Bab Sepuluh: Kata Sang Guru
Baru saja Li Zicheng menyombongkan diri di tengah pasukan, ia langsung dipermalukan oleh utusan pembawa perintah... Lebih tepatnya, dipermalukan oleh seorang jenderal pemberani dari pihak Dinasti Ming. Dengan wajah kelam, ia membawa pasukan elitnya keluar dari perkemahan.
Sang Raja Penyerbu, Gao Yingxiang, bersama para pemberontak besar seperti Guo Tianxing, juga keluar dari markas utama. Mereka pun ingin menyaksikan kehebatan jenderal pemberani Dinasti Ming itu secara langsung.
Begitu mereka bergegas ke medan tempur, mereka menyaksikan Cao Dingjiao seorang diri mengejar dan menebas ratusan pasukan kavaleri. Para pasukan pemberontak hanya bisa berteriak memberi semangat dan sesekali menembakkan anak panah ke arah kuda tunggangan Cao Dingjiao.
Namun, Cao Dingjiao sangatlah licik. Ia sudah mengganti kuda tunggangannya lima atau enam kali. Setiap kali merasa kudanya mulai kelelahan, ia segera melompat turun dan mengambil kuda lain. Sebab, di seluruh medan perang sudah bertebaran ribuan kuda tanpa tuan, yang semuanya merupakan korban keganasan Cao Dingjiao. Dengan kekuatan pribadinya, ia berhasil memporak-porandakan satu pasukan kavaleri.
Li Zicheng berbisik, "Sekalipun Xiang Yu hidup kembali, atau Lu Bu terlahir lagi, mungkin hanya sebatas ini saja. Tidak, bahkan mereka masih kalah jauh dari jenderal perkasa ini. Barangkali hanya Raja Zhao dari Barat yang mampu menandinginya..."
Gao Yingxiang pun memuji, “Andai orang setangguh ini mau bergabung dengan kita, tak perlu lagi kita khawatir kekaisaran Ming akan jatuh ke tangan kita.”
Raja Kekacauan dengan marah berkata, “Paduka Raja, orang seperti ini amat berbahaya, harus segera disingkirkan!”
Semangat pasukan pemberontak pun semakin merosot. Kehadiran seorang jenderal luar biasa seperti itu memang memberikan dampak yang sangat mengerikan. Dengan kekuatan yang seimbang, kalau mendengar yang memimpin lawan adalah Cao Wenzhao, para pemberontak mungkin saja tercerai-berai. Tapi kalau tahu yang memimpin adalah jenderal perkasa yang satu ini, bisa jadi mereka menyerah sebelum bertempur.
Li Zicheng berkata dengan nada serakah, "Ayah, setiap manusia pasti ada batas kekuatannya. Sekarang jenderal perkasa itu sudah terkepung pasukan kita, selama kita terus mengganggunya tanpa henti, cepat atau lambat kita pasti bisa menangkapnya."
Guo Tianxing menambahkan, "Memang benar. Selain itu, kita harus mengerahkan pasukan besar untuk memperketat pengepungan. Dia mengandalkan kuda dan baju zirahnya, tak gentar meski menghadapi puluhan ribu pasukan kita. Selama kita kumpulkan semua kuda dan tutup jalur mundurnya, dia pasti tak bisa lolos. Seperti menangkap kura-kura dalam tempurung, kita akan mudah menaklukkannya."
Gao Yingxiang berseru, “Seluruh pasukan maju! Tangkap orang itu untukku!”
Raja Penyerbu sendiri turun tangan, memberi komando pada tiga kesatuan. Dua ratus ribu pasukan langsung bergerak hanya untuk mengepung satu orang. Cao Dingjiao tentu tidak bodoh, ia sadar pihak lawan akan bertindak sungguh-sungguh, maka ia segera memacu kudanya untuk kabur.
Sebelum pergi, ia berteriak lantang, “Seorang ksatria menuntut balas, sepuluh tahun pun belum terlambat! Tapi aku tak sudi menunggu lama, kalian simpan dulu kepala kalian baik-baik. Kelak aku akan kembali mengambilnya!”
Para petinggi pemberontak seperti Gao Yingxiang, Li Zicheng, dan Guo Tianxing merasakan hawa dingin di leher mereka. Orang ini benar-benar mau kabur? Mereka harus segera menangkapnya!
Andai mereka terus-menerus dibayangi oleh jenderal luar biasa seperti itu, mungkin tidur pun tak akan pernah nyenyak karena takut sewaktu-waktu dihajar dari belakang.
Melihat jenderal sekuat itu hendak kabur, Li Zicheng pun segera memimpin sendiri pasukan kavaleri elitnya untuk mengejar.
Cao Dingjiao tersenyum sinis, menampilkan ekspresi penuh kemenangan. Menengok ke belakang, melihat ribuan tentara mengejar, ia merasa sangat puas—sungguh sensasi luar biasa!
“Tap! Tap! Tap!”
Pasukan kavaleri elit dari markas lama jelas tak bisa disamakan dengan kavaleri pemberontak biasa! Mereka adalah pasukan pilihan yang dibentuk langsung oleh Li Zicheng, bahkan saat melawan Kavaleri Baja Guanning pun tak kalah. Tentu saja, itu juga karena Kavaleri Guanning enggan bertaruh nyawa.
Cao Dingjiao melihat pasukan di belakangnya makin mendekat, senyumnya kian lebar. Ia segera membelokkan kudanya ke arah lereng bukit.
