Bab 9: Datang Untukmu
Kilatan petir menerangi alis dan mata sang tiran yang dalam. Shen Tingyu sempat tertegun sejenak, ingatan dari lubuk pikirannya terpantik kembali. Ia mendongak dengan tatapan kosong, membiarkan pria itu mengusap kepalanya.
Menekan rasa getir di hati, ia meremas selimut di tangannya. Ia ingin mengatakan sesuatu, namun saat membuka mulut, tak ada suara yang keluar.
Kenangan paling kelam kembali menyeruak. Ia seolah terlempar ke masa lalu, kembali ke malam bertahun-tahun silam yang menghancurkan hidupnya.
"Dia bermarga Shen, dia putrimu. Membawa dia bersamaku hanya akan menjadi beban. Jika ingin bercerai, silakan, bawa dia pergi."
"Atas dasar apa? Aku sudah membesarkannya selama tujuh tahun, sudah banyak uang yang kuhabiskan. Sekarang giliranmu yang mengurusnya. Biarkan anak itu yang memilih. Dia biasanya paling dekat denganmu, dia pasti tidak mau berpisah darimu."
"Dia dekat denganku, bukankah itu karena kau tidak pernah memedulikannya?"
"Kapan aku tidak memedulikannya? Bukankah makanan dan minumannya selalu kupenuhi? Justru kau, setiap saat selalu melempar anak itu pada pengasuh dan pergi bersenang-senang sendiri."
"..."
Keluarga yang biasanya tampak akrab dengannya kini bertengkar hebat di depannya, melontarkan makian dengan wajah yang mengerikan. Deru petir bahkan tak mampu meredam suara pertengkaran mereka.
Yang paling menyakitkan adalah dirinya yang diperlakukan seperti bola, ditendang ke sana kemari oleh ayah dan ibunya. Tak satu pun dari mereka menginginkannya.
Saat itu, Shen Tingyu kecil bersembunyi sendirian di kamar, meringkuk di dalam selimut, menutup mulutnya untuk menahan isak tangis agar tidak terdengar, tubuhnya gemetar menahan pedih di hati.
Dulu, ia pernah berandai-andai ada seseorang yang tiba-tiba muncul di sisinya, menghiburnya dengan lembut, melindunginya, dan menjauhkannya dari badai.
Entah karena tubuhnya yang mengecil atau bukan, ia merasa jauh lebih perasa saat ini hingga ia merasa sang tiran tampak sedikit lembut.
Satu lagi sambaran petir menggelegar. Shen Tingyu secara naluriah menarik kepalanya kembali ke dalam selimut, tubuhnya sedikit gemetar, berusaha menghindari tangan besar yang sedang mengusap kepalanya itu.
"Apa kau takut dengan malapetaka surgawi?" tanya sang tiran dingin.
Malapetaka surgawi?
Istilah yang tidak biasa itu membunyikan alarm di benak Shen Tingyu. Ia memaksa dirinya segera keluar dari emosi negatif tadi. Ia mengerjapkan mata dan mulai mengarang cerita, "Dibandingkan malapetaka surgawi, sang peri ini lebih takut gagal dalam menembus tingkat kultivasi."
"Kami para peri kecil yang lemah, saat turun ke dunia fana untuk menembus tingkat, sedikit saja kesalahan bisa berakibat fatal. Begitu gagal, satu-satunya akhir adalah jiwa yang tercerai-berai. Jangankan berharap menjadi abadi, kesadaran spiritual yang susah payah kami bangun pun akan musnah menjadi kehampaan."
Shen Tingyu menghela napas tipis, tatapannya menerawang dengan nada sedih, "Aku pernah punya seorang teman, dia adalah roh bunga di dunia fana. Setelah tiga ratus tahun berlatih siang malam, akhirnya dia berhasil menjadi peri. Namun, karena kekuatan sihirnya yang lemah, dia tidak mampu menahan sembilan sambaran petir itu."
"Setelah gagal menembus tingkat, tubuhnya hancur dan jiwanya hilang. Meski dunia ini penuh dengan bunga, tak ada lagi jejak dirinya."
"Karena itulah, setiap kali ada petir dan guntur, sang peri ini selalu merasa sedih dan gelisah."
Sambil berbicara, Shen Tingyu menengadah, diam-diam memperhatikan raut wajah Xin Hongying. Namun, sang tiran tetap tanpa ekspresi. Ia benar-benar tidak bisa menebak apa yang sedang dipikirkan pria itu.
"Semakin kuat energi naga Baginda, semakin cepat kultivasiku pulih. Semakin kuat sihirku, semakin besar kemungkinan bagiku untuk berhasil menembus tingkat."
"Jadi, Baginda, Anda bisa sepenuhnya memercayai sang peri ini."
"Aku melihat energi naga dalam diri Baginda kian melemah, fondasi negara tidak stabil. Keberuntungan yang seharusnya Anda miliki telah diubah oleh seseorang, dan energi naga itu seolah sedang dirampas oleh pihak lain. Anda harus sangat berhati-hati terhadap orang-orang di sekitar Anda."
