Bab 114: Interogasi 2
"Katakan, apa yang ingin kau lakukan?"
Anyi mengetukkan jemarinya di atas meja, menatapku dengan sorot mata yang sulit diartikan.
"Semua sesuai aturan kediaman!" jawabku ramah seraya mengangkat kedua tangan dengan hormat di depan dahi.
Selama urusan ini tidak diserahkan kepada sang Wangfei—yang mungkin akan merebus mereka berdua untuk disantap—aku bisa menerima apa pun keputusannya.
"Aturan kediaman? Apakah kau tahu peraturan di rumah ini?" Anyi mengubah posisi duduknya.
"Aku tidak tahu, tetapi karena aku telah memasuki kediaman Wang, maka segala aturannya tentu harus mengikuti tradisi di sini. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung!"
Tentu saja aku tidak tahu aturannya, namun melihat sikap Anyi terhadap sang Wangfei, aku yakin peraturan kediaman ini tidak mungkin dibuat berdasarkan watak wanita itu. Selama bukan menurut kehendak sang Wangfei, dua makhluk kecil ini setidaknya masih memiliki harapan untuk berakhir baik.
"Di mana Nyonya Yang?" Anyi menoleh ke arah pelayan di sampingnya.
Setelah menerima perintah, pelayan itu segera bergegas keluar istana. Tak lama kemudian, Nyonya Yang muncul mengikuti pelayan tersebut.
"Salam hormat kepada Wangye—"
"Berdirilah, tidak perlu sungkan!"
Sikap Anyi terhadap Nyonya Yang sangat luar biasa, penuh dengan kelembutan dan perhatian di setiap katanya.
"Terima kasih, Wangye—"
Nyonya Yang bersikap sangat hormat. Jika bukan karena melihat wajah dan statusnya, aku sempat curiga apakah Anyi memiliki ketertarikan pada wanita tua ini.
"Menurutmu, bagaimana sebaiknya?"
Pelayan di samping Anyi maju ke depan, menceritakan kepada Nyonya Yang tentang keputusanku memberi nama pada kedua siluman rubah itu dan menjadikan mereka pelayan pribadiku, lalu menyampaikan jawabanku kepada Anyi.
Setelah pelayan itu selesai bicara, Anyi melontarkan pertanyaan tersebut. Nyonya Yang, bagaimana menurutmu masalah ini harus diselesaikan?
"Hamba memiliki beberapa pertanyaan, entah pantas atau tidak untuk diajukan!" Nyonya Yang berlutut di lantai, mendengarkan dengan saksama sebelum angkat bicara.
"Silakan, Nyonya—"
Pelayan itu menoleh ke arah Anyi, dan setelah mendapat anggukan, ia baru merasa tenang untuk berdiskusi dengan Nyonya Yang. Seluruh isi aula terdiam, mendengarkan percakapan mereka.
"Izinkan hamba bertanya, dari mana asal kedua siluman kecil ini?"
"Dari tanah yang sangat dingin, kaum rubah perak. Mereka dibantai oleh kaum harimau. Anggota kaumnya semua dipenjara di sana, dijual ke rumah-rumah hiburan atau kediaman para pejabat tinggi."
"Apakah kedua siluman rubah ini sudah memiliki pemilik?"
"Belum. Mereka dipenjara di kediaman kaum harimau dan rencananya akan dilelang tujuh hari lalu. Namun, tak disangka kedua siluman kecil ini berhasil kabur dari kurungan, lalu menyusup menjadi pelayan di kediaman kita dan naik ke kereta kuda milik Sang Junzhu!"
"Apakah kedua siluman ini sebelumnya pernah memiliki masalah atau dendam?"
"Tidak ada. Mereka telah dipenjara selama bertahun-tahun dan tidak pernah berbuat jahat atau melukai orang lain."
Keduanya saling tanya jawab hingga semua informasi terkumpul. Setelah beberapa putaran, kejelasan mengenai bagaimana siluman-siluman ini kabur dari kaum harimau hingga sampai padaku, serta bagaimana aku menamai dan menerima mereka, telah terungkap dengan jelas.
"Apakah Nyonya masih ingin bertanya sesuatu?" tanya pelayan itu saat melihat Nyonya Yang terdiam sambil bersimpuh dan berpikir.
"Pertanyaan hamba sudah selesai!"
Nyonya Yang memberi hormat, lalu pelayan itu mundur kembali ke belakang Anyi.
"Nyonya Yang, menurutmu bagaimana masalah ini harus diselesaikan?" Anyi bertanya lagi.
"Bagaimana rencana Wangye sendiri?" Nyonya Yang bertanya balik dengan hormat.
"Tentu saja terserah Nyonya!" jawab Anyi dengan tegas.
