Jika putra tak bergunanya itu akhirnya menikah dan keluar dari rumah, betapa banyak kekhawatiran yang akan hilang dari benaknya!

Pemuda tampan yang penuh pesona, berdirilah di sana untukku! Petarung eksentrik 1240kata 2026-03-06 09:57:40

Salju turun sepanjang malam, menumpuk tebal di atap-atap kota. Jika berdiri di puncak gedung tinggi dan memandang ke kejauhan, seluruh kota tampak seperti deretan pegunungan salju yang bergelombang. Kota A memang terletak di bagian utara, namun salju lebat yang benar-benar turun hanya terjadi sangat jarang. Bagi Yin Shangxue, pemandangan seperti ini di Amerika bahkan bisa dibilang langka sekali dalam seratus tahun.

Ketika pagi harinya ia terbangun dan mendapati dunia telah diselimuti putihnya salju, tak terlukiskan betapa gembiranya ia. Bahkan saat berangkat ke sekolah, ia pun bersenandung riang.

Beberapa waktu belakangan ini, ia tidak tinggal di apartemen yang disewanya. Entah kenapa, setiap kali membayangkan harus berada di satu ruangan bersama Han Yeliang, hatinya terasa gelisah...

Bahkan, jantung kecilnya di dalam dada selalu berdebar tak menentu. Setelah susah payah menekan kegelisahan tak beralasan itu, Yin Shangxue justru kembali bertemu dengannya di koridor.

Namun hari ini berbeda dari biasanya.

Dia, Han Yeliang, justru memungut segenggam salju dan membantu seorang adik kelas membuat bola salju, sambil tersenyum tipis di sudut bibir. Sinar matahari menari-nari di bulu matanya yang lentik melengkung.

Penampilannya saat itu benar-benar terasa hangat.

Bahkan ketika Yin Shangxue bersama dengannya pun, sangat jarang ia melihat senyum tulus seperti itu muncul di wajah Han Yeliang.

Harus diakui, saat dia tersenyum, dia benar-benar terlihat sangat tampan.

Persis seperti Nuo Yi.

Sebenarnya, adik kelas itu tidak bisa dibilang cantik. Ia hanya memiliki dua kepangan kecil di rambutnya, dan sepasang kacamata tebal menempel di hidungnya, meski begitu tetap ada sisi imut pada dirinya.

Yin Shangxue tiba-tiba merasa tercerahkan!

Ternyata pria itu menyukai tipe gadis seperti ini?

Tebakannya pun terbukti benar.

Sore hari sepulang sekolah, adik kelas itu dikerumuni dan dihadang oleh beberapa siswi senior. Alasan utamanya, tentu saja karena Han Yeliang pagi tadi membantu membuatkan bola salju untuk si adik kelas, bahkan menghadiahkan senyum cerah padanya.

Siapa yang pernah diperlakukan sebaik itu oleh Han Yeliang? Termasuk Yin Shangxue sendiri, mereka semua tumbuh di bawah omelan tajam dan sindiran Han Yeliang.

Jadi ketika seluruh siswi di sekolah tahu Han Yeliang begitu memedulikan seorang gadis berkacamata, mereka pun marah! Mereka menjadi garang, bahkan sampai ingin memukul!

Begitu ada yang memberitahu Han Yeliang tentang kejadian itu, matanya langsung membelalak, wajahnya pucat, dan ia melesat keluar gedung sekolah bak roket.

Semua itu disaksikan sendiri oleh Yin Shangxue.

Alhasil, adik kelas itu babak belur dihajar para senior. Saat Han Yeliang tiba di lokasi, wajah tampannya yang biasanya dingin langsung berubah kelam, urat di pelipisnya menonjol, ia mengepalkan tangan, lalu menggendong adik kelas itu sambil meninggalkan ancaman tajam, “Kalau kalian berani mengganggunya lagi, rasakan akibatnya!”

Tak ada yang bisa ia lakukan, ia jelas tak mungkin memukul para gadis itu.

Sejak saat itu, kisah pahlawan menyelamatkan sang putri ini menjadi cerita legendaris yang terus dibicarakan.

Dan si adik kelas pun, layak menyandang gelar sebagai kekasih Han Yeliang dalam berbagai rumor.

Meski Han Yeliang berulang kali membantah, kenyataannya ia memang telah menolong adik kelas itu hari itu.

Itu menandakan, di dalam hatinya, ia tetap peduli pada adik kelas itu. Kalau tidak, kenapa ia repot-repot menolong?

Mungkin karena merasa dirinya tak pantas untuk Han Yeliang, sejak hari itu sang adik kelas benar-benar berubah total.

Kacamatanya dilepas, ia mulai memakai lensa kontak.

Kepangan rambutnya diurai, diganti dengan rambut lurus hasil rebonding.

Seragam sekolah ditinggalkan, ia mulai mengenakan sweater model off-shoulder dan rok mini berbahan denim yang sedang tren.

Jika dilihat sekarang, mereka berdua memang tampak serasi.

Pada saat seperti ini, Yin Shangxue merasa perannya sangat berguna, seperti menjadi mak comblang. Setiap kali teman-teman berkumpul untuk makan bersama atau melakukan suatu kegiatan, ia pasti mengajak adik kelas itu.

Kalau “anak laki-laki” yang tak berguna di rumahnya itu akhirnya bisa menikah, betapa banyak beban yang akan terangkat dari pundaknya!

Tapi entah kenapa, wajah Han Yeliang malah terlihat makin muram akhir-akhir ini...