Mata Xin Hongying berkedip sejenak. Tubuhnya yang jangkung tiba-tiba menegang. Tangan yang tersembunyi di balik lengan bajunya mengepal erat hingga urat-uratnya menonjol.
Ia sedikit memiringkan tubuh dan menunduk, menyembunyikan wajahnya dalam bayang-bayang. Ia tertawa kecil yang terdengar mengejek diri sendiri lalu terdiam. Aura bahaya yang terpancar darinya membuatnya tampak ganas dan mengerikan, seolah detik berikutnya ia akan mencabik-cabik gadis itu.
Tiba-tiba, ia melontarkan pertanyaan yang aneh dengan nada datar, "Kau memetik buah di tengah hujan, apakah itu demi diriku?"
Shen Tingyu merasa ada yang aneh dengan sikap sang tiran. Di balik kekejamannya yang dominan, tersimpan kerapuhan mendalam yang terasa begitu nyata di malam yang penuh badai ini.
Mereka berdua sama-sama sedang rapuh.
"Aku datang untukmu."
Shen Tingyu ragu sejenak, lalu ia mengucapkannya lagi kata demi kata dengan tulus, "Aku datang untukmu."
Apa yang dikatakan Shen Tingyu adalah kejujuran. Ia tidak membohongi sang tiran; ia memang tinggal di sisi pria itu karena dirinya.
Malam berlalu tanpa tidur, angin dan hujan mereda, gemuruh petir pun hilang.
Sinar matahari pertama di pagi hari menyinari kamar, cahaya keemasan hangat berkilauan di puncak atap.
Si burung besar yang tertidur lelap terbangun, membuka mata, dan mengeluarkan kicauan merdu dengan riang.
Dua puluh empat jam telah berlalu, jimat tunggangan telah kedaluwarsa. Burung besar itu menatapnya dengan mata bulatnya yang mungil, kepalanya yang polos sedikit miring. Shen Tingyu bahkan bisa melihat tatapan bingung di wajah burung itu, seolah ia heran mengapa dirinya bisa berada di sana.
Shen Tingyu memanggilnya, "Burung besar!"
Ia merentangkan tangan, menginginkan pelukan hangat di pagi hari, namun burung itu justru seolah tidak mengenalnya. Ia melompat mundur dan menatapnya dengan tatapan asing dan penuh tanya.
Setelah itu, ia mengepakkan sayap dan terbang keluar jendela tanpa menoleh lagi, seolah kebersamaan mereka kemarin tidak pernah terjadi. Shen Tingyu melangkah ke arah kepergiannya dengan perasaan kehilangan yang membuncah.
Shen Tingyu bersedih, "Xiao Qi, burung besar itu... dia sepertinya tidak mengenalku lagi."
[Tuan, Xiao Qi yang tercinta akan selalu menemanimu. Jimat tunggangan itu menangkap hewan sungguhan di dunia nyata, meningkatkan kesadaran spiritual mereka untuk sementara, dan meminjam waktu mereka melalui pertukaran.]
[Saat jimat kedaluwarsa, kesadaran spiritual mereka juga akan hilang. Dalam ingatan mereka, seolah-olah mereka baru saja melewati waktu tertentu bersama orang asing sepertimu. Ingatan semacam ini hanya bertahan sangat singkat di benak mereka.]
[Semakin tinggi tingkat kesadaran spiritual tunggangan, semakin lama ingatannya bertahan, dan semakin besar kemungkinan dia mengingatmu.]
[Atau, jika Tuan selalu memilih burung besar itu setiap kali menggunakan jimat tunggangan, maka semakin banyak ingatan yang tersimpan di benaknya, sehingga ada kemungkinan dia bisa mengingatmu meski di luar masa kontrak~]
Di dalam aula tidur yang luas, sosok Xin Hongying tidak terlihat.
Shen Tingyu bertanya, "Xiao Qi, di mana sang tiran? Berikan lokasinya, arahkan aku."
[Baik, Tuan, belok kanan di depan... berhenti sebentar, ada orang di arah jam delapan, belok kanan lalu belok kiri di depan... oke, pertahankan jalurnya, terus maju~]
[Tuan, tunggu sebentar, ada orang di depan ruang kerja, kita masuk lewat jendela~!]
[Tuan, bersiaplah, tiga... dua... satu... lompat!]
Tidak ada seorang pun yang menyadari sosok kecil yang melompat masuk lewat jendela dan menyusup ke ruang kerja kaisar tanpa suara.
Dari luar ruang kerja, terdengar suara lantang yang menggelegar.
"Menghadap Baginda, semoga Baginda senantiasa sehat."
Xin Hongying tampak seperti pemuda yang polos, suaranya yang lembut menyiratkan kekaguman. Shen Tingyu terpaku sejenak. Apakah ini benar-benar suara sang tiran? Mengapa perbedaannya begitu drastis?
Ia menoleh dengan kaku ke arah asal suara.
Sang tiran sendiri yang membantu seorang pria paruh baya yang berlutut di lantai untuk berdiri, lalu memanggil dengan patuh, "Ayah angkat, mengapa Anda datang?"