Bab 15: Peri yang Terlalu Gemar Berjudi
Setelah keluar dari kamar sewaanku, aku terus mengikuti di belakang Han Yunduo.
Tepatnya, aku melayang di belakangnya.
Dunia yang kulihat masih terasa tidak nyata, di mana pun mataku memandang, selalu ada semburat cahaya jingga yang tipis. Seluruh kota seolah terkurung dalam satu waktu, tanpa kegelapan, tanpa jejak manusia, jalanan kosong, dan pemandangan yang suram.
Bayangan Han Yunduo di jalanan panjang itu membentang, berjalan perlahan bersama langkah kakinya yang bergema di ruang hampa, terus maju ke depan.
“Kita mau ke mana?” tanyaku, sedikit gelisah. Kota yang terlalu sunyi ini menimbulkan rasa takut yang sulit kujelaskan.
“Mencari peri itu,” Han Yunduo berhenti, menoleh padaku, tersenyum, “An Ning, kau sadar ada sesuatu yang aneh?”
Aku menggeleng. Dunia ini, sejak aku terbangun lagi, sudah berubah sepenuhnya.
“Kita terus berputar di sini,” Han Yunduo menoleh ke sekeliling, lalu menunduk menatap bayangannya sendiri. Ia berjongkok, dan dengan ujung jari menggores pertemuan antara bayangan dan kakinya.
Bayangan yang semula meniru gerakannya itu tiba-tiba terlepas, bergerak di lantai, lalu berubah menjadi sosok yang berdiri.
Han Yunduo hanya menggerakkan ujung jarinya, dan bayangan itu pergi dengan sendirinya.
“Apakah kita terjebak di sini?” Kini, dalam wujudku yang seperti ini, aku tak bisa melakukan apa-apa, hanya bisa melayang di udara.
“Kau tahu siapa sebenarnya si Nana itu?” Setelah melepaskan bayangannya, Han Yunduo duduk di tempat, satu tangan menopang dagu, satu lagi di atas lutut.
“Dia seorang peri? Atau roh jahat? Atau mungkin hantu?” Aku kurang yakin, karena ini pertama kalinya aku bertemu makhluk seperti itu.
“Makhluk yang kecanduan judi seperti dia, adalah roh jahat yang mengikuti para penyihir,” Han Yunduo menggerakkan jarinya, lalu aku pun tidak lagi melayang, melainkan duduk di tanah bersamanya.
Rasa nyaman kembali saat merasakan gravitasi. Perasaan melayang seperti balon yang tanpa beban itu selalu membuatku gelisah.
“Kau pernah bertemu tuannya?” tanya Han Yunduo.
“Tidak!” Aku berpikir keras, menggeleng. Selain Nana, yang kutemui hanya suara tua di belakang jalan barang antik, dan kepala yang melayang di udara.
“Tapi, dia membawaku ke bukit belakang jalan barang antik, di sana aku bertemu makhluk berbulu lebat. Sebelum mengalami kejadian itu, aku dikejar-kejar oleh sebuah kepala, hingga akhirnya begini.”
“Pemakaman Mingde?” tanya Han Yunduo.
Setelah aku mengangguk, ia menggeleng, “Itu adalah Nenek Hantu dan lampu penuntunnya.”
“Kau tahu apa yang ada di sana juga?” Aku terkejut, ternyata Han Yunduo pun mengenal makhluk berbulu di bukit itu.
“Bisa dibilang kenalan lama,” Han Yunduo mengangguk, menatapku cukup lama, lalu berkata, “Hanya karena sebuah lampu saja kau sudah setakut ini, An Ning, nyalimu benar-benar kecil!”
“Aku bukan dari dunia kalian!” Aku agak kesal, wajar saja kalau takut pada hal seperti itu.
“Kau hanya lupa saja,” Han Yunduo menggeleng, lalu dengan satu gerakan tangannya, wajahku sudah di depan wajahnya. Ia menatap keningku lama, baru kemudian melepaskanku, “Dia makin hebat sekarang!”
“Apa ada sesuatu di dahiku? Apa maksud perkataanmu?” Aku benar-benar tidak mengerti. Ekspresi Han Yunduo saat menatap dahiku mirip dengan pemilik kafe waktu itu. Aku jadi bingung, meraba dahiku, tapi tak merasakan apa-apa.
