Bagian Keenam: Tirai Dibuka
"Kong Zi berkata, ‘Setiap hari aku menelaah diriku tiga kali.’ Maksudnya adalah kita harus menuntut diri sendiri dengan ketat dan selalu mengingatkan diri sendiri..." Tuan Yan mengajar dengan cara yang agak membosankan, beberapa murid yang biasanya hanya tahu bermain jelas sulit untuk berkonsentrasi. Mereka pun berkumpul bersama, entah merencanakan apa lagi.
"Beberapa waktu lalu aku melihat anjingku terjatuh ke air, lalu aku mendapat ide. Kali ini, kita lihat saja apa yang akan terjadi!"
Tuan guru marah, "Saat pelajaran berlangsung, jangan berbisik!"
Mereka memang selalu takut membuat masalah, jadi setelah dimarahi tuan guru, mereka pun diam.
Seperti biasa, aku keluar dari kediaman Taifu. Walau sudah hampir memasuki musim panas dan pakaianku tipis, angin tetap terasa dingin saat bertiup. Melihat langit mulai menggelap seperti akan hujan, kupikir hari ini tak perlu mengunjungi Qing Chen. Lebih baik pulang lebih awal agar kakakku tidak khawatir.
"Tolong! Tolong aku!" Tiba-tiba terdengar suara minta tolong dari Taman Istana. Sungguh, kenapa setiap kali selalu aku yang menemukannya? Awalnya aku ingin mengabaikan saja, toh sebentar lagi pasti ada orang yang lewat. Tapi setelah melangkah dua langkah, terpikir olekku bahwa jika aku tak menolong, dan tak ada orang lain yang datang, bisa-bisa nyawa orang itu terancam. Ajaran kebaikan dan keadilan yang diajarkan guru masih teringat jelas, mana mungkin aku tega membiarkan seseorang celaka di depan mataku.
Aku pun segera berlari ke tepi danau, namun tak kulihat ada orang yang tenggelam, bahkan riak air pun tak ada. Ketika aku masih bingung, tiba-tiba terasa ada seseorang di belakangku, sebelum aku sempat bereaksi, aku didorong masuk ke danau.
Karena tak waspada, aku sempat panik dan hampir lupa bahwa aku bisa berenang. Setelah sadar, aku segera menjejak dasar danau. Orang yang mendorongku rupanya tak lari, malah berdiri di pinggir menatapku dari atas, lalu beberapa orang lainnya muncul dari balik semak. Benar saja, mereka adalah para sahabat Putra Mahkota. Melihat keadaanku, mereka pun tertawa terbahak-bahak.
Yang memimpin berkata, "Tak kusangka kau bisa berenang. Kalau begitu, kami tak perlu menolongmu. Naiklah sendiri kalau bisa."
Aku ingin naik ke darat dan memberi pelajaran pada mereka, tapi baru teringat bahwa pakaianku sangat tipis, setelah basah pasti menempel di tubuh. Meski tubuhku belum sepenuhnya berkembang, tetap saja sudah ada bentuk. Kalau aku naik sekarang, bukankah mereka akan mengambil keuntungan dariku? Tapi air danau ini sangat dingin, tubuhku sudah menggigil, aku hanya bisa memandang mereka dengan tatapan marah.
Saat aku bingung harus berbuat apa, Putra Mahkota datang. Kemarahanku pun semakin memuncak. Aku berteriak padanya, "Licik!"
Ia melihatku di dalam air, tidak membantu, malah menatap sekeliling dan tampak mengerti situasinya. Ia memasang ekspresi menonton pertunjukan, menyilangkan tangan di dada. "Xia Mu Guo, rupanya kau juga mengalami hari seperti ini. Ucapkan satu kata baik, maka aku jamin setelah kau naik nanti aku tak akan mengganggumu lagi."
"Pergi! Hah..." Aku menguap.
Salah satu sahabatnya langsung menunjukku, "Berani sekali! Berani bicara kasar pada Putra Mahkota!"
Putra Mahkota melambaikan tangan, "Jadi kau lebih suka berendam di air dingin daripada mengucapkan satu kata baik?"
Mataku memerah, aku menggertakkan gigi, "Seorang terhormat boleh dibunuh, tapi tak boleh dihina."
Putra Mahkota tertegun, lalu tiba-tiba kehilangan minat, "Sudahlah, naiklah. Aku tak akan mempermasalahkannya lagi."
"Yang Mulia Putra Mahkota, jangan! Kesempatan langka seperti ini, kalau tak membalas dendam, sungguh disayangkan!"
Putra Mahkota membentak, "Apa kau kira aku orang yang suka menggunakan cara licik? Kalian semua pergi dari sini!"
Meski tidak rela, mereka akhirnya mundur juga. Putra Mahkota menatapku, berkata santai, "Naiklah, aku tak akan berbuat apa-apa padamu."
