Bab Delapan Belas: Dominasi Tanpa Ampun
Arah yang ditunjukkan oleh lelaki tua bersetelan jas itu berlawanan dengan pusat kendali. Keempat pemain saling bertatapan sejenak lalu segera berlari, sebab batas waktu delapan puluh menit permainan hampir habis. Bagaimanapun juga, mereka harus lebih dulu meraih evaluasi ujian di tingkat lebih tinggi.
“Apa gunanya kau mengucapkan pidato panjang barusan? Ingin menunjukkan keangkuhanmu? Atau yayasan sudah begitu lemah hingga kau sendiri harus turun tangan membimbing para pendatang baru?” Badut bermuka warna-warni itu menanggapi dengan nada meremehkan, sudut matanya yang dipulas merah menyipit sinis. “Huh, yayasan selalu membanggakan diri sebagai penjaga Taman Anomali, tapi nyawa manusia tak pernah jadi pertimbangan. Demi membentuk satu pendatang baru yang layak, kau rela mengorbankan banyak nyawa. Metode kejam macam itu, apa bedanya dengan kami—para tikus got yang diburu semua orang?”
Lelaki tua bersetelan jas itu memandang ke arah monster peti harta yang masih terus meronta, suaranya tetap tenang. “Sejak didirikan, yayasan punya aturan dan prinsip untuk bertahan. Kau pun tahu, orang-orang yang memang sudah sekarat itulah yang justru mendapat kesempatan memperpanjang hidup berkat keberadaan yayasan. Soal metode pembinaan, itu bukan urusanmu. Tujuan kami adalah menciptakan penjaga kuat di satu wilayah. Sedangkan kalian, sekalipun menjadi kuat, pada akhirnya hanya akan tumbuh menjadi para gila yang ingin menghancurkan dunia.”
Wajah lelaki tua itu berubah kelam ketika berbicara, “Menara Kekacauan, pada akhirnya pasti hancur.”
“Hah, kalau begitu kita lihat saja nanti,” Badut bermuka warna-warni itu menyeringai sinis, sekilas memandang monster peti harta yang mulai tenang, ekspresinya penuh ejekan. “Oh, aku lupa mengingatkanmu, energi dari kristal emosi itu sepertinya terlalu besar. Begitu ia sepenuhnya terserap, maka waktunya bagi monster itu berevolusi. Penjahit tua, jika kau takut para semut itu akan terbunuh tanpa sengaja, kau bisa saja menyerah sekarang. Anggap saja aku berbaik hati, membiarkan mereka hidup!”
“Tipu muslihatmu sejak dulu tak pernah berhasil, dan ke depannya pun tidak akan,” lelaki tua itu entah dari mana mengambil selembar surat kabar, lalu melemparnya ringan hingga menempel pada tubuh peti sang monster. “Ia butuh waktu sepuluh menit lagi untuk berevolusi penuh. Jika dalam sepuluh menit itu mereka tak mampu bertahan, maka kematian para pendatang baru itu pun tak layak disesali.”
Mendengarnya, badut bermuka warna-warni itu memalingkan wajah dengan malas, lalu melihat monster peti yang energinya mulai stabil. Ia berjingkat menjejakkan kaki, mengejar para pemain, ketika suara lelaki tua itu kembali terdengar di telinganya.
“Tapi jika ada di antara mereka yang berhasil bertahan hidup, aku rela kembali dipenjara sekali lagi. Toh, cepat atau lambat juga akan terjadi.”
...
[Pemberitahuan: Waktu permainan telah mencapai delapan puluh menit, kamu telah mendapatkan evaluasi ‘Luar Biasa’ pada ujian kali ini.]
[Pemberitahuan: Karena memilih terus menantang, kamu akan memasuki ‘Mode Battle Royale—Tantangan Tahap Dua’. Monster peti yang kekuatannya meningkat akan memburu kalian selama sepuluh menit, hingga seluruh pemain tereliminasi.]
[Pemberitahuan: Karena tingkat kesulitan meningkat drastis, Kepala Tertinggi meninggalkan alat petunjuk untuk mempersingkat waktu permainan, serta petunjuk khusus untuk membuka misi tersembunyi. Syarat mendapatkannya: buat monster peti memasuki tahap kedua.]
Munculnya notifikasi permainan seketika meringankan suasana yang menekan.
“Kepala Tertinggi ternyata memang menyediakan jalan pintas! Ternyata dugaan Abu sebelumnya benar, kalau kita ingin bertahan sampai akhir, kita harus benar-benar bekerja sama. Jika saja Langkah Kuda masih ada, beban kita pasti berkurang,” ujar Lengan Sisik Ikan sambil menggeleng kecewa. Kejatuhan Langkah Kuda memang begitu tiba-tiba sehingga ia tak sempat memberi bantuan.
