Bab 61: Di Ujung Tebing Gunung Mencari Harta (9)
Ketika Ren Yaqiu tengah bertarung dengan Feng Jiajun, Xiao Liushan mencoba menyalurkan tenaga dalam ke tubuh Du dan Su demi membangunkan mereka, namun segalanya sudah terlambat. Racun telah menyebar ke jantung, keduanya telah tiada.
“Apa adik kedua dan adik kelima meninggalkan pesan terakhir?” tanya Ren Yaqiu dengan nada pilu.
Xiao Liushan hanya menggelengkan kepala.
Setelah itu, Ren Yaqiu dan Xiao Liushan berdiri sejajar di kaki gunung, menggali dua liang untuk menguburkan Du dan Su. Payung maut milik Su Xiaomei turut dikuburkan bersama mereka. Kedua lelaki itu duduk di samping makam, mengenang saat perkenalan mereka di Paviliun Seribu Mekanisme di masa lalu, membuat hati mereka kembali diliputi duka.
Xiao Liushan menghela napas, berkata, “Setiap manusia pasti akan mati. Pada akhirnya, nama besar ataupun kejayaan hanya mimpi yang berlalu.”
Keduanya membungkuk hormat tiga kali di depan makam, lalu kembali menunggang kuda untuk mengejar rombongan.
...
Derap kuda terdengar tak henti-henti.
Rombongan kereta Kumpulan Sungai Dingin mempercepat laju mereka, kini tersisa kurang dari tujuh puluh orang. Lima puluh kereta barang berderet dari depan ke belakang, meski dipacu sekencang apa pun tetap tampak lamban.
Ma Shun berkata dengan kening berkerut, “Hari akan segera gelap, Qiu Yuanzhou dan Feng Jiajun belum juga menyusul... Sepertinya mereka sudah...”
Huangfu Hongyun menghela napas, “Kelihatannya memang buruk.”
Zheng Zilong berpikir, ‘Tak kusangka Jiajun pun tak mampu menahan mereka, berarti yang mengejar bukan orang lemah...’ Lantas berkata, “Malam ini tidak ada yang boleh beristirahat, besok saat tengah hari kita pasti sudah sampai di kaki gunung itu.”
Ma Shun melirik ke belakang, bertanya, “Penasehat Xu, ada yang mengejar?”
Xu Wenchang menjawab, “Sejauh satu li belum ada yang mendekat.”
Ma Shun berkata, “Jika sudah sampai di kaki gunung itu, maka Tebing Kipas sudah dekat.”
Zheng Zilong mengangguk, “Semua buang barang-barang tak perlu, biar kuda bisa berlari lebih kencang!”
...
Derap kuda terus menggema.
Dong Gu Xue berkata, “Guru, hari sudah gelap, apakah kita...” Kata-katanya belum selesai, Liu Suying mengerutkan kening, “Terus kejar!”
Keesokan paginya, rombongan kereta Kumpulan Sungai Dingin tetap melaju tanpa henti semalam suntuk. Kebanyakan pengikutnya mulai tampak lelah, sementara Liu Suying mengejar dari belakang dengan gigih. Jalanan berliku dan terjal, naik turun masuk keluar gua-gua. Jika bukan karena penanda yang ditinggalkan Jiang Yiyang, sulit membedakan arah di jalan yang berbelit-belit ini.
Menjelang tengah hari, rombongan tiba di kaki gunung. Zheng Zilong membuka gulungan lukisan, menunjuk, “Kita sudah tiba di kaki gunung ini, Tebing Kipas tinggal menuju barat laut, satu jam lagi sampai.”
Ma Shun mengamati dengan diam, saat itu Xu Wenchang berseru, “Ada empat belas orang mengejar!”
Ma Shun tertegun, ‘Semula hanya lima orang, kini jadi empat belas? Mungkin memang mereka.’ Lalu berkata, “Sepertinya memang mereka.”
Jiang Yiyang berpikir, ‘Empat belas orang? Jangan-jangan Lima Pendekar Paviliun Seribu Mekanisme terbunuh oleh mereka? Tidak... tak mungkin. Para bocah itu mana bisa melawan Lima Pendekar, mungkin saudara-saudara Wudang juga ikut mengejar.’ Ia pun tersenyum kecil.
Semua anggota Kumpulan Sungai Dingin kelelahan, hanya Zheng Zilong, Nyonya Es, Ma Shun, dan beberapa lainnya yang masih segar karena ilmu dalam mereka tinggi. Zheng Zilong melirik sekeliling, berpikir, ‘Sekarang posisi kita di atas, di depan adalah lokasi harta karun, tak boleh ada yang mengejar. Anggap saja yang datang adalah musuh, posisi kita tetap unggul, lebih baik bunuh mereka saja.’ Ia pun berkata, “Belum jelas mereka teman atau lawan, tinggalkan beberapa orang di sini untuk menahan mereka, kalau ternyata teman sendiri, biarkan saja menyusul.”
Huangfu Hongyun pikir kemungkinan besar teman, ia pun menawarkan diri untuk tinggal. Ia juga ingin anaknya, Huangfu Taiping, bisa beristirahat sejenak. Zheng Zilong lalu memerintahkan Nyonya Es serta belasan pengikut Golongan Pisau Berdarah untuk tetap berjaga, sementara Jiang Yiyang bersama Zheng Zilong dan Ma Shun melanjutkan pencarian.
Beberapa awan melintas, suara derap kuda terdengar mendekat. Nyonya Es yang berdiri di tempat tinggi pertama kali melihat mereka, terkejut, “Kenapa para perempuan dari Lembah Seribu Bunga?!”
