Bab 57 Turnamen Elite 4
"Aku benar-benar sudah tidak sanggup berjalan lagi. Sudah seharian penuh aku tidak makan apa-apa."
"Betul, kalau begini terus, bukannya mati kehausan atau kelaparan, kita malah akan mati kelelahan!"
Para pemain yang belum memiliki pengalaman menyelesaikan permainan mulai mengeluh tanpa sadar. Sontak, kecepatan perjalanan mereka pun melambat.
"Semuanya, bertahanlah sebentar lagi. Sebelum hari gelap, kita harus menemukan tempat untuk beristirahat dan berlindung," kata Hu Feng sambil berjalan di depan untuk menyemangati mereka.
"Aku tidak mau jalan lagi, aku mau di sini saja! Terserah kalian mau ke mana!"
Begitu seseorang berteriak lelah dan berhenti, yang lain langsung mengikuti, duduk berbondong-bondong di bawah pohon.
Ning Ke pun secara tak biasa ikut duduk, membuat Lu Wuli yang berada di sampingnya melirik berulang kali.
"Kalau begitu, mari kita istirahat sejenak di sini sebelum melanjutkan perjalanan," Hu Feng mengalah.
Di tengah hutan pada malam hari, angin dingin yang menusuk tulang menderu lewat, membuat orang-orang tanpa sadar bergidik dan menggigil. Namun, mereka kekurangan sumber api dan hanya bisa mengandalkan suhu tubuh yang minim untuk menghangatkan diri.
Ning Ke tidak terkecuali. Pelarian hidup dan mati sepanjang hari telah membuat tenaganya terkuras habis, ditambah lagi dengan ilusi yang terasa begitu nyata itu...
Tengah berpikir, pundaknya tiba-tiba terasa berat.
Ia mendongak dan langsung menatap mata Lu Wuli yang tersenyum cerah. "Kenapa ekspresimu seperti itu?"
Ning Ke melihat mantel yang disampirkan di bahunya, yang masih menyisakan sedikit kehangatan dari pemilik sebelumnya. Ia merenung sejenak, "Ini?"
Lu Wuli menjawab, "Terlalu berat, malas membawanya."
Ning Ke tidak menolaknya lagi. "Terima kasih."
"Kenapa memegangku?" Gadis yang tadi bersandar di dekat semak-semak tiba-tiba bersuara, menatap pria paruh baya di sampingnya dengan penuh ketidaksenangan.
Pria paruh baya itu tampak semakin bingung. "Aku tidak memegangmu."
Gadis itu tidak mau mengalah. "Kalau tidak memegang, kenapa aku harus bilang begitu? Di sini cuma kamu yang paling dekat denganku. Tadi saja kulihat gerak-gerikmu seperti pencuri, tidak disangka ternyata kamu pria hidung belang!"
Pria yang dituduh itu, dengan terbata-bata, mundur beberapa langkah sambil melambaikan tangan dengan panik, memberi isyarat bahwa ia tidak melakukannya.
"Kenapa masih memegang lagi! Sungguh, aku belum pernah melihat..." Suara gadis itu tiba-tiba terhenti, karena ia menyadari saat itu pria tersebut mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi dan berada jauh darinya, sementara sensasi hangat itu justru datang dari belakang.
"Menghindar!" Ning Ke adalah orang pertama yang menyadari ada yang tidak beres dan memberi peringatan dengan suara lantang.
"Ah—uh!" Seekor makhluk besar yang melompat keluar dari semak-semak langsung menggigit leher gadis itu. Dengan suara *krak*, bagian tubuh yang rapuh itu patah dengan sudut yang mengerikan.
Hu Feng terkejut. Ia buru-buru memanggil para pemain lain yang masih melongo, "Cepat! Semuanya berkumpul, pungut batu dan ranting di tanah! Tahan sebentar selagi bisa!"
Binatang buas yang telah menangkap mangsanya itu tidak langsung menikmati santapannya, melainkan mengarahkan mata hijau tajamnya kembali kepada orang-orang yang berlari kencang menyelamatkan diri.
"Ah—" Jeritan kali ini datang dari pria paruh baya yang berada paling dekat.
Binatang buas itu menggigit kaki kanannya. Kekuatan gigitan yang luar biasa seketika menembus jaringan ototnya, lalu disusul dengan gerakan mengibas kepala untuk mematahkan tulang kakinya menggunakan momentum tersebut.
Namun, Ning Ke yang berada di samping sama sekali tidak bergerak. Pada detik itu, ia sedang memikirkan sebuah pertanyaan: Apakah pemandangan di hadapannya ini hanyalah sebuah ilusi?
Rentetan kejadian 'serigala datang' yang terjadi terus-menerus membuat dirinya mulai curiga. Sampai saat ini, ia belum mendengar adanya pengumuman tentang pemain yang tewas atau tereliminasi di babak ini.
Apakah ini berarti sebenarnya tidak ada pemain yang terluka dalam permainan ini, dan aturan penilaian yang sebenarnya untuk turnamen elit adalah...
Di tengah kepanikan orang-orang yang berlari, Ning Ke dengan tegas bangkit berdiri dan berjalan melawan arus kerumunan ke arah binatang buas itu. Tak lama kemudian, sesosok bayangan biru yang mencolok turut berjalan di sisi nya.