“Memang, terus berlari begini pun takkan menyelesaikan masalah. Melawan adalah satu-satunya jalan,” Bukan Ahli berkata dengan kening berkerut. Monster peti versi larva saja sudah sangat menyulitkan, bagaimana jadinya jika ia mendekati tahap remaja?
“Tapi masalahnya, daya serang kita sangat terbatas!” Abu yang berlari di depan, wajahnya penuh kekhawatiran. Meski ia pemain dengan level tertinggi, menghadapi monster peti yang diperkuat itu ia sama sekali tidak yakin bisa bertahan. “Jumlah darah monster itu pasti meningkat berkali-kali lipat. Walaupun pertahanannya bisa diabaikan, entah berapa kali kita harus menyerangnya sampai benar-benar tumbang.”
Hujan Besok, yang sejak tadi tampak kurang setuju dengan Abu, tiba-tiba nyeletuk, “Sudah bicara panjang lebar, jadi sebenarnya kau punya cara atau tidak?”
“Kalau memang tak bisa meningkatkan daya serang, kita harus menciptakan kondisi tempur yang menguntungkan,” jawab Abu, merasa hal itu sangat logis, sehingga ia agak heran pada pertanyaan Hujan Besok. Ia pun menoleh pada dua pemain senior, “Sepanjang perjalanan kalian kemari, tak ada tempat yang menarik perhatian?”
“Ada!” Lengan Sisik Ikan langsung teringat lokasi gugurnya Langkah Kuda. “Fasilitas penampungan Tabib Wabah Berwajah Gagak diselimuti tirai gelap, lantainya penuh cairan korosif. Aku pernah tak sengaja menyentuhnya, butuh lima tingkat nyawa untuk benar-benar kebal. Jika bertarung di sana, itu bisa jadi strategi bagus.”
“Tapi, sepertinya kita tak akan sempat sampai sana sebelum dikejar. Jadi di perjalanan, kita harus cari cara menunda waktu,” ujar Bukan Ahli, kemudian menoleh ke Hujan Besok. “Setahuku, misi keahlianmu adalah menonaktifkan [Boneka Bersenjata] yang lolos dari penampungan. Masih bisa diaktifkan ulang?”
Hujan Besok berpikir sejenak. “Seharusnya bisa, kalau mereka masih di tempat semula. Tinggal aktifkan ulang saklarnya.”
Mereka berlari secepat mungkin dan akhirnya tiba di lokasi yang dimaksud Bukan Ahli, sebelum monster peti muncul. Untunglah, sekelompok boneka humanoid bersenjata aneka ukuran masih berdiri diam di koridor, tak hancur oleh tangan para utusan kekacauan. Sepanjang jalan, mereka sempat melihat banyak pintu akses yang dipaksa jebol, jadi melihat boneka-boneka itu utuh membuat para pemain sangat lega.
Lewat penjelasan Lengan Sisik Ikan, Abu memahami kejadian sebelumnya. Di bawah komando Wakil Komandan Penjaga, mereka sempat menghadapi sekelompok anomali yang lolos, yakni kumpulan boneka bersenjata yang kini ada di hadapan Abu. Meski tingkat bahayanya tak setinggi Kain Sutra atau Tabib Wabah Berwajah Gagak, berbagai senjata mainan yang mereka miliki sempat merepotkan Satuan Penjaga Ketiga.
Solusinya, matikan saklar boneka bersenjata itu.
Demi efisiensi waktu, para penjaga turun tangan, sekaligus mengajak Hujan Besok yang punya keahlian lincah. Pisau yang ia dapat pun berasal dari salah satu boneka bersenjata.
“Boneka-boneka ini akan otomatis aktif ulang setelah beberapa waktu. Cari yang punya pemutar di punggungnya, itu boneka dasar. Bisa diatur waktu aktifnya,” kata Hujan Besok yang rupanya lebih paham. Mendengar penjelasannya, Abu dan yang lain segera bergerak memilih target dari puluhan boneka di sana.
Tentu, mengaktifkan boneka tingkat tinggi juga mudah, tapi jika itu dilakukan, para pemain pasti langsung habis tanpa sisa.
Tepat saat boneka dasar kelima diatur untuk aktif dalam tiga puluh detik, seekor monster peti yang jauh lebih besar akhirnya menyusul keempat pemain.
Ck! Ck!
