Bab 155 Kompetisi Pemurnian

Sang Maha Suci Pemutus Langit Tuan Chen Yang 3140kata 2026-04-01 05:34:29

Selama sebulan, Mo Wen Dao belajar ilmu tempa di sini.

“Benar-benar membuat tak sabar!”

Mo Wen Dao juga sangat menantikan pertandingan esok hari. Ia tidak tahu bagaimana hasilnya nanti, setelah menghadapi tantangan yang akan datang dengan bekal ilmu yang dipelajarinya selama sebulan ini.

Keesokan harinya, tengah hari!

Tok, tok, tok!

Suara ketukan pintu terdengar oleh Mo Wen Dao.

“Tuan Muda Mo, Tuan Besar memanggil Anda!”

Suara kepala pelayan terdengar dari luar pintu.

Mo Wen Dao membuka pintu.

“Mereka sudah datang?”

tanyanya.

Yang dimaksud adalah guru dan murid yang membuat taruhan dengan Tetua Ketujuh.

“Sudah,” jawab kepala pelayan.

Kemudian, ia mengantar Mo Wen Dao ke ruang tamu.

Saat itu, Tetua Ketujuh sedang duduk minum teh dan berbincang dengan seorang lelaki tua berambut merah. Lelaki tua itu tampaknya adalah ahli tempa lainnya. Di sampingnya berdiri seorang pemuda.

Begitu melihat pemuda itu, kesan pertama Mo Wen Dao adalah Ling Feng!

Entah mengapa, pemuda ini memiliki aura yang sangat mirip dengan Ling Feng. Sekilas saja, ia tampak begitu menyerupainya.

“Muridku, kau datang!”

Tetua Ketujuh berkata dengan nada serius, berlagak seperti seorang guru teladan.

“Ya, Guru,” jawab Mo Wen Dao penuh hormat.

Itulah kesepakatan mereka. Mo Wen Dao akan berpura-pura menjadi murid Tetua Ketujuh dalam pertandingan ini.

Awalnya, Tetua Ketujuh berniat menerima Mo Wen Dao sebagai muridnya. Namun, setelah menyaksikan kecepatan belajar Mo Wen Dao selama sebulan ini, ia mengurungkan niat tersebut.

Meski Tetua Ketujuh tidak benar-benar menerimanya sebagai murid, Mo Wen Dao tahu bahwa sang tetua telah mengajarkan seluruh ilmu tempa yang dimilikinya tanpa menahan apa pun. Walaupun mereka tidak menjadi guru dan murid, Tetua Ketujuh tetap pantas dipanggil guru.

“Jadi, inikah murid andalanmu?”

Ahli tempa berambut merah itu berkata sambil menggoda.

Seolah-olah menjadi murid Tetua Ketujuh bukanlah sesuatu yang patut dibanggakan bagi Mo Wen Dao.

“Muridku, kemarilah dan beri hormat kepada Paman Guru berambut merahmu!”

Tetua Ketujuh berkata sambil tersenyum.

Ucapan itu jelas menunjukkan bahwa ia sedang mengambil sedikit keuntungan, dengan menurunkan satu tingkat kedudukan lelaki tua berambut merah tersebut.

Benar saja, sebelum Mo Wen Dao sempat bicara, lelaki tua itu lebih dulu membantah.

“Kau ini memang tua bangka licik! Aku lebih tua darimu. Seharusnya dia memanggilku Guru Besar!”

Lelaki tua berambut merah itu memprotes.

Jika dilihat dari usia, ia memang lebih tua daripada Tetua Ketujuh. Mana mungkin ia membiarkan Mo Wen Dao memanggilnya paman guru?

Bukankah itu berarti kedudukannya sedikit lebih rendah daripada Tetua Ketujuh?

“Aku ingat, kau menjadi ahli tempa sedikit lebih lambat dariku!”

Tetua Ketujuh berkata dengan sikap seolah menantangnya untuk membantah.

Menyebutkan waktu mereka menjadi ahli tempa memang membuat lelaki tua berambut merah itu agak sulit membalas.

“Tapi selama ini kau tak pernah mengalahkanku!”

Lelaki tua berambut merah itu membalas.

Bagaimanapun, ia dan Tetua Ketujuh sudah bertanding selama bertahun-tahun, tetapi Tetua Ketujuh belum pernah menang sekalipun. Jadi, sekalipun Tetua Ketujuh lebih dulu menjadi ahli tempa, kemampuannya tetap tidak lebih unggul.

“Kau memutarbalikkan fakta!”

Tetua Ketujuh membentak.

Selama bertahun-tahun mereka bertanding, tak seorang pun berhasil mengalahkan yang lain. Rekor mereka tetap imbang.

