117 Gerbang Ambang Terbuka Lebar
Pukul delapan pagi keesokan harinya.
Pasukan Penjelajah mengeluarkan pengumuman agar seluruh penjelajah berkumpul di luar Ambang.
Ambang telah terbuka.
Saat melihat pesan itu, Tu Ran sedang menggosok gigi.
Ia seketika terpaku.
Ambang terbuka secepat ini?
Apakah hari ini ia akan masuk ke dalam Ambang?
Memasuki dunia yang tidak dikenal itu?
Ia belum siap.
Setelah memuntahkan busa dari mulutnya, Tu Ran membasuh wajah dengan air dingin agar cepat tersadar.
Ia menatap bayangannya di cermin.
Tetes-tetes air mengalir di pipinya lalu jatuh ke lantai.
Bulu matanya basah, tetapi tidak mampu menyembunyikan tatapan tegasnya.
Ia telah menandatangani kontrak. Tidak mungkin baginya melarikan diri.
Ia memiliki ingatan pemilik tubuh ini, dan juga pernah menjalani pelatihan dari Xie Xu. Ia memiliki kemampuan untuk menyelamatkan nyawanya sendiri.
Ia pasti bisa kembali hidup-hidup.
Tu Ran menyemangati dirinya, lalu segera mengenakan pakaian dan menuju gedung administrasi.
Satu lantai penuh di gedung administrasi secara khusus dijadikan ruang perlengkapan bagi para penjelajah.
Perlengkapan yang digunakan penjelajah untuk memasuki Ambang berbeda dari perlengkapan yang biasa mereka gunakan saat menjalankan tugas patroli.
Perlengkapan untuk memasuki Ambang jauh lebih mahal dan canggih. Perlengkapan itu dibuat khusus untuk Pasukan Penjelajah dan dapat beroperasi tanpa jaringan.
Saat itu, sudah banyak orang yang tiba di ruang perlengkapan. Mereka masing-masing mengenakan pakaian sendiri, tanpa seorang pun berbicara.
Suasana hati semua orang terasa tertekan.
Bahaya yang tidak diketahui menunggu mereka. Tak seorang pun mampu merasa gembira.
Tu Ran lebih dahulu mengenakan pakaian tempur dasar, lalu berdiri di atas platform pemasangan.
Platform pemasangan merupakan fasilitas otomatis yang digunakan untuk memasangkan zirah eksoskeleton pada tubuh para penjelajah.
Di hadapan platform itu terdapat sebuah layar elektronik yang dapat digunakan para penjelajah untuk memilih zirah yang ingin mereka kenakan.
Tu Ran memandangi berbagai macam zirah eksoskeleton, lalu memilih satu lengan eksoskeleton dan satu kaki eksoskeleton.
Setelah ia mengeklik gambar yang sesuai, layar di hadapannya menghilang.
Tu Ran merentangkan kedua tangan dan kakinya, lalu berdiri di tengah platform pemasangan.
Sesudah itu, sebuah lengan mekanis mengambil eksoskeleton yang sesuai dari rak di belakangnya dan mengulurkannya ke hadapan Tu Ran.
Tu Ran bekerja sama dengan alat itu dan mengenakannya.
Pemasangan selesai.
Untuk pertama kalinya, Tu Ran merasakan bagaimana rasanya mengenakan zirah eksoskeleton.
Sangat ringan, jauh lebih ringan daripada yang ia bayangkan.
Ia mengendalikan tangan mekanis itu untuk mengepalkan tinju, lalu melompat turun dari platform pemasangan.
Sangat lincah. Kekhawatiran terakhir Tu Ran pun lenyap.
Zirah eksoskeleton ini meningkatkan daya rusaknya tanpa mengurangi kelincahan alaminya.
Tu Ran kemudian mengambil senapan mesin dari rak senjata, membawa amunisi dalam jumlah cukup, mengambil dua pistol beserta peluru yang sesuai, sebilah belati standar, serta beberapa benda kecil lainnya seperti cermin, lampu laser, dan sebagainya.
Terakhir, Tu Ran memilih sebilah pedang panjang yang tajam.
Setelah seluruh persenjataan terpasang lengkap, sebuah robot kecil meluncur masuk dari luar.
Di atas kepalanya terdapat nampan berisi gelang kamera holografis.
Semua orang maju satu per satu untuk mengambil gelang mereka.
Tu Ran juga menemukan gelang miliknya, membukanya, lalu memasangkannya di pergelangan tangan.
Sebenarnya, di bagian dada pakaian tempur setiap orang tersembunyi sebuah kamera.
Namun, kemungkinan kamera itu dapat dibawa kembali dalam keadaan utuh sangat kecil.
Karena itu, pemerintah federal menciptakan gelang kamera holografis.
