Kekuatan Luar Biasa
Dia bangkit berdiri dengan cepat, noda darah di bagian belakang celananya terlalu mengerikan untuk dilihat.
Ia memberanikan diri untuk mengabaikannya, melangkah di atas tanah yang lengket dan becek, lalu memusatkan perhatiannya untuk mencari inti dalam.
Area pencariannya terlalu luas, sementara inti dalam itu hanya berukuran sangat kecil. Ia membungkuk cukup lama, hingga akhirnya setelah menyingkirkan sebuah lengan raksasa yang terputus, ia melihat sebuah permata yang berkilauan di bawahnya.
Ketemu.
Ia membungkuk untuk memungut inti dalam tersebut, membersihkannya dengan mengusapnya pada pakaian, lalu langsung menelelannya bulat-bulat.
[Kekuatan Tanpa Batas]
Arti harfiah.
Catatan: Membutuhkan konsumsi energi yang sangat besar, semoga kamu sudah bersiap untuk menggunakannya.
Tingkat: Menengah
Dulu, saat Tu Ran melihat kalimat "semoga kamu sudah bersiap untuk menggunakannya", ia akan merasa panel ini sangat perhatian.
Sekarang, saat melihat kalimat itu, Tu Ran selalu merasa kalimat tersebut seperti sebuah cemoohan.
Isi cemoohan itu adalah: Kau pikir dengan mendapatkan kemampuan super ini kau jadi tak terkalahkan di dunia? Bermimpi saja kau! Dengan tubuh kecilmu itu, kau tidak akan sanggup menikmati kemampuan super yang begitu kuat!
Namun, bagaimanapun juga, inti dalam itu sudah masuk ke dalam perutnya, menyatu dengan tubuhnya, dan menjadi kemampuan bertahan hidup yang bisa ia gunakan kapan saja.
Digunakan atau tidak, itu tergantung suasana hatinya.
Ada atau tidaknya, itulah yang menjadi fokus perhatiannya.
Tu Ran mengenakan kembali perlengkapannya dan berjalan menuju arah tempat Pangpang berada.
Ia harus menjemput Pangpang, lalu mencari sungai; ia harus segera membersihkan noda darah di celananya.
Namun, belum sempat ia melangkah jauh, ia melihat Pangpang mengepakkan sayapnya, menggelinding cepat ke arah sini bagaikan sebuah bola.
Melihat Tu Ran, Pangpang berteriak keras, "Bos, cepat lari! Ada ular Ying! Ada ular Ying! Sarang mereka jebol! Cepat lari!!"
Ular Ying itu benda apa?
Tu Ran belum pernah mendengarnya.
Namun, melihat penampilan Pangpang yang panik dan berlari sekuat tenaga, ia menyadari situasinya mungkin sedikit gawat.
Ia tidak banyak bertanya, mengaktifkan "Perpindahan Instan", menyambar sayap Pangpang, dan membawanya berlari.
Namun, di hadapan mereka, sesak oleh lautan ular berwarna hitam legam yang memenuhi tanah, menghalangi jalannya.
Kulit kepala Tu Ran terasa mati rasa seketika.
Permukaan tubuh ular-ular itu sangat licin, memantulkan cahaya seperti belut, masing-masing panjangnya sekitar dua meter, sebesar pergelangan tangan pria dewasa. Mereka datang berbondong-bondong dari segala arah bagaikan gelombang pasang, mengepung Tu Ran serta sisa-sisa jasad Kang Zhu yang telah berkeping-keping.
"Ular Ying itu apa? Kenapa banyak sekali?"
Tu Ran mundur sambari membawa Pangpang, menatap waspada ke arah ular-ular Ying yang tak terhitung jumlahnya dan kian mendekat, lalu mengangkat senapan mesinnya.
Suara Pangpang sedikit gemetar dan kacau balau, "Pangpang tidak tahu gunung ini ada ular Ying! Kalau Pangpang tahu, Pangpang tidak akan membawa Bos ke gunung ini!"
"Jangan banyak omong! Cepat katakan, apa yang ditakuti oleh ular Ying? Kenapa tiba-tiba muncul begitu banyak?"
Pangpang tercekat sesenggukan, lalu berkata cepat, "Mereka tidak takut apa pun. Mengandalkan jumlah yang banyak, mereka memakan apa saja yang mereka incar. Jarang sekali makhluk yang sudah diincar mereka bisa keluar hidup-hidup dari cengkeraman mereka."
"Asalkan mencium bau darah, mereka akan keluar sesarang-sarang! Satu sarang mereka berisi puluhan ribu ekor! Gunung ini... gunung ini bukan hanya punya satu sarang, ini adalah sarang ular! Gunung ini sepertinya sudah dikosongkan oleh mereka, kita sudah habis!"
Ia hampir menangis ketakutan.
Selagi ia berbicara, gerombolan ular Ying itu telah maju belasan meter lagi.
Pandangan Tu Ran menyapu sekeliling, mencari jalan untuk melarikan diri.
Mereka terpikat oleh darah dan daging Kang Zhu.
Dengan tumpukan daging dan darah yang menggunung di sana, seharusnya mereka tidak akan terlalu mempedulikan dirinya dan Pangpang yang bertubuh kecil ini.
"Apakah mereka beracun?" tanya Tu Ran dengan tenang.
"Ah? Sepertinya... sepertinya tidak."