"Wangye, mohon pertimbangkan kembali, apakah benar keputusan ini diserahkan kepada hamba?"
"Terserah padamu, aku tidak akan menarik ucapanku!" Anyi berhenti sejenak, menunduk berpikir, lalu mengangguk dengan yakin.
"Jika demikian, menurut hamba, itu harus bergantung pada keinginan Sang Junzhu."
Nyonya Yang bangkit, menghampiriku, lalu berlutut di depanku. Ia membantuku berdiri agar aku bisa menatapnya langsung.
"Nyonya Yang—"
Apa yang terjadi? Bagaimana bisa urusan ini berputar-putar kembali kepadaku?
"Junzhu tidak perlu takut, katakan saja pikiranmu yang sebenarnya kepada hamba. Apakah kau puas dengan kedua pelayan ini?" Nyonya Yang tidak menanyakan perihal keberadaan mereka, melainkan kepuasanku terhadap mereka.
"Tidak ada yang membuatku tidak puas." Aku berpikir sejenak. Kedua pelayan ini bekerja dengan sungguh-sungguh, melayani dengan teliti dan sopan. Tidak ada kesalahan yang bisa kucela.
"Kalau begitu, biarkan mereka tetap di sini!" Nyonya Yang tersenyum dan mengangguk padaku. "Beberapa hari ini aku juga memperhatikan mereka. Meski mereka siluman kecil, kesetiaan mereka dalam melayani jauh lebih tulus daripada manusia!"
"Nyonya, ini—" Anyi tampak terkejut, namun kata-kata tertahan di tenggorokannya.
"Wangye, peraturan kediaman kita tidak pernah melarang penggunaan siluman. Aturannya hanya menyebutkan bahwa budak yang telah diberi nama, selama tidak melakukan kesalahan besar atau menyinggung perasaan majikan, maka mereka boleh melayani di sisi majikan!"
Nyonya Yang berlutut dan berbalik, menarikku untuk ikut bersujud di hadapan Anyi.
"Bukankah peraturan itu sudah diubah?" Anyi tampak seperti ingin menarik ucapannya kembali.
"Wangye sudah lupa, sejak mendiang Wangfei tiada, urusan di kediaman ini jarang sekali Anda perhatikan, bukan?"
Kalimat Nyonya Yang terasa pilu dan penuh kenangan. Nama mendiang Wangfei saja sudah cukup membuat Anyi melamun. Benar, mendiang Wangfei telah tiada bertahun-tahun lalu. Banyak peraturan dibuat saat ia masih ada. Selama bertahun-tahun, meskipun Anyi menikah lagi, ia tidak pernah memberikan kekuasaan nyata kepada sang Wangfei saat ini.
"Jika mendiang Wangfei masih ada, ia pun akan melakukan hal yang sama. Ini bukan salah kedua siluman kecil itu, bukan pula salah Sang Junzhu. Wangye, Anda harus menatap ke depan!" Nyonya Yang berlutut di sana, dahinya menempel di telapak tangan, enggan bangkit. Aku pun tidak berani bergerak sedikit pun di sampingnya.
"Bangkitlah!" Suara Anyi tiba-tiba terdengar parau dan tua. "Bangkitlah semuanya!"
Kali ini, suaranya terdengar tepat di depanku. Kepalaku terasa berdenging saat sepasang tangan membantuku berdiri dari lantai.
Anyi berlutut di depanku, membantuku bangkit, lalu menyisir anak rambut di dahiku. Ia menatap mataku cukup lama, kemudian tersenyum.
"Kau benar-benar sangat mirip dengannya!"
Aku menatapnya dengan linglung, pikiranku sempat kosong sesaat. Apakah jawaban ini berarti ia akhirnya mengakui identitasku sebagai putrinya? Aku sempat mengira akan ada lebih banyak rintangan dan siksaan, namun tak disangka, semuanya berlalu begitu saja.
"Nyonya Yang, bawalah dia kembali untuk beristirahat. Aku masih ada urusan, dua hari lagi aku akan menemui kalian!" Anyi berdiri, membelakangiku dan Nyonya Yang, melangkah pergi namun kemudian berhenti dan berucap pelan.
"Baik—" Nyonya Yang memberi hormat.
"Selamat untuk Wangye! Setelah penantian bertahun-tahun, akhirnya ayah dan anak bersatu kembali!"
Seluruh aula seketika gempar, suara-suara ucapan selamat bersahutan tanpa henti. Setelah keadaan menjadi tenang, aku baru tersadar dari keterkejutanku.
"Ananda pamit undur diri!"
Aku memberi hormat dengan takzim, lalu mengikuti langkah Nyonya Yang, membawa Han Yunduo dan Han Feifei yang masih bersujud di belakangku untuk melangkah keluar dari aula.