Bab 149: Pembicaraan Malam 3
“Kau tidak dingin?”
Miao Qing melirikku.
Ruangan itu terasa begitu sunyi dan dingin. Di bawah temaram cahaya lilin, benar-benar tidak ada apa-apa, kosong melompong. Hanya ada aku dan Miao Qing di sepanjang perjalanan ini.
Setelah rasa takut itu berlalu dan hatiku mulai tenang, udara di dalam ruangan justru terasa semakin menusuk tulang. Jubah itu menutupi perut Ilu, sementara aku meringkuk di satu sudut sambil menggigil gemetar.
“Lumayan—”
Ucapku sambil kembali bergidik kedinginan.
“Pakai saja!”
Miao Qing menarik jubah dari tubuh Ilu dan melemparkannya ke pangkuanku. Setelah menangkapnya, aku justru tidak mengenakannya. Aku hanya memegangnya dalam diam, tidak tahu apa yang harus kulakukan.
“Ada apa?”
Miao Qing memperhatikan ekspresiku yang tampak aneh.
“Tidak apa-apa!”
Aku hanya teringat bagian jubah yang baru saja menutupi area itu. Rasanya... rasanya kalau sekarang aku mengenakannya lagi di tubuhku, bukankah itu terasa kurang pantas?
“Kau ini—jangan-jangan jijik, ya?”
Miao Qing menyipitkan matanya menatapku sejenak, lalu menunduk ke arah bagian di antara kedua kaki Ilu yang masih terbuka.
“Tidak—”
Dengan panik dan tergesa-gesa, aku lekas mengenakannya ke tubuhku.
“Tidak apa-apa, benda itu tidak mengeluarkan cairan aneh apa pun di atas sana!”
Penjelasan Miao Qing membuat keberanian yang susah payah kukumpulkan mendadak ciut kembali. Memegang kerah jubah itu, hendak dipakai salah, tidak dipakai pun rasanya salah.
Untuk apa dia menjelaskannya padaku tentang cairan aneh itu? Aku bahkan sama sekali tidak melihatnya. Kenapa kucing ini menyebalkan sekali?
Sekarang gawat, seluruh kepalaku dipenuhi oleh bayangan tentang hal-hal aneh yang baru saja ia katakan. Aku bahkan membayangkannya secara liar. Semakin kupikirkan, wajahku semakin merona merah, dan tubuhku pun ikut terasa panas.
“Kau demam?”
Miao Qing masih berwujud manusia dan belum berubah kembali menjadi kucing. Ia yang tadinya berada di sisi lain, melangkah mendekat dalam beberapa langkah saja, lalu berjongkok di hadapanku dan menyentuh dahiku.
“Kalau bukan demam, kenapa tubuhmu bisa panas begini?”
Miao Qing mengerutkan keningnya, menatap jemariku yang gemetar serta jubah yang masih tergenggam erat di tangan.
“Kau sedang birahi?”
Empat kata itu benar-benar tak tertahankan, tak dapat diterima, dan merupakan kalimat yang sangat kotor. Kemarahan yang membuncah di dasar hatiku, bercampur dengan emosi lainnya, langsung melonjak naik. Aku langsung melemparkan jubah itu tepat ke wajahnya dan bangkit berdiri dengan sentakan.
“Miao Qing, apa yang kau bicarakan?”
“Memangnya apa yang kukatakan?”
Miao Qing mendekap jubah itu dan menatapku dengan wajah polos selama beberapa saat. Baru setelah itu ia mendekatkan hidungnya ke jubah tersebut, mengendusnya dalam-dalam, lalu spontan mencubit hidungnya sendiri:
“Ih, masih ada bau serigala bodoh itu! Untung saja kaubelum mengenakannya, kalau tidak, kau akan menjadi wilayah kekuasaannya!”
Serigala memang memiliki kebiasaan menandai wilayah mereka dengan air seni. Ketika Ilu tinggal bersamaku di suku dan berubah menjadi wujud serigala kecil, ia sering kali dipukul menggunakan kayu oleh ibuku beberapa kali karena sembarangan buang air kecil.
Pada akhirnya, ayahkulah yang menjelaskannya, baru setelah itu perasaan ibuku sedikit lebih baik.
Hanya saja, setelah berubah wujud menjadi manusia, ia sudah sangat lama tidak melakukan hal semacam itu. Begitu mendengarnya diucapkan oleh Miao Qing, sebuah pemandangan langsung melintas di benakku:
Di tengah malam yang sunyi, Ilu yang berwujud manusia dengan sembunyi-sembunyi mengangkat celananya dan berkeliling di sekitar rumah untuk——
Uh, cih, cih! Apa yang sedang kupikirkan ini?
Aku langsung menggelengkan kepala dengan kuat dan menatap Miao Qing dengan perasaan kesal. Semua ini salah kucing bodoh itu, omongannya ngawur sekali sampai membuat kepalaku penuh dengan bayangan aneh.
“Bukankah kucing juga sama saja?”
Aku mendengus dingin, merebut kembali jubah itu, melemparkannya ke lantai, lalu kembali duduk.
“Memang sama, tapi, kalau dibanding dengan kepunyaan bangsa serigala, kepunyaan kucing itu—"
Miao Qing mengecap-ngecapkan bibirnya, lalu menghela napas, “Bahkan dari kaum harimau siluman pun, ukuran mereka tetap kecil!”
Kepalaku terasa berdengung hebat seolah mau meledak. Kecil, besar, sebenarnya apa yang sedang ia bicarakan ini? Tidak bisakah kita membahas hal yang normal saja?
