Bab 12: Petak Umpet 3
Halaman (1/3)
Ning Ke menyaksikan seluruh kejadian itu. Pria tersebut akhirnya berhasil menjual informasi dengan harga 15 poin nilai, tetapi ketika pencari informasi berikutnya memasang harga setinggi langit, yakni 20 poin nilai, kesabaran semua orang pun mencapai batasnya.
Kerumunan seketika berubah kacau. Tinju berjatuhan seperti hujan, suara teriakan dan makian bercampur menjadi satu, hingga keadaan sepenuhnya tak terkendali. Sementara itu, sang biang kerok justru meninggalkan pusat keributan dengan langkah santai, seolah sedang berjalan-jalan di taman.
“Kak, mereka sedang apa? Kenapa tidak berbagi informasi dengan semua orang? Seperti Paman Wang,” tanya anak laki-laki itu sambil bersembunyi di samping, menatap pemandangan di hadapannya dengan wajah bingung.
“Karena sifat manusia. Mereka selalu egois dan serakah.” Suara Lu Wuli terdengar dari sampingnya. “Nona Ning, lama tidak bertemu.”
“Ah—uh!” Ning Ke sudah terbiasa dengan kemunculan pria itu secara tiba-tiba, tetapi anak laki-laki tersebut sama sekali belum bisa menerimanya. Ia refleks menjerit, lalu buru-buru menutup mulut setelah teringat sesuatu.
“Tidak terlalu lama.” Ning Ke tidak ingin membuang waktu berbicara. Matahari sudah mulai terbenam, sementara malam adalah waktu ketika tikus paling aktif.
Ning Ke berkata, “Aku hendak mencari tanaman pengusir tikus di sana. Sepertinya kau bisa menjaga dirimu sendiri, jadi kesepakatan kita untuk sementara—”
Lu Wuli menyela, “Kau tidak ingin menanyakan caraku?”
“Aku tidak punya uang, dan aku tidak suka berutang.”
Lu Wuli terdiam.
“Aku punya! Ambil saja semuanya! Kak, bisakah kau memberi tahu cara itu kepada kami?” ujar anak laki-laki tersebut dengan polos. Entah mengapa, ia memercayai Ning Ke, dan tentu saja ia juga memercayai kakak yang mengenal Ning Ke.
“Tidak perlu. Ayo pergi.” Ning Ke memotong ucapannya dan melangkah maju. Melihat orang-orang itu saling berebut hingga terluka parah, cara Lu Wuli sepertinya tidak sesederhana itu.
Seiring matahari perlahan tenggelam, suhu pun mulai turun drastis hingga membuat orang tanpa sadar menggigil. Tepat ketika langit mulai gelap, mereka akhirnya tiba di kawasan hutan di tepi peta.
“Cari ketumbar atau daun mint, yang aromanya kuat. Tanaman seperti itu bisa mengusir tikus.” Sambil memberi petunjuk, Ning Ke mulai membungkuk mencari. Anak laki-laki itu juga dengan tekun menyingkap rerumputan, takut melewatkan sesuatu.
Lu Wuli sendiri duduk bersandar dengan santai di bawah akar pohon. Ia mengeluarkan makanan dan mulai menyantapnya perlahan.
Setelah sekian lama, anak laki-laki itu akhirnya menjatuhkan diri ke tanah karena kelelahan, lalu mengusap rambut di dahinya yang basah oleh keringat.
Tiba-tiba, terdengar suara gemerisik dari kejauhan yang perlahan mendekat. Suara itu semakin jelas di telinga Ning Ke, hingga sepasang mata merah menyala muncul di antara rerumputan di bawah cahaya bulan.
Tikus itu!
Di sudut mulutnya masih tersisa serpihan daging organ dalam. Tubuhnya yang tertutup bulu cokelat kini jauh lebih besar dibandingkan saat terlihat siang tadi. Ia menatap gadis di hadapannya dengan penuh ancaman, lalu tiba-tiba melompat.
Ning Ke segera memiringkan tubuh dan nyaris berhasil menghindari serangannya. Ia menarik pedang panjang dari belakang dan menahannya di depan tubuh, tetapi hantaman tikus yang melompat itu membuatnya terhuyung beberapa langkah. Telapak tangannya terasa kebas.
