Kecerdasanku mendadak hilang entah ke mana.
Halaman 1 dari 3
“Hmm.”
Suara Chi Shaojie begitu merdu, seperti selo bernada rendah, berulang kali mengalun lembut di lubuk hati Ji Ningmeng.
Ji Ningmeng tersenyum. Ia sudah tahu bahwa Chi Shaojie-lah yang memanggilnya kemari.
“Aku hanya tidak ingin merepotkanmu.” Chi Shaojie mengulurkan tangan dan mencolek hidung kecil Ji Ningmeng. Kasih sayang di matanya tampak begitu jelas. “Kalau mencari alasan seperti ini, orang lain tidak akan mencurigaimu.”
Ji Ningmeng tiba-tiba merasa tersentuh. Ia benar-benar sangat memahaminya.
“Lalu, untuk apa kau memanggilku?”
Ji Ningmeng menatap Chi Shaojie sambil tersenyum lebar, dengan sorot mata yang memancarkan kegembiraan.
Senyumnya membuat hati Chi Shaojie bergetar. Perasaannya berdebar, dan jakunnya bergerak naik turun. Ia lalu mengalihkan pandangan dan berkata dengan suara tenang, “Qianqian dan Luo Chen mengirimiku pesan, menanyakan apakah kita ingin makan malam bersama.”
Ia sedang berusaha menyembunyikan gejolak hatinya yang telah diacak-acak sepenuhnya oleh Ji Ningmeng. Ia takut, jika terus memandangnya, gadis itu akan menyadari perasaan cinta yang tersembunyi di matanya.
Mendengar perkataan Chi Shaojie, senyum Ji Ningmeng menghilang. “Hanya itu? Kalau begitu, kau tinggal mengiyakan saja.”
“Aku sudah berjanji hanya akan makan bersamamu, jadi semuanya terserah padamu.”
Nada bicara Chi Shaojie terdengar begitu wajar. Namun, suaranya yang tenang dan berwibawa membuat hati Ji Ningmeng bergetar, sementara wajah mungilnya perlahan memerah.
Entah mengapa, ia merasa Chi Shaojie sedang menggodanya...
Chi Shaojie menatap Ji Ningmeng dengan sorot mata yang membara.
Halaman 1 dari 3
Halaman 2 dari 3
Dalam keadaan seperti itu, Ji Ningmeng benar-benar tampak menggemaskan dan membuat hatinya berdebar.
Tiba-tiba, Chi Shaojie memiringkan kepala dan mendekatkan telinganya ke sisi telinga Ji Ningmeng. Ia menurunkan suara, seolah hendak membisikkan sesuatu.
Ji Ningmeng mendadak tersentak!
“Eh, sebentar lagi kelas dimulai. Aku pulang dulu, ya. Sampai jumpa malam nanti!”
Dengan sedikit panik, Ji Ningmeng segera pergi. Namun, semburat merah di wajahnya telah mengkhianati perasaannya.
Menatap punggung Ji Ningmeng yang tampak seperti sedang melarikan diri, Chi Shaojie terkekeh. Sudut bibirnya melengkung membentuk senyum langka.
Ji Ningmeng berlari kecil sepanjang jalan hingga kembali ke kelas. Wajah mungilnya masih tampak kemerah-merahan.
Su Yinyi menyadari rona merah di wajahnya dan tersenyum penuh rasa ingin tahu. “Ada apa? Kenapa setelah keluar sebentar, kau kembali dalam keadaan seperti ini?”
Seolah-olah kecerdasannya mendadak menghilang, Ji Ningmeng tertegun selama beberapa detik tanpa mampu bereaksi. “Ah...”
Su Yinyi tidak mengerti apa yang terjadi. Dengan bingung, ia mengibaskan tangannya di depan wajah Ji Ningmeng. “Kenapa kau?”
“Oh...” Akhirnya Ji Ningmeng tersadar. Bayangan ketika Chi Shaojie mendekat tadi melintas di benaknya, dan rona merah kembali merayap ke belakang telinganya.
Su Yinyi memperhatikan Ji Ningmeng dari depan dan belakang, lalu mengamatinya dengan saksama dari ujung kepala hingga ujung kaki. Sorot matanya jelas menunjukkan rasa ingin tahu. Ia kemudian mendekat dengan sikap sedikit menggoda.
“Tadi, jangan-jangan kau...”
“Tidak.”
Halaman 2 dari 3
Halaman 3 dari 3
Ji Ningmeng menenangkan hatinya yang berdebar, lalu kembali memasang wajah tenang seolah tak terjadi apa-apa.
Su Yinyi seketika merasa bosan. Ia mengangkat bahu tanpa daya, lalu memalingkan wajah.
Setelah melihat Su Yinyi membalikkan badan, Ji Ningmeng mengatupkan bibirnya dan teringat akan sikapnya yang gelisah tadi.
Bagaimana mungkin hanya karena satu gerakan Chi Shaojie, ia sampai merasa harus melarikan diri seperti orang yang ketakutan...
Perasaan seperti ini tidak pernah ia rasakan dua tahun lalu.
Apakah ia mulai jatuh hati?
Tidak, itu tidak mungkin.
Mana mungkin ia bisa jatuh hati kepada Chi Shaojie...
Memikirkan sesuatu, sudut bibir Ji Ningmeng menampilkan senyum getir. Ia berusaha menyembunyikan kesuraman di matanya, lalu tanpa sadar mengulurkan tangan untuk mengambil buku dari dalam laci meja.
Namun, alih-alih menyentuh buku, tangannya justru menemukan selembar catatan.
Halaman 3 dari 3