Kejam
Dengan strategi yang diterapkannya, satu per satu anggota kelompok itu berhasil dilumpuhkan. Di dalam ruang bawah tanah, suara erangan dan rintihan terus mengisi udara.
Dengan tulus, Tu Ran meminta maaf kepada mereka. Bahkan ia sempat berniat menolong seorang pria yang tersungkur dan tak mampu berdiri karena lututnya ditendang. Namun, pria itu begitu melihatnya mendekat, langsung menjerit agar ia tak datang, sambil menggunakan kedua tangan untuk mundur menjauh.
Apakah dirinya sebegitu menakutkan?
Tu Ran meraba wajahnya. Tanpa sengaja, tangannya menyentuh pipinya yang sebelumnya terkena pukulan, membuatnya menghirup napas dingin karena rasa sakit. Ia mengangkat alat komunikasinya, melihat bayangannya di layar, dan mendapati setengah wajah kirinya sudah membengkak, bahkan tampak agak kebiruan. Dengan hati-hati, ia menjilat bagian dalam pipinya dengan lidah, rasa sakitnya membuat tubuhnya bergetar hebat.
Sial, sakit sekali!
Pada penyerangan kali ini, mereka yang terluka parah sudah dibawa ke klinik di atas secara bergantian.
Xiao Jiu berdiri di tepi lorong gelap, menatap barisan orang yang terus diangkut ke atas, merasakan dunia seolah berputar.
Dengan sebanyak ini orang, sampai kapan ia harus menangani semuanya?
Awalnya ia mengira yang akan digotong ke atas adalah Tu Ran, tak disangka, ternyata semuanya adalah orang-orangnya sendiri.
Ia tak tahan untuk menggerutu, “Tadi pagi kalian mengeluh karena Xie Ge memanggil kalian hanya untuk menghadapi seorang wanita, katanya itu berlebihan. Sekarang kalian malah dihabisi begini, masih sempat-sempatnya mengaduh, memalukan sekali!”
Seseorang membantah, “Kalau memang kamu hebat, coba saja sendiri. Baru satu tendangan saja badan kecilmu pasti sudah remuk!”
“Aku ini dokter, bukan petarung. Kalau aku punya otot seperti kalian, pasti aku juga nggak akan dihajar wanita sampai begini!” sahut Xiao Jiu dengan nada meremehkan.
Sekarang ia benar-benar kesal melihat orang-orang ini. Padahal ia bisa bersantai sore ini, main komputer, atau sekadar lihat-lihat wanita cantik. Tapi gara-gara mereka, ia harus sibuk mondar-mandir mengobati.
“Itu bukan wanita, aku belum pernah lihat perempuan segarang dia. Selalu menyerang bagian paling sakit. Lengan aku ini, baru saja sembuh dari cedera waktu itu, sekarang ditarik dia sampai copot lagi. Xiao Jiu, cepat periksa lengan aku, masih bisa sembuh nggak?”
“Ya, ya, aku tahu,” Xiao Jiu menjawab malas, sambil berjalan mendekat dan terus mengomel, “Kalau nggak bisa sembuh, ganti saja pakai lengan mekanik, pasti lebih kuat dari aslinya.”
“Hei, Xiao Jiu, periksa aku dulu, dia cuma patah lengan, nggak bakal mati sekarang. Aku ini merasa kepala mekanikku ada yang retak, kayaknya ada aliran listrik bocor.”
“Itu cuma sugesti kamu saja,” jawab Xiao Jiu dengan acuh, “Kepala mekanik buatan aku, nggak gampang retak.”
“Xiao Jiu, cepat lihat aku dulu. Ini… di bagian ini tadi kena tendang, kira-kira masih bisa diselamatkan nggak?”
Xiao Jiu sedang menunduk menyiapkan obat, mendengar itu ia berkata tanpa menoleh, “Tenang saja, semua bisa diselamatkan. Bagian mana pun rusak, bisa kuganti dengan mekanik.”
“T-t-tapi, aku nggak pernah dengar bagian itu bisa diganti juga,” pria itu bertanya ragu.
Xiao Jiu menoleh, menatapnya lekat-lekat, lalu berjalan dengan tergesa, “Coba sini, biar kulihat bagian mana yang rusak. Aku nggak percaya ada yang nggak bisa diganti.”
“Di sini,” jawab pria itu.
“Di mana?” Suara Xiao Jiu meninggi, matanya mengamati pria itu dari atas sampai bawah. “Bukannya semua anggota tubuh dan kepala kamu masih lengkap?”
“Ini… di sini…” Pria itu dengan hati-hati menunjuk salah satu bagian tubuhnya.
Xiao Jiu terdiam.
Akhirnya ia berkata, “Baiklah, kamu memang butuh cepat, biar aku tangani dulu.”
Pria itu mengeluh dalam hati: Xiao Jiu, ekspresimu ini bikin aku merasa nyawaku terancam…