Han Ye Liang, bisakah kau menentukan posisimu dengan jelas?
Sifatnya memang keras, tapi ternyata, sifat pria itu lebih keras lagi. Saat Yun Shangxue sedang meluapkan kekesalannya, Han Yeliang menatapnya dengan mata yang sedikit menyempit, kegelisahan dan kemarahan yang menyesakkan tiba-tiba meledak menjadi satu. Ia menatap mulut kecilnya yang terus mengoceh, lalu, tanpa berpikir panjang, ia langsung menggigitnya.
Gigitannya begitu keras, hingga membuat bibir berdarah.
Yun Shangxue benar-benar terpaku, menatapnya dengan mata terbelalak, sementara mulutnya dipenuhi rasa anyir darah. Di hadapannya, wajah Han Yeliang begitu dekat, dan giginya masih saja menggigit bibirnya dengan sengit, seolah memberi hukuman.
Apa-apaan ini!
Apa dia keturunan anjing?
Tak suka hati langsung menggigit orang?
Tentu saja, Yun Shangxue bukan tipe yang mudah dipermainkan. Moto hidupnya adalah—anjing kampung tidak menangis, berdiri dan lawan!
Begitu sadar, ia mendorong Han Yeliang dengan kuat. Keduanya pun terjatuh di pasir pantai yang lembut, ombak laut datang bergulung-gulung membasahi ujung pakaian mereka.
Tidak jauh dari sana, para wisatawan menatap dengan mata terbelalak, berharap melihat “adegan panas” yang akan segera terjadi!
Namun, Yun Shangxue malah membalikkan badan, menindih Han Yeliang di bawahnya. Dengan mata hitam membelalak dan suara meninggi menahan amarah, ia berteriak, “Aku mau putus hubungan sama kamu! Putus!”
Mendengar itu, Han Yeliang langsung membalikkan keadaan, menindih Yun Shangxue dan menahan kedua lengannya. Dengan alis berkerut, ia mengucapkan dua kata penuh ancaman, “Coba saja!”
Walaupun ia tahu Yun Shangxue tidak serius, kata “putus” tetap terasa seperti duri yang menancap dalam-dalam di hatinya, menusuk dan mengaduk perasaannya tanpa ampun...
Matanya yang hitam segera basah oleh luka dan kemarahan, Yun Shangxue pun mengadukan kelakuannya, “Apa ada teman seperti kamu? Oke, kamu kesal, kamu bercanda, aku tidak ambil pusing. Tapi kenapa kamu harus menggigitku? Sampai berdarah segala!”
“Karena aku tidak mau ada lelaki lain menciummu!” Han Yeliang mengucapkannya dengan gigi mengatup, rambutnya yang kusut menempel di dahi, ekspresinya tampak menakutkan.
Kepala Yun Shangxue makin kacau, pikirannya jadi seperti bubur...
Belum pernah ia melihat Han Yeliang semarah ini.
Apa hanya karena tadi siang Dylan mencium pipinya, Han Yeliang sampai semarah itu?
Menyadari hal itu, Yun Shangxue merasa Han Yeliang benar-benar keterlaluan dan tanpa pikir panjang ia pun membalas, “Memangnya kenapa?! Nanti kalau aku cari suami juga kamu mau seleksi dulu? Siapa kamu, memangnya! Han Yeliang, sadar posisi dong! Apa hakmu mengaturku? Kita ini cuma teman! Bukan bapakku, bukan ibuku, kenapa kamu ikut campur urusanku?!”
Begitu kata-kata itu keluar, Han Yeliang seperti tersambar petir, langsung terdiam. Raut marah di matanya sirna, pikirannya perlahan jernih, ia pun melepaskan cengkeramannya...
Ya, memangnya apa haknya ikut campur sejauh itu?
Bagi Yun Shangxue, Han Yeliang hanyalah seorang teman. Teman yang baik, itu saja; kalau sedang kesulitan, dia akan menelepon meminta bantuan.
Perannya, hanya sebatas teman.
Melihat ini, Yun Shangxue menghapus air mata di wajahnya, melirik Han Yeliang penuh dendam, lalu mendorongnya dan berlari menuju vila di atas air miliknya.
Tepat saat itu, ombak besar datang dan menyapu tubuh Han Yeliang hingga seluruh bajunya basah, tapi ia tetap tidak beranjak sedikit pun dari tempatnya.
Begitu saja, air laut makin pasang, ombak datang silih berganti menghantam tubuhnya, namun ia tetap terbaring di sana, seolah sudah tidak bernyawa...
Malam pun turun, gelap dan pekat.
Setelah semalaman beristirahat, Yun Shangxue memang masih kesal, tapi waktu telah menenangkan hatinya, jauh lebih baik dibanding malam sebelumnya.
Semua yang dikatakan saat itu hanya kata-kata penuh emosi, Yun Shangxue sendiri orang yang mudah terbawa perasaan, jadi semuanya seharusnya tidak perlu diambil hati!
Namun, keesokan paginya, ketika ia mencari Han Yeliang untuk pulang bersama ke Tiongkok, pria itu sudah tidak ada lagi.