Takdir Mempermainkan Manusia
Dua tahun telah berlalu begitu saja, ia tak pernah mengungkapkan perasaannya padanya, namun justru dihadapkan pada kegundahan yang datang saat kelulusan. Ketika gadis itu datang memberitahunya bahwa ia akan tetap tinggal di kampus untuk melanjutkan studi pascasarjana, ia hanya bisa tersenyum samar, sementara hati kecilnya bergejolak hebat.
Ia berpikir, setelah lulus nanti, saat sudah mampu menghasilkan uang dengan kedua tangannya sendiri, ia pasti akan menyatakan perasaannya pada gadis itu.
Namun, pukulan mematikan itu datang setahun lalu...
Gadis itu ternyata akan menikah.
Melihat kebahagiaan yang terpancar dari senyumnya, untuk pertama kalinya dalam hidupnya ia mabuk berat di jalanan, menangis sangat pilu dan sedih. Jantung di dadanya terasa seperti disayat-sayat bilah es, perih dan menggigil.
Ia adalah seseorang yang tak pandai berkata-kata, tak mudah berjanji pada siapa pun. Ia begitu yakin, gadis itu pasti akan menunggunya setahun lagi.
Asalkan setahun berlalu dan ia sudah bisa menghasilkan uang, ia ingin memberikan gadis itu rumah mungil yang hangat, mengobati penyakit asma yang dideritanya.
Mereka akan memiliki cinta yang tulus dan penuh gairah, lalu apalagi yang perlu disesali dalam hidup ini?
Siapa sangka, takdir justru mempermainkan mereka...
Ia tahu, pernikahan itu hanyalah hasil perjodohan yang diatur oleh ayah tiri dan ibunya demi kepentingan keluarga. Ia pernah bertanya pada gadis itu, apakah ia akan bahagia menikah dengan pria yang bahkan belum pernah ditemuinya?
Gadis itu menjawab, ia akan menikah karena sudah bertemu orang yang tepat dan telah sampai pada usia yang seharusnya menikah.
Namun ia tak pernah tahu, betapa dalam cinta pria itu padanya...
Cinta pertama memang sulit dilupakan. Saat ia bertemu lagi dengannya, gadis itu kembali menjadi putri dalam hidupnya.
Ia tak mampu melawan gejolak perasaan terdalamnya, ia begitu mencintainya. Namun ia juga tak ingin menjadi perusak dan menghancurkan kebahagiaan gadis itu bersama pria lain.
Mungkin, ia akan menjaga gadis itu diam-diam seumur hidupnya.
Akan tetapi, segalanya kembali berubah oleh takdir...
Ketika ia tahu gadis itu dibius hingga demam tinggi, ia sadar itu sebuah jebakan. Namun melihat gadis itu menatapnya dengan mata nanar, memohon pertolongan, ia mengangkatnya ke ranjang, dan dengan jemari panjangnya, membuka resleting gaun sang gadis...
Kali ini, ia takkan pernah melepaskannya lagi!
Setelah melewatkan kesempatan sekali, ia tak ingin hidupnya menanggung penyesalan lagi.
Jika ingin memiliki, maka harus berjuang!
Toh, pria itu dan keluarga gadis tersebut hanya menganggapnya pion di papan catur, kebahagiaan gadis itu akan ia rebut dan berikan sendiri.
Namun, ia tak menyangka, gadis itu ternyata hamil.
Gadis itu mengelus perutnya yang belum membuncit, tersenyum cerah penuh bahagia...
Ia berkata, ini adalah buah cinta antara dirinya dan laki-laki itu, entah akan lahir anak laki-laki atau perempuan, tapi ia akan menyayangi keduanya sama saja.
Setiap katanya menusuk hati.
Hanya itu yang bisa ia rasakan saat itu.
Demi senyum gadis itu, ia berguling-guling gelisah di malam hari, sekali lagi terjebak dalam dilema tanpa jalan keluar.
Namun segalanya terjadi begitu cepat...
Beberapa hari lalu, sepulang dari pemeriksaan kehamilan, gadis itu melihat potongan kain sifon berserakan di lantai ruang tamu, pakaian dalam wanita dan baju laki-laki bercampur, dari kamar terdengar suara desahan mesra, senda gurau penuh gairah.
Gadis itu tak percaya, matanya membelalak, seolah petir menyambar di siang bolong. Namun ia harus memastikan, apakah semua itu hanya halusinasi.
Pria itu pernah berkata, "Xiao Xi, kau adalah cinta sejatiku. Meski kita sudah tua renta, kita akan tetap berbelanja bersama setiap hari. Kau adalah sandaranku, aku akan selalu jadi yang paling mencintaimu. Jika suatu hari aku tak lagi mencintaimu, samudra luas tak akan berombak, sungai yang deras akan mengalir ke barat, dan langit malam takkan lagi bertabur bintang!"
Gadis itu polos mempercayainya.
Betapa konyol!
Saat ia menyaksikan laki-laki yang pernah bersumpah setia padanya, kini tengah mendekap wanita cantik lain dengan penuh gairah, air matanya jatuh perlahan di sudut mata.
Penyakit asmanya pun kembali kambuh.