93 Munculnya Spesies Asing yang Menular
Seruan yang sama terus diulang-ulang.
Turan dan Syahsyu saling bertukar pandang dengan penuh pengertian, lalu Syahsyu berjalan menuju gerbong depan.
Pada saat yang sama, semakin banyak orang berdesakan ke arah mereka. Orang dewasa menggendong anak kecil, para lansia saling menopang, semua orang panik, berteriak dan menangis histeris.
Beberapa di antara mereka bajunya berlumuran darah, membuat suasana terasa semakin mencekam.
Turan pun berdiri dan secara refleks menarik tangan seorang pria, “Apa yang terjadi di depan?”
“Banyak orang di depan tiba-tiba menjadi gila, menggigit siapa saja di sekitarnya. Orang yang digigit juga ikut kehilangan akal! Mereka sudah sampai di gerbong depan itu, jangan buang waktu, cepat lari ke belakang!”
Pria itu melepaskan tangan Turan dengan kasar, lalu berlari ke gerbong belakang.
Di saat tubuh mereka bersentuhan tadi, Turan sudah menangkap gambaran yang ingin ia lihat.
Seorang penumpang laki-laki tiba-tiba pingsan setelah naik ke kereta.
Orang-orang segera mengerumuninya, ingin tahu keadaannya.
Seorang wanita yang membawa anak, meletakkan putrinya di samping dan berjongkok untuk memeriksa napas pria itu.
Namun pria yang tergeletak tiba-tiba membuka matanya, seluruh matanya hanya tampak putih, sangat menyeramkan.
Wanita itu ingin menghindar, tapi sudah terlambat.
Pria itu langsung menggigit leher si wanita, mencabik sepotong besar daging.
Wanita itu tewas seketika, kepalanya terkulai.
Pria itu mengunyah daging di leher wanita, darah menetes dari sudut bibirnya.
Semua orang yang melihat langsung lari ketakutan.
Pria itu menelan daging di mulutnya, bangkit, dan segera mengejar korban berikutnya untuk digigit.
Tiga detik kemudian, wanita yang tadi tergeletak pun bangkit lagi. Dengan tangan menahan lantai, ia berdiri terhuyung-huyung.
Namun matanya sudah kehilangan warna hitamnya, hanya tersisa putih yang pucat di rongganya.
Tubuhnya bergetar, ia berjalan mendekati putrinya yang sudah membeku karena ketakutan.
Kesadaran Turan yang baru kembali membuat rasa dingin merayap dari telapak kaki hingga ke seluruh tubuhnya.
Itu... apakah itu mayat hidup?!
Ternyata bisa menular lewat luka...
Kata-kata yang pernah ditinggalkan Sipurun kembali terngiang dalam benaknya: infeksi spesies asing.
Syahsyu yang tadi pergi memeriksa ke depan, kini berlari cepat kembali.
Ia menyerahkan sebuah alat komunikasi kepada Turan dan berbicara dengan nada sangat cepat, “Ada spesies asing menular di depan, laporkan segera ke Gedung Administrasi agar mereka mengalihkan kontrol siaran kereta ke alat ini.”
“Baik,” Turan mengangguk cepat.
Meskipun ia juga membawa alat komunikasi, alat itu hanya bisa digunakan untuk berhubungan pribadi dengan Syahsyu, tidak bisa mengirimkan informasi ke Gedung Administrasi. Hanya alat komunikasi kerja milik pemerintah yang bisa terhubung langsung ke pusat administrasi.
Setelah menjelaskan, Syahsyu mengeluarkan pistol yang selalu dibawanya dan berlari ke depan.
Tak lama kemudian, Turan mendengar suara tembakan berturut-turut dan teriakan histeris.
Ia segera memanggil Zero, lalu dengan cepat menyusun pesan, “Di sini Q4245, kereta rel listrik melayang. Saya Turan, pelopor. Telah terjadi kemunculan spesies asing menular yang tidak diketahui di kereta ini, banyak penumpang telah terinfeksi dan infeksi menyebar sangat cepat.”
“Saat ini, peneliti senior Syahsyu mengajukan permohonan agar hak siar kereta dialihkan ke alat komunikasi ini. Kami perlu mengkoordinasikan seluruh penumpang. Selain itu, mohon hentikan semua pemberhentian di stasiun antara, agar penyebaran infeksi tidak meluas ke luar. Terakhir, mohon pusat bersiap menerima kedatangan kami.”
Semua kereta rel listrik melayang milik Federasi memang tidak memiliki masinis, sepenuhnya dikendalikan oleh program komputer. Jika tidak segera memberitahu Gedung Administrasi untuk menghentikan kereta, entah berapa banyak sumber penularan yang akan dilepas di stasiun berikutnya.
Tiga menit setelah pesan dikirim, suara di pengeras suara kereta pun berubah.
Gedung Administrasi akhirnya memberikan jawaban.