Suara keras tersebut menarik perhatian dua orang di kejauhan. Anak laki-laki itu membelalakkan mata karena terkejut. Ia mengertakkan gigi dan baru saja hendak berlari membantu ketika Lu Wuli menariknya, menahannya di tempat.
“Kak, jangan tarik aku! Kakak sedang dalam bahaya, aku harus menolongnya!”
Lu Wuli melirik ke arah Ning Ke, lalu menunduk dan menggigit roti di tangannya.
“Kalau kau tidak pergi ke sana untuk membuat keadaan semakin kacau, itu sudah merupakan bantuan baginya.”
Anak laki-laki itu tetap tidak bergeming. Ia terus meronta, ingin menepati janjinya. Melihat hal tersebut, Lu Wuli tidak lagi menghalanginya. Ia hanya berkata dengan santai,
“Kalau begitu, berisiklah lebih keras dan tarik tikus-tikus lain kemari. Dengan begitu, kakakmu benar-benar akan berada dalam bahaya, sesuai keinginanmu.”
…
Situasi Ning Ke tidak begitu menguntungkan. Walaupun ia masih mampu bertahan sehingga tikus itu tidak bisa mendekat, jika keadaan ini berlangsung lama, tenaganya akan terkuras. Akhirnya tentu dapat ditebak.
【Pemain 0535 dan 46 pemain lainnya telah tersingkir. Sedang menurunkan jumlah penangkap yang sesuai… Penurunan selesai.】
Malam telah resmi tiba. Permainan penangkapan yang sesungguhnya pun dimulai. Tikus secara alami aktif pada malam hari—malam adalah wilayah mereka.
Sekali lagi, Ning Ke terdorong mundur beberapa langkah akibat serangan tikus itu. Tiba-tiba, ia mencium aroma daun mint yang samar dari dekatnya. Ia segera berjongkok dan memetik segenggam tanaman campuran, lalu menggenggamnya erat.
Pada detik berikutnya, tikus yang sebelumnya menyerang dengan penuh semangat mendadak berhenti. Ia mundur beberapa langkah, berbalik, dan berusaha melarikan diri.
Ning Ke menangkap kesempatan itu. Ia maju dan melancarkan serangan penuh tenaga. Ujung pedangnya menembus tubuh gemuk tikus tersebut. Setelah tubuhnya kejang beberapa kali, tikus itu akhirnya benar-benar kehilangan nyawa.
【Selamat, Pemain 0857 berhasil membunuh penangkap dan mewarisi identitas penangkap.】
【Hak penangkap: Dengan menangkap dan membunuh pemain lain, penangkap dapat mewarisi poin nilai milik pemain tersebut. Pemain yang tertangkap akan tersingkir.】
【Peringatan: Setelah pertama kali membunuh pemain, sistem akan menyiarkan pengumuman kepada semua orang dan membagikan lokasi secara langsung.】
Mereka ingin membuat para pemain saling membunuh?
Padahal baru belasan jam berlalu sejak permainan dimulai. Setelah 72 jam, masih akan tersisa berapa banyak pemain yang selamat?
“Kak! Hiks… Kak, syukurlah kau tidak apa-apa! Maafkan aku—hiks!”
Saat Ning Ke sedang berpikir, seseorang tiba-tiba menerjang ke dalam pelukannya dan memeluknya erat.
Anak laki-laki itu terisak-isak. Suaranya dipenuhi rasa bersalah dan penyesalan.
“Aku sebenarnya ingin datang membantu, tetapi takut malah merepotkan… Semua ini karena aku tidak berguna.”
Selama lebih dari dua puluh tahun hidupnya, Ning Ke tidak pernah memiliki pengalaman bergaul dengan anak kecil. Menghadapi situasi seperti ini, ia tampak sangat kebingungan.
“Tak kusangka masih ada orang yang tidak mampu dihadapi Nona Ning,” goda Lu Wuli sambil tersenyum dari samping. Setelah itu, ia menepuk kepala anak laki-laki tersebut dan menariknya menjauh, lalu memberikan sebuah saran.