“Tidak bisakah kau membahas hal lain? Kenapa harus terus terpaku pada topik ini?”
“Aku juga ingin, tapi aku cemburu!”
Miao Qing merentangkan kedua tangannya dengan ekspresi tanpa dosa, seolah berkata memang benar aku cemburu dan aku memang ingin membicarakannya.
“Kalau begitu, pergilah bicara di sana!”
Aku menunjuk ke sudut ruangan di seberang. Terserah apa yang ingin kaukatakan, asalkan tidak berbicara di dekat telingaku dan tidak kudengar, itu sudah cukup.
“Kecilkan sedikit suaranya, aku agak mengantuk!”
Miao Qing memajukan bibirnya, menatapku dengan sebal selama beberapa saat, lalu berkata dengan nada marah: “Jangan-jangan kau mau melakukan hal itu dengannya, makanya kau mengusirku?”
Mendengar kalimat itu, rasanya bola mataku nyaris copot dari rongganya. Otot-otot di wajahku pun ikut berkedut, berkerut tanpa bisa dikendalikan.
“Sudah kuduga, lihat saja ekspresimu itu yang telah menjelaskan semuanya!”
Miao Qing benar-benar tidak bisa memahami perkataan manusia ataupun membaca ekspresi orang. Jelas-jelas aku sedang marah besar hingga rasanya asap mengepul dari kepalaku, tetapi ia bersikeras menuduhku bernali besar dan merasa berang karena ketahuan olehnya.
“Sebenarnya apa isi kepalamu itu?”
Aku sangat ingin menghajarnya.
“Otaklah!”
Dasar keras kepala, ia malah bersikeras membantah dan menjelaskannya dengan serius kepadaku. Katanya, di sukunya dulu, ada sesama bangsa siluman yang tempurung kepalanya sempat dibuka oleh siluman lain tetapi ternyata tidak mati. Ketika mereka datang bersama-sama untuk menyelamatkannya, mereka semua melihat bahwa di balik tempurung kepala seekor kucing, ternyata memang ada otaknya. Meskipun, yah, ukurannya tidak besar, tapi tetap ada.
“Aku tidak mau meladonimu lagi!”
Benar-benar kesal sekaligus tak berdaya. Aku tidak tahu bagaimana harus menjelaskan atau berdebat dengannya. Alur pemikiran otaknya selalu begitu aneh dan cara berpikirnya begitu sederhana. Aku jadi curiga, jangan-jangan karena otaknya yang kecil itu, tingkat kepintaran dan ketajaman penglihatannya pun ikut menurun.
“Kau tidak mau meladoni aku, tapi aku mau meladonimu!”
Hari ini ia benar-benar sangat suka menempel. Mungkinkah karena sudah terlalu lama tidak bertemu, jadi sekarang dia sangat lengket sampai tidak bisa disingkirkan?
Aku yang tadinya sudah berbalik memunggunginya, begitu mendengar kalimat itu, menoleh untuk menatap wajahnya yang tampak begitu polos. Kepalaku terasa dua kali lipat lebih pusing, membuatku ingin segera pergi dari sini.
Ya, cepat pergi saja! Kalau sudah keluar, aku tidak perlu lagi meladoni si bodoh ini!
“Mau lihat apa? Tempat ini hanya bisa dibuka oleh Linglong, kalau tidak, kau tidak akan bisa pergi dari sini!”
Pada saat seperti ini, tebakan Miao Qing sangat tepat. Ruangan ini mudah untuk dimasuki tetapi sulit untuk ditinggalkan. Jika ingin keluar, Linglong harus menarik kembali penghalang sihir yang telah diciptakannya.
“Lagi pula tidak ada ruangan kecil lain, di dalam ruangan ini memang hanya seperti ini, tidak ada apa-apa!”
Ruangan kecil? Aku bahkan tidak melihat adanya ruangan kecil. Kenapa dia tiba-tiba membahas ruangan kecil?
“Aku dan serigala bodoh itu selalu dikurung di sini olehnya setiap malam. Nah, kalau kau ingin berduaan dengannya, sama sekali tidak ada celah. Sekalipun kau berniat tidur dengannya, aku akan tetap mengawasi dari samping!”
Sudah kuduga, kucing bodoh ini mulai berpikir yang bukan-bukan lagi. Mulutnya terus-menerus memanggil orang lain bodoh, padahal kulihat dialah yang paling bodoh di antara semuanya.
“Kau tahu tidak? Kepunyaan serigala dan kucing itu memiliki duri terbalik di atasnya. Kau tidak boleh melakukan hal itu dengannya saat dia sedang dalam wujud serigala.”
Aku sudah merasa kepulan asap keluar dari ketujuh lubang di kepalaku. Aku menatapnya dengan rasa marah yang memuncak hingga tidak bisa berkata apa-apa lagi.
“Lihat aku, aku juga tidak akan membiarkanmu tidur denganku. Aku ini masih perjaka ting-ting, berharga sekali, tahu!”
Kau masih... masih perjaka kucing?
Kesabaranku sudah mencapai batas maksimal dan meroket ke tingkat yang sama sekali baru.
Sudahlah, menghadapi siluman sebodoh ini, lebih baik aku abaikan saja. Dia benar-benar dungu sampai di tingkat yang mencengangkan, namun tidak tahu malu dan merasa bangga pula. Aku yang dibuat kesal olehnya hanya bisa menggaruk-garuk kepala sambil menunggu dengan cemas:
Entah kapan Linglong, Han Yundu, dan Han Feifei akan kembali!
Ya Tuhan, cepatlah kembali! Aku benar-benar sudah tidak sanggup lagi menghadapi ini semua!