Bab Tujuh Puluh Tujuh: Tuan Agung Tianlan
Di tengah lembah tandus itu, suasana terasa tegang dan kaku, cukup lama tak seorang pun berkata apa-apa.
Luk Chen berdiri di tengah lingkaran tanah kosong itu, perlahan berputar memandang sekeliling. Pemandangan yang ia lihat hanyalah hamparan tanah gersang, tetapi di matanya seolah melintas juga bayangan lain yang panas membakar dan membuat sesak: kobaran api mengamuk, pilar cahaya raksasa turun dari langit, kekuatan dahsyat yang membelah dunia, dan setelah semuanya hancur, serpihan cahaya yang pecah seperti mimpi buruk, diiringi pula rasa sakit dari api hitam yang seolah terukir abadi di dasar jiwanya.
“Aku bukan muridmu.”
Luk Chen tiba-tiba tersenyum, menatap pria gemuk berkepala plontos itu, lalu berkata tenang, “Engkau adalah Tuan Agung Tianlan yang dihormati jutaan orang, sedangkan aku hanyalah bayangan di sudut gelap.”
Setelah kata-kata itu terucap, ekspresi wajah pria plontos yang aura dan wibawanya seakan mampu menelan langit dan bumi, atau tepatnya sosok legendaris Tuan Agung Tianlan, tiba-tiba berubah.
Ia menundukkan kepala sedikit, di sudut matanya tampak selintas kepedihan. Setelah beberapa saat, ia tersenyum pahit dan berkata, “Jadi kau memendam dendam padaku di hatimu?”
Luk Chen perlahan menggeleng, raut wajahnya rumit, seolah teringat sesuatu, lalu berkata, “Tak bisa dibilang begitu. Hanya saja, selama bertahun-tahun ini, aku sering bermimpi buruk. Dalam mimpi itu aku membunuh banyak sekali orang, api membara dan darah menggenang, mayat bertumpuk di mana-mana, lautan darah dan gunung mayat...”
Tuan Agung Tianlan mengerutkan alis, tampak sedikit terkejut, lalu bertanya, “Apa yang terjadi?”
Luk Chen terdiam sejenak, kemudian menatapnya dan berkata, “Waktu itu setelah aku diam-diam menghancurkan Mantra Penurun Dewa di sini, kutukan api hitam langsung meledak, membakar tubuh dan jiwaku dengan rasa sakit tak terperi, pikiranku pun jadi kacau. Yang samar-samar kuingat hanyalah aku berjalan keluar dari lembah, sepertinya sempat bertarung di tengah jalan. Semua pemandangan berdarah dalam mimpi itu, sepertinya adalah gambaran kejadian saat itu...”
“Kau tidak salah ingat!” Tuan Agung Tianlan tiba-tiba memotong perkataannya, dengan nada datar berkata, “Waktu itu, rencana kita memang serangan dari dalam dan luar. Setelah kau menghancurkan Mantra Penurun Dewa di lembah, pasukan Aliansi Dewa sejati langsung melancarkan serangan hebat dari luar. Karena inti kekuatan sekte iblis saat itu kebanyakan berkumpul di sini, pertempuran jadi sangat sengit. Mayat dan lautan darah yang kau lihat, barangkali memang gambaran kejadian hari itu.”
Luk Chen tertegun, tampaknya tak menyangka Tuan Agung Tianlan begitu blak-blakan. Ia ragu sejenak lalu berkata, “Begitukah, lalu tentang aku yang bermimpi membunuh banyak orang...?”
Tuan Agung Tianlan menjawab, “Itu tidak terjadi. Tak lama setelah kau keluar dari lembah, kau langsung pingsan dan diselamatkan orang. Kau tak sempat bertarung terlalu lama, mungkin hanya karena hari itu suasana perang sangat berdarah, sehingga menimbulkan ilusi dalam benakmu.”
Luk Chen terdiam cukup lama, tapi kerut muram di wajahnya perlahan mulai memudar, tubuhnya pun tampak lebih rileks. Setelah beberapa saat, ia menghela napas panjang.
Tuan Agung Tianlan menghela napas pelan, lalu berkata, “Ini salahku juga. Andai selama ini aku bisa menemuimu sekali saja untuk menghiburmu, mungkin kau tak akan semenderita ini.”
Luk Chen menggeleng, “Bukan salahmu... Oh ya, dulu Penatua sekte iblis Yun Shouyang punya seorang putra dan putri, putranya bernama Yun Jian, putrinya Yun Xiaoqing. Apa kau tahu bagaimana nasib mereka?”
Tuan Agung Tianlan merenung sejenak, lalu berkata, “Mereka tewas dalam pertempuran besar itu.”
Luk Chen ragu-ragu, “Bagaimana mereka mati?”
Tuan Agung Tianlan menatapnya sejenak lalu berkata, “Saat pasukan Aliansi Dewa sejati mengepung lembah, mereka bersama para pengikut sekte iblis lain bertahan mati-matian, membunuh dan melukai banyak pejuang jalan suci, akhirnya tewas dalam kekacauan perang.”
