Bab Sembilan Belas: Paviliun Persenjataan dan Ketentaraan
Li Ping berbalik dengan wajah lesu menatap para pengawal di belakangnya, lalu berkata,
“Kalian punya uang?”
“Ada, ada, Tuan Muda, aku membawa dua koin emas!” Chang Sheng segera mengeluarkan dua koin emas dari sakunya dan menyerahkannya kepada Li Ping. Li Ping menatap kedua koin emas yang berkilauan di tangan Chang Sheng, memutar bola matanya, lalu berbalik dengan pasrah dan menatap pria paruh baya itu. Matanya melirik ke sana kemari, tiba-tiba sebuah ide cemerlang melintas di benaknya, membuat semangatnya kembali bangkit. Ia bertanya,
“Kau ingin menjual batu giok ini untuk menyelamatkan istrimu, bukan?”
“Hm?” Pria paruh baya itu menatap Li Ping, tidak mengerti mengapa pertanyaan semacam itu masih harus ditanyakan, namun ia tetap mengangguk.
“Apakah luka istrimu sangat parah? Bagaimana cara menyembuhkannya?” Li Ping bertanya lagi.
“Lukanya sangat parah. Istriku waktu itu ikut denganku ke Pegunungan Yanlian untuk berburu binatang buas. Kami diserang oleh seekor ular belang, dan demi melindungiku, ia terkena racun ular itu. Meski akhirnya kami berhasil lolos, sejak saat itu ia jatuh sakit parah. Sekarang aku hanya bisa menjaga hidupnya dengan ramuan penawar racun. Jika dalam sebulan aku tidak mendapatkan Pil Penawar Racun, ia tidak akan tertolong lagi! Semua ini karena ia ingin menyelamatkanku!” Ujar pria paruh baya itu, suaranya bergetar hingga akhirnya ia tak kuasa menahan air mata.
Melihat pria setegar itu sampai menangis, sudah cukup membuktikan betapa besar cintanya pada sang istri.
“Pil Penawar Racun?” Kening Li Ping berkerut. Sebenarnya pil itu tidaklah mahal, bahkan pil penawar racun kelas dua harganya hanya sekitar seribu koin emas. Mengapa pria itu sampai begitu putus asa, bahkan menangis? Jangan-jangan...
“Om, pil penawar racun itu tidak begitu mahal, kan? Jangan terlalu cemas,” kata Li Ping, berjongkok di depan pria paruh baya itu untuk menenangkannya.
Pria itu seperti menyadari sesuatu, buru-buru menyeka air matanya dan menghentikan tangisnya.
“Maaf sudah mempermalukan diri di depan Tuan Muda.” Ia menghela napas, lalu berkata, “Benar, satu pil penawar racun kelas dua masih bisa kuusahakan, tapi bukan hanya pil itu yang dibutuhkan. Istriku juga harus dibantu oleh seorang ahli bela diri tingkat tertinggi untuk mengeluarkan racunnya. Namun, Tuan Muda pasti tahu, di Kota Zhiyi hanya ada segelintir ahli tingkat itu. Meminta bantuan mereka bagaikan mimpi di siang bolong. Aku hanya bisa menabung uang atau mencari barang berharga agar mereka mau membantu, tapi memenuhi keinginan mereka bukanlah hal mudah!”
“Begitu rupanya.” Li Ping mengelus dagunya, berpikir sejenak. Ia tentu tidak bodoh menanyakan mengapa pria itu tidak menawarkan batu giok itu kepada para ahli itu. Kemungkinan besar para pendekar sombong itu tidak percaya padanya. Lagi pula, siapa yang mau mengorbankan senjata spiritualnya hanya untuk memecah batu giok yang asal-usulnya pun tak jelas? Senjata spiritual diciptakan untuk bertarung, bukan untuk membelah batu.
Li Ping mendekat ke pria paruh baya itu, melirik ke kiri dan kanan, lalu memberi isyarat agar pria itu mendekatkan kepala. Pria itu sedikit bingung, namun tetap mendekat. Li Ping membisikkan sesuatu di telinganya. Raut wajah pria itu yang semula sedih perlahan berubah menjadi terkejut, lalu gembira, hingga akhirnya berseri-seri penuh kegirangan.
Li Ping menarik tubuhnya kembali, mengangguk mantap kepada pria itu. Pria paruh baya itu menahan kegembiraan, mengangguk berulang kali dengan penuh semangat, lalu segera membereskan barang dagangannya.
“Tuan Muda, bagaimana dengan surat emas ini...” Akhirnya pria itu mengangkat surat emas di tangannya dan memandang Li Ping dengan bingung.
