Bab 47: Calon Anggota Agung Dewan Penyihir, Wanda
Dalam bayangan Russell, ada tiga kandidat utama untuk posisi Penyihir Agung, diurutkan berdasarkan prioritas. Pertama adalah Stephen Strange, sang Dokter Ajaib. Kedua, Tony Stark, sang Penyihir Berzirah. Ketiga, Wanda Maximoff, sang Penyihir Merah.
Russell sempat mengira, dengan kepekaannya yang luar biasa terhadap aliran energi dan bakat alaminya yang membuatnya bisa memahami hampir semua sihir hanya dengan sekali lihat, membimbing ketiganya menjadi penyihir hebat akan menjadi perkara mudah. Namun kenyataannya tidak sesederhana itu. Karena perbedaan metode ritual dan cara mereka mengakses kekuatan, ternyata kemampuannya mengajar jauh dari yang ia bayangkan.
Selain itu, akibat terpacu oleh kemunculan Ancient One dari Bumi-616 yang berjanggut putih, serta pesatnya perkembangan Russell sendiri, Ancient One berkepala plontos pun makin cepat ingin pensiun, melepas beban sebagai Penyihir Agung dan fokus pada pencapaian spiritual pribadi.
Dengan demikian, urutan Stephen Strange pun turun. Russell tidak punya kesabaran untuk menunggu, juga tak cukup kemampuan untuk membimbing dan mempercepat pertumbuhannya. Adapun Tony, jalan yang ia tempuh adalah kombinasi sihir dan teknologi zirah, dan itu harus ia rintis sendiri—Russell tak bisa banyak membantu kecuali mau jadi kelinci percobaan bagi Tony, yang jelas bukan pilihannya.
Kini, posisi Wanda naik ke urutan pertama. Ia memang dilahirkan sebagai calon penyihir, bahkan sejak kecil kadang-kadang tanpa sadar sudah merapal sihir. Yang Russell perlukan hanyalah menemukan Batu Pikiran, menggunakannya untuk membangkitkan kekuatan sihir chaos yang terpendam dalam diri Wanda, lalu membimbingnya menguasai kekuatan itu.
Seorang penyihir hebat pun lahir; betapa menghemat waktu, tenaga, dan pikiran. Namun, Batu Pikiran sekarang seharusnya masih berada di tangan Thanos. Alam semesta ini begitu luas, di mana harus mencarinya? Kalau tidak bisa menemukan Batu Pikiran, setidaknya Russell harus menemukan Wanda terlebih dahulu. Bawa ia ke Kamar-Taj, ajarkan dasar-dasar sihir, sehingga jika kelak kekuatan chaos-nya terbangkitkan, ia sudah siap mengendalikannya.
Jika ingatannya tidak salah, dalam versi film, orang tua Wanda bernama Oleg dan Irina Maximoff, dan ia memiliki saudara kembar bernama Pietro Maximoff. Semasa kecil, tetangga mereka menjadi korban serangan pemberontak lokal yang menggunakan senjata buatan Stark Industries, sehingga keluarga Wanda pun ikut menjadi korban dan orang tuanya tewas. Untungnya, sebuah misil Stark Industries gagal meledak, sehingga Wanda dan Pietro selamat, tapi sejak itu mereka menjadi yatim piatu yang hidup menggelandang.
Kelak, saudara kembar ini bergabung dengan Hydra. Artinya, sekarang mereka masih berada di Sokovia. Russell tidak tahu apakah mereka sudah bergabung dengan Hydra atau belum.
“Guru, saya hendak keluar sebentar. Nanti panggil saya kalau sudah waktunya menghadiri penobatan Thor,” ucap Russell pada Ancient One sebelum membuka portal dan melangkah keluar, menghilang dari pandangan.
“Eh, Russell pergi lagi. Coba lihat jam, berapa lama ia di sini kali ini?”
“Sejak kemarin pukul dua belas siang sampai pagi ini pukul sepuluh, dua puluh dua jam, rekor baru.”
...
Di tengah rimba, sebuah portal terbuka dan Russell melangkah keluar. Sokovia, sebuah negara kecil tak berpesisir di Eropa Timur, pegunungan, miskin, dan sering dilanda kekacauan.
Setelah Perang Dunia II, anggota Hydra bersembunyi di dalam negeri ini dan mendirikan markas rahasia. Sambil mengingat-ingat informasi tentang Sokovia, Russell melepaskan kekuatan mentalnya, menyelimuti seluruh negeri. Jika ada markas rahasia, kemungkinan besar itu milik Hydra. Jika Wanda sudah bergabung dengan Hydra, Russell akan membawa serta dia dan saudaranya, Pietro sang Manusia Kilat. Jika belum, Russell hanya akan mencari di sekitar Sokovia.
