Bagian Ketiga Puluh Satu: Rumput Musim Semi yang Hijau
Sudah lama tidak keluar rumah, rasanya benar-benar menyesakkan. Sekarang bisa pergi ke padang rumput untuk menunggang kuda, sekalian bisa mengusir hawa sial yang menempel di tubuh. Begitu tiba di luar istana, benar saja, terpampang hamparan padang rumput luas. Di masa modern, aku memang menyukai tempat-tempat luas seperti Xinjiang. Sejak datang ke zaman kuno, aku hanya berkutat di Kediaman Xia dan istana, ini kali pertama melihat pemandangan secantik ini. Hatiku pun berdebar-debar. Aku berteriak ke arah padang rumput, seolah semua tekanan selama ini lepas begitu saja.
“Ah~”
Tak lama kemudian, Qing Chen menuntun seekor kuda, melihat aku berteriak dengan puas, ia pun ikut bersamaku.
“Ah~”
Setelah berteriak, ia tersenyum padaku, hatiku mendadak terasa penuh kebahagiaan. Tanpa sadar aku pun tersenyum padanya. Ia terkejut, lalu tiba-tiba memelukku, suaranya penuh suka cita, “Mu Guo... Mu Guo... senyummu sungguh indah.” Dipeluk olehnya dan mendengar rayuan seperti itu, wajahku langsung merona hingga ke telinga. Aku pun berpaling, tak sanggup menatapnya langsung.
Kemudian ia perlahan melepaskanku, menatapku lekat-lekat, aku jadi malu dan otomatis mengalihkan pandangan. Tiba-tiba Qing Chen meraih wajahku, dan bibirnya mendarat di bibirku. Aku terpaku, menatap wajahnya yang semakin dekat. Begitu merasakan geli di bibir, barulah aku sadar. Jantungku berdebar kencang, rasanya seolah dikelilingi semerbak bunga persik. Ciumannya semakin dalam, aku pun tanpa sadar ikut larut. Lama setelah itu, ia baru dengan enggan melepaskanku, membuat wajahku semakin merah karena ciuman tadi.
Qing Chen menatapku penuh perasaan, lalu menggoda, “Harumnya luar biasa.” Aku sebal padanya, menggerutu, “Dasar lelaki tak tahu malu.” Qing Chen berkata, “Bukan pertama kali kita berciuman.” Aku menatapnya heran, lalu ia tiba-tiba mendekat, “Waktu pertama kali kita bertemu, bukankah kau menciumku berkali-kali? Barusan aku hanya membalas satu kali saja, itu pun belum sepadan.” Aku melirik kesal, “Dasar serigala berbulu domba, itu bukan ciuman! Aku sedang menyelamatkanmu, tahu?! Andaikan aku tahu kau akan jadi begini, lebih baik dulu kubiarkan kau tenggelam saja.” Ia langsung memasang wajah memelas, “Kau benar-benar tega?”
Aku tak mau meladeninya lagi, langsung berbalik menuntun kuda. Qing Chen melihat aku cuek padanya, merasa bosan juga, jadi akhirnya ia menemaniku menunggang kuda. Saat itu aku baru sadar hanya ada seekor kuda, lalu bertanya, “Kenapa cuma satu?” “Suamimu ini uangnya pas-pasan, mana mampu beli dua? Kau harusnya belajar berhemat denganku.” Siapa yang percaya omongannya, seorang pangeran mengaku tak punya uang. Benar-benar tak tahu malu. “Kalau kau tak mau, aku sendiri saja yang beli. Kau tak cukup uang, aku punya.” Melihat aku mau pergi, ia buru-buru menarikku. “Naiklah bersamaku. Aku... aku tidak bisa menunggang kuda...”
Aku tertawa geli, keras kepala sekali, masih saja pura-pura tak punya uang. Tapi sejak kecil Qing Chen memang agak lamban, wajar tak ada yang mengajarinya menunggang kuda. Aku sendiri diajari oleh Tuan Yan, meski tak bisa dibilang mahir, tapi cukup baik juga. Melihat betapa canggungnya ia, aku pun jadi girang, “Panggil aku Tuan Muda yang gagah, nanti kubawa kau naik kuda.”
Qing Chen pura-pura tak peduli, tapi akhirnya tetap memanggil, “Tuan Muda yang gagah.” “Apa? Aku tak dengar!” Qing Chen tiba-tiba menarikku, bibirnya dekat di telingaku, napasnya harum, suara menggoda, penuh pesona dan malu-malu, “Tuan Muda yang gagah.” Lalu sebelum aku sempat bereaksi, ia buru-buru menciumku. Aku menatapnya tajam, “Tak tahu malu.”
Aku pun enggan memperpanjang urusan, langsung naik ke kuda, “Mau naik tidak?” Qing Chen segera naik di belakangku. Aku berkata santai, “Pegangan yang erat.” Lalu kuda pun melesat kencang. Qing Chen tiba-tiba memelukku erat, menjerit kencang. Aku merasa lucu, lalu membalakan kuda lebih kencang ke tempat yang lebih jauh. Aku pun ikut berteriak, hati rasanya lega dan bebas.
------------------------------------------------------------------
Waktu bersama Qing Chen berlalu sangat cepat, ketika langit mulai gelap, ia pun mengantarku pulang.
“Kita sudah sampai, masuklah. Aku akan menunggu sampai kau benar-benar masuk.” Qing Chen tersenyum, setiap geraknya terasa begitu hangat.
Aku tak banyak bicara, hanya mengangguk padanya lalu masuk. Begitu aku melihat ke depan, tiba-tiba tertegun, “Kakak....” Kakakku berdiri di depan pintu, wajahnya berubah-ubah, membuat hatiku ciut.