“Tak apa, kau bawa saja surat emas itu untuk sedikit meringankan bebanmu. Demi istrimu, pasti kau sudah menghabiskan banyak pengeluaran!” kata Li Ping, berdiri dan menengok ke sekitar. “Ayo kita lanjutkan!”
...
Keluar dari Balai Kesehatan Ji'an, Li Ping meregangkan tubuh dengan rasa puas. Hari ini ia mendapatkan banyak hal, hatinya pun terasa sangat lega. Melihat keramaian di jalan, ia merasa semangatnya sedang tinggi dan melangkah dengan riang. Hari ini ia ingin benar-benar menikmati keliling Kota Zhiyi.
Tiba-tiba Li Ping teringat Ning Qing yang masih memulihkan diri di paviliunnya. Ia berbalik dan berkata pada Chang Sheng, “Chang Sheng, suruh seseorang untuk membelikan beberapa ramuan penyembuh dan kirimkan ke paviliunku.”
“Baik, Tuan Muda!” Chang Sheng langsung menunjuk salah satu pengawal, lalu berkata, “Kau, belikan beberapa ramuan penyembuh dan antarkan ke paviliun Tuan Muda!”
Pengawal yang ditunjuk itu menatap Chang Sheng sebal, menahan bibirnya, namun tetap menjawab, “Baik,” lalu berjalan dengan lesu untuk membeli ramuan.
Li Ping tak memperdulikan mereka. Ia melangkah di jalan raya, melihat ke sana kemari, menikmati suasana dengan penuh semangat.
Sementara itu, di hutan lebat tak jauh dari Kota Zhiyi, berdiri sebuah gubuk reyot. Di depan gubuk itu, seorang pendekar setengah berlutut di tanah, lalu berkata,
“Sesepuh, Li Ping, putra Li Zhengyang dari keluarga Li, sudah tiba di Kota Zhiyi. Apakah kita perlu...”
Beberapa saat kemudian, tak ada suara dari dalam gubuk. Pendekar itu menengadah dengan bingung, lalu bersuara, “Sesepuh...”
“Sudah, jangan ganggu aku berlatih. Dia hanya seorang sampah, tak perlu dipedulikan!” Suara tua terdengar dari dalam gubuk.
“Baik, Sesepuh.” Pendekar itu memberi hormat, bangkit perlahan, lalu menghilang dengan cepat ke dalam hutan lebat.
...
Tanpa terasa, Li Ping sudah sampai di depan sebuah gedung megah. Ia menatap kagum bangunan itu—atapnya berlapis kaca emas, empat tiang merah berukir singa berdiri kokoh. Di Kota Zhiyi, selain Balai Kesehatan Ji'an dan Balai Kota, hampir tak ada bangunan yang bisa menandingi kemegahan ini.
“Paviliun Senjata dan Ilmu Bela Diri!” gumam Li Ping pelan, membaca papan nama emas yang terpampang di atas pintu.
“Tuan Muda, inilah Paviliun Senjata dan Ilmu Bela Diri, toko senjata terbesar di Kota Zhiyi!” Chang Sheng mengingatkan dari belakang.
“Paviliun ini juga milik keluarga Wang!”
“Keluarga Wang?” Mata Li Ping berbinar, ia menatap Paviliun Senjata dan Ilmu Bela Diri dengan penuh minat, lalu tersenyum, “Ayo kita masuk dan lihat-lihat!” katanya sambil melangkah masuk.
Begitu masuk ke aula utama, terdengar suara orang tawar-menawar. Di lantai satu hanya dijual senjata biasa yang kebanyakan dibeli para petualang, pria-pria yang hidupnya bertarung dengan maut. Suara mereka yang keras membuat telinga Li Ping terasa geli.
Li Ping menggaruk-garuk telinganya, lalu menarik salah satu pengawal Paviliun Senjata dan Ilmu Bela Diri.
“Antarkan aku ke pemilik toko kalian. Aku punya urusan bisnis besar yang ingin kubicarakan!” katanya.
Pengawal itu menilai Li Ping dari atas sampai bawah dengan pandangan meremehkan. Melihat tatapan itu, Li Ping tertegun, lalu menunduk melihat pakaian kasarnya. Ia hanya bisa tersenyum miris. Sejak dulu, Li Ping memang tidak suka mengenakan pakaian mewah, selalu memilih pakaian sederhana. Itu adalah prinsip hidupnya untuk tetap rendah hati, karena baik di kehidupan sebelumnya maupun sekarang, ia memang belum berani menonjolkan diri.
Catatan untuk pembaca:
Hari ini akan ada bab tambahan, masih berutang dua bab, akan dilunasi hari ini dan besok! Nantikan kelanjutannya.