Bab Kesembilan Puluh Tiga: Cinta yang Gila
“Guk, guk!”
Di depan meja makan, Laila menyandarkan wajahnya sambil menatap Roger dengan penuh kekaguman.
“Sayangku, kenapa aku merasa Kara sepertinya lebih menyukaimu dibandingkan aku sebagai tuannya?”
“Mungkin, aku memang lebih disukai oleh hewan-hewan kecil,” jawab Roger sambil sedikit batuk di meja makan, menanggapi kebingungan Laila.
Ia melirik dengan sedikit rasa bersalah ke arah anak anjing di kakinya yang terus berputar-putar di sekelilingnya, lalu berusaha memberikan penjelasan.
“Oh, begitu ya.” Laila dengan mudah menerima alasan yang diberikan Roger, ia mengangguk pelan, namun pandangannya tetap melekat pada wajah lelaki itu.
Dalam tatapan penuh cinta dari Laila, gerakan tangan Roger mulai melambat, bahkan ekspresi di wajahnya pun berubah menjadi sedikit canggung. Ia akhirnya tak tahan untuk bertanya.
“Kamu tidak makan?”
Laila menggeleng, menatap wajah Roger dengan penuh perasaan dan menjawab dengan nada bahagia yang luar biasa, “Bisa melihatmu menikmati masakan yang kubuat saja sudah membuatku sangat bahagia.”
Sikap tergila-gila Laila ini membuat Roger merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Namun, memandang gadis cantik di depannya dan mengingat betapa dulu ia pernah mengagumi dan mengejar Laila, Roger akhirnya menerima saja sikap Laila yang tampak sedikit berlebihan ini, bahkan diam-diam menenangkan dirinya sendiri, mungkin dulu di mata Laila, aku pun terlihat seperti orang yang begitu tergila-gila padanya.
Meskipun ia sudah membujuk dirinya sendiri untuk menerima semua ini, lambat laun, rasa cinta yang semakin kuat ditunjukkan Laila mulai membuat Roger merasa tercekik.
“Aku ingin keluar sebentar.”
“Kenapa, sayang? Apa aku ada melakukan sesuatu yang membuatmu marah?”
“Tidak, aku hanya ingin bertemu dengan teman saja.”
“Teman? Siapa? Kenapa aku tidak tahu kamu akan bertemu teman? Bukankah kita sepasang kekasih? Seharusnya tidak ada rahasia di antara kita. Atau jangan-jangan teman yang kamu maksud itu perempuan lain? Kamu telah mengkhianati cinta kita!”
Untuk pertama kalinya, Roger melihat ekspresi lain di wajah Laila selain tatapan tergila-gilanya selama ini; ada rasa cemburu yang bercampur amarah, seolah Laila membenci perempuan lain, meskipun perempuan itu bahkan tidak benar-benar ada.
“Mendadak aku jadi tidak ingin pergi,” ujar Roger, merasa takut dengan reaksi berlebihan Laila, hingga akhirnya ia memilih untuk tetap tinggal di rumah.
“Syukurlah, sayang!” Mendengar kata-kata Roger, raut cemburu di wajah Laila langsung menghilang tanpa bekas, seakan apa yang baru saja terjadi hanyalah khayalan Roger semata.
Laila segera memeluk tubuh Roger, mengekspresikan cintanya.
Namun, di sisi lain, merasakan tubuh Laila yang lembut dalam pelukannya, ekspresi Roger sudah tak lagi seantusias sebelumnya.
Hari-hari berikutnya, entah hanya perasaan Roger saja atau memang kenyataan, ia merasa mata Laila semakin cekung, pipinya makin tirus, dan ia mulai bertingkah curiga, setiap kali Roger pergi ia selalu khawatir kalau kekasihnya itu akan jatuh cinta pada perempuan lain, meskipun Roger sudah berkali-kali meyakinkan bahwa hal itu tidak mungkin terjadi.
Namun, reaksi Laila sama sekali tak berkurang, malah semakin menjadi-jadi. Ia mulai memaksa Roger untuk memberi tahu jam masuk dan pulang kerja setiap hari, dan setiap lima belas menit sekali harus menelponnya. Begitu sekali saja Roger terlambat menerima telpon, Laila langsung menerobos ke tempat kerjanya.
