Bab Tujuh: Tanah yang Dibagikan
Kota Zhi Yi hanyalah sebuah kota kecil, namun populasinya mencapai ratusan ribu orang. Kota Chaoyang pun hanya tergolong kota menengah, di atasnya masih ada kota besar yang penduduknya paling sedikit puluhan juta jiwa!
Kereta kuda itu dikendalikan oleh seorang pemuda pelayan berbaju hijau. Wajah pemuda ini terlihat jujur dan polos, tampak seperti orang yang sederhana dan tulus. Namun, dari sorot matanya yang sesekali bergerak lincah, jelas terlihat ia bukanlah orang yang mudah diatur. Nama pemuda pengemudi ini adalah Li An.
Hari ini Li An benar-benar tidak senang. Meski dirinya hanya seorang pelayan, ambisinya sangat besar. Tiap hari ia memikirkan bagaimana caranya menjadi kepala pelayan keluarga Li, menjadi orang kedua setelah tuan besar, dihormati banyak orang. Namun, pembagian tugas kali ini benar-benar menghancurkan impiannya tanpa belas kasihan.
Begitu mendengar bahwa dirinya harus menjadi pelayan bagi seorang tuan muda yang dikenal sebagai pecundang, kepalanya langsung pening. Mengikuti orang yang lemah, mana mungkin bisa meraih kemajuan besar! Seketika Li An merasa masa depannya gelap gulita.
Semakin dipikirkan, hatinya makin gelisah. Cambuk yang diayunkan ke kuda pun jadi lebih keras tanpa sadar. Kuda yang merasa sakit pun segera mempercepat larinya.
Di dalam kereta, Li Ping perlahan menghembuskan napas panjang. Bahkan di perjalanan pun, ia tak berani sedikitpun lengah. Justru karena itulah, pada usia yang masih muda dan lemah, Li Ping mampu mencapai tahap akhir pelatihan fisik. Jika bukan karena ketekunan seperti ini, sehebat apapun Kitab Sumber, mustahil bisa menjadikan Li Ping seorang kuat sejati.
“Masih ada empat tahun lagi, harus lebih giat berlatih! Harus bisa mencapai tahap pelepasan energi dalam empat tahun,” gumam Li Ping sambil mengepalkan tinju, tampak jelas ia belum puas dengan kemajuan latihannya sekarang. Andai orang lain tahu tingkat kepandaian Li Ping saat ini, lalu mendengar ucapannya barusan, pasti mereka ingin menampar Li Ping sampai mati. Dengan laju seperti ini saja kau tidak puas? Apa kau ingin orang lain hidup atau tidak! Mencapai tahap pelepasan energi dalam empat tahun? Orang lain lebih percaya besok kiamat ketimbang percaya kau bisa naik dari akhir pelatihan fisik ke tahap itu dalam empat tahun! Itu sesuatu yang bahkan tak berani dibayangkan.
Memikirkan hal itu, Li Ping membuka tirai jendela, menatap ke arah Kota Chaoyang. Keyakinannya semakin kuat: hanya jika ia mencapai tahap pelepasan energi, barulah ia mampu melindungi keluarganya.
Tiba-tiba, Li Ping merasa kereta kuda melaju lebih cepat dan goncangannya makin besar. Ia hendak memarahi pengemudi, namun, seolah teringat sesuatu, ia urungkan niat itu dan hanya tersenyum ringan.
Saat pembagian tugas keluarga, sebenarnya sudah disiapkan beberapa pengawal dan pelayan untuk Li Ping. Namun, Li Ping menolak semuanya, hanya memilih Li An untuk menemaninya ke Kota Zhi Yi. Para tetua keluarga pun langsung menyetujui, sebab menurut mereka, menempatkan pengawal untuk tuan muda sepertinya hanyalah pemborosan! Para tetua merasa lega dengan keputusan itu. Li Zhengyang memang sempat bersikeras agar Li Ping membawa beberapa pengawal, tapi akhirnya ia pun mengalah.
Alasan Li Ping memilih Li An, selain karena nama mereka jika digabung berarti “Aman dan Damai”, juga karena ia melihat hasrat dan ambisi besar di mata Li An. Orang lemah menjadi lemah karena mereka tak punya ambisi untuk menjadi kuat. Selama diberi arahan yang tepat, Li An pasti bisa menjadi pembantu yang sangat handal. Dengan begitu, urusan di Kota Zhi Yi akan lebih mudah.
“Berhenti sebentar, kita istirahat dulu,” perintah Li Ping.
