Orang yang menyelamatkannya
Chi Shaojie melepaskan sabuk pengamannya. Ia melihat tatapan Ji Ningmeng yang masih tampak linglung, sama sekali belum menyadari bahwa mereka hampir sampai.
Chi Shaojie tiba-tiba memutar setir ke arah pinggir jalan, kemudian menginjak rem dengan keras hingga mobil berhenti mendadak.
Ji Ningmeng yang diperlakukan seperti itu jadi agak bingung, tapi akhirnya ia menarik kembali pikirannya dari kejadian barusan.
“Ada apa?” Ji Ningmeng tersadar dan menatap Chi Shaojie dengan bingung.
Chi Shaojie menoleh padanya, wajahnya datar tanpa ekspresi, bahkan tampak sedikit kesal.
Ji Ningmeng semakin bingung. Apa yang sebenarnya terjadi? Tatapan matanya yang penuh tanda tanya bertemu dengan pandangan Chi Shaojie untuk waktu yang cukup lama.
Chi Shaojie hanya bisa menghela napas, “Sebenarnya, apa saja sih yang kamu pikirkan seharian? Masih saja melamun, padahal kita sudah hampir masuk ke wilayah keluarga Chi.”
“Hah?” Ji Ningmeng baru saja mengangkat kepala dan memperhatikan sekitar, ternyata… benar, mereka sudah sampai di lingkungan keluarga Chi.
“Apa yang kamu pikirkan? Masih trauma dengan kejadian tadi? Jangan takut, aku di sini,” Chi Shaojie berusaha keras menenangkannya.
Di dunia ini, mungkin hanya kepada Ji Ningmeng saja Chi Shaojie rela mencurahkan begitu banyak tenaga untuk menghibur.
Di luar, ia dikenal sebagai sosok yang serius dan dingin. Orang-orang yang hanya sekadar mengenalnya pasti tak akan percaya bahwa ia juga punya sisi lembut seperti ini.
Namun, andai saja sisi ini diketahui orang lain, pasti akan semakin banyak perempuan yang mengelilinginya.
Ji Ningmeng melirik wajah Chi Shaojie yang tampak khawatir, akhirnya ia mengangguk pelan.
Sesungguhnya, di lubuk hatinya masih tersisa sedikit kekhawatiran. Bukan berarti ia takut. Sebagai putri Ji Muyan, ia sudah banyak melihat dunia.
Namun bagaimanapun juga, selama hidupnya ia belum pernah mengalami kejadian seperti tadi, dan dari nada bicara orang itu jelas sekali bahwa ia tidak akan melepaskannya begitu saja di kemudian hari.
Padahal, sejak pulang ke negara ini, ia merasa tidak pernah menyinggung siapa pun, tapi kenapa bisa bertemu dengan orang seperti itu?
Ji Ningmeng samar-samar merasa ada yang aneh, seolah-olah ada seseorang yang mengenalnya dan menjadi dalang di balik semua ini.
Namun, siapa yang pernah ia sakiti di negeri ini?
Chi Shaojie seperti bisa membaca pikiran Ji Ningmeng, lalu dengan suara yang sangat menenangkan ia berkata, “Ningmeng, jangan dipikirkan lagi, soal ini biar aku yang urus. Sekarang kita pulang ke rumah, ya? Ayah dan ibuku masih menunggumu.”
Ji Ningmeng menggigit bibir, diam saja.
Chi Shaojie sabar menanti, “Jadi, siapa yang menolongmu tadi?”
Mendengar pertanyaan ini, sorot mata Ji Ningmeng tampak semakin rumit.
Ya, orang yang menyelamatkannya…
“Namanya Quan Chengxi, aku sama sekali tidak mengenalnya.”
“Tidak kenal?” Dahi Chi Shaojie berkerut, pikirannya berputar cepat.
Pria itu tidak kenal Ningmeng, lalu kenapa ia menolongnya? Hanya karena kebetulan dan niat baik?
Chi Shaojie tidak percaya pada kebetulan, ia yakin kedua kejadian itu saling berkaitan.
Namun ia tidak menunjukkan hal itu. Sekarang Ningmeng sudah cukup terguncang, ia harus membuatnya segera menjauh dari masalah seperti ini.
“Chi Shaojie, jalan saja. Aku tidak ingin membuat Ayah dan Ibu menunggu terlalu lama, nanti mereka khawatir,” kata Ji Ningmeng setelah berpikir. Ia yakin Chi Shaojie akan membantunya menyelesaikan masalah ini, maka ia memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya lagi.
Selama semuanya berjalan baik ke depan, ia pun tak ingin memperpanjang urusan.
Saat melihat akhirnya Ji Ningmeng tersenyum, Chi Shaojie ikut tersenyum tipis dan kembali menyalakan mesin mobil.
Tak lama, dua mobil dengan empat orang di dalamnya pun sampai di depan gerbang besar kediaman keluarga Chi.