Tidak dapat menemukannya, ia mulai merasa panik.
Saat ini, Han Luochen sedang mengenakan setelan jas lengkap, memimpin rapat para eksekutif puncak di Grup Han.
Menerima sebuah pesan, sekretasinya melirik nama pengirim, lalu memperhatikan air muka Han Luochen, sebelum dengan sigap menyerahkan ponsel itu seraya berbisik.
"Direktur Han, pesan dari Nona Xia."
Alis Han Luochen sedikit berkerut. Ia memberi isyarat kecil kepada seluruh petinggi Grup Han agar rapat ditunda sejenak, lalu menerima ponsel tersebut.
[Han Luochen! Han Luochen! Han Luochen! Ningmeng menghilang!]
Melihat pesan itu, pupil mata Han Luochen mengecil.
Ia menoleh sejenak ke arah materi rapat, memperkirakan masih ada sekitar seperempat bagian lagi yang belum dibahas.
Han Luochen menimbang-nimbang situasinya, lalu berbalik dengan wajah tanpa ekspresi menghadap para petinggi grup yang sedang mengikuti rapat, berkata dengan suara dingin dan berat.
"Rapat kita cukupkan sampai di sini untuk sementara. Sisa materinya akan kita bahas besok pagi. Sudah, rapat dibubarkan!"
Usai berkata demikian, Han Luochen berbalik dengan aura dingin yang pekat, lalu memberi perintah kepada seorang bawahan tepercaya. "Siapkan mobil, segera berangkat ke vila keluarga Xia!"
"Baik."
Bawahan itu segera pergi untuk menyiapkan kendaraan.
Han Luochen kemudian sedikit memiringkan kepalanya ke arah sang sekretaris. "Sampaikan kepada ayahku, lalu ikuti aku keluar."
Usai berucap, Han Luochen membalikkan badan dan melangkah keluar ruang rapat.
Meninggalkan sekumpulan petinggi grup yang tertegun kebingungan di tempat.
Situasi apa ini?
Direktur Han belum pernah meninggalkan rapat petinggi grup di tengah jalan hanya karena sebuah pesan singkat!
Apa yang sebenarnya terjadi?
Sekretaris Han Luochen berjalan kembali ke tempat atasannya tadi berdiri dengan wajah tanpa ekspresi, mengangguk kecil kepada semua orang, lalu berkata.
"Mohon pengertiannya, Bapak Direktur memiliki urusan mendesak yang harus segera diselesaikan. Beliau sudah memberikan instruksi terkait sisa materi rapat dan akan memberikan penjelasan besok pagi. Terima kasih atas pengertian Anda sekalian!"
Setelah itu, sang sekretaris langsung berbalik, melangkah keluar ruang rapat, menelepon ayah Han Luochen untuk melapor, lalu segera menyusul masuk ke dalam mobil.
"Direktur Han meminta saya ikut selarut ini, apakah ada hal lain yang perlu saya lakukan?"
Sekretaris Lin bertanya dengan amat hormat kepada Han Luochen.
Han Luochen bergeming, sepasang tangannya yang jenjang bergerak lincah mengetik di atas komputer jinjing sementara suaranya terdengar dingin.
"Tolong selidiki apakah Nona Muda keluarga Ji ada memesan tiket penerbangan hari ini, termasuk kereta biasa maupun kereta cepat."
"Baik."
Suasana di dalam mobil begitu sunyi.
Menjelang kedatangan mereka di vila keluarga Xia, suara hormat Sekretaris Lin kembali terdengar.
"Direktur Han, saya sudah memeriksanya. Tidak ada catatan pembelian tiket maupun catatan keberangkatan Nona Ji dari kota ini."
Alis Han Luochen menajam, firasat buruk seolah samar-samar merayap di lubuk hatinya.
Setibanya di vila keluarga Xia, Han Luochen dengan cepat menyapu pandangan ke seisi ruang tamu, dan tatapannya terkunci pada sosok Chi Shaojie.
Xia Qianqian tampak sedikit terkejut melihat kedatangannya, namun kecemasan jauh lebih mendominasi. "Han Luochen, apakah kau tahu ke mana Ningmeng pergi?"
Bibir tipis Han Luochen terkatup rapat membentuk sebuah garis lurus. Ia menggelengkan kepala ke arah Xia Qianqian, lalu melangkah mendekati Chi Shaojie dengan suara yang dingin.
"Tidak ada catatan kepulangannya dari tempat ini, dia juga tidak membeli tiket pesawat, kereta, ataupun kereta cepat."
Wajah Chi Shaojie tampak seperti diselimuti lapisan es. Ia terdiam seribu bahasa, sementara jari-jarinya yang panjang mengetuk-ngetuk cepat di atas komputer jinjing.
Orang lain mungkin tidak menyadarinya, tetapi Han Luochen yang telah bertahun-tahun melalui berbagai badai bersamanya, menyadari peluh tipis telah membasahi kening pria itu.
Di permukaan Chi Shaojie tampak tenang tanpa riak, namun jauh di lubuk hatinya, kepanikan mulai merayap.