Tentu saja aku tahu. Sekalipun dia ingin macam-macam, aku juga bukan orang yang mudah dihadapi. Tapi dalam situasi sekarang, aku benar-benar serba salah. "Kau pergilah dulu, kalau tidak aku tidak akan naik."
"Apa maksudmu? Tak percaya padaku?" Ia berkata sambil mengulurkan tangan hendak menarikku. Aku panik dan mundur, membuatnya ikut terjatuh ke air. Ia tak menyangka aku akan seperti itu, jadi tak siap menahan, dan ia pun tercebur, bahkan sempat tersedak air beberapa kali.
Setelah ia tenang, ia membentak, "Berani sekali! Rupanya kau sengaja menungguku turun supaya bisa menyeretku ke air! Benar-benar tak tahu batas!"
Melihat ia begitu dekat denganku, aku segera menjauh, tapi ternyata ia tak bisa berenang. Begitu kulepas, ia hampir tenggelam lagi. Aku buru-buru berenang kembali dan membantunya. Ia pun mencengkeram tanganku seperti menemukan penyelamat, "Kau... batuk... ingin membunuh Putra Mahkota!"
"Aku tak seberani itu. Kau sendiri yang ikut terjun."
"Kenapa belum juga mengantarku ke darat?!"
Aku berpikir sejenak, merasa itu ide yang bagus. Kalau aku menolongnya naik, pakaiannya pasti basah dan ia akan kembali ke istana untuk mengganti baju. Aku bisa menunggu sampai ia pergi, baru naik ke darat. Maka aku pun menyeretnya ke tepi. Ia terengah-engah di pinggir, tapi tetap tak mau melepaskanku.
"Kau juga naik! Hari ini salah satu dari kita harus kalah!"
"Yang Mulia, duel belum waktunya. Tak perlu terburu-buru."
"Aku tak peduli! Pokoknya hari ini aku harus membuatmu babak belur!"
Terus berseteru dengan Putra Mahkota jelas tak ada gunanya. Aku sedang bingung, tiba-tiba melihat Permaisuri Shu datang bersama Pangeran Kelima.
"Ada apa ini ribut sekali?"
Putra Mahkota segera berdiri dan memberi salam, "Salam hormat, Yang Mulia."
Meski aku masih di air, aku tetap berkata, "Salam hormat, Permaisuri Shu, Pangeran Kelima."
Pangeran Kelima memandangku dengan heran, "Kenapa kau tidak naik? Apa air danau di Taman Istana ini ada yang menarik sampai kau betah di situ?"
Aku benar-benar tak tahu harus berbuat apa, semua orang menatapku. Tiba-tiba Permaisuri Shu berkata, "Bukankah ini adik perempuan Perdana Menteri Xia? Ada apa ini?"
Putra Mahkota dan Pangeran Kelima sama-sama terkejut, aku juga langsung paham. Saat kakakku membawaku menghadap Kaisar, Permaisuri Shu juga hadir, jadi ia mengenaliku bukan hal aneh.
"Pakaian rakyat jelata basah kuyup, tak bisa naik ke darat untuk memberi salam, mohon maaf Yang Mulia." Mendengar aku menyebut diriku ‘rakyat jelata’, Putra Mahkota makin terkejut, menatapku lama, ingin berkata sesuatu tapi tak mampu. Aku memang tak pernah mengakui diriku laki-laki, jadi tak bisa dibilang menipu raja. Sekarang pun aku tak peduli lagi.
Permaisuri Shu segera mengerti, "Jie Mo, antar Putra Mahkota kembali ke istana untuk berganti pakaian."
Pangeran Kelima mengangguk dan membawa Putra Mahkota pergi. Begitu tak ada laki-laki lain, aku segera naik ke darat. Begitu angin menerpa, rasa dinginnya menusuk sampai tulang.
"Hachoo..." Aku bersimpuh memberi hormat, "Terima kasih atas pertolongan Yang Mulia."
"Tak perlu banyak basa-basi. Tubuhmu basah kuyup, ikut aku ke istana untuk berganti pakaian."
Permaisuri Shu memang keturunan jenderal, wataknya jauh lebih terbuka dibandingkan istri kaisar lainnya.
Aku tak bisa menolak, memang tak ada pilihan lain. Maka aku pun mengikuti Permaisuri Shu kembali ke istana. Setelah berganti pakaian, tubuhku terasa makin lemas. Mungkin karena terlalu lama di air dingin tadi, sekarang aku benar-benar merasa tidak enak badan, seluruh tubuh menggigil. Setelah berterima kasih pada Permaisuri Shu, aku ingin segera pulang agar kakakku tidak khawatir. Namun, baru sampai pintu, dunia terasa berputar, pandanganku gelap, dan aku pun pingsan.
