Orang yang membuatnya gelisah
Dalam waktu singkat, wajah kecil Ji Ningmeng yang tadi masih cerah dan dihiasi senyuman kini seketika kehilangan tawa, perlahan berubah menjadi pucat. Tangan kecilnya gemetar dan mencengkeram erat ujung bajunya, seluruh tubuhnya bergetar halus karena gugup.
Sosok itu...
Sosok yang begitu dikenalnya...
Sosok yang tidak mungkin ia lupakan seumur hidup...
Beberapa hari lalu, ketika ia melihatnya, semuanya masih terasa samar, seolah hanyalah ilusi belaka. Ia masih bisa meyakinkan dirinya bahwa itu hanya bayangan, sekadar tipuan mata...
Namun kini, sosok nyata itu benar-benar ada di hadapannya, bahkan perlahan berjalan mendekatinya!
Ji Ningmeng merasa tubuhnya tidak bisa dikendalikan, bergetar hebat, jantungnya berdegup kencang hingga terasa di tenggorokan, kakinya pun terasa lemas.
Namun orang itu, ketika sudah tiba tepat di depannya, hanya tersenyum dingin dan tipis di sudut bibir, lalu dengan wajah tak bersahabat segera melangkah lebar dan menghilang dari pandangannya!
Semuanya terjadi begitu cepat, seakan-akan tak pernah terjadi apa-apa!
Kalau bukan karena wajah itu begitu sangat dikenalinya, Ji Ningmeng pasti akan berpikir ia hanya berhalusinasi!
Tapi, tidak diragukan lagi, itu memang dia...
Beberapa orang bersama Chi Shaojie sudah keluar dari ruang OSIS. Melihat mereka mendekat, Ji Ningmeng berusaha keras menampilkan wajah setenang mungkin. Namun kegugupannya tetap saja tertangkap oleh mereka.
“Ningmeng, kamu kenapa? Apa kamu tidak enak badan?” tanya Xia Qianqian cemas, berjalan cepat ke sisi Ji Ningmeng dan menempelkan tangan ke dahinya. “Enggak panas kok, kamu nggak demam…”
Chi Shaojie ikut mendekat setelah Xia Qianqian. Melihat wajah Ji Ningmeng yang pucat, sorot matanya menjadi kelam.
Yin Yaxun juga menyadari ada yang tidak beres. Matanya berubah serius, segera meneliti sekeliling.
Chi Shaojie berdiri di samping Ji Ningmeng, memperhatikan kalau pandangan gadis itu terus tertuju ke satu arah, tak kunjung kembali ke kesadarannya.
Xia Qianqian merasa ada yang tidak beres karena Ji Ningmeng tak juga menjawab, sehingga ia melambaikan tangan di depan mata Ji Ningmeng. Barulah Ji Ningmeng tersadar.
Ia melirik sekilas ke arah Chi Shaojie dengan sedikit cemas, lalu menjawab pelan, “Aku tidak apa-apa.”
Xia Qianqian memandang curiga. “Tidak apa-apa? Tapi dari tadi kamu melamun, seperti kehilangan roh!”
Ji Ningmeng menggigit bibir, lalu dengan cepat menjelaskan, “Mungkin karena kalian lama di dalam, dan ini pertama kalinya aku ke sini, jadi aku bengong menatap satu titik saja…”
Xia Qianqian merasa penjelasan itu masuk akal dan tidak bertanya lebih lanjut.
Chi Shaojie tetap berwajah serius, diam saja tanpa tanggapan, namun dalam hati ia seperti sedang memikirkan sesuatu.
Yin Yaxun menatap Ji Ningmeng dalam-dalam, lalu berkata singkat, “Kalau begitu, ayo kembali ke kelas. Shaojie, kamu antar Ningmeng, kalian satu kelas.”
“Ya,” jawab Chi Shaojie lirih sambil melirik wajah Ji Ningmeng yang perlahan mulai membaik, lalu membawanya pergi.
Han Luochen sejak tadi hanya diam. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada Ji Ningmeng, tapi merasa ada sesuatu yang tidak beres. Ia tidak berani bicara sembarangan, karena memang tidak tahu apa yang terjadi antara Yin Yaxun, Chi Shaojie, dan Ji Ningmeng beberapa hari ini, atau bagaimana proses mereka berdamai.
Sebagai orang luar, dia dan Xia Qianqian sebenarnya tidak seharusnya ikut campur. Namun Xia Qianqian selalu spontan dan sangat dekat dengan Ji Ningmeng, jadi apa pun yang ia ucapkan tidak jadi soal.
