Berita Utama ke-72
Tiba-tiba terdengar bunyi penanda dari lift, pintu lift perlahan terbuka.
"Hah? Bukankah kita tidak turun di lantai ini?" tanya seseorang dengan heran.
"Aku turun di sini," jawab Tu Ran dengan suara pelan seraya mengangkat tangan dari pojok, "maaf, izinkan aku lewat."
Serombongan dokter magang yang semuanya lebih tinggi satu kepala darinya baru menyadari masih ada orang di sudut lift, dan segera memberinya jalan.
Tu Ran berusaha keras keluar dari kerumunan itu.
Begitu pintu lift menutup, suasana di dalam lift langsung ramai.
"Aku tadi lihat papan namanya, dia bernama Tu Ran!"
"Tu Ran, Tu Ran yang mana? Jangan-jangan dia yang tadi terus kita bahas itu?"
"Itu memang dia. Tadi waktu aku ikut visite, aku lihat dia juga. Dia khusus datang ke bangsal untuk membungkuk dan meminta maaf satu per satu pada tujuh orang itu, sampai mereka semua marah setengah mati."
Sontak, tawa meledak di dalam lift.
"Membunuh tanpa darah, benar-benar luar biasa."
"Kakak keren banget, aku suka sekali!"
"Tadi dia bahkan diam-diam saja berdiri di sana, sama sekali tidak menyela obrolan kita."
"Orang yang takut bersosialisasi, kok jadi terasa menggemaskan ya."
Semua orang saling menimpali dengan canda.
Tu Ran hanya merasa sangat canggung.
Ternyata beginilah rasanya mendengar kisah keberanian sendiri dari mulut orang lain.
Angin dingin yang berhembus menghapus panas di wajahnya.
Ia berjalan menuju halte kereta magnetis untuk menunggu kendaraan.
Pukul 12.30, kereta tepat waktu tiba di stasiun.
Ia naik ke dalam dan menatap deretan gedung tinggi yang melesat mundur di balik jendela.
Tepat pukul satu siang, ia sampai di rumahnya.
Ia menghangatkan sisa lauk makan malam kemarin, memasak nasi secukupnya untuk satu orang, lalu makan perlahan sembari menonton berita federasi beberapa hari terakhir.
Berita tentang gerbang kedua di Ambang yang muncul menempati tajuk utama berbagai media.
Dari situ memunculkan serangkaian isu, memicu gelombang diskusi hangat.
[Ke mana warga Negara Bagian Rejakan harus pergi?]
[Apakah jebakan yang dibangun mampu menangkap makhluk asing?]
[Apakah pemerintah federasi akan membantu warga Rejakan untuk bermigrasi?]
[Sudah ada pengusaha kaya di Rejakan yang memindahkan seluruh keluarganya.]
Berita lain serupa bermunculan, sikap pemerintah federasi menjadi sorotan media.
Namun hingga saat ini, pemerintah federasi belum memberikan tanggapan apa pun.
Memindahkan seluruh warga satu negara bagian ke tempat lain jelas tidak realistis, biaya yang diperlukan pun sangat besar, dan federasi tidak akan mau menanggung biaya sebesar itu.
Alasan mereka membangun jebakan penangkap di gerbang Ambang Rejakan adalah karena wilayah itu luas, penduduk jarang, dan relatif miskin.
Orang kecil, suara pun tak berarti.
Tu Ran merasa, pemerintah federasi tidak akan menanggung biaya pindah warga Rejakan, mereka hanya akan memperkuat jebakan dan mengumumkan ke dunia luar bahwa makhluk asing di dalam pasti tidak akan lolos.
Setelah itu menyuap media untuk gencar memberitakan, masyarakat pun akan cepat percaya.
Ini sudah menjadi cara lama pemerintah federasi.
Setelah santai makan dan membereskan peralatan makan, waktu sudah menunjukkan pukul dua siang.
Tu Ran mulai bersiap-siap untuk pergi ke Pasar Gelap Ansa.
Di federasi, pasar gelap sangat banyak, di empat puluh delapan negara bagian, setiap negara bagian memiliki setidaknya sepuluh pasar gelap yang terkenal, sedangkan di pusat federasi jumlahnya tak terhitung.
Pasar Gelap Ansa adalah pasar gelap terbesar di kota pusat federasi ini.
Nama itu diambil dari nama bos pertamanya, Ansa.
Tu Ran membawa sebuah ransel, memasukkan satu set pakaian penyamaran dari lemari milik pemilik tubuh sebelumnya.
Ia juga meninggalkan alat komunikasi kerja di atas meja, mengambil alat komunikasi pribadi yang disembunyikan di sudut lemari, lalu pergi ke halte kereta magnetis dengan ransel di punggung.