Saat sadar, aku masih di istana Permaisuri Shu. Ketika hendak bangkit, Permaisuri Shu segera menghampiri, "Jangan bangun dulu, semalam demammu tinggi dan belum juga sadar. Tubuhmu belum pulih, istirahatlah dulu." Melihat aku ingin bicara, ia menyodorkan teh, "Tenang saja, aku sudah mengirim orang untuk memberitahu Perdana Menteri Xia. Tapi karena tubuhmu masih lemah, kau belum dibawa pulang. Istirahatlah di sini dulu."
Setelah minum air, tubuhku terasa lebih nyaman. "Terima kasih, Yang Mulia."
"Tak perlu berterima kasih. Aku hanya melakukan hal yang wajar."
Aku baru menyadari ruangan ini seperti kamar pangeran, bukan kamar tamu. "Ini kamar Pangeran Kelima?"
"Benar. Kamar-kamar tamu terlalu dingin, jadi aku suruh Jie Mo tidur di sana. Tubuhmu lemah, lebih baik beristirahat di sini. Lagi pula, laki-laki muda sekuat dia pasti bisa menyesuaikan diri." Memang benar, Permaisuri Shu terkenal tidak kaku. Aku pun merasa lebih nyaman.
"Aku tak punya anak perempuan, melihatmu yang berpengetahuan dan sopan, aku sangat menyukaimu. Datanglah sering-sering ke sini."
"Yang Mulia masih muda, kelak pasti akan punya lebih banyak pangeran dan putri. Lagi pula, Yang Mulia berwatak terbuka, pasti Kaisar sangat menyukai, tak perlu khawatir soal anak lagi." Permaisuri Shu tersenyum malu, "Tak kusangka kau pandai berbicara juga."
"Terima kasih atas pujiannya, Yang Mulia."
Setelah beristirahat setengah hari di istana Permaisuri Shu, aku ingin menghirup udara segar. Saat turun dari ranjang, aku melihat di dalam kamar penuh dengan kaligrafi dan lukisan bertema kesetiaan cinta pria dan wanita. Rupanya Pangeran Kelima memang seperti kabar yang beredar, hanya tertarik pada puisi dan seni. Sebagai anak jenderal, ia justru gemar puisi dan lukisan, dan Permaisuri Shu pun tak melarang. Entah apa pendapatnya dan Kaisar tentang hal itu.
"Gadis anggun, jodoh ideal sang pria." Melihat tulisan di meja, aku pun membacanya pelan.
"Kau juga suka Kitab Puisi?" Aku menoleh, melihat Pangeran Kelima melangkah masuk. Penampilannya sopan dan tenang, pantas saja banyak gadis di ibu kota yang mengaguminya.
"Setiap orang menyukai keindahan. Meski tak bisa memiliki, setidaknya bisa membayangkan. Syair dalam Kitab Puisi itu sederhana dan tulus, itulah keindahan yang selalu aku rindukan." Aku memang menyukai Kitab Puisi, saat kuliah pun ikut klub sastra itu. Meski Pangeran Kelima dikenal suka bersenang-senang, bakatnya memang tak bisa disangkal.
Ia menatapku dengan penuh minat, "Tak kusangka seorang gadis yang belum menikah sepertimu bisa melihat dunia dengan begitu jernih."
Aku sengaja mengalihkan pembicaraan, "Tuan Yan sudah beberapa hari mencari Pangeran Kelima, Anda belum berniat kembali ke kelas?"
Ia tampak canggung, "Pelajaran yang diajarkan terlalu kuno, lebih baik tidak belajar."
Pelajaran Tuan Yan memang terasa kuno, tapi saat mengajariku tidaklah demikian. Para pangeran dan pejabat memang membutuhkan itu, dan Tuan Yan selalu menyesuaikan dengan muridnya.
"Meski terasa kuno, itu juga adalah jalan kebajikan. Jika bisa menguasai dan mengolahnya, itulah kemampuan. Pengetahuan itu satu keluarga, mau kuno atau luwes, tujuannya sama, untuk memperbaiki diri. Dengan belajar yang kuno, kita bisa mengubahnya sesuai kebutuhan sendiri. Bukankah itu juga belajar?"
Pangeran Kelima tertegun lalu tersenyum, "Kau benar juga. Sepertinya selama ini aku memandangmu sebelah mata."
Aku tak ingin memperpanjang pembicaraan, langsung pamit pada Permaisuri Shu. Begitu keluar istana, kulihat kakakku menunggu di luar kereta dengan wajah cemas. Aku segera berlari menghampiri, "Kakak! Kakak!"
Begitu melihatku, kekhawatirannya seketika hilang. Ia memeriksaku dari atas ke bawah, "Kau tak apa-apa? Demammu sudah turun? Masih merasa tidak enak badan?"
"Aku baik-baik saja. Tabib bilang cukup istirahat dua hari pasti sembuh. Maaf sudah membuat Kakak khawatir."
"Tak masalah, yang penting kau sehat. Ayo cepat naik ke kereta, jangan kena angin dingin lagi."
"Baik, Kakak."