Ning Ke menoleh ke samping. "Kenapa? Tidak takut mati lagi?"
Lu Wuli mengangkat alisnya. "Bukankah ada kamu di sini?"
Begitu saja, di bawah tatapan terkejut orang-orang, Ning Ke dan Lu Wuli mendekati kekacauan tersebut, berhadapan langsung dengan sepasang pupil vertikal berwarna hijau yang memancarkan kehausan darah binatang buas.
Setelah berada lebih dekat, Ning Ke bahkan bisa melihat sisa-sisa daging yang menempel pada gigi bergerigi di mulut binatang itu, serta noda darah merah cerah yang mengotori bulunya.
"Aum—"
Binatang buas itu meraung dan menerjang langsung ke arah Ning Ke dan Lu Wuli, dengan mulut menganga lebar yang tampak sangat mengerikan.
"Hati-hati!"
Sesosok bayangan yang tiba-tiba melintas di depannya membuat semua orang terpaku di tempat. Tubuh yang ramping dan kurus itu terhempas jauh akibat hantaman kuat dari binatang buas tersebut, lalu jatuh menimpa batang pohon dan tak bergerak lagi.
Ning Ke pun terkejut dengan perubahan yang mendadak ini. Jika ingatannya tidak salah, sosok yang tadi dengan tegas berdiri di hadapannya adalah gadis pemalu yang terus mengekor dan berjalan di sisinya sepanjang waktu.
Belum sempat ia bereaksi, binatang buas itu kembali mengarahkan tujuannya ke arah Ning Ke dan berlari dengan kecepatan tinggi.
Ini semua tidak nyata. Semuanya hanyalah ilusi, semuanya palsu.
Bau amis terbawa angin, menandakan bahaya yang sudah sangat dekat.
Ning Ke tetap menatap dengan tenang ke arah eksistensi yang mengerikan itu, tanpa ada niat sedikit pun untuk menghindar.
"Ning Ke! Jangan melamun!" Keseimbangan tubuhnya tiba-tiba hilang, lalu ia jatuh ke dalam dekapn yang hangat.
Suara erangan tertahan dari seorang pria terdengar dari atas kepalanya. Ning Ke mendongak dan mendapati wajah yang begitu familiar.
Ning Ke: "Lu Wuli? Apa yang sedang kau lakukan?"
Lu Wuli menggertakkan gigi dan tidak bisa berkata apa-apa, tetapi darah yang mengalir di sudut bibirnya menjelaskan segalanya. Setelah terbatuk beberapa kali, ia baru bisa memaksakan senyuman untuk menenangkan. "Jelas sekali, sedang menyelamatkanmu."
Ning Ke bingung. "?"
Bukankah ini sudah jelas ilusi yang diciptakan oleh permainan? Bukankah tadi dia mengikutinya maju ke depan juga karena alasan ini?
Lu Wuli: "Kenapa? Begitu cepat melupakan persahabatan tim kita?"
Melihat Ning Ke tidak menjawab, Lu Wuli bahkan bergumam pelan dengan sedikit nada kecewa yang tersembunyi, "Lagi pula, melihatku 'hidup kembali' pun kamu tidak menunjukkan reaksi apa pun. Orang sepertimu benar-benar berhati dingin..."
Di tengah percakapan itu, binatang buas di kejauhan kembali menerjang lurus ke depan. Ning Ke mendorong Lu Wuli menjauh, dengan cepat bangkit, memungut ranting kayu di dekatnya, dan langsung menusukkannya ke mata makhluk besar di hadapannya itu.
*Bruk—*
Anehnya, binatang buas yang mengerikan itu justru roboh ke tanah hanya karena seusap ranting kayu, lalu lenyap tanpa jejak seketika.
Orang-orang yang telah keluar dari alam ilusi itu akhirnya sadar kembali, namun masih merasakan ketakutan yang tersisa akibat pemandangan berdarah barusan.
Ning Ke melangkah cepat untuk memeriksa gadis yang baru saja melompat keluar untuk melindunginya dari serangan tersebut. Untungnya, gadis itu hanya pingsan dan kini sudah menunjukkan tanda-tanda akan sadar.
Lu Wuli tidak menyangka dirinya benar-benar terpedaya oleh ilusi terkutuk itu. Jelas-jelas ia tahu bahwa binatang buas itu adalah rintangan yang sengaja diset untuk menguji para pemain, tetapi pada detik ia melihat binatang itu menerjang ke arah Ning Ke, tubuhnya tetap bergerak tanpa kendali.
Ini benar-benar... sangat aneh!
Saat itu, Ning Ke berbalik dan berkata kepada Lu Wuli yang telah pulih semangatnya, "Aku senang kau bisa hidup."
Kalimat ini tulus, lagipula, memiliki satu orang lagi yang mengetahui kebenaran di balik permainan ini berarti menambah satu bantuan lagi.
Pria yang biasanya pandai berbicara itu kini terdiam seribu bahasa. Sesaat kemudian, barulah sebuah suku kata keluar dari tenggorokannya, "Hm."
Namun, yang tidak diketahuinya adalah... sudut bibirnya yang terangkat tanpa sadar pada saat itu telah mengkhianati isi hatinya sendiri.