Sekejap ia teringat lima belas tahun lalu, kakak seperguruannya yang telah bertunangan dengannya berpaling hati pada murid Lembah Seribu Bunga dan meninggalkannya. Rasa cinta berubah jadi benci, ia memburu pasangan itu dan akhirnya membunuh seluruh keluarga kecil mereka di sebuah desa. Sepuluh tahun sesudahnya ia tak pernah mendekati laki-laki, menganggap semua pria di dunia ini berhati busuk. Setiap bertemu perempuan yang dianiaya di perjalanan, ia akan membunuh laki-laki pelakunya. Untung lima tahun lalu ia bertemu Zheng Zilong, yang membantunya menemukan kembali jati diri.
Huangfu Hongyun sempat terdiam, “Mungkin mereka hanya lewat?”
Huangfu Taiping yang semula duduk bersila, begitu mendengar Lembah Seribu Bunga langsung bangkit. Melihat para murid Lembah Seribu Bunga berlari mendekat, seragam dan berkerudung, sulit membedakan satu sama lain.
Nyonya Es marah, “Dorong batu-batu ke bawah, hancurkan para wanita jalang itu!”
Huangfu Hongyun yang punya hubungan baik dengan Lembah Seribu Bunga, terkejut dan buru-buru membujuk, “Wakil Ketua Tang, jangan! Mereka hanya lewat saja...” Belum selesai bicara, Nyonya Es sudah membentak, “Kulihat wajahmu penuh nafsu, kasihan pada mereka ya?! Hayo, bunuh mereka semua untukku!”
Huangfu Taiping cepat-cepat membungkuk, “Bibi, mohon jangan marah. Kepala Lembah Seribu Bunga bersahabat baik dengan ibuku...” Belum selesai bicara, Nyonya Es sudah melesatkan sebuah jarum ke punggung kakinya. Ia menjerit, jatuh ke tanah, darah hitam mengalir dari luka, Nyonya Es membentak, “Siapa kau panggil bibi?!”
Huangfu Hongyun buru-buru menopangnya, wajahnya pucat ketakutan, “Wakil Ketua Tang, tolong belas kasihan! Anakku masih muda dan bodoh, mohon berikan penawar, aku akan segera membunuh mereka untukmu!”
Teriakan menyayat tiba-tiba membuat Liu Suying waspada, “Siaga!”
Suara pedang beradu terdengar, para murid serempak mencabut pedang. Ketika batu-batu meluncur dari ketinggian, Dong Gu Xue berteriak, “Cepat turun dan cari perlindungan!”
Liu Suying melompat tinggi, memutar pedang panjangnya menghancurkan batu-batu itu jadi serpihan, lalu menghardik, “Hanya segini saja cara Kumpulan Sungai Dingin?!”
Huangfu Hongyun langsung sadar mereka bukan sekadar lewat. Nyonya Es menoleh dan tersenyum dingin, “Bukankah kau bilang mereka hanya lewat?”
Huangfu Hongyun mengangguk, “Taiping, istirahatlah di sini, ayah akan segera kembali.”
Huangfu Taiping yang baru saja menelan penawar, kini mandi keringat dan terengah-engah, “Ayah... tolong jangan sakiti Kakak Qing...”
Huangfu Hongyun sendiri tak tahu siapa itu Qing yang dimaksud, hanya mengiyakan sekadarnya, lalu membawa anak buahnya turun. Ia sendiri enggan menyerang Lembah Seribu Bunga, apalagi istrinya bersahabat dengan mereka, dan para gadis itu pun jelita bak bidadari, mana ada lelaki di dunia ini yang tega membunuh mereka? Namun ia tak punya pilihan, harta karun sudah di depan mata, anaknya keracunan, nyawa dan kekayaan lebih penting dari kecantikan.
Liu Suying terkejut melihatnya, “Mengapa kau di sini?”
Huangfu Hongyun menampakkan wajah sulit, “Kepala Lembah Liu, maafkan aku.” Setelah berkata demikian, belasan anak buah Golongan Pisau Berdarah langsung menyerbu. Dong Gu Xue dan Mu Qing bersama murid-murid lainnya mengayunkan pedang melawan, suara dentingan memenuhi udara, para pengikut Pisau Berdarah berguguran, menjerit-jerit sambil memegangi selangkangan.
Mereka tahu keluarga Huangfu Hongyun bersahabat dengan kepala lembah mereka, jadi hanya mengacungkan pedang tanpa benar-benar menyerang. Liu Suying berkata, “Tak kusangka kau anggota Kumpulan Sungai Dingin.”
Saat itu Nyonya Es melompat turun, “Ketua Huangfu, kenapa belum juga bertindak? Atau kau ingin aku turun tangan sendiri?!”
Liu Suying membelalak, “Kau?!”
Nyonya Es menoleh menatapnya, wajah tertutup kerudung membuatnya sulit dikenali, “Perempuan jalang ini mengenalku?”
Liu Suying yang dipanggil demikian jadi marah, “Dua belas tahun lalu, kakak seperguruanku sekeluarga tewas di tanganmu! Lembah Seribu Bunga memburumu bertahun-tahun, hari ini kau malah datang sendiri!”
Nyonya Es mendengar itu, hatinya tersayat, teringat kembali lelaki yang menghianatinya, “Kalian semua perempuan jalang! Mencuri suami orang, merampas cinta, hari ini waktunya kubunuh kalian semua!” Selesai bicara, ia langsung melemparkan Jarum Perak Es, meluncur deras ke arah wajah Liu Suying yang dengan sigap menangkisnya dengan pedang. “Bentuk barisan!” teriaknya.