Bagian Empat Puluh Sembilan: Si Kutu Tanah Kembali Lolos dari Bahaya
Pada bagian sebelumnya, diceritakan bahwa Sun Buhu bertanya kepada pemilik kedai apakah pernah melihat dua orang, Abu dan Kuning. Pemilik kedai itu baru saja menerima emas dari Tuan Kuning, dan melihat orang berpakaian abu-abu penuh darah, mengira ia sedang dikejar-kejar... Mendengar pertanyaan Sun Buhu, hatinya dipenuhi kegelisahan.
Ia berpikir, jika orang yang datang ini mengetahui keberadaan dua orang yang ditanyakan, bisa jadi kedai akan dilanda pertumpahan darah... Jika sampai ada yang membunuh dan merusak kedai, yang celaka tetap dirinya... Maka ia tidak berani berkata jujur.
... Ia pun menyangkal sekenanya, menghindar dengan beberapa jawaban lalu pergi. Sun Buhu melihat pemilik kedai tampak panik, ia pun mulai curiga. Setelah makan, ia memastikan tak ada orang di sekitar, lalu meloncat ke atap dan mendengarkan tiap ruangan di kedai. Ia menemukan kedai itu benar-benar sepi. Barulah ia merasa tenang.
Mengingat ekspresi panik pemilik kedai, sepertinya ia terkejut oleh penampilan dan perkataannya sendiri. Namun, karena kedua orang itu masih di depan, tempat ini tak layak untuk berlama-lama. Ia pun segera melanjutkan perjalanan, meloncat turun dan menaiki kuda untuk mengejar.
Tak lama setelah Sun Buhu pergi, Tuan Kuning membantu orang berpakaian abu-abu keluar dari balik bukit kecil di belakang kedai.
Orang berpakaian abu-abu itu jatuh dengan tubuh penuh luka, terkapar di atas tikar. Seluruh tubuhnya memar dan lebam, luka yang baru sembuh pun terbuka lagi dan mengalirkan darah.
Tuan Kuning membantu orang itu kembali ke kamar, menempatkannya di atas ranjang. Si penipu besar itu memandang orang berpakaian abu-abu, mengangguk: “Meski kau kurang cekatan, setidaknya hatimu teguh. Suatu saat kau akan jadi orang besar.”
Orang berpakaian abu-abu senang mendengar pujian itu, lalu berkata, “Sebenarnya aku masih ingin berlatih lebih lama, tapi sudah tak bisa bergerak.”
Tuan Kuning berkata, “Malam ini jangan berlatih dulu. Latihan luar untuk otot dan kulit, latihan dalam untuk napas. Malam ini, biar aku ajarkan ilmu pernapasan padamu.”
“Eh?” Orang berpakaian abu-abu langsung duduk: “Guru, Anda bisa ilmu pernapasan?”
Tuan Kuning tertawa keras: “Mari, kita mulai dari dasar. Kau harus belajar duduk bersila dulu. Pertama-tama, kau perlu tahu apa itu ‘lima hati menuju langit’!”
***
“Tuan Kuning ternyata bisa ilmu pernapasan?” Di luar kota Luoyang, di kediaman Tuan Chang, beberapa orang sedang membicarakan asal-usul Tuan Kuning. Ketika sampai pada keahlian bela dirinya, sang saudagar kaya terkejut mendengar bahwa si penipu besar itu menguasai ilmu pernapasan.
Ucapannya membuat Tuan Tang terdiam, sementara Ziyun tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.
Wanita palsu itu benar-benar tak punya hati. Padahal situasi sangat genting, dua orang, Kuning dan Abu, hampir pasti akan kehilangan nyawa. Setelah tiga mangkuk arak membunuh beberapa orang, kemungkinan mereka akan datang mengganggu keluarga Chang.
Namun, di saat genting seperti ini, ia masih bisa tertawa?
Ziyun tertawa sejenak, menyadari suasana kurang tepat, lalu menjelaskan, “Yang datang ke tempat kami semuanya orang yang berlatih bela diri. Mereka yang pernah bertemu Tuan Kuning tentu juga bertanya soal ilmu bela dirinya... Dan memang ada yang ‘belajar’ ilmu pernapasan darinya.”