“Baik...” jawab Li An dengan enggan, dalam hati menggerutu:
“Kau hanyalah orang lemah, apa hakmu mengaturku!” Meski hatinya penuh ketidakpuasan, Li An tak berani membantah. Bagaimanapun, Li Ping tetap tuan muda keluarga Li, dan ia hanyalah pelayan, bukan posisinya untuk melawan.
Li Ping turun dari kereta, berjalan ke tepi jalan lalu duduk di atas sebongkah batu biru. Ia memperhatikan Li An yang sedang mengikat tali kuda sambil berpikir:
“Sepertinya aku memang perlu membangun kekuatan sendiri. Kalau tidak, di Kota Zhi Yi nanti aku akan kesulitan bergerak. Siapa tahu di masa depan juga akan sangat berguna.”
Setelah memantapkan hati, Li Ping menatap Li An yang tampak masih kesal, lalu berkata, “Li An, kau sepertinya sangat tidak puas dengan tuan mudamu ini, ya?”
“Puas! Mana berani tidak puas...” jawab Li An tanpa menoleh, nadanya aneh dan sinis.
Li Ping tersenyum, tidak memasukkan ke dalam hati, lalu melanjutkan, “Kau ingin menjadi kepala pelayan keluarga Li?”
Mendengar itu, Li An tertegun, gerakannya terhenti. Ia menatap Li Ping dengan mata menyipit, bertanya, “Apa maksudmu?”
Li Ping tersenyum samar, tak menjawab, lalu berjalan mendekati batu besar setinggi satu meter. Li An semakin bingung, tak mengerti apa yang sedang direncanakan tuan muda yang dianggap lemah itu.
Belum sempat menebak, Li Ping tiba-tiba mengayunkan tinjunya ke arah batu besar itu.
“Apa yang hendak ia lakukan...” Li An seperti mendapat firasat, matanya membelalak. Tak lama, suara dentuman keras terdengar, dan batu besar setinggi satu meter itu langsung hancur menjadi beberapa bagian.
Mendengar suara “duar”, Li An langsung mundur beberapa langkah, menatap batu besar yang baru saja dihancurkan Li Ping dengan ngeri. Ia menelan ludah dengan susah payah, matanya terbelalak, mulutnya berkomat-kamit,
“Ini... ini... tidak mungkin, tidak mungkin!”
Pikirannya benar-benar kacau. Dulu ia pernah melihat seorang instruktur keluarga Li menghancurkan batu biru setebal tiga jari dengan satu pukulan, dan itu saja sudah membuatnya kagum. Kini, dengan mata kepala sendiri, ia melihat tuan muda yang dikira lemah mampu menghancurkan batu besar setinggi satu meter.
“Inikah kekuatan sejati?” Li An memandang Li Ping di depan tumpukan batu dengan perasaan campur aduk. Ia tak bisa membayangkan sosok tuan muda lemah yang ia kenal kini berdiri gagah bak dewa perang.
Melihat Li An yang begitu terkejut, Li Ping pun agak heran. Ia tadi hanya menggunakan sepertiga kekuatannya, tapi Li An sudah ketakutan seperti itu. Kalau ia mengerahkan seluruh tenaga, apa Li An bisa mati ketakutan saat itu juga!
Menyadari hal itu, sudut bibir Li Ping terangkat, ia menggelengkan kepala dengan pasrah lalu berjalan mendekati Li An.
Melihat Li Ping mendekat, Li An langsung menelan ludah, rasa takut menyeruak di dalam hatinya. Ia kuatir Li Ping datang untuk menghukumnya karena telah bersikap kurang ajar. Dengan kekuatan yang baru saja ditunjukkan, cukup dengan satu jari saja Li Ping bisa mencabut nyawanya. Li An pun segera berlutut, menundukkan kepala, dan berulang kali membungkuk seraya memohon,
“Tuan muda... tuan muda, hamba benar-benar buta, tidak tahu diri, mohon tuan muda yang budiman memaafkan hamba!”
Li Ping berdiri di depan Li An, menerima penghormatan itu, menegakkan kepala dan menghembuskan napas berat. Selama bertahun-tahun menyembunyikan kekuatan memang sangat menyesakkan. Bagi seorang pendekar, tiada yang lebih menyakitkan daripada memiliki kekuatan besar namun tak bisa menggunakannya. Meski tadi ia belum mengerahkan seluruh tenaga, setelah menghancurkan batu itu, tubuh dan pikirannya terasa jauh lebih lega; seperti seseorang yang lama tak melihat cahaya akhirnya bisa menikmati hangatnya sinar mentari. Sungguh perasaan yang sangat melegakan.