Keempat kaki panjang dan kokoh bergerak cepat, tubuh peti bermulut lebar itu melaju dengan kecepatan tinggi. Begitu menangkap keberadaan para pemain, monster itu mengeluarkan jeritan penuh kegirangan. Pada saat yang sama, para pemain bersiap mengangkat senjata, menantikan pertemuan pertama dengan monster peti yang telah diperkuat.
Setidaknya mereka harus bertahan sampai boneka dasar itu aktif ulang, demi memperpanjang waktu.
Pertempuran pun tak terelakkan.
Monster peti di depan mereka kini bukan hanya lebih besar, kecepatannya pun luar biasa. Setiap kali serangannya meleset, pemain hanya dapat membalas satu dua kali. Tubuh peti yang seharusnya menghambat pergerakannya, kini seolah tak berpengaruh—dua lengan panjangnya bisa digunakan untuk menyerang, kadang malah menendang pula.
Satu-satunya hal yang bisa disyukuri, serangan pemain tetap mampu menembus pertahanan.
Artinya, harapan menang meski tipis masih ada.
Selain itu, persiapan mereka sebelumnya pun membantu. Meski tekanan dari monster itu besar, para pemain berhasil bertahan sampai boneka bersenjata pertama aktif.
“Teridentifikasi banyak musuh di sekitar! Boneka tempur tipe penyerbu—Prajurit Baru Nomor Tujuh, meminta bantuan markas, meminta bantuan markas!”
Suara sendi berderak-derak, boneka tempur itu seolah hidup. Ia langsung menggunakan boneka tingkat tinggi di dekatnya sebagai tameng, lalu begitu boneka lain mulai sadar, ia memimpin dengan suara elektronik khas untuk mengatur serangan.
“Markas tidak merespons! Boneka tempur tipe penyerbu, Prajurit Baru Nomor Tujuh, mengambil alih komando. Prajurit Baru Nomor Sembilan, Tiga Belas, ikut menyerbu bersama saya. Prajurit Baru Dua Puluh dan Dua Puluh Satu, lakukan penekanan tembakan!”
Lima boneka bersenjata langsung membuat suasana kacau balau. Karena para pemain juga terdeteksi sebagai musuh, Abu pun terjebak dalam situasi sulit. Tiga boneka penyerbu masih bisa dihindari—satu membawa senjata jarak dekat, dua lainnya bertarung tangan kosong. Namun dua boneka penekan tembakan justru membawa senjata api mainan.
[Pemberitahuan: Kamu diserang oleh anomali “Boneka Bersenjata”—Boneka Tempur Tipe Penekan Tembakan, Prajurit Baru Dua Puluh dan Dua Puluh Satu.]
[Pemberitahuan: Nilai nyawamu berkurang dua poin.]
[Pemberitahuan: Nilai nyawamu berkurang dua poin.]
...
Walau senjata boneka itu hanya mainan dan pelurunya plastik, Abu tetap tak berdaya menerima serangan. Untungnya, baju pelindung tingkat awal yang ia kenakan mengurangi kerusakan. Jika tidak, dua tembakan itu saja sudah bisa mengurangi sepertiga darahnya.
Mungkin hukum keseimbangan keberuntungan benar-benar ada. Jika sebelumnya Abu sangat beruntung, kali ini ia sialnya setengah mati. Di tengah upayanya mencari perlindungan, ia tanpa sengaja terkena tendangan monster peti. Darahnya langsung turun sepertiga.
[Pemberitahuan: Kamu terkena serangan dahsyat dari anomali “Monster Peti Bayi yang Diperkuat”. Bagian perut mengalami luka ringan dan pendarahan.]
[Luka perut (ringan): Gerakan serangan terbatas, kekuatan serangan menurun, luka tidak bisa pulih seiring waktu.]
[Pendarahan (ringan): Setiap detik kehilangan dua poin nyawa, berlangsung lima belas detik.]
[Pemberitahuan: Level nyawa dua, efek negatif ini diabaikan.]
Dengan total tiga puluh poin nyawa, Abu kini tinggal setengahnya. Di saat genting, ia segera meningkatkan level nyawanya dan berhasil menghentikan pendarahan. Untungnya, serangan monster itu malah membebaskannya dari kepungan, sekaligus menarik perhatian semua boneka bersenjata, sehingga memberi para pemain kesempatan untuk mundur.
“Ayo cepat!”
Bukan Ahli menarik Abu berdiri, lalu menyusul Lengan Sisik Ikan dan Hujan Besok yang sudah lebih dulu berlari. Meski perutnya masih nyeri, Abu tetap bisa berlari secepat biasa. Sempat terpikir menunggu kedua pihak saling melemah, baru kemudian memburu monster peti, namun melihat betapa tragisnya pertarungan itu, mereka tak berani berlama-lama.