Bab Enam Puluh Sembilan: Keluarga Wang
Melihat aura Li Fan yang semakin matang, Tetua Kedelapan pun ikut bergembira. Ia kemudian menoleh pada Li Ping yang tersenyum tenang, semakin merasa bahwa dirinya tak bisa menebak isi hati pemuda di depannya itu.
“Tuan Muda Ping, bolehkah saya tahu di mana gurumu sekarang?” Tatapan Tetua Kedelapan berkilat penuh harap. Bagaimanapun, bertemu seorang tokoh sehebat itu walau hanya sekali saja sudah merupakan kehormatan besar, apalagi jika bisa mendapat sedikit saja bimbingan, itu pasti akan sangat bermanfaat!
“Ah... Guruku sudah tiada,” jawab Li Ping dengan wajah muram.
“Tuan Muda Ping, saya minta maaf!” ujar Tetua Kedelapan dengan nada menyesal, matanya pun penuh kekecewaan.
“Tak apa.” Li Ping menggeleng pelan, mencoba menguatkan diri. Kesedihan yang ia tunjukkan bukanlah sandiwara, melainkan kenangan mendalam terhadap Wanzhang Shan yang telah tiada.
“Ngomong-ngomong, kenapa Xiao Feng juga tidak kelihatan? Apa dia sudah menembus tingkatan kesembilan?”
“Haa...” Tetua Kedelapan mengetahui bahwa orang yang paling dekat dengan Li Ping di klan hanyalah Li Feng. Ia menghela napas, tak tahu harus mulai dari mana.
Melihat Tetua Kedelapan diam saja, hati Li Ping langsung dipenuhi firasat buruk. Ia buru-buru bertanya, “Apa yang terjadi dengan Xiao Feng?”
“Haa...” Tetua Kedelapan menghela napas panjang, menata pikirannya sebelum berkata, “Tuan Muda Ping, sejak kau ditugaskan ke sini, Li Feng semakin giat berlatih. Tidak lama kemudian, ia pun berhasil menembus dasar tingkat sembilan dan menjadi salah satu penerus utama keluarga!”
“Li Feng memang terlalu tergesa-gesa.” Li Ping menggeleng, tersenyum pahit. Cara Li Feng menembus tingkatan itu pasti memaksa pondasinya sendiri, hasilnya hanya akan memberi kepuasan sesaat dan tak mungkin melangkah jauh di jalan bela diri. Itu sungguh tak sebanding dengan risikonya!
“Setelah menembus batas, Li Feng ikut dalam rombongan pengangkut barang ke Kota Zhiyi untuk menemuimu. Tapi siapa sangka...” Tetua Kedelapan tampak muram saat berkata demikian.
“Ada apa? Apa yang sebenarnya terjadi?” Li Ping mulai panik. Ia selalu menganggap Li Feng sebagai saudara kandung, tentu ia tak ingin sesuatu yang buruk menimpanya!
“Tak disangka, di tengah perjalanan rombongan mereka diserang sekelompok perampok. Seluruh ramuan dibawa kabur, beberapa anggota keluarga terbunuh, dan Li Feng terluka parah hingga kini masih belum bisa turun dari ranjang!” Tetua Kedelapan menggeleng dan menghela napas.
“Apa?!” Mata Li Ping membelalak marah, tubuhnya sontak berdiri. “Siapa pelakunya!” Ia memang marah, namun tetap bisa berpikir jernih. Jelas ini bukan sekadar perampokan biasa. Di daerah itu, tak ada perampok yang berani menantang keluarga Li, bahkan kelompok Pasir Mengalir pun tak akan berani!
“Itu ulah keluarga Wang!”
“Keluarga Wang! Tunggu saja pembalasan dariku!” Mata Li Ping memerah, amarahnya berkobar karena ada yang berani melukai saudaranya!
“Tapi, kudengar keluarga Wang belakangan ini juga sedang menderita,” kata Tetua Kedelapan, mencoba mengalihkan pembicaraan saat melihat kemarahan Li Ping.
“Empat bulan lalu, Paviliun Militer Wang telah dibobol, tiga senjata pusaka lenyap tanpa jejak, kepala pengawal dan para tetua pun hilang begitu saja! Keluarga Wang sampai dibuat kelimpungan oleh kejadian itu!”
“Oh, begitu?” Li Ping kembali duduk, wajahnya tetap keruh. Ia tampak memikirkan sesuatu.
“Tuan Muda Ping, kau tinggal di Kota Zhiyi, masa tidak tahu soal ini?” tanya Tetua Kedelapan dengan heran.
“Waktu itu aku sudah mengikuti guruku berkelana,” jawab Li Ping datar. “Tetua Kedelapan, aku masih ada urusan yang harus diselesaikan, mohon maaf tak bisa menemani lebih lama.”
“Kalau begitu, lain waktu kita berbincang lagi.” Tetua Kedelapan berdiri, meski ia tak tahu apakah Li Ping benar-benar sibuk, namun jelas Li Ping sudah kehilangan minat untuk berbicara.
Li Ping memberi salam, lalu beranjak pergi. Tetua Kedelapan memandang punggung Li Ping yang menjauh. Ia semakin merasa bahwa pemuda itu kian sulit ditebak.
Dengan wajah suram, Li Ping kembali ke kamarnya tanpa sepatah kata pun.
“Keluarga Wang, tunggu saja pembalasanku!”
...
“Saudara Wang, soal itu belum juga ada titik terang?” Di sebuah kamar utama di Penginapan Xianlai, seorang pemuda berwajah tampan bertanya.
