Bagian Satu: Hujan dan Angin Mengguncang Lin’an Bab Tiga Puluh Tiga: Penangkapan
Di sebuah rumah kecil di Gang Bunga Aprikot, Lingkungan Tiga Sumber, hanya ada sebuah lampu kecil yang menyala redup. Di samping meja di bawah jendela, Fang Zi'an menelungkup di atas meja, bergumam dan menggeleng-gelengkan kepala sembari membaca buku. Sesekali, ia pun mencatat sesuatu dengan cepat. Sudah lewat tengah malam, tapi Fang Zi'an sama sekali belum berniat naik ke tempat tidur untuk beristirahat.
Hampir setiap malam belakangan ini, Fang Zi'an selalu begadang hingga larut sebelum akhirnya beranjak tidur. Di antara rumah-rumah di Gang Bunga Aprikot, lampu di rumah Fang Zi'an selalu menjadi yang terakhir padam. Ia telah bertekad untuk lulus ujian negara. Begitu ia serius, dirinya seolah berubah menjadi orang yang sama sekali berbeda. Sama seperti dulu ketika masih di dunia modern, saat ia mengikuti ujian masuk universitas. Pada tahun-tahun pertama, nilainya berantakan, tak ada yang percaya ia mampu masuk universitas. Namun hanya karena satu kalimat dari gadis cantik pujaan hatinya, ia berubah total dan mulai berjuang mati-matian.
Gadis itu berkata saat ia menyatakan perasaannya, "Kelak aku ingin masuk universitas ternama. Jika kamu tidak bisa masuk universitas, di antara kita akan ada jurang perbedaan status dan wawasan. Aku rasa, menjadi pacarmu itu mustahil."
Hanya satu kalimat itu saja sudah cukup memacu Fang Zi'an. Ia mulai belajar dengan gila-gilaan. Sepanjang tahun terakhir sekolah, ia menahan diri, hidup seadanya, dan tidur tak lebih dari lima jam sehari. Orang tuanya, teman-teman, dan guru-guru semua terkejut melihat perubahan drastis bocah berambut acak-acakan ini. Semua merasa tak habis pikir. Setahun berlalu, Fang Zi'an berhasil masuk universitas unggulan seperti yang ia dambakan. Ironisnya, gadis cantik itu yang biasanya selalu berprestasi, justru gagal dalam ujian masuk dan hanya diterima di universitas biasa saja. Nyatanya, ucapan gadis itu benar, kini memang ada perbedaan status dan wawasan di antara mereka. Saat liburan tahun pertama pulang kampung dan bertemu kembali dengan gadis itu, Fang Zi'an merasa heran, mengapa dulu ia begitu tergila-gila pada gadis yang pikirannya ternyata begitu dangkal. Gadis itu pun tampaknya menyadari hal yang sama. Akhirnya, setelah makan bersama, tanpa banyak bicara, mereka menutup kisah cinta yang bahkan belum sempat dimulai.
Fang Zi'an memang tipe orang yang jika sudah mendapat dorongan, akan maju tanpa kenal lelah, seperti yang ia alami belakangan ini. Setelah diusir gurunya, dan merasakan sendiri perbedaan status dan perlakuan di acara musik malam itu, ia semakin yakin. Meski dalam hati ia tak pernah merasa orang-orang itu lebih mulia, Fang Zi'an sadar benar, menjaga harga diri hanya menjadi penghiburan semu. Sikap sok suci tak akan membawa manfaat nyata. Di zaman ini, hanya dengan masuk dalam lingkaran para penguasa, seseorang bisa mengendalikan nasibnya. Keangkuhan dan kesombongan sebaiknya disimpan saja di lubuk hati, karena itu tak akan berguna untuk kehidupannya saat ini. Maka, Fang Zi'an pun menekuni pelajarannya dengan sungguh-sungguh. Ia harus lulus ujian negara, itu satu-satunya tujuannya saat ini.
Akhir-akhir ini, ia pun jarang ke tokonya. Justru Chun Ni beberapa kali meluangkan waktu datang, selain untuk memberitahu perkembangan bisnis, juga karena ingin melihat keadaannya. Melihat Fang Zi'an yang berambut kusut dan tekun belajar, Chun Ni merasa senang sekaligus cemas. Mata Tuan Muda Fang tampak merah penuh urat darah, makannya pun seadanya. Ini jelas bukan jalan keluar. Maka, kini murid kecil di toko, A Jin, mendapat tugas tambahan: setiap hari mengantarkan tiga kali makan dari masakan Chun Ni, agar Tuan Muda Fang bisa makan dengan baik. Sekalian, A Jin membawa pulang pakaian kotor Fang Zi'an untuk dicuci. Tanpa disadari Fang Zi'an, Chun Ni sudah mulai mengambil peran sebagai istri yang bijaksana.