“Kalau kau benar-benar ingin meminta maaf, aku punya cara.”
“Cara apa?” Mata anak laki-laki itu langsung berbinar.
Lu Wuli tidak menjawab. Ia hanya membuka telapak tangannya dan menggerakkan keempat jarinya, maksudnya sangat jelas.
Anak laki-laki itu ternyata cukup peka. Begitu terdengar suara poin nilai masuk ke rekeningnya, Lu Wuli dengan puas mengeluarkan sebungkus permen dan menyerahkannya.
“Hah? Aku sudah tidak suka makan benda seperti ini. Kak, kau tidak sedang menipuku, kan?” Begitu melihat bahwa isinya hanya permen biasa, anak laki-laki itu langsung mengerucutkan bibir. Namun, ia tetap menerimanya dengan pasrah.
Ning Ke hanya bisa menatap Lu Wuli yang baru saja menipu enam poin nilai dari seorang anak dengan sebungkus permen seharga tiga poin nilai di toko permainan.
Ia kembali memberikan penilaian yang sudah sangat dikenalnya:
Lintah darat.
Halaman (3/3)
“Kak, aku masih belum tahu namamu. Namaku Chen Xingyi, tapi kau boleh memanggilku Xing Kecil! Semua orang memanggilku begitu.” Xing Kecil mendongakkan wajahnya dan memperlihatkan deretan gigi putih yang rapi.
“Ning Ke.”
“Kak Ning, kau hebat sekali! Dengan satu tusukan, kau langsung menembus tubuh tikus besar itu!” Mata Xing Kecil dipenuhi kekaguman. “Bisakah kau… mengajariku?”
“Aku bisa membeli banyak sekali permen! Semuanya akan kuberikan kepada Kakak!”
Ning Ke diam-diam melirik tajam ke arah Lu Wuli. Pria itu justru tetap tenang, memejamkan mata seolah sedang tidur-tiduran, sama sekali tidak berniat ikut campur.
Xing Kecil mengedipkan mata dan menengadah menatapnya. Tatapan penuh harap itu membuat kata-kata penolakan Ning Ke berputar-putar di bibirnya, tetapi pada akhirnya tidak berhasil ia ucapkan.
Malam berlalu, dan cahaya pagi akhirnya kembali menyinari dunia.
Ketika membuka mata, Ning Ke mendapati Lu Wuli, yang berjaga pada giliran malam, sudah mengeluarkan roti dan mulai menyantap sarapan.
“Grrr—”
Pada saat yang sama, perut Ning Ke dan Xing Kecil berbunyi.
“Kak, bolehkah aku meminta sedikit? Setelah permainan berakhir, aku akan mengembalikannya! Aku janji,” kata Xing Kecil dengan penuh keyakinan.
“Tidak masalah. Nanti potong saja dari biaya yang harus dibayar kakakmu.” Lu Wuli melemparkan dua bungkus roti kepada mereka sambil tersenyum.
Namun, pada detik berikutnya, perubahan mendadak terjadi.
“Akhirnya kutemukan juga kau!”
Itu adalah pria yang sebelumnya gagal menjual informasi dengan harga setinggi langit, 20 poin nilai, lalu dikeroyok oleh semua orang.
Kini seluruh tubuhnya dipenuhi luka. Wajahnya nyaris berubah menjadi gila. Ia menatap Lu Wuli dengan sorot penuh kebencian, sementara pisau belati di tangannya masih meneteskan darah.
Mereka bahkan tidak sempat bereaksi. Pria itu melesat ke belakang Lu Wuli dan menekan kuat-kuat belatinya ke dada pria tersebut. Ia menjilat bibirnya.
“Serahkan semua poin nilai kalian untuk menebusnya. Atau aku akan membunuhnya.”
“Pilih salah satu. Sederhana, bukan?”
Cahaya kegilaan yang nyaris tak terkendali berkilat di mata pria itu. Kalimat berikutnya membuat pupil semua orang menyusut seketika.
“Oh, hampir lupa kukatakan—aku baru saja membunuh seekor tikus dan mendapatkan kemampuan untuk merampas poin nilai. Jadi… aku benar-benar akan membunuhnya!”