Bab 5: Bertemu Sahabat Lama di Negeri Orang
Berada di tengah-tengah situasi seperti ini, Nafisa bahkan tanpa sadar menahan napasnya, berusaha menenangkan detak jantungnya yang berdebar keras, lalu perlahan bergerak ke belakang Asyura. Secara naluriah, ia merasa sedikit kepercayaan yang aneh terhadap pria pertama yang ditemuinya di dunia asing ini.
Mungkin karena di dunia tadi, ia tidak hanya tidak menyakitinya, tapi juga memperingatkan agar tidak terlalu berisik, karena itu bisa menarik gerombolan binatang buas. Gerakan Nafisa yang berusaha bersembunyi di belakang menarik perhatian Asyura, yang menoleh dan menatapnya sejenak.
Hanya dalam satu tatapan, Nafisa sempat melihat warna pupil matanya sebelum ia kembali memalingkan wajah. Biru gelap, sangat dalam. Ia melepas helm, memperlihatkan rambut pendek hitam yang sedikit acak-acakan.
Nafisa semula mengira pria itu akan berambut pirang, berwajah tampan ala Eropa, dan bisa berbahasa Indonesia dengan lancar. Tak disangka, ia ternyata seorang Asia, dan dengan bahasa Indonesia yang fasih, Nafisa pun menebak besar kemungkinan ia adalah orang Indonesia. Ada perasaan haru seperti bertemu teman lama di negeri asing.
Saat ia melepas helm, barisan tentara yang mengepung mereka membuka jalan. Seorang perempuan dengan seragam tempur hitam keluar dari celah itu. Ia tidak memakai helm, rambut pirangnya yang bergelombang berkilau diterpa cahaya matahari.
Dengan senyum di wajahnya, perempuan itu berbicara dalam bahasa Inggris.
Kemampuan mendengar bahasa Inggris Nafisa sebenarnya pas-pasan, ia hanya menangkap beberapa kata seperti “kalian berhasil... beruntung... nomor 221... selamat datang kembali.” Dari nada bicara, Nafisa menebak perempuan itu sedang mengucapkan selamat karena mereka selamat keluar dari dunia monster.
Berbanding terbalik dengan antusiasme perempuan pirang, Asyura hanya menganggukkan kepala sedikit, jelas tidak berniat membuka suara. Namun, perempuan itu tidak mempermasalahkannya, lalu beralih menatap Nafisa.
Begitu pandangan mereka bertemu, perempuan itu menunjukkan ekspresi prihatin yang agak berlebihan. Ia kemudian berbicara panjang lebar, mungkin mengungkapkan rasa prihatin atas penderitaan Nafisa yang tidak diketahui orang lain. Nafisa sendiri kurang pandai berbicara Inggris, dan malu untuk mencoba bicara, sehingga hanya bisa berdiri sambil tersenyum kaku.
Perempuan pirang segera menyadari hal itu, lalu menghentikan pembicaraannya dengan pasrah, dan mengisyaratkan mereka untuk mengikuti. Nafisa secara refleks menoleh ke Asyura, yang dengan helm di tangan berjalan tenang ke depan.
Nafisa segera mengikuti, menyusuri jalan sempit yang hanya cukup dilewati satu orang. Di kedua sisi jalan, berdiri deretan perisai hitam polos yang rapat, permukaannya berpola belah ketupat. Di antara celah-celah perisai itu, terselip berbagai senjata api yang moncongnya mengarah tepat ke mereka berdua, dan berubah arah seiring mereka melangkah maju.
Mengapa penjagaan terhadap mereka begitu ketat?
Nafisa benar-benar tidak mengerti.
Setelah melewati lorong perisai sepanjang belasan meter, pemandangan di depan tiba-tiba terbuka. Sebuah kubah kaca raksasa seperti gelembung sabun transparan memantulkan cahaya matahari berwarna-warni.
Nafisa mengikuti Asyura masuk ke dalamnya, matanya penuh rasa ingin tahu melihat sekeliling. Suasana di dalam kubah sangat berbeda dengan ketegangan di luar; ramai oleh lalu-lalang orang dan suara percakapan yang riuh.
Ia tidak beranjak dari sisi Asyura, lalu ikut masuk ke barisan antrean yang panjang. Dari satu pandangan, kebanyakan orang di barisan itu mengenakan baju yang sama: armor eksoskeleton yang sangat keren. Tentu saja, ada juga beberapa orang seperti dirinya, berpakaian lusuh dan tampak baru saja lolos dari maut.
Nafisa menebak, orang-orang itu pasti juga berasal dari dunia penuh monster. Tapi yang aneh, di dalam kubah kaca itu hanya ada dua pintu: satu pintu masuk dan satu pintu keluar. Pintu masuk terhubung dengan benteng senjata berbentuk setengah lingkaran yang sangat ketat, mengelilingi kaki gunung dengan erat.