Kalau tetap tak ketemu, terpaksa ia harus meminta bantuan Tony, toh Tony masih berutang nyawa padanya. Namun, di saat Russell sudah menyiapkan berbagai rencana cadangan, tak disangka segalanya berjalan sangat lancar.
“Hm?” Kekuatan mental Russell menyapu suatu titik dan tiba-tiba terasa seperti digigit sesuatu. Getarannya sangat halus, kalau tidak fokus, mungkin Russell tak akan menyadari. Tapi kali ini ia benar-benar fokus mencari seseorang.
“Ketemu.”
Russell menatap ke arah itu. Saat ini, Wanda dan Pietro belum bergabung dengan Hydra, sebaliknya, justru sedang diburu oleh orang-orang Hydra.
“Aduh, aku kurang suka skenario pahlawan menyelamatkan gadis,” Russell menghela napas, tapi tetap memutuskan bertindak. Walau ia tidak suka adegan klise macam itu, harus diakui suasana kali ini memang memancingnya untuk turun tangan.
...
“Wanda, cepat, lewat sini!” seru Pietro saat melihat sebuah jalan setapak tanpa penjagaan. Ia segera menarik Wanda berlari ke arah itu.
Sebenarnya, target utama Hydra bukanlah Pietro dan Wanda, tapi seluruh desa—mereka kekurangan bahan percobaan. Setelah melewati jalan kecil dan memanjat pagar, Wanda dan Pietro berhasil keluar dari desa. Asal berhasil masuk ke hutan pegunungan di depan, mereka bisa sembunyi untuk sementara...
“Berhenti!” Tiba-tiba terdengar bentakan keras, memutuskan harapan mereka yang hampir lolos. Suara itu bukan berasal dari desa di belakang, melainkan dari depan. Rupanya mereka justru berlari ke arah pasukan utama musuh!
Wanda dan Pietro saling merapat, menatap waspada ke depan. Dari rimbunnya pepohonan, sekelompok prajurit bersenjata lengkap perlahan muncul. Sepertinya mereka juga mendengar keributan, karena dari arah desa, pasukan lain mulai mendekat.
“Angkat tangan di atas kepala, jongkok!” perintah keras itu kembali menggema. Suaranya tegas dan kasar, membawa tekanan yang tak bisa ditolak Wanda dan Pietro. Kekuatan paling purba: kekerasan bersenjata!
“Hah...”
Di saat Wanda dan Pietro hampir putus asa dan hendak menyerah, tiba-tiba terdengar tawa pelan. Tidak keras, tapi jelas terdengar di telinga semua orang di situ, seolah berbisik di dekat mereka.
Sebuah portal tinggi berputar cepat, memercikkan percikan emas, terbuka tepat di depan Wanda. Dari dalamnya, Russell muncul mengenakan jubah dan tudung, berjalan perlahan keluar.
“Tembak!” teriak seseorang, dan rentetan tembakan pun meletus. Moncong senapan menyemburkan api, peluru-peluru melesat dengan kecepatan supersonik, tak mampu diikuti mata telanjang.
Namun, Wanda dan Pietro bisa melihat jelas—peluru-peluru itu melambat di tengah udara, kemudian terhenti, mengambang tak bergerak. Russell mengangkat tangan kanannya pelan-pelan, membentuk simbol jentikan jari, menunggu semua mata tertuju padanya.
“Pak!”
Seketika, tanah bergetar hebat, menggulung dan menelan seluruh prajurit Hydra ke dalam bumi. Beberapa saat kemudian, semuanya tenang, seolah tak pernah terjadi apa-apa.
Wanda dan Pietro memandang kosong ke arah penyihir asing di depan mereka. Dalam sekejap, lelaki itu telah mengubah keadaan mereka dari tanpa harapan menjadi terbebas dari bahaya. Namun, mereka tak mengerti, kenapa penyihir asing ini tiba-tiba muncul dan menyelamatkan mereka.
“Mau belajar?” suara Russell terdengar, sarat akan misteri.
Wanda dan Pietro saling pandang, ragu-ragu menjawab, “Mau! Tapi... apa kami bisa belajar?”
“Tentu saja, aku akan mengajari kalian,” ujar Russell tenang. Sesaat kemudian, ruang cermin mengembang, membungkus ketiganya. Seperti pesawat luar angkasa yang tiba-tiba melesat, mereka bertiga menembus semesta, berkelana di antara multisemesta, menyaksikan dimensi-dimensi tak terhitung dan keajaiban tanpa batas.
Russell mungkin tak bisa banyak membantu Wanda dalam latihan sihir, tapi ia tahu persis bagaimana menumbuhkan minat dan hasrat belajar sihir dalam diri Wanda. Dua hal itulah guru terbaik. Maka, Russell—adalah guru terbaik.