Gaun Merah
Pintu gerbong sisanya kini akan dibuka. Mohon para penyintas untuk tidak saling mendesak, berbaris dengan rapi, dan bekerja sama dengan pemeriksaan departemen medis.
Tu Ran mengembalikan belati kepada wanita itu, lalu mengikuti kerumunan keluar dari gerbong dan melihat Xie Xu yang juga keluar dari gerbong belakang.
Mereka berdua tidak perlu mengantre, melainkan langsung diarahkan ke bangunan darurat yang didirikan oleh departemen medis untuk menjalani pemindaian seluruh tubuh.
Tidak ada luka.
Mereka kemudian diambil sampel darahnya masing-masing untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Karena spesies asing yang menular ini baru pertama kali muncul, belum ada kejelasan mengenai penyebab maupun cara penularannya.
Oleh karena itu, banyak personel dari lembaga penelitian yang datang untuk mengambil sampel jaringan dan darah dari bangkai makhluk tersebut.
Tiga makhluk asing yang berhasil ditangkap hidup-hidup juga akan segera dikirim ke lembaga penelitian untuk dipelajari.
Pemerintah federal benar-benar tidak siap menghadapi kemunculan spesies asing menular yang tiba-tiba ini.
Semua orang tahu betapa besarnya ancaman spesies asing menular ini bagi federasi. Dibandingkan dengan spesies asing perasuk di masa lalu, jangkauan penyebaran spesies menular ini sangat luas dan sangat mudah memicu wabah besar.
Jika satu saja lolos, itu akan menjadi bom waktu yang tersembunyi.
Terhadap para penyintas, departemen medis melakukan pemeriksaan yang sangat ketat.
Tu Ran sudah merasa sangat lelah. Setelah diambil darahnya, ia langsung menyandarkan tubuh di kursi tunggu, menyandarkan kepala ke dinding, lalu memejamkan mata.
Saat ini, seluruh Alun-alun Mite telah dikepung oleh pasukan pemerintah federal, dan kereta layang menuju rumahnya pun sudah berhenti beroperasi. Karena tidak bisa pulang dalam waktu dekat, ia memutuskan untuk tidur sebentar di sana.
Xie Xu duduk dua kursi di sampingnya. Ia melirik sekilas posisi tidur Tu Ran yang berantakan, lalu memalingkan wajah.
Tidak sanggup melihatnya.
Tu Ran sedang terlelap nyenyak ketika tiba-tiba seseorang menepuk bahunya.
Ia tersentak bangun seketika. Saat menoleh ke arah orang tersebut, ternyata itu Ding Naiqing.
"Kak Ran, kenapa Kakak tidur di sini?"
"Keretanya tidak ada, aku tidak bisa pulang," jawab Tu Ran sambil mengucek matanya yang masih mengantuk.
Setelah beristirahat sejenak, rasa pegal di sekujur tubuhnya justru semakin terasa. Sekarang, ia bahkan enggan bergerak sedikit pun.
"Tidak ada kereta?" Ding Naiqing berdiri. "Aku akan coba meminta satu untuk Kakak. Kakak sudah menyelamatkan begitu banyak orang, tidak seharusnya tidur di sini."
"Terima kasih," ucap Tu Ran.
Ding Naiqing menggaruk kepalanya dengan malu-malu. "Sama-sama."
Sambil menatap punggung Ding Naiqing yang menjauh, Tu Ran memperbaiki posisi duduknya, kembali menyandar ke dinding, dan menyipitkan mata.
Tiba-tiba, sebuah gaun merah menarik perhatiannya.
Pikiran Tu Ran seketika terjaga. Ia menatap pemilik gaun merah itu.
Itu adalah seorang gadis kecil dengan rambut dikuncir dua.
Gadis itu sedang berada di tengah antrean, bergerak perlahan maju mengikuti barisan untuk menunggu pemeriksaan medis.
Sebentar lagi gilirannya.
Agar tidak menarik perhatian, Tu Ran mengarahkan pandangannya ke depan, namun sudut matanya terus mengawasi gadis itu.
Saat giliran gadis itu tiba, ia berdiri di dalam alat pemindai untuk menjalani pemindaian seluruh tubuh. Dua menit kemudian, ia keluar dari alat tersebut dengan hasil "tidak ada luka luar".
Selanjutnya, ia duduk di kursi, menyingsingkan lengan bajunya, dan alat medis diarahkan ke pergelangan tangannya yang putih untuk mengambil sampel darah.
Begitu saja, ia telah melewati pemeriksaan.
Tu Ran tidak bisa tinggal diam.
Ia berdiri dan berjalan menuju gadis kecil itu.
Xie Xu yang sedang memejamkan mata di samping menyadari gerakannya dan mengikuti arah pandangannya.
Saat sampai di dekat gadis itu, Tu Ran tiba-tiba membungkuk.
Ia menjatuhkan kancing yang sebelumnya sudah ia lepas dari pakaiannya ke lantai, lalu berpura-pura memungutnya.
"Adik kecil, apakah ini milikmu yang terjatuh?" tanyanya sambil tersenyum.
Gadis kecil itu secara refleks membuka telapak tangannya untuk menerima.
Tu Ran meletakkan kancing itu di telapak tangan si gadis, dan jemarinya tak terelakkan menyentuh kulit anak itu.
Dalam sekejap, memori yang dicari Tu Ran akhirnya ditemukan.