Bagus sekali! Han Ye Liang, sekarang kau mulai bermain petak umpet denganku!
Dengan perasaan berat, ia kembali ke rumah dan mendapati makan malam sudah siap oleh ibunya, Chen Jiani. Hidangannya sangat mewah: sup tulang sapi yang harum, ham rebus perut babi, bakpao isi daging babi, dan masih banyak lagi.
Mulai hari ini, Yin Shangxue akan memasuki masa liburan musim dingin. Setiap kali tiba saat seperti ini, keluarganya selalu pergi berkeliling Eropa sebelum pulang kembali.
“Nak, ayo cuci tangan lalu makan,” sapa Chen Jiani begitu ia masuk ke rumah. “Setelah makan, bicarakan dengan ayahmu soal rute liburan tahun ini.”
Yin Shangxue menundukkan kepala dan naik ke lantai dua tanpa sepatah kata pun. Ia masuk ke kamar dan langsung mengunci pintu dari dalam.
Chen Jiani tertegun cukup lama, belum juga paham apa yang terjadi. Sambil menatap ke lantai dua, ia mendorong suaminya, Yin Hanluo, yang berdiri di samping, lalu bertanya, “Ayahnya, bukankah anak kita sudah menyerah pada Nuo Nuo? Kenapa masih terlihat seolah patah hati begitu?”
Yin Hanluo juga merasa ada yang aneh. “Jangan-jangan dia gagal ujian, tahu dirinya bakal tinggal kelas?”
“Mana mungkin? Kan baru saja selesai ujian. Nilainya belum keluar secepat itu.”
Akhirnya, mereka berdua pun tak menemukan jawaban. Selama ini prinsip keluarganya memang membiarkan anak-anak tumbuh mandiri, termasuk Nuo Yi.
Namun, yang membuat Chen Jiani bingung adalah mengapa Nuo Yi tumbuh menjadi remaja yang luar biasa dan pengertian, sedangkan putrinya justru menjadi perempuan tangguh dan sedikit kasar?
Di dalam kamar, Yin Shangxue duduk di atas ranjang, menggigit kuku jempolnya. Tas sekolah pun belum sempat dilepas. Setelah merenung sejenak, ia mengambil ponsel dan langsung menelepon ke rumah keluarga Han.
Telepon segera tersambung. Yin Shangxue baru saja hendak berbicara, tapi ternyata bukan dia yang mengangkat.
“Halo? Ini Xiaoxue, ya?”
Suara itu adalah milik Kak Lingling. Hati Yin Shangxue sedikit kecewa. Biasanya, setiap kali ia menelepon, Han Yeliang selalu yang pertama kali mengangkat.
Benar saja, sejak Han Yeliang pulang dari Maladewa, sikapnya jadi terasa asing.
Masih teringat malam musim panas setahun lalu, tiba-tiba Yin Shangxue ingin makan makanan pedas dari kedai dekat rumah Han Yeliang. Ia pun tak sabar-sabar meneleponnya.
Saat itu Han Yeliang baru selesai mandi. Begitu dering telepon berbunyi, ibunya hendak mengangkat, tapi ia bergegas lebih dulu. Setelah melihat nama Yin Shangxue di layar, ia bahkan sempat mengomel pada ibunya, “Aku ini tak punya privasi, ya?”
Sang ibu cuma bisa mengangguk pasrah. Siapa lagi yang paling mengerti anaknya selain ibu? Ia tahu persis isi hati Han Yeliang. Tapi, sejujurnya, kalau orang lain memang kurang peka, bisa apa lagi?
Setelah tersambung, Han Yeliang baru tahu bahwa gadis itu benar-benar ingin makan makanan pedas di malam buta!
Akhirnya, sebelum menutup telepon, Han Yeliang bilang tidak mau pergi. Tapi beberapa puluh menit kemudian, makanan panas itu pun tiba di rumah Yin Shangxue.
Begitu masuk, dilihatnya gadis itu sedang menonton film aksi Jepang. Han Yeliang bahkan sampai mengernyitkan dahi, berpikir, adakah di dunia ini yang masih bisa menyelamatkan si anjing kampung ini?
Menonton film seperti itu, masih bisa makan dengan lahap?
Benar-benar hebat!
Mengingat-ingat kembali, bukankah dulu mereka sering bertengkar sekaligus bercanda? Beberapa hari lalu mereka bahkan baru saja bertengkar sampai putus hubungan, tapi tak lama kemudian sudah baikan lagi.
Namun sekarang…
Mengapa harus sekeras ini?
Yin Shangxue mengangguk pelan di ujung sana. “Ya, ini aku. Kak Lingling, aku mau bicara dengan Han Yeliang.”
“Kamu belum tahu?” tanya Han Lingling, terdengar terkejut. “Dia bilang tidak akan pulang dalam waktu dekat. Katanya mau tinggal di rumah Shao Jie sementara waktu.”
“Baik, aku mengerti.” Air mata perlahan membasahi matanya, Yin Shangxue tersenyum pahit. “Terima kasih, Kak Lingling.”
Setelah menutup telepon, tubuh Yin Shangxue bergetar ringan tanpa bisa dikendalikan, kedua tangannya mengepal erat.
Bagus! Han Yeliang, sekarang kau mulai bermain petak umpet denganku!