“Sudah kubilang, kau pun tidak akan ingat,” Han Yunduo melepas daguku, membiarkanku kembali ke tempat semula. “Banyak hal yang harus kau temukan sendiri.”
“Masa, kalau kau ceritakan, aku bakal amnesia?” Aku mencibir. Setelah lama bersama Han Yunduo, aku sudah tak takut padanya.
“Bukankah karena sering lupa, kau datang mencariku?” Han Yunduo balik bertanya.
“Maksudmu, kejadian-kejadian sebelumnya itu bukan sleepwalking, tapi aku bertemu makhluk-makhluk itu?” Aku segera sadar, lama terdiam baru akhirnya bertanya dengan suara bergetar.
“Setidaknya kau tidak sebodoh itu,” Han Yunduo mengangguk. “Ingat waktu kau meneleponku minta tolong, aku bertanya apa waktu itu?”
“Ada seseorang yang mengikutiku?” Pertanyaan itu selalu kuingat. Saat itu terasa aneh, kenapa Han Yunduo bertanya begitu.
“Nana itu, selalu mengikutimu,” Han Yunduo berpikir sejenak, lalu menggeleng menolak ucapannya sendiri. “Tidak, sebenarnya, tuannya yang selalu mengitarimu, merancang sesuatu.”
“Aku ini apa sih, sampai harus dirancang segala?” Aku benar-benar tak paham. Dari wajah, aku biasa saja, dari keluarga, bukan orang kaya.
“Itu yang harus kau tanyakan pada dirimu sendiri. Aku tak bisa memberitahumu banyak,” Han Yunduo tampak tahu segalanya, tapi jelas tak mau membagikannya padaku.
“Kau memang tak mau bilang, kan?” Semua alasan ‘kau pun tidak akan ingat’ itu hanya omong kosong.
“Aku hanya bisa memberitahumu hubungan di antara mereka,” Han Yunduo mengalihkan pembicaraan, lalu mulai menjelaskan pertalian antara peri dan penyihir.
Di dunia ini, beberapa trik sulap hanyalah ilusi, tapi sebagian dilakukan oleh para peri itu. Pada dasarnya, mereka adalah roh jahat, arwah yang tak bisa masuk ke siklus reinkarnasi, tak bisa lenyap, hanya bisa terjebak di tempat mereka dikuburkan dan menderita tanpa henti.
Dunia arwah tidak bisa melihat manusia, seperti dunia An Ning sekarang. Begitu pula para roh jahat—mereka tak bisa saling melihat, juga tak bisa melihat makhluk hidup lain, kecuali ada yang bersedia memberikan jiwanya untuk mereka.
Itulah penyihir; mereka berbagi jiwa dan panca indera dengan roh jahat itu, memungkinkan mereka kembali ke dunia manusia dan berkeliaran di sini. Sebagai imbalan, roh jahat itu juga akan melakukan sesuatu untuk si penyihir.
Hubungan simbiotik ini jelas melawan kodrat. Nasib para penyihir pun tak akan berakhir baik, entah dimakan oleh roh jahat, atau justru berbalik memakan roh itu. Dua harimau bertarung, pasti salah satunya binasa.
“Nana bilang, dia melihatku lima ratus tahun lalu.”
Lupakan soal aku lima abad lalu, yang jelas dia dan tuannya itu...
“Jadi, tuannya sudah dimakan oleh Nana?” tanyaku ragu.
“Itu yang aneh, tuannya tidak lenyap,” Han Yunduo menatapku, matanya mulai berpendar kekuningan. “An Ning, mungkin itulah alasan dia mendekatimu.”
“Alasan apa?” Aku benar-benar tak paham. “Jangan-jangan, kalau memakan dagingku, dia bisa abadi?”
Jadi, tuannya bisa bertahan hidup lima abad karena memakan diriku dulu?
“Kau terlalu berlebihan. Tuannya sudah lama mati, hanya saja, jiwanya belum sirna,” Han Yunduo mengedipkan mata padaku. “Mungkin, dengan cara ini, dia benar-benar bisa menyelamatkanmu.”
“Menyelamatkanku?” Otakku tak sanggup lagi mengikuti alur Han Yunduo.
“Dia akan datang, bicaralah baik-baik dengannya!” Setelah berkata begitu, Han Yunduo pun menghilang dari hadapanku.