Ada satu peristiwa penting yang layak diceritakan. Suatu malam, pemimpin preman jalanan, Tuan Delapan Zheng, datang ke rumah. Fang Zi'an sempat mengira terjadi sesuatu yang buruk, ternyata Tuan Delapan hanya datang untuk membakar uang kertas di tempat kejadian pembunuhan. Belakangan ini, ia kerap dihantui mimpi buruk, selalu bermimpi para anak buahnya datang menuntut nyawa. Maka ia pun datang membakar uang kertas agar hatinya tenang.
Dari situ, Fang Zi'an pun tahu bagaimana Tuan Delapan menangani mayat anak buahnya. Malam itu, ia mendorong gerobak berisi empat mayat ke Sungai Cabang di selatan, membungkus semuanya dengan karung, diikat batu, dan ditenggelamkan ke kolam teratai di sana. Kepada orang lain, ia mengaku para saudara itu pergi berdagang ke Jingning, meninggalkan dunia preman untuk hidup baru. Hal ini membuat anak buah lainnya memaki-maki, menuduh mereka tidak setia, bahkan tidak sempat mengadakan pesta perpisahan.
Fang Zi'an sangat terkejut mendengarnya. Beberapa hari sebelumnya, ia sempat berjalan-jalan ke tepi kolam itu dan memuji betapa suburnya daun teratai dan indahnya bunga teratai tahun ini. Rupanya, itu karena ada ‘pupuk’ manusia di bawahnya. Sejak hari itu, Fang Zi'an tak pernah lagi mau berjalan-jalan ke tepi kolam teratai itu.
Menjelang tengah malam, Fang Zi'an menguap, meletakkan buku, dan mengusap matanya. Hari ini, ia akhirnya menuntaskan tiga puluh tiga bab Tengah dan Keseimbangan, bukan hanya menghafal di luar kepala, tapi juga memahami maknanya secara mendalam. Meski sepintas tampak membosankan, sesungguhnya di dalamnya tersimpan pemikiran yang sangat mendalam. Semakin dipelajari, semakin ia kagum pada kebijaksanaan para leluhur.
"Sepertinya sudah saatnya tidur. Harus tahu kapan bekerja, kapan istirahat," gumam Fang Zi'an, berdiri dan berniat mengambil air di gentong di serambi untuk mencuci muka. Namun tiba-tiba, dari kejauhan, terdengar keributan dan suara gaduh yang samar-samar makin mendekat.
Fang Zi'an mengernyitkan dahi dan membuka jendela, mendengarkan lebih seksama. Suara gaduh dan langkah kaki yang ramai makin lama makin dekat, bercampur derap kaki kuda dan teriakan orang-orang.
"Geledah, periksa dari rumah ke rumah, teliti sampai bersih, harus ditemukan juga!"
Seluruh tubuh Fang Zi'an menegang. Ia berpikir, "Ada apa ini? Apakah rahasiaku terbongkar? Apakah para prajurit datang untuk menangkapku?" Ia refleks ingin mengambil pedang panjang yang tergantung di tiang serambi. Kalau memang benar mereka datang untuk menangkapnya, ia tentu tidak akan menyerah begitu saja, mesti melawan. Tapi lalu ia berpikir ulang. Kalau memang prajurit itu hendak menangkapnya, seharusnya langsung saja mengepung rumahnya, tak perlu menggeledah satu per satu. Mendengar suara ribut itu, jelas mereka sedang mencari sesuatu dengan teliti dari rumah ke rumah. Untuk menangkapnya sendiri, mengapa harus repot-repot seperti itu?
Pikiran ini membuat Fang Zi'an membungkuk dan mendengarkan lebih lama. Dari rumah-rumah sekitar, terdengar ayam berkokok, anjing menggonggong, anak-anak menangis, semuanya kacau. Suara para prajurit pun semakin jelas, memang benar mereka mencari seseorang dari rumah ke rumah. Fang Zi'an pun menghela nafas lega.
"Rumah selanjutnya, cepat! Kalian ini kenapa lambat sekali? Perdana Menteri Qin bilang, kalau tidak ketemu si pembunuh, jangan harap bisa istirahat malam ini! Semuanya, siaga!" Teriakan dan langkah kaki yang makin ramai, bayangan dari cahaya obor pun makin mendekat, jelas-jelas mengarah ke rumahnya.
Fang Zi'an mendengarkan dengan seksama, berpikir serius. Dari pembicaraan mereka, sepertinya mereka sedang mencari seorang pembunuh. Mungkin saja di kota baru saja terjadi upaya pembunuhan. Orang itu tadi menyebut "Perdana Menteri Qin", mungkinkah yang menjadi sasaran adalah Qin Hui? Kalau memang sampai demikian, wajar saja seluruh kota digeledah tengah malam begini, mencari pembunuh dari rumah ke rumah.
