Hadiah

Bersembunyi di Dunia Lain dan Mengembangkan Kekuatan Super Danau Langit Selatan 1227kata 2026-03-05 00:49:47

“Besok pagi, kita harus kembali bekerja di pusat Tim Perintis di gedung administrasi. Tidurlah yang nyenyak malam ini.”

Rasa gelisah menyelimuti hati Tyara. Mana mungkin ia bisa tidur dengan tenang saat ini? Besok ia pasti akan bertemu rekan-rekannya. Bagaimana jika ada yang lagi-lagi menyadari keanehannya?

“Kau tidak perlu khawatir,” ujar Siti Purwaningsih, menyadari kegelisahan Tyara dan mencoba menenangkannya. “Kau selama ini memang pendiam dan tertutup, jarang berbicara. Selain aku, kau nyaris tak punya teman di pusat. Mereka juga tidak akan repot-repot menyapamu.”

“Soal kau lupa cara menggunakan senjata atau bertarung, menurutku itu juga bukan masalah besar. Meski kau amnesia, ingatan ototmu masih ada. Saat di lift kau berhasil menangkapku, kecepatan reaksi dan kekuatanmu bukan hal yang bisa dilakukan sembarang orang. Dengan sedikit latihan, dalam waktu singkat kau pasti bisa memulihkan kemampuanmu seperti dulu.”

Tyara memang bisa merasakan bahwa tubuh lamanya sangat terlatih. Saat menghadapi bahaya, refleks ototnya bahkan kerap bertindak lebih dulu dari pikirannya.

Mungkin, tubuh yang kini ia huni adalah harta karun besar yang menunggu untuk ia gali.

Setidaknya, itu kabar baik yang tak banyak ia temukan akhir-akhir ini.

Ada harapan di mata Tyara.

Setelah berpamitan dengan Siti Purwaningsih, Tyara berjalan menuju pintu rumahnya.

Pintu itu memakai kunci sandi.

Sepertinya, hanya di perumahan lama seperti ini yang masih menggunakan kunci semacam itu.

Tyara mencoba mengosongkan pikirannya, tak memaksa mengingat apa sandinya. Ia hanya membiarkan jari-jarinya bergerak mengikuti kebiasaan otot, menekan kode seperti yang biasa dilakukan.

Lampu hijau menyala, pintu pun terbuka.

Tyara belum sempat merasa senang.

Tiba-tiba kepala Siti Purwaningsih muncul dari balik bahunya, sambil mengacungkan jempol.

Tyara terkejut lagi.

Belakangan ini, ia memang jadi agak mudah terkejut.

“Aku takut kau lupa sandinya, jadi aku keluar untuk memastikan. Tak kusangka kau masih bisa mengingat,” puji Siti Purwaningsih.

Tyara hanya tersenyum. Pada saat itu juga, pintu lift di koridor terbuka. Seorang perempuan berseragam hitam berjalan mendekat sambil membawa sebuah tas.

“Perintis Tyara, ini adalah alat komunikasi kerja baru dari pusat untukmu. Mengingat hasil luar biasa yang kau capai di dalam Gerbang, alat ini diberikan secara gratis. Selain itu, kami tambahkan seribu poin di kartu kerjamu.”

Banyak istilah teknis yang tidak pernah didengar Tyara, tapi ia mencoba menebak-nebak maknanya.

Siti Purwaningsih pernah menjelaskan, salah satu tugas Perintis adalah masuk ke dalam Gerbang, mengumpulkan segala informasi, lalu menyerahkannya ke pemerintah federasi.

Setelah keluar dari Gerbang, Tyara memang belum sempat berhubungan dengan petugas pemerintah, atau menyerahkan apapun pada mereka.

Kecuali, sebuah cincin perekam holografis.

Dari namanya saja, kemungkinan alat itu merekam seluruh pengalaman tubuh lamanya di dalam Gerbang, lalu dikirim ke lembaga terkait untuk dianalisis. Nilai kontribusi kemudian ditentukan berdasarkan isi rekaman tersebut.

Kontribusi tubuh lamanya kali ini pasti sangat besar, sehingga bukan hanya mendapat alat komunikasi kerja gratis, tapi juga tambahan seribu poin di kartu kerja.

Tyara menerima tas itu, mengucapkan terima kasih, dan setelah dibalas dengan ramah, perempuan itu pun pergi.

Penasaran seperti apa alat komunikasinya, Tyara membuka tas dan melihat alat yang sama persis dengan yang dikenakan Siti Purwaningsih di pergelangan tangan.

Bentuknya seperti jam tangan, tetapi lebih ramping dan elegan.

Siti Purwaningsih tampak heran di sampingnya, “Apa yang kau rekam sampai dapat hadiah poin sebanyak itu?”

Bagaimana aku tahu.

Tyara hanya mengangkat bahu. “Aku sendiri pun sudah tak ingat.”