Apakah benar margamu Ji?
Kali ini, tak boleh lagi seperti itu.
-
Kelas A.
Kelas yang semula riuh dengan suara para siswa, langsung sunyi senyap begitu Lemon Ji mengetuk pintu dan melangkah masuk, seolah-olah tak pernah ada keributan sebelumnya.
Lemon Ji menekan bibirnya tanpa suara, lalu berjalan ke arah guru dengan sangat sopan, “Guru, saya duduk di mana?”
Wali kelas tahu bahwa keluarga besar melindungi gadis ini, sehingga ia pun tak berani memperlakukan Lemon Ji dengan buruk. Dengan nada biasa saja, ia menjawab, “Silakan pilih saja, kursi yang kosong mana pun boleh kamu duduki.”
Mendengar itu, Lemon Ji segera menatap semua kursi kosong di bawah podium, lalu matanya terpaku pada satu tempat. Ia pun melangkah ke sana dan duduk.
Melihat Lemon Ji duduk, para siswa di kelas sontak terkejut.
“Bagaimana dia berani duduk di situ?”
“Astaga, sebenarnya dia ini siapa...?”
“Kursi itu...”
Ini adalah kali pertama Lemon Ji masuk Kelas A. Karena baru saja kembali ke negeri ini, ia belum sempat mencari tahu banyak hal. Ia hanya memilih tempat duduk kosong sesuai keinginannya.
Melihat Lemon Ji duduk dengan santai di situ, akhirnya ada yang tak sanggup menahan diri.
Seorang gadis yang duduk terpisah satu gang dari Lemon Ji, menatapnya dengan ramah, tampak ragu, seolah ingin berkata sesuatu namun urung.
Sekilas saja Lemon Ji bisa melihat gadis itu memiliki karakter yang polos, sederhana, dan baik hati, membuatnya langsung merasa suka.
“Kamu...”
Kata-kata gadis itu terputus-putus, tampak ragu dan wajahnya penuh kebimbangan.
Lemon Ji tersenyum lembut, suaranya datar, “Ada yang ingin kamu katakan?”
Melihat Lemon Ji bertanya, barulah gadis itu memberanikan diri, “Orang yang duduk di sampingmu belum datang. Sebaiknya kamu pindah tempat duduk saja.”
Lemon Ji mengernyitkan dahi, bingung.
Orang yang duduk di sampingnya itu, apa hubungannya dengan dirinya? Apakah orang itu tidak mengizinkan siapa pun duduk di sebelahnya? Apa maksudnya?
“Mengapa?”
Gadis itu melihat Lemon Ji benar-benar tidak tahu, ia pun menghela napas lega, lalu mendekat dan berbisik, “Di depanmu duduk Bunga Kelas, di belakangmu Bunga Sekolah. Di samping Bunga Sekolah, duduk sahabat karibnya, yang tadi menegurmu. Sebaiknya kamu jangan berurusan dengan mereka. Karena...”
Belum sempat gadis itu menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba ia menerima tatapan tajam dari seseorang di belakang Lemon Ji, sehingga ia langsung terdiam ketakutan dan kembali duduk.
Kebingungan Lemon Ji semakin menjadi.
Apa sebenarnya yang sedang terjadi?
Sebenarnya Lemon Ji ingin bertanya lebih jauh pada gadis itu, tapi melihat wajahnya yang tidak nyaman, ia pun mengurungkan niat. Ia memutuskan untuk menanyakannya nanti, setelah pelajaran usai.
Pelajaran pun berlalu dengan cepat.
Begitu bel berbunyi menandakan waktu istirahat dan guru baru saja keluar dari kelas, sahabat Bunga Sekolah yang duduk di belakang Lemon Ji itu langsung menggandeng Bunga Sekolah, menatap Lemon Ji dengan angkuh, lalu keluar dari kelas.
Lemon Ji sempat melihat gadis yang tadi berbicara dengannya menghela napas lega, lalu berjalan ke arahnya, menarik lengan bajunya, memberi isyarat untuk mengikutinya.
Tanpa ragu, Lemon Ji pun berdiri dan mengikuti gadis itu keluar kelas.
Di luar kelas, gadis itu menggigit bibir bawah, menoleh ke sekeliling memastikan tidak ada orang, barulah ia berani berbicara.
“Kamu... benar bermarga Ji?”