Cahaya obor berkelebat-kelebat, entah berapa banyak prajurit telah tiba di depan rumahnya. Seseorang mulai menggedor pintu keras-keras, sambil berteriak.
"Buka pintu! Buka pintu! Prajurit sedang patroli malam! Cepat buka!"
Fang Zi'an tak sempat berpikir panjang. Ia segera bangkit dan hendak membuka pintu, namun dari sudut matanya, ia melihat bayangan hitam berdiri diam di pojok ruangan. Kalau bukan karena penglihatannya tajam, pasti ia takkan sadar kehadiran sosok itu. Sekilas pandang saja sudah membuat Fang Zi'an berkeringat dingin, bulu kuduknya meremang, ia kira sedang melihat hantu.
Orang di pojok itu juga tampaknya tengah memperhatikan gerak-geriknya. Melihat Fang Zi'an menoleh ke arahnya, ekspresi terkejut di wajahnya menunjukkan bahwa kehadirannya telah diketahui. Tanpa ragu, ia pun langsung melesat dari bayangan, secepat kilat berada di samping Fang Zi'an, tangan kanan membentuk cakar mengarah ke leher Fang Zi'an. Jelas itu adalah cara paling efektif untuk mengendalikan lawan: mencekik leher, agar lawan tak bisa bergerak maupun bersuara.
Tentu saja Fang Zi'an tak akan membiarkan dirinya tertangkap begitu saja. Ia menangkis, jari-jarinya menyentuh tangan lawan yang dingin, pergelangan tangan diputar, lalu menggunakan teknik membalik cengkeraman. Orang itu tak menyangka Fang Zi'an mampu melawan dengan teknik yang begitu lihai. Ia mengeluarkan suara lirih, namun segera saja bergerak, tangan kiri membentuk dua jari seperti kait, menyerang mata Fang Zi'an. Gerakannya cepat, serangannya kejam, tanpa ampun.
Dalam keadaan terdesak, Fang Zi'an tak punya pilihan selain membalas dengan risiko sama, jari-jarinya juga mengarah lurus ke mata lawan. Dalam situasi ini, jika lawan tak menarik serangan, bisa-bisa mata mereka sama-sama buta. Lawan tampaknya tidak mau mengambil resiko itu, ia menarik tangannya dan menebas siku Fang Zi'an dengan keras, sekaligus menghindari serangan Fang Zi'an, tapi juga tak berhasil mengalahkannya.
Dalam sekejap, mereka sudah bertukar empat hingga lima jurus, semuanya mematikan dan penuh perhitungan. Hasilnya imbang, tak ada yang menang ataupun kalah.
Orang itu sadar tak akan bisa mengalahkan Fang Zi'an, lalu berbalik berlari ke pintu belakang. Fang Zi'an menahan suara, berseru, "Berhenti! Siapa kamu? Apakah prajurit di luar sedang mencarimu?"
Orang itu berhenti sejenak dan menjawab dengan suara berat, "Bukan urusanmu."
Fang Zi'an berkata pelan, "Rumahku ada di ujung Gang Bunga Aprikot, gang ini buntu, kamu takkan bisa lari."
Orang itu membalas dingin, "Tetap saja bukan urusanmu."
Fang Zi'an kembali berkata, "Kau yang mencoba membunuh Qin Hui?"
Orang itu tertegun, lalu menjawab dingin, "Pengkhianat macam dia memang pantas mati. Kau ingin menangkapku untuk mendapat hadiah? Aku rasa kau tak punya kemampuan itu."
Fang Zi'an hendak menjawab, namun di luar, para prajurit sudah tak sabar, berteriak keras, "Belum juga buka? Apa yang kalian lakukan? Kalau tidak dibuka, pintu akan kami dobrak!"
Fang Zi'an berpikir sejenak, lalu berkata pelan, "Di luar penuh dengan prajurit, ini jalan buntu. Kalau kau keluar, pasti akan tertangkap. Kalau kau percaya padaku, sembunyilah di atas balok atap, itu satu-satunya tempat kau bisa luput dari pengeledahan. Kalau tak percaya, silakan pergi, jangan sampai menyeretku ke dalam masalah."
Setelah berkata demikian, Fang Zi'an segera membuka pintu, sambil berseru, "Datang, datang! Ini aku, jangan rusak pintunya, nanti rusak semua!"
Tepat sebelum pintu rumahnya didobrak, Fang Zi'an membukanya lebar-lebar. Cahaya obor yang menyilaukan memenuhi pandangannya, segerombolan prajurit berdesak-desakan masuk ke halaman begitu pintu terbuka.