“Haa... Saudara Xu, jangan singgung lagi soal itu! Sampai sekarang kami sama sekali belum menemukan jejak apapun! Kepala pengawal dan para tetua seperti raib ditelan bumi, tiga senjata pusaka pun seolah menguap, sungguh membuat frustasi!” Seorang pemuda bertubuh kekar mengeluh sambil menepuk pahanya. Kedua orang itu adalah Wang Xing dan Xu Feng, para utusan terbaik dari keluarga Wang dan Xu yang dikirim ke Akademi Fuwu untuk belajar.
“Kota Zhiyi kan kota kecil, siapa juga yang tertarik ke sana? Selain keluarga Li, rasanya tak ada yang mampu melakukan hal seperti itu!”
“Itu tidak mungkin! Waktu itu kita hanya sekadar merampas sedikit ramuan saja untuk bersenang-senang, belum sampai sejauh itu! Lagi pula, keluarga selalu mengawasi setiap saat. Saudara Xu, kau tidak tahu kejadian di ruang rahasia itu, benar-benar menyeramkan!”
“Seram?” Alis Xu Feng terangkat, memandang Wang Xing dengan penuh tanya.
“Itu rahasia keluarga, tapi kali ini kuberi tahu asal jangan kau sebarkan!” Wang Xing berbisik dengan nada waspada.
“Tenang saja, kau kan tahu siapa aku,” Xu Feng menepuk dadanya, menjamin.
“Waktu itu ada enam orang yang berjaga di ruang rahasia. Siapa pun yang ingin masuk harus lewat izin mereka, dan posisi mereka pun saling berjauhan. Begitu satu orang saja keluar dari titik penjagaan, pintu tak akan bisa dibuka. Namun, setelah kami selidiki, ruang rahasia itu sama sekali tak ada bekas rusak, tapi keenam penjaga itu semuanya tewas tanpa suara. Tubuh mereka tak ada luka sedikit pun, juga tak ada tanda-tanda keracunan!” Wang Xing bergidik saat bercerita. Cara membunuh seperti itu sungguh mengerikan, membuat siapa saja takut ajal menjemput tanpa bisa berbuat apa-apa.
Xu Feng tampak lebih tenang, tapi siapa tahu apa yang sebenarnya ia rasakan.
“Lalu apa penyebab kematiannya?” tanya Xu Feng.
“Tidak tahu.” Wang Xing menggeleng, lalu mengibaskan tangan. “Sudahlah, sungguh sial!” Ia menuang teh untuk menenangkan diri.
“Oh iya, tadi aku lihat Li Fan juga datang ke sini!” Wang Xing menoleh ke Xu Feng.
“Itu biasa saja, justru aneh kalau dia tidak datang!” Xu Feng berkata dengan nada acuh.
“Dia hanya ditemani satu tetua, sedangkan kita punya dua tetua di sini. Bagaimana kalau...” Wang Xing melirik Xu Feng, memberi isyarat menggorok leher.
“Kau gila!” Xu Feng langsung menoleh, matanya waspada memandang sekitar. “Kalau kau mau mati, jangan seret aku! Membunuh orang di ibu kota, apa kau tidak mikir? Setelah membunuh mereka, kita tak akan bisa keluar dari sini, bahkan keluarga kita pun bisa terseret!”
“Ah, masa sih...” Wang Xing cemberut, merasa Xu Feng terlalu melebih-lebihkan.
“Hmph, kalau mau berbuat, lakukan sendiri, jangan bawa-bawa aku!” Xu Feng mendelik ke arah Wang Xing. “Akademi Fuwu itu di ibu kota, di bawah kekuasaan mereka kau tak akan bisa lari ke mana-mana!”
“Baiklah!” Sepertinya Wang Xing juga mulai paham duduk perkaranya, ia menunduk.
“Hmph, lihat saja sikapmu. Nanti di Akademi Fuwu, jangan buat masalah! Meski itu akademi, di arena latihan tak ada larangan membunuh. Persaingannya sangat kejam! Di kota Chaoyang, mungkin kita yang terbaik, tapi di Akademi Fuwu, paling-paling kita hanya di tingkat menengah. Sifatmu itu harus diubah, kalau nanti bikin gara-gara, aku tak mau bertanggung jawab!”
“Ya, ya, kau cerewet sekali! Aku kan bukan anak kecil, aku tahu harus hati-hati!” Wang Xing mengibaskan tangan, tak sabar.
“Hmph!” Xu Feng tak suka dengan sikap Wang Xing, tapi ia pun tak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa berpura-pura tak peduli.
“Sudahlah, aku tahu kau bermaksud baik!” Wang Xing tak ingin hubungan mereka renggang, ia merangkul bahu Xu Feng sambil berkata, “Ayo, aku traktir makan, anggap saja permintaan maafku!”
“Ayo!” Wang Xing pun menarik Xu Feng keluar.
...
“Aku harus makan dulu, sudah lama tidak makan makanan hangat, rasanya kangen juga!” Li Ping mengelus perutnya. Sejak meninggalkan Kota Zhiyi, ia belum pernah menikmati makanan hangat. Di Sekte Pemenggal Langit, ia belum sempat makan sudah terjebak tipu daya, di Pegunungan Yanlian bahkan tak berani menyalakan api, sehingga ia sangat merindukan aroma sedap masakan.
Begitu pintu ditutup, ia menoleh dan melihat Wang Xing serta Xu Feng berjalan ke arahnya. Langkah Li Ping terhenti, wajahnya kaget.
“Memang benar, musuh selalu bertemu di jalan sempit!”
Pesan untuk pembaca:
Mohon dukungannya dengan vote dan koleksi...