Gelang ini hanya dapat dilepas setelah terhubung ke jaringan.
Sementara itu, di dalam Ambang tidak ada jaringan.
Jadi, kecuali penjelajah itu meninggalkan tangannya di dalam sana, gelang tersebut pasti bisa dibawa kembali.
Seperti terakhir kali, ketika pakaian Tu Ran hampir habis dicabik dan dimakan monster sari ayam, gelang itu masih tetap ada.
Setelah seluruh orang melengkapi perlengkapan mereka, pasukan yang terbuat dari baja dan besi pun keluar dari gedung administrasi.
Penampilan mereka terlalu mencolok sehingga para pejalan kaki di sepanjang jalan berkali-kali menoleh.
Untuk saat ini, pasukan tersebut merupakan unit dengan biaya dan tingkat kerusakan terbesar di antara seluruh pasukan federal.
Karena belum dapat diotomatisasi, pasukan itu bukanlah unit paling maju.
Dari gedung administrasi hingga gerbang Ambang masih berjarak dua puluh kilometer.
Mereka tidak perlu menaiki kereta listrik layang.
Sebuah kendaraan khusus telah disediakan untuk mengantar mereka.
Semua orang naik ke kendaraan, lalu kendaraan itu melaju menuju Ambang.
Setengah jam kemudian, mereka tiba.
Sebuah dinding yang puncaknya tak terlihat menjulang lurus ke angkasa. Dinding hitam kemerahan itu bagaikan jembatan antara hidup dan mati. Dengan aura seolah hendak roboh, dinding tersebut menekan semua orang hingga sulit bernapas.
Tu Ran turun dari kendaraan dan melihat sebuah kubah kaca transparan yang sangat besar.
Di dalamnya orang-orang berlalu-lalang.
Mereka adalah orang-orang dari kelompok sebelumnya yang memasuki Ambang. Satu demi satu, mereka keluar dari dalam Ambang.
Wajah setiap orang dipenuhi kegembiraan karena berhasil lolos dari bencana.
Mereka berada di sisi depan dinding.
Sementara Tu Ran dan rombongan yang hendak memasuki Ambang berdiri di sisi belakang dinding.
Di sisi belakang juga terdapat kubah kaca, tetapi ukurannya jauh lebih kecil dibandingkan yang di depan.
Di dalam kubah, para petugas membagikan makanan kepada penjelajah yang akan memasuki Ambang.
Petugas dari departemen medis juga membagikan obat-obatan yang mutlak diperlukan.
Tu Ran berdiri di sana, lalu menerima sebungkus biskuit protein padat, sebungkus sirop, dan sebotol cairan nutrisi berkonsentrasi tinggi.
Agar mudah dibawa, makanan-makanan itu telah dipadatkan sedemikian rupa sehingga volumenya sekecil mungkin.
Persediaan tersebut memenuhi kebutuhan nutrisi seorang penjelajah selama dua puluh hari.
Sebelumnya, beberapa penjelajah Pasukan Penjelajah pernah membawa pulang buah-buahan dari dalam Ambang. Setelah diteliti oleh lembaga penelitian, terbukti bahwa buah-buahan itu mengandung terlalu banyak racun dan tidak dapat dimakan.
Hingga kini, satu-satunya buah dari dalam Ambang yang telah terbukti aman dikonsumsi manusia adalah buah yang menyerupai ceri.
Namun, di dalam Ambang terdapat banyak buah yang penampilannya mirip ceri, dan hampir tak seorang pun mampu membedakannya.
Karena itu, para penjelajah tidak akan memakan makanan apa pun yang ditemukan di dalam Ambang. Mereka hanya menyantap makanan yang dibawa dari luar.
Untungnya, sebagian mata air pegunungan di dalam Ambang dapat diminum.
Para penjelajah hanya perlu membawa sebuah botol air portabel berkapasitas besar saat masuk.
Pemerintah federal membagikan alat pendeteksi kandungan mineral air kepada setiap orang. Jika kandungan mineralnya melebihi batas aman, alat itu akan memberikan peringatan, sehingga penjelajah dapat mencari sumber air berikutnya.
Mencari sumber air di dalam Ambang bukanlah hal yang sulit.
Berikutnya adalah pembagian obat-obatan.
Kali ini, obat-obatan dibagikan oleh para peserta magang dari departemen medis.
Tu Ran melihat Meng Fanchen, yang sedang mengangkat kotak obat besar bersama seorang rekannya.
Ia mengenakan seragam putih departemen medis. Rambutnya masih keriting dan berwarna kuning, tetapi ia tidak memakai kacamata berbingkai emas.
Ia membagikan paket obat hingga tiba di hadapan Tu Ran.
Untuk sesaat, Meng Fanchen tidak mengenalinya.
