141 Selera Dewa Gunung

Bersembunyi di Dunia Lain dan Mengembangkan Kekuatan Super Danau Langit Selatan 2460kata 2026-03-30 05:44:29

Kura-kura tua itu tampak agak canggung. Ia terbatuk dua kali sebelum berkata, “Kalau begitu… kau harus merahasiakan ini untukku.”

Turan tersenyum geli, lalu berbalik meninggalkan gua bersama Gembul.

Turan menemukan kembali kebun buah yang mereka lewati ketika datang tadi.

Di kebun itu tumbuh beraneka ragam buah. Ada buah yang bergelantungan di pohon, buah yang menjuntai dari sulur, buah yang menggelinding di tanah, bahkan buah yang harus digali dari dalam tanah. Sebagian pernah dilihatnya, tetapi sebagian besar sama sekali belum pernah ia kenal.

Begitu melihat buah-buahan yang beraneka warna dan bentuk itu, sejumput bulu jingga di kepala Gembul langsung berdiri. Mulutnya menganga lebar karena terkejut.

“Wah, banyak sekali yang Gembul suka makan.”

“Kalau begitu, buah yang tidak kausukai pasti benar-benar tidak enak,” ujar Turan.

Gembul tersenyum malu. “Sepertinya memang begitu.”

“Bos, Bos! Kita petik sedikit dari setiap jenis, ya. Nanti kita bawa pulang untuk dicicipi Kakek Kura-kura.”

“Terserah.”

“Hore, hore! Bos mengizinkan!”

Ia segera berlari dengan kaki-kaki pendeknya menuju pohon buah yang dapat dijangkaunya.

Melihat punggungnya yang riang, Turan mengingatkan, “Kalau memetik semua jenis, kau pasti tidak bisa membawanya pulang sekaligus. Mungkin kau harus bolak-balik beberapa kali.”

“Tidak apa-apa. Gembul adalah Gembul yang rajin.”

Letak kebun buah itu tidak jauh dari gua Kura-kura Tua. Turan duduk di pohon buah yang paling tinggi, sehingga ia dapat melihat Gembul mengangkut buah-buahan itu pulang-pergi.

Atas permintaan Gembul, ia memetik tiga buah melon berkulit merah dari pohon lalu melemparkannya ke bawah. Setelah itu, ia duduk di dahan sambil memakan setangkai buah yang dipetik dari sulur, bentuknya mirip anggur hijau.

Turan tidak tahu bagaimana rasa aslinya. Bagaimanapun, ia membayangkannya sebagai anggur hijau, maka ketika masuk ke mulutnya, rasanya pun menjadi seperti anggur hijau.

Gembul bolak-balik mengangkut buah sebanyak lima kali. Pada perjalanan terakhir, Turan ikut membantunya membawa semua buah yang tersisa.

Kura-kura Tua memandangi tumpukan buah yang beraneka ragam itu dan berseru kagum, “Gunung tempat tinggalku ini benar-benar tanah yang diberkati!”

“Benar, benar! Tempat ini benar-benar negeri impian Gembul.” Gembul mengepakkan sayapnya, ikut menyahut.

“Kakek Kura-kura, coba makan yang ini. Melon ini sangat manis dan lezat. Buah seperti ini juga paling sering tumbuh di gunung Kakek.”

Gembul membanting sebuah melon berkulit merah ke tanah hingga terbelah menjadi dua. Ia lalu berjalan ke tempat teduh dan memberikan separuhnya kepada Kura-kura Tua.

Kura-kura Tua mengambil melon itu dan menggigitnya. Lalu…

Ia memuntahkannya ke seluruh lantai.

“Pahit, pahit, pahit! Pahit sekali!”

Kepahitannya membuat kedua matanya berkaca-kaca. Bahkan setelah memuntahkan daging buah yang tertelan, rasa itu belum juga hilang.

“Hah? Kok bisa pahit?” Gembul menunduk dengan bingung dan tak berdaya, lalu mematuk sedikit melon itu. “Padahal manis. Manis sekali. Bagaimana mungkin rasanya pahit?”

Ia kemudian mengambil sebuah melon kuning kecil sebesar telapak tangan.

“Kakek Kura-kura, makan yang ini untuk menghilangkan rasa pahitnya. Yang ini tidak terlalu manis dan juga tidak pahit. Kandungan airnya banyak.”

Kura-kura Tua segera menerimanya dan menggigit.

“Ah, asam! Asam sekali! Kenapa bisa seasam ini? Huek, huek, huek!”

Ia muntah berkali-kali sampai wajahnya memucat.

Gembul semakin tidak mengerti. Ia mencicipi sisa melon yang dimakan Kura-kura Tua.

“Padahal tidak asam. Rasanya enak sekali.”

Dengan tatapan meminta pertolongan, ia memandang Turan. “Bos, rasanya sama persis seperti ketika kita memakannya. Kenapa Kakek Kura-kura merasa buah ini tidak bisa dimakan?”

Otak kecilnya benar-benar tidak mampu memahami hal itu.

Turan menghela napas. Ia dapat makan apa saja tanpa masalah karena memiliki kemampuan kebal segala racun dari makhluk gaib yang bersemayam dalam dirinya.

Namun, dengan sistem pengecap manusia, sebagian besar makanan di Alam Ambang memang tidak mungkin ditelan.

Kura-kura Tua kemungkinan besar memiliki indra pengecap seperti manusia. Itulah sebabnya ia menganggap buah-buah tersebut pahit atau asam.

Turan mengeluarkan sebotol larutan glukosa dari tasnya, lalu berjalan menghampiri dan menyerahkannya.

