Di dunia ini, setiap orang merindukan ketenangan, namun ketenangan justru melintasi semak berduri, mencari kembali jejak kedatangannya. Ada beberapa hal, beberapa orang, yang mungkin lebih baik tetap
26 Januari 2019, Wuhan, mendung, Sabtu
Namaku An Ning, berzodiak Pisces, tahun ini usiaku 26 tahun. Tidak, jika dihitung berdasarkan kalender Masehi, seharusnya sudah 27 tahun. Catatan harian ini adalah rekaman pertama kali aku menjalani terapi psikologis bersama dokter jiwa.
Entah sejak kapan, ingatanku mulai terputus-putus, dan di tubuhku sering muncul luka yang tidak aku ketahui asal-usulnya. Bahkan saat berada di bawah pengawasan orang tuaku, hal itu tetap terjadi. Nenekku mengira aku diganggu oleh sesuatu yang tak dikenal, sementara kedua orang tuaku berpendapat aku terlalu ceroboh, sehingga tidak ingat bagaimana bisa terluka.
Fenomena ini bukannya berkurang seiring bertambahnya usiaku, malah semakin parah. Sering kali aku tiba-tiba terbangun dan mendapati diriku sendirian di jalan yang asing. Semua itu bukan terjadi pada malam hari, melainkan di siang yang damai.
Masa mungkin aku berjalan dalam tidur di siang bolong?
Aku sempat memeriksakan diri ke dokter syaraf, karena mencurigai diriku terkena demensia, tetapi dokter syaraf justru merujukku ke psikiater.
Psikologku melakukan hipnosis padaku. Menurut penjelasannya, saat dihipnosis aku justru menceritakan beberapa mimpi—mimpi yang sama sekali tidak aku ingat dan tidak pernah terekam dalam memoriku:
Aku sering bertemu seseorang dalam mimpiku. Ia mengenakan berbagai macam pakaian, muncul di berbagai tempat. Aku tidak pernah bisa melihat jelas wajahnya, tapi aku mengingat matanya—jernih dan bercahaya. Sepasang mata itu selalu menatapku, penuh perasaan yang sulit diungkapkan, b