131 Wilayah Mengerikan
Semua itu ditemukan Gembul ketika dahulu berkelana ke berbagai tempat; sebagian bahkan digalinya sendiri.
Bepergian bersama Gembul merupakan keputusan yang sangat tepat bagi Tulan.
Pada hari pertama memasuki wilayah dalam, tepat pukul sepuluh malam menurut waktu Federasi, Tulan memutuskan untuk beristirahat.
Ia sebenarnya belum terlalu mengantuk, dan langit di dalam Ambang juga belum menjadi gelap.
Namun, tidur pukul sepuluh malam dan bangun pukul enam pagi merupakan aturan wajib yang ia tetapkan untuk dirinya sendiri.
Dengan begitu, ia dapat memulihkan tenaga dengan cepat, tetap bersemangat sepanjang hari, dan tidak membuat tubuhnya ambruk karena waktu istirahat yang terlalu singkat.
Gembul membawanya ke sebuah sarang kecil yang pernah ditempatinya.
Tempat itu tidak besar, tetapi cukup untuk tidur satu manusia dan satu makhluk bulat.
Gembul kelelahan dan langsung tertidur begitu merebahkan diri.
Tulan lebih dahulu berkeliling memeriksa keadaan di luar. Setelah memastikan tempat itu cukup aman, ia meletakkan senapan mesin di satu sisi dan belati di sisi lainnya, lalu memejamkan mata.
Ia mengatur alarm. Keesokan paginya, pukul tujuh, bunyi alarm pun terdengar.
Tulan terbangun lebih dahulu.
Langit masih terang seperti sebelumnya.
Terang sejak kemarin hingga sekarang.
Tulan sudah tidak merasa heran lagi. Siang dan malam di dalam Ambang memang selalu tidak beraturan, sama seperti pintu masuknya yang membuka dan menutup sesuka hati.
Tulan merapikan perlengkapannya terlebih dahulu tanpa membangunkan Gembul.
Ia harus mencari makanan di sekitar tempat itu untuk sarapan mereka.
Jika hanya sendirian, ia bisa bertahan dengan memakan biskuit padat. Namun, dengan Gembul yang nafsu makannya luar biasa besar, ia tidak bisa lagi bersikap sembarangan.
Ketika melewati semak-semak rendah, Tulan melihat buah-buah kecil berwarna merah.
Setiap buah besarnya kira-kira sebesar kepalan tangannya. Ujungnya menonjol dan berwarna hitam, menyerupai mata monster.
Buah-buah seperti itu tumbuh sangat banyak di antara semak-semak tersebut.
Gembul pernah berkata bahwa buah itu sangat ajaib. Meski tampak kecil, memakan satu saja akan membuat seseorang tidak merasa lapar sepanjang hari.
Namun, rasanya tidak enak.
Bagi Gembul yang agak pemilih soal makanan, buah itu hanya akan dimakannya ketika ia benar-benar kelaparan dan tidak menemukan makanan lain.
Tulan memetik dua buah secara asal. Satu dimasukkannya ke dalam tas, sementara yang lain ia kunyah sambil berjalan.
Gembul tidak mau memakannya, tetapi Tulan mau.
Lagipula, semua makanan akan terasa persis seperti yang ia bayangkan ketika masuk ke mulutnya.
Jika ia membayangkan buah itu memiliki rasa apel, maka rasanya akan renyah dan lezat.
Tulan pun melanjutkan pencariannya untuk menemukan makanan yang bisa disantap Gembul.
Kemarin, sepanjang perjalanan, Gembul telah memperkenalkan berbagai makanan yang dapat dimakan.
Tulan mengingat semuanya dengan sungguh-sungguh.
Saat melihat bunga kecil dengan tiga kelopak ungu dan satu kelopak merah, ia segera menghentikan langkah.
Gembul berkata, buah yang terkubur di bawah bunga setengah ungu setengah merah itu rasanya sangat manis.
Gembul menyukai buah-buahan manis.
Tulan segera menghabiskan sisa “apel” di tangannya dalam dua atau tiga gigitan.
Kemudian ia mengeluarkan belati, berjongkok di pangkal bunga, dan mulai menggali tanah.
Setelah mengorek tanah dua atau tiga kali, separuh buah itu pun terlihat.
Tulan mencungkilnya dengan tangan, menepuk-nepuk tanah yang menempel di atasnya, dan benar saja, tampak daging buah berwarna putih bersih dan lembut, bentuknya seperti lobak putih bulat.
Tulan kembali berjongkok di bawah bunga berikutnya dan mulai menggali.
Melihat ukuran buah tersebut, Gembul mungkin membutuhkan tujuh atau delapan buah untuk sekali makan.
Untuk berjaga-jaga, Tulan menggali lima belas buah.
Setelah itu, ia pergi ke aliran sungai tak jauh dari sana dan mencuci buah-buah tersebut satu per satu.
Tanah yang menempel hanyut terbawa air, memperlihatkan daging buah putih yang tampak sangat menggugah selera.
Tulan memungut sehelai daun raksasa yang jatuh dari pohon, membungkus sepuluh buah di dalamnya, lalu kembali ke tempat semula.
Seperti yang diduganya, Gembul masih tertidur.
Kedua kakinya terangkat ke udara dalam posisi tidur yang aneh, bahkan terdengar dengkuran halus darinya.
Seekor ayam ternyata bisa mendengkur. Tulan sampai tidak tahu harus berkata apa.
