Biar kupikirkan lagi."
"Yang Mulia."
Melihat perilaku Helan Tang yang jarang sekali menunjukkan sikap tidak biasa, Ning Huaiyan semakin dibuat bingung.
"Jika Yang Mulia menghadapi suatu kesulitan, silakan katakan secara terus terang. Jika ada hal yang memberatkan, hamba bersedia meringankan kekhawatiran Baginda."
Helan Tang berpikir sejenak, lalu menceritakan perihal Ao kecil kepada Ning Huaiyan.
"Meskipun aku ingin membantu Kakak Ketiga, namun mencelakai orang yang tak bersalah bukanlah niat atawa tujuanku."
Pernyataan Helan Tang tersebut justru membuat Ning Huaiyan merasa sedikit terkejut.
Dari berbagai peristiwa yang telah dilalui sebelumnya, tidak sulit untuk melihat bahwa ia adalah sosok wanita yang kejam dan bertindak tegas tanpa ragu.
Tak disangka ia juga memiliki begitu banyak kekhawatiran.
Mungkinkah perangainya telah berubah?
Ning Huaiyan berpikir sejenak dalam hatinya.
Tidak.
Ia sedang memberikan semangkuk madu, kelihatannya manis, tetapi pada kenyataannya ketika tutupnya dibuka, entah apakah akan ada lebah yang terbang keluar dan menyengat wajah mereka hingga bengkak, hal itu sudah tidak ada hubungannya lagi dengan dirinya.
Pandangan mata Ning Huaiyan mendalam.
[Yang Mulia sungguh pandai mempermainkan siasat, di balik setiap ucapannya ia menyembunyikan tujuannya sendiri, seolah-olah ia sedang mengantarkan hadiah ucapan selamat kepada kami saja.]
Ning Huaiyan adalah orang cerdas, dan bukan hari ini saja hal itu diketahui oleh Helan Tang.
Namun mendengarkan isi hatinya yang berkata demikian, ia justru merasa sedikit kesal.
Bukankah tidak masalah jika berkah kebaikan ini ia berikan kepada Helan Zhi saja?
Sudah diberi keuntungan tapi masih saja pura-pura tidak tahu malu.
"Kalian pikirkanlah sendiri, segala hal pasti memiliki risiko. Jika kalian tidak sanggup menanggung risiko tersebut, lebih baik tidak usah melakukannya."