Ia belum pernah mendengar ular Ying itu beracun, sepertinya memang tidak beracun.
Kalau begitu, masih lumayan.
Tu Ran sedikit merasa lega.
Pakaian tempur yang ia kenakan dapat mencegah gigitan serangga dan ular, tetapi Pangpang tidak.
Ia sendiri bisa meloloskan diri dengan selamat, tetapi membawa serta Pangpang tidak akan semudah itu.
Ia tidak bisa menjamin setiap ular tidak akan menyentuh Pangpang.
Selama tidak beracun, biarlah digigit sekali dua kali.
"Tetaplah diam di tubuhku, jangan bergerak sembarangan," ucap Tu Ran dengan suara rendah.
"Hah?" Pangpang tidak langsung bereaksi.
Tu Ran tidak mempedulikannya, ia berbalik dan mengeluarkan sebuah granat pembakar, mencabut pinnya, lalu melemparkannya ke tengah gerombolan ular Ying yang datang dari depan.
Bau daging yang terpanggang hangus langsung menyeruak seketika.
Api dengan cepat menyebar di antara gerombolan ular Ying, dan di dalam kerlip cahaya api tampak bayangan ular-ular Ying yang melompat ke sana kemari.
Ular-ular Ying yang tidak terkena dampak langsung langsung berhamburan ke segala arah, menjauhi kobaran api yang membubung tinggi.
Sebuah jalan yang dilapisi api terbentang di hadapan Tu Ran.
"Ya, ya, ya," Pangpang akhirnya sadar, matanya yang sebesar biji kacang hijau terbelalak lebih lebar dari telur ayam, berkata dengan panik, "Bos, apa yang mau kau lakukan?!"
Tu Ran malas mempedulikannya, langsung merenggut sayapnya dan dengan mudah mengangkatnya ke atas bahunya.
Pangpang tertegun, kapan ia menjadi begitu ringan?
Tu Ran sudah melesat menerobos kobaran api.
Ia mengaktifkan "Perpindahan Instan", dan dalam sekejap mata berhasil melintasi kobaran api tersebut.
Ia tidak berhenti, berlari kencang meninggalkan tempat ini.
Pangpang dengan tegang menutup matanya rapat-rapat, ia hanya merasakan hawa panas menyengat menerpa wajahnya, disertai bau hangus yang tidak sedap, lalu angin kencang menderu di telinganya.
Ia sudah keluar dari api?
Begitu cepat?
Ia membuka matanya dengan ragu.
Yang terlihat olehnya adalah jajaran pohon yang mundur dengan kecepatan tinggi.
Bos sedang menggendongnya sambil terbang.
Melihat kembali ke arah tempat mereka pergi tadi, gerombolan ular Ying yang tadinya pekat kini sudah menjauh, hanya menyisakan bayangan samar tanah hitam dan kepulan asap hitam yang membubung tinggi.
Pangpang membayangkan rupa gerombolan ular Ying yang berjuang di dalam lautan api itu, merasa bersemangat sekaligus ketakutan.
Yang membuatnya bersemangat adalah ia benar-benar bisa lolos dari cengkeraman segerombolan ular Ying, ia bisa menyombongkan diri di hadapan spesies lain di mana-mana.
Yang membuatnya takut adalah ia khawatir ular Ying akan membalas dendam pada dirinya dan sang Bos.
"Bos," ia mendekat ke telinga Tu Ran dan mengeraskan suaranya, "Kita harus segera pergi dari gunung ini, ular Ying itu sangat pendendam, kita telah membakar begitu banyak anggota mereka sampai mati, mereka pasti akan mencari segala cara untuk membalas dendam pada kita."
Tu Ran mengangguk, "Aku tahu, bukankah aku sedang berlari ini."
Ia telah mengerahkan kecepatan tertutpnya, pada saat ini mereka seharusnya sudah mencapai tepi gunung ini, dan tidak butuh waktu lama lagi untuk mencapai gunung berikutnya.
Menggunakan "Perpindahan Instan" dan "Kekuatan Tanpa Batas" secara bersamaan membutuhkan konsumsi energi yang luar biasa besar.
Ditambah lagi saat Tu Ran menggunakan "Gunung Runtuh dan Bumi Terbelah" untuk melawan Kang Zhu tadi sudah menghabiskan sebagian energinya, dan meskipun kemudian ia meminum glukosa, itu hanya memulihkan sebagian kecil saja.
Kini setelah berlari begitu jauh, Tu Ran jelas merasakan tubuhnya dengan cepat terkuras habis.
Bertahanlah sedikit lagi, sebentar lagi akan sampai di gunung di depan.
Ia harus mencari tempat yang aman sebelum jatuh pingsan, kalau tidak, mengandalkan kemampuan bertarung Pangpang, mereka tidak akan bisa menahan jenis makhluk asing apa pun.
Akhirnya.
"Sampai!!" seru Pangpang penuh semangat.
Tu Ran melemparkan Pangpang dari bahunya seperti orang yang baru terbebas dari beban.
Pangpang berguling-guling beberapa kali di atas tanah sebelum bisa berdiri seimbang, ia bangkit dan menatap Tu Ran dengan cemas.
"Bos, wajahmu pucat sekali."
Lokasi mereka saat ini berada di dekat sebuah sungai yang sangat lebar dan mengalir deras, di tepi sungai terdapat beberapa batang pohon yang tumbuh jarang-jarang.