Lapisan lemakmu begitu tebal, meski kelaparan beberapa kali pun kau tak akan mati.
Mata Yin Shangxue membelalak karena terkejut, “Ini bukan dari kamu?”
Han Yeliang menatap Yin Shangxue dengan pandangan jijik, “Kenapa aku harus memberimu makanan seenak ini?”
Yin Shangxue berpikir sejenak dan merasa itu masuk akal. Kalau dia sampai rela membelikannya makanan semahal itu, mungkin ayam pelit pun sudah bisa bertelur.
Tidak, bahkan ayam pelit masih meninggalkan karat, sedangkan dia benar-benar ayam pelit dari baja tahan karat!
Melihat cara Han Yeliang melahap makanan seperti orang yang baru saja lolos dari bencana kelaparan di Afrika, Yin Shangxue menarik sudut bibirnya, “Sudah berapa generasi kamu tidak makan?”
“Aku baru saja makan,” Han Yeliang mengangkat bahu. Sambil berkata begitu, ia sudah mulai menyantap salad sayur.
Yin Shangxue menatap salad sayurnya yang sebentar lagi akan habis disantap Han Yeliang. Ia pun berteriak marah, “Astaga! Bukannya kamu sudah makan tadi?”
Itu jatah makanannya!
Tadi siang dia memang tidak membawa uang, tidak bisa ke kantin. Kalau ke kantin dia khawatir akan tergoda memesan terlalu banyak, jadi ia memilih berolahraga di lapangan saat istirahat siang untuk menurunkan berat badan, lalu langsung kembali ke sekolah.
Tak disangka, ternyata ada seseorang yang mengirimkan steak rendah kalori dan salad sayur untuknya. Meski tidak tahu siapa orang itu, Yin Shangxue sangat terharu.
Namun semuanya berantakan gara-gara Han Yeliang!
Dia bukan cuma makan steaknya, sekarang salad sayurnya pun tak luput juga!
Ini sudah keterlaluan!
Energinya terisi penuh, pertahanan meningkat, keberuntungannya memuncak! Yin Shangxue mendekat, bersiap merebut salad sayur itu kembali dari mulut Han Yeliang.
Namun, satu kalimat dari Han Yeliang langsung membuatnya kalah telak, bahkan tak sempat membalas. Begitulah caranya menjadi licik.
Bibir tipis nan indah itu kini sedikit terangkat, ia menatap Yin Shangxue dengan senyum mengejek, “Laki-laki butuh banyak energi karena sering berolahraga. Lemakmu tebal, puasa beberapa kali juga takkan mati.”
Astaga!
Serangan telak!
Pukulan mematikan!
Dia tahu di mana letak kelemahannya!
Tepat mengenai titik sakitnya!
Ekspresi Yin Shangxue langsung membeku, ia patuh menutup mulut, bergeser ke samping, menelan ludah sambil melihat Han Yeliang menghabiskan potongan terakhir salad zaitun, bahkan tak lupa mengeruk habis saus mayonesnya hingga bersih.
Yin Shangxue benar-benar menyerah, ia mengeluarkan dua apel dari tas dan mulai menggigitnya, memandang Han Yeliang dengan penuh keluh kesah, tapi tak bisa meluapkan apapun.
Hah…
Siapa suruh dulu dia memaksa Han Yeliang menemani program dietnya?
Astaga, dia benar-benar kejam!
Sudah memaksanya belajar masak untuknya saja tak cukup, setiap kali malah tidak mengizinkan ia makan kenyang!
Benar-benar lebih kejam dari penjajah!
Setelah siang hanya makan dua apel dan sebotol susu untuk mengganjal perut, sore sepulang sekolah ia sudah tak terlalu lapar.
Meski tidak seekstrem metode diet lain, cara seperti ini tetap menjadi beban tersendiri bagi tubuh Yin Shangxue.
Kebetulan, kakak perempuan Han Yeliang menelepon, hari ini keluarga mereka akan makan steamboat di rumah, ia diminta pulang membawa Lin Se.
Telinga Yin Shangxue tajam, tentu saja ia mendengar percakapan di telepon.
Soal jadi pengganggu, ia merasa tak bersalah sedikit pun. Menurutnya, “Dengan cahayaku, aku menerangi jalan kalian.”
Tentu saja, “kebenaran” yang satu ini langsung membuat semua orang mencibirnya.
Jadi, ketika Han Yeliang menutup telepon, Yin Shangxue segera bilang ia juga ingin ikut, ingin bertemu paman, bibi, dan kakak Lingling—padahal tujuannya cuma ingin makan steamboat.
Di luar dugaan, Yin Shangxue mengira Han Yeliang pasti menolak, ternyata si brengsek itu malah langsung setuju.
Apa dia tidak salah dengar?