Yang benar-benar membuat Roger ketakutan dengan cinta Laila yang semakin gila, adalah kejadian di suatu malam.
“Guk guk…”
“Guk, guk, uuu, guk guk…”
Ia mendengar suara Kara menggonggong dengan panik, dan saat tiba di ruang tamu, ia melihat Laila sedang memegang pisau dapur, mengayunkan dengan liar ke arah anak anjing itu.
Sambil bergumam, “Roger hanya milikku seorang, tak ada yang boleh merebutnya dariku, bahkan seekor anjing pun tidak boleh, cintanya hanya boleh jadi milikku…”
Menghadapi kegilaan Laila, anjing kecil Kara pun tak kalah galak, ia menunjukkan taringnya dan menggeram mengancam, jauh dari sikap manisnya selama ini, mereka berdua benar-benar saling menyerang.
“Maaf, aku mengganggumu, sayang,” ujar Laila dengan nada lembut, menahan sedikit ekspresi gilanya saat melihat Roger terbangun, lalu tersenyum manis penuh cinta.
Namun, Laila yang tengah dilanda cinta mendalam itu seolah lupa bahwa di tangannya masih tergenggam pisau dapur berkilat tajam, memantulkan cahaya yang mengerikan.
“Sebentar lagi, sebentar lagi aku akan menyingkirkan penghalang cinta sempurna kita,” bisik Laila dengan suara lembut ke arah Roger, lalu ia menoleh ke arah anjing kecil Kara, wajahnya yang penuh cinta berubah seketika jadi cemburu yang terdistorsi, dan pisau di tangannya menghantam lantai, meninggalkan bekas dalam yang mengerikan, sebelum ia kembali mengayunkan pisau ke arah anjing itu seperti orang kehilangan akal.
“Guk guk!”
Dengan gesit menghindari sabetan pisau dari tangan Laila, Kara pun menatap Roger yang ketakutan sambil mengibas-ngibaskan ekornya, lalu memperlihatkan taringnya dan menerkam tuan lamanya itu.
Melihat semua ini, Roger akhirnya menyadari segalanya.
Ya, Laila sudah benar-benar kehilangan akal, ramuan cinta itu telah membuatnya kehilangan seluruh logika, berubah menjadi orang gila yang seluruh pikirannya dikuasai oleh cinta.
Memahami semuanya, Roger tanpa ragu langsung melarikan diri dari rumah.
Ini bukan cinta yang ia inginkan.
Setelah berhasil kabur, Roger segera mencari tempat ia dulu membeli ramuan cinta itu.
Begitu pintu dibuka, di tengah-tengah rak buku yang tinggi menjulang, ia melihat lelaki paruh baya berpenampilan seperti profesor. Lelaki itu masih duduk di atas tumpukan buku tebal, membaca dengan penuh perhatian.
“Kau datang untuk membeli ramuan penawar?” tanya sang profesor tanpa sedikit pun terkejut melihat kehadiran Roger, seolah sudah menduganya sejak awal.
“Aku ingin mengakhiri semuanya.” Wajah Roger masih menyisakan jejak ketakutan yang mendalam saat menjawab, “Cinta yang gila dan terdistorsi seperti ini, bukanlah yang aku harapkan.”
“Tetapi, itu tetaplah cinta,” ujar sang profesor sambil membalik halaman bukunya, tak tergoyahkan.
Roger menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri, lalu menatap profesor yang tampak tenang di hadapannya dan berkata, “Aku ingin segalanya kembali seperti semula, aku ingin Laila kembali seperti dirinya yang dulu, bukan menjadi orang gila seperti sekarang…”
“Kau sudah yakin? Jika semuanya kembali seperti sebelumnya, kau akan kehilangan cinta itu.”
“Jika cinta harus menjadi kegilaan dan kepincangan seperti ini, aku lebih rela tidak pernah memilikinya.”
Mendengar kata-kata penyesalan Roger itu, profesor di atas tumpukan buku tersenyum tipis, lalu mengambil sebuah botol kecil yang mirip dengan ramuan cinta dan menyerahkannya kepada Roger.
“Ini yang kau butuhkan, ramuan penawar yang bisa mengembalikan segalanya seperti semula.”