Erbao tertarik mendengar cerita itu, lalu bertanya dengan mata berbinar, “Oh? Bagaimana kemampuan Tuan Kuning?”
Ziyun melirik Tuan Tang, lalu berkata, “Latihan pernapasan itu dimulai dengan duduk bersila, istilahnya ‘lima hati menuju langit’.”
Tuan Chang, yang tak paham soal bela diri, bertanya, “Apa maksud ‘lima hati menuju langit’?”
“Yang dimaksud ‘lima hati’ adalah kedua telapak tangan, kedua telapak kaki, dan puncak kepala. Saat duduk bersila, kelima bagian ini diarahkan ke atas, itulah ‘lima hati menuju langit’. Posisi ini bagus untuk melancarkan aliran energi dan menenangkan pikiran.”
“Lalu...” tanya Tuan Chang, “Apa yang berbeda dari ajaran Tuan Kuning?”
Wanita palsu itu sambil tertawa menceritakan ajaran ‘lima hati menuju langit’ versi Tuan Kuning yang ia ketahui.
Tuan Chang mendengarkan dengan mata terbelalak, Erbao tertawa sampai terjatuh ke lantai.
Seketika suasana menjadi penuh tawa, semua orang melupakan ancaman tiga mangkuk arak yang akan datang.
Melihat ekspresi mereka, Tuan Tang menengahi, “Aku pernah dengar tentang keahlian Tuan Kuning, meski aneh dan ganjil. Tapi sekilas tetap ada teknik di dalamnya, bukan sekadar omong kosong orang awam. Seperti seseorang yang mengacaukan ajaran bela diri yang sebenarnya.”
***
Tuan Chang bertanya, “Orang berpakaian abu-abu itu kan sudah bisa napas kodok. Masih perlu belajar ilmu pernapasan lagi?”
Erbao juga berkata, “Memang terdengar aneh. Jangan-jangan asal-usul orang berpakain abu-abu itu lebih rumit dari yang ia ceritakan.”
Tang Feng berkata, “Konon latihan pernapasan itu baru berkembang setelah Kaisar Kuning wafat, di zaman musim semi dan gugur, saat orang-orang ‘kelompok dewa’ bermunculan. Tapi kabarnya Kaisar Kuning sendiri mahir latihan pernapasan, mungkin saja sistem latihan waktu itu dan sekarang berbeda.”
Wanita palsu itu berkata pada Tuan Tang, “Sepertinya tidak. Saat kau dan aku membangkitkan ingatan masa lalu, samar-samar merasakan adat dan keahlian zaman Kaisar Kuning... Rasanya dulu pun tak ada ingatan tentang latihan pernapasan.”
Tuan Tang merenung sejenak, lalu diam.
Ucapan itu menguatkan dugaan Erbao: orang berpakain abu-abu itu tak bisa bela diri, tak punya dasar ilmu pernapasan, lalu bagaimana mungkin bisa menguasai napas kodok dalam sehari?
Bahkan, apakah di zaman Kaisar Kuning memang ada ilmu pernapasan masih jadi pertanyaan.
***
“Aneh sekali, ya?” Wanita palsu itu merasa heran, “Penyerang kediaman Tang hanya satu ahli tiga mangkuk arak. Penyerang rumah Tuan Chang juga satu ‘tiga mangkuk arak’... Tapi yang menghadapi orang berpakian abu-abu, justru banyak ahli tiga mangkuk arak, bahkan ada yang minum enam mangkuk... Kalau begitu, hampir semua ahli tiga mangkuk arak dikirim untuk menghadapi orang berpakain abu-abu?”
Memang ini tidak masuk akal, orang berpakian abu-abu dan Tuan Kuning tidak bisa bela diri, bertemu begitu banyak ahli tiga mangkuk arak jelas mustahil selamat.
Namun jika dipikir sebaliknya, kenapa kelompok tiga mangkuk arak di tempat lain hanya beraksi dalam kelompok kecil, tetapi terhadap orang berpakian abu-abu justru mengirim banyak ahli?
Jadi, siapa sebenarnya orang berpakian abu-abu? Apa yang istimewa dari dirinya hingga begitu banyak orang waspada?