Setiap Orang Menunjukkan Kemampuannya Masing-Masing
Selama periode ini, tim yang dipimpin oleh Xie Xu tidak hanya menjaga gerbong-gerbong belakang, tetapi juga bekerja sama untuk menarik makhluk asing ke arah mereka, sehingga mengurangi tekanan yang dihadapi tim Tu Ran.
Pria bertubuh kekar memimpin di barisan depan, dengan beberapa ayunan tajam ia dengan mudah membabat habis tujuh atau delapan makhluk asing yang menghalangi di depan gerbong keenam.
Pintu gerbong keempat dan kelima tidak tertutup.
Kegaduhannya segera menarik perhatian makhluk asing yang berkeliaran di gerbong kelima dan keempat. Tubuh mereka yang kaku mengenali arah, lalu satu persatu menyerbu ke depan tanpa ragu.
Tu Ran bersembunyi di belakang pria kekar itu, mengintip ke depan dan terkejut oleh pemandangan berdarah dan mengerikan itu.
Dari sudut pandangnya, ia bagai potongan paha ayam lezat di tengah piring, dikerumuni anjing-anjing kelaparan yang segera akan mencabik-cabiknya.
Pria kekar itu mengeluarkan teriakan keras, lalu mengayunkan goloknya menyambut mereka.
Sementara itu, seluruh orang di dalam gerbong ketujuh mundur ke gerbong kedelapan, membiarkan gerbong ketujuh kosong sebagai jalur penyangga, menciptakan berbagai suara untuk menarik perhatian makhluk asing yang kelaparan itu.
Di tengah gerbong ketujuh, Xie Xu berdiri tegak.
Sekelompok makhluk asing segera teralihkan perhatiannya dan menerjang ke gerbong ketujuh.
Makhluk asing itu bergerak tanpa arah, melihat kawanan di depan menyerbu, mereka pun langsung mengikuti tanpa berpikir.
Kini, langkah pertama dari rencana mereka pada dasarnya telah tercapai.
Semua makhluk asing dalam gerbong telah terbagi menjadi tiga kelompok.
Satu kelompok dihadapi oleh orang-orang di gerbong kedua.
Satu kelompok lagi ditangani oleh tim Tu Ran.
Kelompok terakhir diserahkan pada tim Xie Xu.
Tekanan yang dihadapi tim Tu Ran berkurang drastis.
Pria kekar itu membabat dengan beringas di depan, sementara dua lelaki lain terus menembakkan peluru tanpa henti.
Makhluk asing itu belum sempat mendekat, kepala mereka sudah terpisah dari tubuh dan bergelimpangan di lantai.
Setiap kali makhluk asing di depan tumbang, yang di belakang akan terus maju, saling menindih satu sama lain, hingga tubuh-tubuh itu menumpuk berlapis-lapis.
Seluruh gerbong dipenuhi bau anyir dan menjijikkan.
Tu Ran terjepit di tengah, sama sekali tak berdaya.
Tugasnya hanya memanggil para penyintas.
Berdasarkan titik-titik merah di alat komunikasi, sebagian besar penyintas di gerbong ini bersembunyi di dalam toilet.
Toilet termasuk wilayah aman, maka Tu Ran tak meminta mereka keluar.
Dengan kondisi di luar seperti sekarang, keluar dari toilet justru lebih berbahaya.
Biar bau sedikit, toh mereka hanya perlu bertahan kurang dari satu jam lagi, kereta akan berhenti di Alun-Alun Mitenei dan ada orang yang datang menolong.
Yang terpenting adalah mereka yang tidak sempat masuk ke toilet.
Ada beberapa yang bersembunyi di bawah kursi, memanfaatkan titik buta pandangan makhluk asing.
Namun, bila ada makhluk asing yang tiba-tiba terdesak jatuh, posisi mereka bisa sangat berbahaya.
Ada pula yang lebih cerdik dan kuat, langsung bergelantungan di pegangan atas gerbong, juga memanfaatkan titik buta makhluk asing.
Namun kekuatan manusia terbatas, cara itu tak bisa bertahan lama.
Tu Ran mengumpulkan mereka satu per satu, lalu melindungi mereka menuju toilet.
Empat orang lainnya melindungi Tu Ran selama proses ini.
Setelah seluruh penyintas dari tiga gerbong itu diamankan, mereka berlima kembali mundur ke gerbong keenam.
Sekelompok makhluk asing langsung mengejar mereka ke gerbong keenam.
Tugas utama mereka bukan membasmi habis makhluk-makhluk itu, melainkan bergerak secepat mungkin menuju gerbong ketiga.
Setelah berhasil menggiring semua makhluk asing dari gerbong keempat, kelima, dan keenam ke gerbong keenam, kelima orang itu menunjukkan kemampuan masing-masing.
Ada yang melompat dari kursi sempit, ada yang mengayun di atas gerbong, ada pula yang menjejak kepala dan bahu makhluk asing untuk melompat.
Mereka berlima melesat ke gerbong kelima secepat kilat.