Kafe Qianshu
Suara di telepon milik Xia Qianqian tiba-tiba terdengar penuh semangat.
“Bagus sekali! Ningmeng! Kalau begitu kalian langsung saja ke kafe langganan kita yang paling dekat, aku dan Han Luocheng segera menyusul.”
Ji Ningmeng belum sempat berkata apa-apa, telepon sudah diputus oleh Xia Qianqian.
Ji Ningmeng tersenyum tipis, lalu menoleh ke arah Chi Shaojie, “Ayo ke kafe langganan terdekat, Qianqian dan Luocheng mau datang.”
Chi Shaojie mengerutkan alis tipis, “Bukankah kita sudah sepakat akan ke rumah keluargaku dulu? Kamu tidak khawatir orang tuaku jadi menunggu-nunggu?”
Ji Ningmeng berpikir sejenak sambil menggigit bibir, “Bagaimana kalau sekarang aku telepon Paman dan Tante, bilang kita akan sedikit terlambat? Kita ketemu Qianqian dan yang lain dulu sebentar, lalu segera ke sana, bagaimana?”
Chi Shaojie hanya bisa meliriknya tanpa daya, kemudian kembali menyalakan mobil.
Ji Ningmeng menggigit bibir dan tersenyum lembut.
Kafe Qianshuo.
Saat Chi Shaojie turun dari mobil, ia sempat melirik nama kafe itu di depan, alisnya terangkat sedikit.
Ji Ningmeng yang melihat ekspresinya jadi heran, “Chi Shaojie, apa kamu melihat sesuatu yang aneh? Kok diam saja?”
Namun Chi Shaojie tak berniat menjawab.
Melihat dia tetap bungkam, Ji Ningmeng akhirnya mengikuti arah pandangannya.
Kafe Qianshuo?
Apa yang aneh dari nama itu?
“Chi Shaojie, apa yang kamu lihat? Ada yang tidak beres?” Ji Ningmeng mencolek lengan Chi Shaojie, sedikit kesal, “Cepat bilang yang sebenarnya!”
Chi Shaojie menahan tawa melihat sikap kekanak-kanakannya, “Ji Ningmeng, aku kira setelah dua tahun di luar negeri kamu sudah lebih dewasa, ternyata kamu masih tetap seperti ini.”
Ji Ningmeng langsung mengerutkan kening, kapan dia dianggap kekanak-kanakan?
“Chi Shaojie, aku juga berharap setelah dua tahun di luar negeri, pulang-pulang bisa melihat kamu lebih serius. Ternyata sifat burukmu sama sekali tak berubah!”
Chi Shaojie terdiam tak bisa membantah, lalu tertawa pelan.
Dia lalu berjalan tanpa suara ke sisi Ji Ningmeng, “Ayo masuk, di luar anginnya kencang.”
Barulah Ji Ningmeng tersenyum, melangkah masuk bersamanya.
Sesaat sebelum masuk, Chi Shaojie kembali melirik nama kafe di atas pintu, sorot matanya menyiratkan sesuatu yang sulit ditebak.
Begitu mereka masuk, seorang pelayan segera menuntun mereka ke sudut paling tenang di dalam kafe.
Ji Ningmeng tersenyum anggun dan memesan satu cappuccino serta sepotong tiramisu.
Chi Shaojie mengangguk dan memesan secangkir kopi Blue Mountain.
Pelayan itu tersenyum, lalu pergi untuk menyiapkan pesanan mereka.
Melihat pilihan Chi Shaojie, Ji Ningmeng tertawa kecil, “Chi Shaojie, sejak kapan kamu suka minum kopi ini? Pahit sekali.”
Belum sempat Chi Shaojie menjawab, suara perempuan lain yang manis dan jernih tiba-tiba memotong.
“Kamu sudah dua tahun tidak bersama kami, masih banyak hal yang belum kamu tahu!”
Xia Qianqian berjalan mendekat dengan nada sedikit menggerutu, Ji Ningmeng segera berdiri menyambutnya.
“Qianqian!”
“Ningmeng!”
Xia Qianqian berlari kecil ke arah Ji Ningmeng dengan penuh semangat, Ji Ningmeng merentangkan tangan dan memeluknya erat.
Mata Xia Qianqian tampak memerah, ekspresinya sedikit sedih.
Ji Ningmeng buru-buru meluruskan badan dan menggenggam tangan Xia Qianqian.
“Qianqian, maafkan aku, aku seharusnya tidak pergi begitu saja. Aku janji tak akan seperti itu lagi... Dan sungguh, aku sangat merindukanmu, sangat merindukan kalian semua...”
Saat berkata demikian, mata Ji Ningmeng pun ikut memerah.