“Tewas di tengah kerusuhan?”
“Ya.”
Luk Chen kembali terdiam. Setelah beberapa saat, ia tiba-tiba menggelengkan kepala, menghela napas, lalu menatap Tuan Agung Tianlan dengan sorot mata yang seolah memperoleh kembali sedikit cahaya, “Cukup, sudah terlalu banyak bicara. Sebenarnya untuk apa kau mencariku?”
Tuan Agung Tianlan tersenyum, “Begitulah seharusnya, lelaki sejati harus menghadapi hidup dengan senyum.”
Luk Chen mendengus, “Kau enak saja bicara, kalau mampu, cobalah rasakan dibakar api hitam sepuluh tahun, baru kau tahu.” Ia pun menggerutu pelan, “Dasar gendut sialan.”
Tuan Agung Tianlan menggeleng sambil tersenyum, pura-pura tak mendengar omelan itu, “Memang benar, aku ada satu urusan yang perlu kau bantu.”
“Apa itu?”
“Pergi ke Sekte Kunlun, dan temukan seorang pengikut sekte iblis yang telah lama menyamar di sana.”
※※※
“Lima tahun lalu, seorang mata-mata dari Biro Awan Mengapungku tanpa sengaja menemukan markas rahasia sekte iblis di suatu tempat di Kota Abadi. Di bawah pimpinan Xue Ying, Biro Awan Mengapung berusaha keras dan akhirnya berhasil menyusup ke sana. Namun, setelah pertempuran lembah, sekte iblis yang terluka parah jadi semakin waspada, penyusup kami sulit mendekati inti kekuatan mereka. Hingga sebulan lalu, tiba-tiba kami menerima pesan rahasia dari dia, katanya ia telah mengendus sebuah konspirasi besar yang dirancang diam-diam oleh sekte iblis, pemimpinnya adalah seorang penatua iblis.”
Mendengar sampai di sini, pupil mata Luk Chen tiba-tiba menyempit.
Tuan Agung Tianlan menatapnya sekilas lalu melanjutkan, “Namun, di sinilah segalanya berubah. Orang sekte iblis tiba-tiba menyadari penyusupan itu dan segera melancarkan serangan balasan. Kami pun langsung berusaha menolong, tapi tetap terlambat.”
“Orang itu tewas.”
“Sebelum meninggal, ia hanya sempat memberitahuku dua hal: Pertama, di dalam Aliansi Dewa ada mata-mata sekte iblis, bahkan berpangkat sangat tinggi. Kedua, sekte iblis tengah merencanakan sesuatu yang sangat besar, dan dalam rencana itu ada satu orang penting yang masih bersembunyi di Sekte Kunlun. Ia tak tahu apa tujuannya, tetapi jika orang itu berhasil menjalankan tugasnya, maka rencana besar sekte iblis pasti akan tercapai, dan akibatnya akan lebih dahsyat daripada malapetaka Mantra Penurun Dewa di Lembah Gersang dulu.”
Suasana kembali sunyi di dalam lembah, cukup lama keduanya tak berkata-kata.
Setelah beberapa waktu, Luk Chen pelan bertanya, “Kenapa harus aku? Kau juga tahu, kutukan api hitam itu telah hampir menghancurkan seluruh kekuatanku. Sekarang aku tak jauh beda dengan orang biasa.”
Tuan Agung Tianlan menggeleng, “Untuk urusan ini, kekuatan bukanlah yang utama. Sepuluh atau seratus ahli setingkat Jindan pun belum tentu sebaik dirimu.”
Luk Chen tersenyum pahit. Tuan Agung Tianlan melanjutkan, “Sebenarnya tanpa aku jelaskan pun kau pasti paham, sekarang Aliansi Dewa terlalu besar dan lamban, penuh birokrasi dan tak becus. Apa yang dikatakan mata-mata itu tentang penghianat berpangkat tinggi sangat mungkin benar. Karena itu, kalau kita mengandalkan Aliansi Dewa, semua tindakan jadi seperti air bocor, tak ada yang berjalan mulus. Untuk urusan ini, harus ada orang yang bahkan Aliansi Dewa pun tak tahu keberadaannya.”
Luk Chen tertawa getir, “Jadi aku orangnya? Tapi kau jangan lupa, sisa-sisa sekte iblis masih memburu jejak si Serigala Hitam dari masa lalu, bukan?”
“Tapi mereka tak akan pernah menemukannya,” sahut Tuan Agung Tianlan datar, “Di dunia ini, hanya ada dua orang yang benar-benar tahu siapa dirimu. Selain itu, tak ada seorang pun yang mengerti segala seluk-beluk, kode, sandi, sejarah, kebiasaan, serta rahasia terdalam Sekte Dewa Tiga Dunia sebaik dirimu.”
“Untuk menemukan pengikut sekte iblis yang bersembunyi begitu dalam, benar-benar tak ada pilihan lain selain dirimu!” Tuan Agung Tianlan menatap Luk Chen dengan ekspresi sungguh-sungguh, menegaskan setiap katanya.