“Ini manis. Patahkan ujungnya lalu minum.”

Kura-kura Tua tampak ragu. Ia sudah telanjur takut.

Selama ribuan tahun tidak pernah memakan apa pun, akhirnya ketika mendapat kesempatan mencicipi makanan, yang masuk ke mulutnya justru sesuatu yang sangat pahit atau sangat asam.

Nyawanya hampir saja berakhir di sini.

Dengan tangan gemetar, ia menerima botol itu. Mengikuti petunjuk Turan, ia mematahkan ujungnya dengan hati-hati, lalu berhenti tanpa berani melanjutkan.

“Minum.” Suara Turan meninggi.

Kalau berani menyia-nyiakan niat baiknya, ia akan memaksa cairan itu masuk ke tenggorokannya.

Kura-kura Tua tersentak mendengar bentakannya. Ia tidak berani membantah, segera mendongakkan kepala, lalu menenggak cairan itu.

Manis.

Benar-benar manis.

Kerutan di dahinya perlahan mengendur. Rasa asam tadi tertutupi. Ia mengecap-ngecapkan mulut, menikmati rasa yang telah begitu lama tidak ia rasakan.

“Bos, apa yang Bos berikan kepada Kakek Kura-kura?” tanya Gembul dengan penasaran. Matanya menatap Turan penuh harap.

Ia juga ingin minum.

“Air gula buatan manusia. Rasanya tidak seenak buah. Kau makan buah saja.”

Turan menghindari tatapannya dan kembali ke mulut gua.

“Oh, baiklah.”

Gembul jelas tidak sepenuhnya percaya pada penjelasannya, tetapi ia juga tidak berani terus mengejar dan memintanya.

“Kakek Kura-kura, sudah merasa lebih baik? Bagaimana kalau mencoba buah kecil yang ini? Dari semua buah yang pernah Gembul makan, buah ini termasuk yang paling manis.”

“Tidak usah, tidak usah, tidak usah.” Kepala Kura-kura Tua bergoyang lebih cepat daripada mainan kerincing. “Gembul makan sendiri saja. Kakek cukup melihat Gembul makan.”

“Hah? Benar-benar tidak mau makan lagi?” Gembul tampak kecewa. “Padahal Gembul sudah memetik begitu banyak buah.”

Kura-kura Tua benar-benar sudah ketakutan.

“Benar-benar tidak mau. Simpan saja untuk dirimu sendiri. Tidak habis hari ini juga tidak apa-apa, besok masih bisa dilanjutkan.”

“Kalau begitu, baiklah.”

Gembul duduk di tengah tumpukan buah.

“Sebenarnya Gembul bisa menghabiskannya.”

Kura-kura Tua terdiam sejenak. “Ehm… bisa makan banyak adalah berkah.”

Turan duduk di lantai, bersandar pada dinding, menyilangkan kedua tangan di dada, lalu memejamkan mata untuk beristirahat.

Di luar, langit perlahan menjadi gelap. Malam di Alam Ambang sebentar lagi tiba.

Gembul terus makan. Setelah menghabiskan satu buah, ia mengambil buah berikutnya. Suara kunyahannya terdengar tanpa henti. Sesekali ia juga mengobrol dengan Kura-kura Tua tentang berbagai hal menarik di dunia luar.

Gembul telah mengunjungi banyak tempat dan melihat begitu banyak hal baru. Ia menceritakannya dengan penuh warna, membuat Kura-kura Tua begitu mendambakan dunia luar hingga ingin segera pergi melihatnya sendiri.

Ia menghela napas. “Seandainya dahulu aku tidak tergiur oleh umur panjang ini dan tidak berebut untuk menjadi dewa gunung, tentu aku bisa melihat lebih banyak dunia.”

Turan, yang semula memejamkan mata untuk beristirahat, membukanya.

“Ada berapa banyak dewa gunung di sini?”

Kura-kura Tua menghitung dengan jari-jarinya, lalu menyerah.

“Tidak bisa dihitung. Benar-benar tidak bisa dihitung. Jumlahnya terlalu banyak. Setiap gunung besar memiliki seorang dewa gunung. Di dunia ini setidaknya ada delapan ratus hingga seribu gunung besar. Beberapa gunung yang lebih kecil juga memiliki dewa gunung. Jumlah gunung kecil bahkan mungkin mencapai puluhan ribu atau ratusan ribu. Dewa gunung hampir ada di mana-mana.”

Ada begitu banyak dewa gunung, tetapi belum pernah sekali pun seorang penjelajah melihat mereka.

“Apakah kalian biasanya hanya tidur?”

“Selain tidur, kami juga tidak punya hal lain untuk dilakukan,” jawab Kura-kura Tua getir.

“Apakah kalian bisa mati? Kalau mati, apa yang akan terjadi pada gunung ini?” tanya Turan lagi.

Tubuh Kura-kura Tua menegang sesaat. Ia menatap Turan dengan waspada.

“Untuk apa kau menanyakan hal itu?”

“Aku penasaran. Tenang saja, untuk apa aku membunuhmu tanpa alasan?” Turan mendengus meremehkan.

Ia hanya sedang membuat persiapan untuk masa depan. Jika kelak bertemu dewa gunung lain yang mencari gara-gara dengannya, ia tidak akan membiarkan dirinya dipermainkan seperti hari ini.

“Tentu saja kami bisa mati. Setelah mati pun tidak akan terjadi apa-apa. Gunung tetaplah gunung, air tetaplah air. Dampak terburuknya mungkin hanya pepohonan tumbuh lebih lambat, buah yang dihasilkan lebih sedikit, dan warna bunga menjadi lebih pucat.”

Tamat.