Sedangkan dirinya berbeda. Meskipun ia dan Ji Ningmeng tumbuh besar bersama sebagai teman sepermainan, hubungan mereka tidak sedekat hubungan Ji Ningmeng dengan Chi Shaojie dan Yin Yaxun, bahkan tidak sedekat hubungannya dengan Xia Qianqian.
Karena itu, Han Luochen merasa tidak pantas ikut campur dalam urusan ini.
Namun, kondisi Ji Ningmeng membuatnya merasa ada sesuatu yang aneh, seakan dua tahun lalu ketika Ji Ningmeng pergi, ada alasan yang lebih rumit...
Dan kali ini, kepulangannya juga bukan sekadar karena rindu...
Xia Qianqian menatap punggung Ji Ningmeng dan Chi Shaojie yang berjalan menjauh, mendadak terpaku.
Kenapa ia merasa, punggung Chi Shaojie dan Ji Ningmeng... begitu serasi?
“Kelihatannya benar-benar cocok…” gumam Xia Qianqian pada dirinya sendiri.
Telinga Han Luochen sangat tajam, ia mendengar gumaman itu dan langsung tersenyum tipis, menatap ke arah yang sama.
Benar saja!
Dari belakang, punggung Ji Ningmeng dan Chi Shaojie terlihat sangat serasi dan harmonis. Orang yang tidak tahu pasti mengira mereka sepasang kekasih!
Han Luochen tersenyum geli.
Entah kenapa, ia punya firasat samar, pasti akan terjadi sesuatu di antara mereka berdua...
Yin Yaxun melihat Ji Ningmeng dan Chi Shaojie sudah berjalan lebih dulu, lantas mengangguk pada Han Luochen dan juga berbalik pergi.
Di saat ia berbalik, sebersit kesedihan di matanya tidak terlihat oleh siapa pun.
-
Gedung kelas tingkat dua.
Baru saja memasuki gedung itu, Chi Shaojie langsung berhenti melangkah dan menarik tangan Ji Ningmeng.
Kondisi Ji Ningmeng sudah sedikit membaik sepanjang perjalanan, namun saat tangan Chi Shaojie menggenggamnya, ia menoleh dengan bingung.
Wajah Chi Shaojie tampak suram, namun ketika berbicara dengan Ji Ningmeng, nadanya kembali lembut.
“Wajahmu masih terlihat pucat, aku juga tadi melihat kamu tiba-tiba seperti itu. Sebenarnya ada apa? Siapa yang kamu lihat sampai bisa seperti itu?”
Tatapan mata Chi Shaojie begitu dalam, seperti bisa melihat langsung ke dalam hati Ji Ningmeng.
Hati Ji Ningmeng langsung bergetar.
Benar saja, bertahun-tahun kebersamaan membuat siapa pun di antara mereka pasti bisa melihat gelagat aneh sedikit saja.
Ji Ningmeng menggigit bibir tanpa sadar, namun tetap tidak berniat bicara.
Chi Shaojie mengernyit, lalu menghela napas. “Apa kamu tidak percaya padaku? Atau... kamu benar-benar tidak menganggap aku lagi sebagai Chi Shaojie yang dua tahun lalu selalu di sampingmu?”
“Tentu saja bukan!” seru Ji Ningmeng dengan emosi, memotong kalimatnya.
Bagaimana bisa ia berpikir begitu?!
Ia adalah sahabat kecilnya sejak lama! Selain Xia Qianqian, ialah teman terbaiknya!
Ia sangat menghargai Chi Shaojie, bagaimana mungkin tidak percaya padanya?
“Justru karena aku terlalu percaya padamu, makanya aku semakin tidak bisa…”
Ji Ningmeng tiba-tiba terdiam.
Seolah baru sadar sudah bicara terlalu banyak, ia menutup mulutnya dengan kesal, tak berkata-kata lagi. Tatapannya pun menjadi sendu dan rumit.
Mata beningnya yang biasanya jernih kini dipenuhi kerumitan yang sulit diungkapkan.
Hati Chi Shaojie mendadak terasa nyeri. Ia menatapnya dengan penuh kepedihan. “Aku tidak akan memaksa kamu bicara. Tapi ingatlah, apa pun yang terjadi jangan pernah kamu tanggung sendiri. Aku... kami semua ada di sisimu.”
Tadinya Chi Shaojie ingin mengatakan ia akan selalu ada di sisi Ji Ningmeng, tapi setelah berpikir sejenak merasa itu kurang tepat, lalu ia mengganti dengan ‘kami’.