Melihat raut wajah gadis itu yang ragu-ragu dan sedikit gugup, Lemon Ji tersenyum tipis. Meski tidak tahu kenapa ia bertanya demikian, ia tetap menjawab jujur, “Benar, aku bermarga Ji. Seperti kata ‘musim’ dalam bahasa Indonesia.”
Gadis itu tampak bingung.
“Tapi... keluarga Ji bukan termasuk dalam empat keluarga besar... Bahkan dalam daftar keluarga berpengaruh pun, sepertinya tidak ada nama keluarga Ji...”
Baru saja mendengar maksud gadis itu, Lemon Ji tersenyum kecil lalu menunduk, kemudian menatap gadis itu dengan sorot mata lembut, suaranya hangat, “Apakah kalau keluargaku tidak terpandang, aku pasti akan dihina?”
Gadis itu terkejut, menatap Lemon Ji dengan mata berbinar, seolah sedang melihat sesuatu yang luar biasa.
Beberapa saat kemudian, ia baru tersadar, “Bukan begitu maksudku... Hanya saja, kalau keluargamu tak punya nama besar, mengapa kamu bisa mengenal empat keluarga terkuat... dan mereka begitu melindungimu?”
Gadis itu bicara tanpa tedeng aling-aling, hingga setelah kata-katanya keluar, ia baru merasa salah, buru-buru memperbaiki, “Aku tidak bermaksud apa-apa... aku hanya penasaran...”
Sambil berbicara, gadis itu menunduk cemas, tak melanjutkan kata-katanya.
Lemon Ji melihat kegelisahannya, tersenyum lembut, “Tak perlu gugup. Aku tidak akan menyalahgunakan perlindungan mereka. Aku bukan tipe orang seperti itu, sungguh.”
Gadis itu kembali mengangkat kepala, memandang Lemon Ji dengan bingung.
“Kalau begitu, mari berkenalan lagi! Aku Lemon Ji. Ji seperti musim, Lemon untuk kecantikan dan kesehatan. Panggil saja aku Lemon.”
Nada manis Lemon Ji yang sedikit jenaka membuat suasana yang semula tegang jadi cair.
Gadis itu terpaku melihat tangan Lemon Ji yang terulur ramah, lalu akhirnya bertanya, “Kenapa kamu memperkenalkan diri lagi?”
Lemon Ji tersenyum tipis, “Karena kamu berbeda dengan mereka. Aku ingin berteman denganmu.”
Mendengar itu, mata gadis itu langsung berbinar, membuat wajahnya tampak lebih cantik dari biasanya.
Akhirnya ia benar-benar membuka hati pada Lemon Ji, tersenyum santai sambil menjabat tangannya, “Namaku Su Yunyi, panggil saja aku Yiyi. Senang sekali bisa berteman denganmu.”
Lemon Ji menatap senyuman tulus itu, dalam hati merasa beruntung, karena di sekolah asing ini, ia masih bisa bertemu seorang gadis yang polos dan baik hati.
Su Yunyi melirik ke ujung lorong di sisi lain, lalu menatap Lemon Ji dengan cemas dan menurunkan suara, “Lemon, tadi saat pelajaran aku belum sempat menjelaskan. Orang yang duduk di belakangmu itu Bunga Sekolah, dan sahabatnya tadi sengaja menyulitkanmu karena sahabat Bunga Sekolah—yang juga Bunga Kelas—menyukai Tuan Muda Chi! Makanya dia tak suka ada gadis lain di dekat Tuan Muda Chi! Apalagi gadis seperti kita yang tak punya latar belakang...”
Mendengar itu, mata Lemon Ji langsung membelalak, wajahnya penuh keterkejutan, “Bunga Kelas menyukai Chi Shaojie?!”
Su Yunyi kaget mendengar Lemon Ji menyebut nama Chi Shaojie secara langsung, tapi ia tahu sekarang bukan saatnya membahas itu.
“Benar! Semua siswa di sekolah tahu Bunga Kelas ada rasa pada Tuan Muda Chi! Ia selalu mencari cara untuk tampil di depan Tuan Muda Chi, dan berkali-kali ingin pindah ke Kelas S, tapi setiap kali, Tuan Muda Chi menolak! Jadi mau tak mau ia tetap di Kelas A...”
Setelah terkejut beberapa saat, Lemon Ji pun perlahan bisa menerima kenyataan itu.