“Kenapa masih diam di situ? Cepat masuk! Atau kau mau ikut Pangeran Kedua kembali ke istana?!” Kakakku berkata dengan suara dalam, penuh amarah. Aku terdiam. Ini pertama kalinya kakak marah besar padaku, bahkan soal Raja Mingjing pun ia tak pernah berbicara sekeras ini padaku. Sikapnya terasa asing, aku jadi takut. Hatiku perih, air mata menahan di pelupuk.
Qing Chen melihatku begitu, mengerutkan kening, melangkah maju dengan nada kesal, “Aku yang memaksa Mu Guo pergi, Perdana Menteri Xia tidak perlu marah pada orang sakit!”
Kakakku menatap Qing Chen dengan dingin, “Urusan keluargaku bukan urusan Pangeran Kedua. Jika tak ada keperluan lain, silakan pergi.” Lalu ia menarik tanganku dengan paksa, menyeretku masuk ke dalam. Air mataku pun tumpah, “Kakak, aku tak tahu apa kesalahanku.” Kakak berkata, “Kau perempuan belum menikah, pergi berduaan dengan lelaki. Apa itu bukan kesalahan? Rupanya aku terlalu longgar mendidikmu!”
Qing Chen langsung masuk, meraih tangan satuku, menatap balik ke kakak, “Perdana Menteri Xia, apa maksudmu? Terus terang saja, aku memang menyukai adikmu. Begitu Mu Guo dewasa, aku akan menikahinya jadi selirku. Apakah masih ada yang tidak puas?”
“Hmph, urusan pernikahan selalu urusan orang tua dan mak comblang. Mana bisa kalian tentukan sendiri! Lagipula Pangeran Kedua, kelak istrimu pasti banyak, keluarga Xia tak layak bermimpi setinggi itu!” Kakak menepis tangan Qing Chen, lalu memelukku, seolah menegaskan hak milik. Sebelum Qing Chen sempat bereaksi, pintu sudah ditutup rapat.
Dalam pelukan kakak, aku mendadak seperti kehilangan kesadaran, hanya terngiang kata-kata “urusan orang tua dan mak comblang”. Jadi, kakak memang berpikir begitu. Kakak selalu memberiku kebebasan, di istana pun aku boleh sesuka hati. Tapi aku tak pernah tahu, ternyata urusan pernikahanku sama saja seperti gadis lain. Aku menatap kakak, hatiku perih, kecewa, tak percaya.
Kakak mengalihkan pandangan tak nyaman, “Mulai sekarang kalian tak boleh lagi berhubungan. Ke istana pun jangan sering-sering. Besok aku akan mengundurkanmu dari jabatan sejarawan rahasia di hadapan Kaisar.”
Aku tiba-tiba melepaskan diri dari pelukan kakak, berteriak padanya, “Kenapa? Kakak tak pernah melarangku melakukan apa pun. Tapi sekarang kau bahkan mau mengambil kebebasan dan pikiranku juga? Kalau begitu, lebih baik kau potong saja tangan kakiku, lumpuhkan pikiranku sekalian!”
“Kau pikir aku tak mau?!” Kakak tiba-tiba menatapku, kedua tangan mencengkeram bahuku, matanya penuh cahaya yang belum pernah kulihat, membuatku merinding. Kata demi kata ia ucapkan, “Aku berharap kau selamanya tak bisa lepas dari sisiku.”
Aku tertegun menatapnya, tak bisa berkata-kata.
Melihat aku seperti itu, kakak perlahan melepaskanku, menghela napas, nadanya penuh keputusasaan, “Mu Guo, kakak hanya punya kau.” Ia menatapku dalam-dalam, lalu berbalik masuk ke kamar. Aku berdiri sendiri, pikiranku kosong. Bukan pertama kali kakak menghela napas, tapi kenapa kali ini terasa begitu putus asa?
Aku teringat pertama kali aku sadar, kakaklah yang duduk di samping tempat tidurku, merawatku tanpa lelah. Aku ingat setiap kali pulang sekolah, ia menungguku di ruang utama untuk makan bersama. Aku ingat kakak di bawah pohon plum, berkata apapun yang terjadi akan selalu mendukungku. Aku ingat saat jamuan Raja Mingjing, aku jatuh hingga kepalaku berdarah, kakak menjagaku tanpa tidur. Aku ingat kakak yang selalu memaafkan, bahkan berkorban untukku. Aku ingat kakak itu, dia adalah Xia Changrong yang pernah kucintai.
...”Mu Guo, jika ada orang yang menghalangimu di dunia ini, itu pasti bukan aku. Sejak kau terbangun setelah jatuh, sifatmu banyak berubah, tapi membuat orang semakin sayang padamu. Kakak tahu kemampuanmu. Aku hanya tak ingin kau terluka. Istana itu tempat berbahaya, aku takut tak bisa melindungimu. Tapi jika kau benar-benar ingin melakukannya, kakak hanya akan mendukungmu. Apapun yang terjadi, kakak akan selalu mendukungmu.”...
Kakak hanya punya aku, dan aku pun hanya punya kakak. Aku tak boleh mencintainya, sudah susah payah melepaskan perasaan padanya, kenapa sekarang jadi begini? Kakak yang dulu selalu berkata apapun akan mendukungku, tapi setiap kali menyangkut perjodohan, ia selalu jadi sangat keras. Kakak, apa benar kau punya obsesi terhadap adikmu sendiri? Aku tak boleh membiarkanmu hancur karena aku, kau adalah milik seluruh rakyat Jin, tak seharusnya ada noda di dirimu.