Semakin menanjak, laju kuda semakin melambat. Begitu Cao Dingjiao sampai di lereng yang cukup curam, kudanya pun menyerah. Ia pun melompat turun, lalu berlari membawa gada besinya masuk ke hutan. Ia sudah menahan laju pasukan pemberontak hampir satu jam, kini saatnya mundur.
Pasukan kavaleri elit yang mengejar dari belakang melihat kejadian itu, ragu apakah harus melanjutkan pengejaran. Akhirnya Li Zicheng pun memerintah, “Kejar! Orang itu memakai zirah seberat puluhan kati, tak mungkin lari terlalu jauh. Segera kejar, kalau bisa dibunuh, bunuh saja!”
Cao Dingjiao kabur secepat kilat, langkahnya tak menunjukkan tanda-tanda lelah. Para pemberontak mati-matian mengejar, tapi hanya bisa melihat bayang-bayangnya saja, seolah-olah mengejar lampu belakang mobil legendaris Qiu Ming Shan yang dikendarai Cao Dingjiao.
Para kavaleri elit dari markas lama itu pun mengenakan baju zirah, baik dari kulit maupun besi. Mereka semua terengah-engah mengejar Cao Dingjiao yang larinya seperti kijang. Para pemberontak pun frustrasi, “Anak kelinci ini kok larinya cepat sekali?”
Setelah turun dari kudanya, Li Zicheng sendiri memimpin pengejaran. Namun, ia segera menyadari ada yang tidak beres.
Semakin lama, jumlah pengikutnya makin berkurang, sementara jenderal di depan itu tidak melambat sedikit pun, bahkan kadang berhenti untuk mengejek pasukan mereka.
Li Zicheng mengeluh, “Orang keparat itu apa pakai zirah dari kertas? Kenapa larinya lebih cepat dari anjing?”
Seorang prajurit menjawab, “Orang itu memang binatang, larinya lebih kencang dari kuda, dan kelakuannya lebih menjijikkan pula!”
Akhirnya, Cao Dingjiao tiba di bawah sebuah batu besar. Ia menoleh ke belakang, melihat hanya segelintir pengejar yang tersisa, lalu menampilkan senyum kemenangan. Diam-diam ia menggenggam erat gada besinya, lalu duduk di atas batu menunggu kedatangan para pemberontak.
Melihat “anak kelinci” di depan tak lagi melarikan diri, para pengejar pun bersorak gembira. Ratusan kavaleri elit segera mengepungnya, sementara Li Zicheng apes, tertinggal di tengah jalan.
Dari ratusan orang itu, yang berpangkat tertinggi adalah seorang perwira bernama Dong Fei. Dong Fei dulunya memang perwira Dinasti Ming, namun akhirnya membelot pada para pemberontak. Ia lah yang membocorkan rute perjalanan Cao Wenzhao pada para pemberontak, sehingga mereka bisa membuat strategi jebakan dan akhirnya menaklukkan Cao Wenzhao di daerah Luanchuan.
Pengkhianat Dong Fei, dengan gigi kuning besarnya, tersenyum memperlihatkan gigi geraham belakang, selembar daun bawang terselip di sela-sela giginya. Ia menyeringai, “Sudah lari? Akhirnya kau kehabisan tenaga juga. Biar saudara-saudaraku menikmati main-main denganmu. Kepung dia!”
Anak buah Dong Fei yang sudah kelelahan itu langsung bersemangat kembali. Siapa sangka mereka bisa menangkap jenderal sehebat ini—itu adalah prestasi yang sangat langka.
Ratusan orang pun segera mengepung Cao Dingjiao. Dong Fei berkata lagi, “Jenderal Ming, dengarkan baik-baik! Sebutkan namamu! Raja kami sangat menghargaimu, akan memberimu kekayaan dan kehormatan. Menyerahlah sekarang!”
Cao Dingjiao terkekeh, “Hehe, kalau saja rajamu mau menyerahkan tahta Raja Penyerbu itu padaku, mungkin aku akan mempertimbangkannya.”
“Kau bermarga Cao? Tidak mungkin! Di antara para jenderal, hanya ada Cao besar dan Cao kecil. Aku tak mengenalmu. Jelas bukan Cao Wenzhao, juga bukan Cao Bianjiao. Siapa sebenarnya kau?”
Cao Dingjiao tersenyum, “Lucu sekali, memangnya pasukan Ming tak boleh punya jenderal bermarga Cao yang ketiga? Aku ini seorang cendekiawan, tahu!”
Dong Fei tertawa terbahak-bahak, seolah mendengar lelucon paling lucu di dunia. Ratusan prajurit di sekelilingnya juga tertawa, membuat Cao Dingjiao kesal bukan main. “Kenapa kalian tak percaya aku ini seorang cendekiawan?”
Melihat wajah Cao Dingjiao muram seperti dasar wajan, Dong Fei malah semakin menjadi-jadi, berkata, “Kalau kau cendekiawan, aku ini Kong Hu Cu! Mau kutunjukkan dengan berlutut dan membenturkan kepala?”
“Berlutut! Membentur kepala! Berlutu! Membentur kepala!” Ratusan prajurit elit pun serempak meneriakkan ejekan.
Cao Dingjiao perlahan-lahan menghapus senyumnya, lalu berkata, “Kata Kong Hu Cu: Bertarunglah dengan gada, jangan sembarangan memukul, arahkan ke wajah, kalau meleset pukul lagi, tangan kanan lelah pakai tangan kiri, bila gada patah pakai sepatu, pukul sampai mati, kalau belum mati pukul lagi, jangan bertarung sendirian, ajak kawan bersama, bukankah itu menyenangkan?”