“Bangun, waktunya makan.”
Tulan memanggilnya.
Gembul berguling dan tidak menghiraukannya.
Tulan kembali berseru, “Kalau kau tidak segera bangun, akan kumakan semuanya.”
Tetap tidak ada jawaban.
Malas memanggilnya lagi, Tulan langsung duduk di tepi dan memilih buah yang paling bersih untuk digigit.
Rasanya manis dan harum, dengan kandungan air yang melimpah.
Setelah menghabiskan satu buah, Tulan mengambil buah kedua.
Aroma segar buah itu akhirnya sampai ke hidung Gembul.
Makhluk yang masih berada dalam mimpinya itu terbangun karena tergoda.
Ia tersentak bangun dan duduk, menatap buah-buah putih lembut tersebut sambil menjilat bibir.
“Cepat makan. Kita akan segera berangkat.” Tulan mendesaknya sambil mendorong buah-buahan itu ke arahnya.
Gembul segera menarik daun itu ke hadapannya dengan penuh semangat, lalu menundukkan kepala dan melahap isinya.
Ia makan dengan sangat cepat.
Saat Tulan baru selesai mengubah tas obat menjadi tas selempang kecil, Gembul sudah menghabiskan makanannya.
Setelah mengusap sisa air buah di sekitar mulutnya dengan bulu sayap secara asal-asalan, ia memandang dengan penasaran tas kecil di tangan Tulan.
“Bos, benda apa itu?”
Tulan melemparkan tas kecil itu kepadanya.
“Kenakan. Mulai sekarang, kalau melihat makanan yang ingin kau makan selama perjalanan, masukkan semuanya ke sini.”
Gembul sangat gembira. Saat melihat tas selempang sederhana yang dibuat dari tas obat dan dua utas tali itu, bulu ekornya langsung mengembang.
Ia segera melompat bangun dan meniru Tulan, memasukkan tas itu melalui kepalanya hingga tergantung menyilang di sisi pinggang.
Ukurannya pas, cukup untuk menyimpan satu buah melon berkulit merah berukuran sangat besar.
Ia berputar-putar dengan gembira sambil mengepakkan sayap. Akhirnya ia memiliki tas kecil sendiri, dan bisa menyimpan makanan yang ingin dimakannya.
Tulan menyandang tasnya sendiri, melirik Gembul sekilas, lalu berjalan menuju luar gua.
“Jangan berlagak lagi. Ayo berangkat.”
“Baik, Bos.” Gembul mengikutinya dengan riang.
Mereka terus berjalan menuju bagian terdalam hutan lebat. Setiap kali menemukan buah yang ingin dimakan, Gembul selalu berhenti untuk memetik beberapa buah dan memasukkannya ke dalam tas kecil miliknya. Ia makan sambil berjalan dan terus memperkenalkan berbagai hal kepada Tulan.
“Tempat ini adalah wilayah makhluk bertanduk lima ekor.”
“Mereka memiliki lima ekor dan satu tanduk. Tubuh mereka lincah, berkaki empat, dan dapat berlari sangat cepat. Suara mereka ketika berseru terdengar seperti batu yang dipukul.”
“Walaupun penampilan mereka ganas, mereka sebenarnya tidak suka makan daging. Mereka juga cukup toleran terhadap makhluk yang lebih lemah dari mereka.” Gembul terus bercerita tanpa henti.
Tulan mengamati sekeliling. Tempat itu jelas tidak berbeda dari wilayah lain. Ia tidak tahu bagaimana Gembul bisa mengenalinya, sampai-sampai mulai curiga bahwa makhluk itu hanya mengarang.
Baru saja pikiran itu melintas, terdengar suara batu dipukul.
Suara itu semakin mendekat.
Tulan bergumam dalam hati, Benar-benar tidak perlu muncul secepat ini.
Dari balik pohon besar muncul tujuh makhluk yang bentuknya menyerupai cheetah.
Ukuran tubuh mereka lima kali lebih besar daripada cheetah.
Perbedaan terbesar dari cheetah adalah tanduk-tanduk panjang dan ramping yang tumbuh di kepala mereka.
Ternyata benar-benar persis seperti yang dijelaskan Gembul.
Gembul menyenggolnya dengan sayap, lalu berbisik, “Bos, jangan menatap mereka. Mereka akan mengira kau sedang menantang. Tundukkan kepala. Kalau begitu, mereka akan mengabaikan kita.”
Tulan pun menundukkan kepala.
Sebenarnya ia masih ingin melihat kelima ekor mereka.
Seperti yang dikatakan Gembul, kawanan makhluk bertanduk itu sama sekali tidak menghiraukan mereka dan berjalan dengan angkuh melewati sisi mereka.
Setelah memastikan mereka telah pergi cukup jauh, Tulan baru mengangkat kepala dan memandang punggung mereka. Di belakang setiap makhluk, benar-benar tumbuh lima ekor.
Itu pertama kalinya Tulan melihat seekor binatang memiliki begitu banyak ekor. Pemandangan tersebut terasa aneh dan sulit dijelaskan.
“Mereka sedang berpatroli di wilayahnya. Makhluk yang berani saling menatap dengan mereka akan dianggap sebagai penantang. Mereka akan langsung menerkam dan mencabik-cabiknya sampai hancur,” jelas Gembul dengan penuh penghayatan.
Sambil berbicara, ia kembali mengeluarkan sebuah buah ungu dari tas kecilnya dan mulai mengunyah.