Kepala Tu Ran terbungkus hingga tertutup helm, sehingga dari luar hanya sepasang matanya yang terlihat.
Baru ketika menyerahkan paket obat kepada Tu Ran, ia melirik tanda nama di dada Tu Ran.
“Kak Tu Ran!” serunya dengan gembira.
Tu Ran mengangguk sedikit sebagai jawaban.
“Pastikan untuk selalu menjaga keselamatan.”
Ia menyerahkan paket obat itu ke tangan Tu Ran.
Tu Ran kembali mengangguk.
Karena masih ada penjelajah lain di belakangnya yang harus menerima paket obat, Meng Fanchen tidak dapat berlama-lama di sana. Ia segera beranjak menuju orang berikutnya.
Tu Ran memasukkan paket obat itu ke dalam ranselnya, lalu berjalan ke sisi depan dinding.
Ia ingin melihat apakah Xi Chunzhi sudah keluar.
“Ling,” panggilnya.
“Apa yang dapat saya bantu?”
“Apakah penjelajah Xi Chunzhi sudah keluar?”
Ling melakukan pencarian sejenak, lalu menjawab, “Sampai saat ini, dia masih belum keluar.”
Ambang baru terbuka selama dua jam. Wajar jika Xi Chunzhi belum keluar.
Tu Ran berusaha meyakinkan dirinya sendiri sambil terus menatap pintu masuk kubah kaca.
Para penjelajah terus berdatangan dari pintu masuk. Sebagian keluar tanpa luka, sebagian terluka parah dan harus diangkat masuk, sementara sebagian lainnya tampak tidak terluka, tetapi seluruh perlengkapan mereka telah lenyap—sama seperti yang pernah dialami Tu Ran.
Namun, tidak ada sosok Xi Chunzhi.
Suara Ling terdengar di telinganya.
“Penjelajah Tu Ran, silakan atur pertanyaan dan jawaban untuk kepulangan berikutnya.”
“Apa makanan kesukaanku?” jawab Tu Ran asal.
“Maaf, pertanyaan tersebut tidak boleh sama persis dengan pertanyaan sebelumnya,” kata Ling dengan suara mekanis.
Tu Ran berpikir sejenak.
“Apa keinginanku?”
Ling berkata, “Pertanyaan telah ditetapkan. Silakan sebutkan jawabannya.”
“Hidup-hidup, lalu menjadi kaya.”
Itulah tujuan hidupnya saat ini.
“Pertanyaan dan jawaban telah selesai ditetapkan.”
“Penjelajah Tu Ran, harap segera kembali ke barisan. Operasi penjelajahan ke dalam Ambang yang ke-36 telah dimulai. Silakan mengantre untuk masuk.”
“Penjelajah Tu Ran, harap segera kembali ke barisan. Operasi penjelajahan ke dalam Ambang yang ke-36 telah dimulai. Silakan mengantre untuk masuk.”
Suara Ling mengulanginya dua kali.
Sosok Xi Chunzhi masih belum terlihat.
Tu Ran hanya dapat meninggalkan tempat itu dan berjalan menuju bagian belakang barisan.
Barisan panjang tersebut bergerak maju dengan lambat. Satu demi satu orang melangkah ke dalam dinding dan menghilang tanpa jejak.
Saat giliran Tu Ran hampir tiba, ia kembali bertanya melalui alat komunikasinya, “Ling, Xi Chunzhi masih belum kembali?”
“Belum.”
Suasana hati Tu Ran yang sejak awal sudah suram menjadi semakin berat.
Ambang telah terbuka hampir selama tiga jam. Biasanya, Xi Chunzhi akan lebih dahulu berjaga di sekitar gerbang Ambang. Begitu Ambang terbuka, ia akan segera keluar.
Namun, sampai sekarang ia belum muncul. Itu berarti Xi Chunzhi belum menemukan gerbang Ambang lebih awal...
Barisan itu telah mencapai penghujungnya. Akhirnya, tibalah giliran Tu Ran.
Di hadapannya terbentang dinding yang tampak tak mungkin ditembus.
Tu Ran menyingkirkan segala pikirannya.
Ia tidak boleh berpikir sembarangan. Xi Chunzhi pasti baik-baik saja. Saat ini, yang seharusnya menjadi perhatiannya adalah jalan di depan yang akan ia tempuh.
Ia mengangkat kaki, lalu melangkah menembus dinding.
Perasaan yang sudah dikenalnya kembali muncul, seolah-olah ia sedang memasuki bagian dalam jeli yang kenyal.
Di sekelilingnya hanya ada cahaya putih yang menyilaukan. Tiga detik kemudian, cahaya itu mundur dengan cepat, dan sebuah pemandangan asing muncul di hadapannya.