“Guru, aku punya cara untuk menentukan panggilan yang tepat bagi kalian.”

Mo Wen Dao maju selangkah.

Melihat kedua orang tua itu terus berdebat tanpa ujung, ia merasa lebih baik membantu menyelesaikan persoalan mereka.

Mo Wen Dao sudah menyadari bahwa kedua orang tua ini sama-sama sangat menjaga gengsi. Pantas saja pertandingan mereka sudah berlangsung selama empat puluh tahun, tetapi tak kunjung berakhir.

“Murid kesayanganku, apa caramu?”

Tetua Ketujuh bertanya riang.

Ia tak tahu cara apa yang akan digunakan Mo Wen Dao untuk menentukan kedudukan mereka. Namun, karena Mo Wen Dao kini berstatus sebagai “murid kesayangannya”, tentu saja ia harus mendengarkan pendapat sang murid.

“Cepat katakan, keponakan murid!”

Lelaki tua berambut merah itu tak mau kalah.

Selain soal menang dan kalah, masalah kedudukan juga telah menyusahkan dirinya dan Tetua Ketujuh selama puluhan tahun. Ia penasaran apakah Mo Wen Dao punya cara untuk menyelesaikan persoalan mereka.

Murid lelaki tua berambut merah itu pun menatap Mo Wen Dao dengan saksama.

“Caranya sederhana sekali,” ujar Mo Wen Dao sambil tersenyum.

Cara yang ia maksud memang sangat sederhana.

“Sesederhana apa?”

Tetua Ketujuh mulai tertarik.

Mereka sudah berselisih selama empat puluh tahun tanpa hasil. Bagaimana bisa persoalan ini diselesaikan dengan sederhana?

“Nanti, setelah pertandingan selesai, kalian akan tahu jawabannya.”

Mo Wen Dao mengungkapkan maksudnya.

“Benar juga!”

Tetua Ketujuh dan lelaki tua berambut merah itu berseru bersamaan.

Hasil taruhan kali ini dapat menjadi penentu akhir kedudukan mereka.

“Kali ini aku pasti menang, Pak Tua Berambut Merah!”

Tetua Ketujuh berkata gembira.

Selama sebulan ini, ia telah menyaksikan perkembangan Mo Wen Dao. Kemampuan tempa Mo Wen Dao saat ini memang masih terbatas oleh tingkat kultivasinya, tetapi kemampuannya sudah sangat baik. Setidaknya menurut Tetua Ketujuh, Mo Wen Dao seharusnya mampu mengalahkan murid lelaki tua berambut merah itu.

“Leluconmu sama sekali tidak lucu,” sindir lelaki tua berambut merah.

Ia sudah bersusah payah mengajari muridnya selama sepuluh tahun. Mana mungkin muridnya kalah? Ia merasa, kurang dari sepuluh tahun lagi, muridnya akan mampu melampauinya.

Lelaki tua berambut merah dan Tetua Ketujuh sama-sama baru menjadi ahli tempa saat usia mereka hampir empat puluh tahun. Jika murid lelaki tua berambut merah itu bisa melampauinya dalam waktu kurang dari sepuluh tahun, berarti ia mungkin akan menjadi ahli tempa sebelum berusia tiga puluh.

“Percuma saja bicara. Kita harus bertanding untuk tahu hasilnya.”

Tetua Ketujuh berkata tenang.

Setelah pertandingan dimulai, barulah mereka tahu hasilnya. Tak perlu terus berdebat.

“Kalau begitu, mari kita mulai.”

Lelaki tua berambut merah itu setuju.

Mereka berempat menuju ke tempat yang telah disiapkan Tetua Ketujuh.

Di sana terdapat dua landasan tempa, yang tampaknya memang telah disiapkan khusus oleh Tetua Ketujuh untuk pertandingan kali ini.

“Babak pertama: pemurnian bahan. Waktunya tiga jam!”

Tetua Ketujuh mengumumkan isi pertandingan kali ini.

Namun, pertandingan ini tidak jauh berbeda dari ujian yang pernah diikuti Mo Wen Dao. Perbedaannya, jumlah peserta berkurang dari lima orang menjadi dua, sedangkan jenis bijih bertambah dari enam menjadi sembilan. Selain itu, tidak ada batasan mengenai mutu hasil pemurnian.

Namun, tidak adanya batasan mutu bukan berarti mereka bisa memurnikan bahan dengan sembarangan. Bagaimanapun, yang akan dibandingkan kali ini adalah mutu hasil pemurnian.

Tembaga Darah Merah, Besi Dingin Seribu Tahun, Batu Kristal Es, dan sebagainya.

Sembilan jenis bijih itu tersusun di hadapan Mo Wen Dao. Pemurnian kali ini tampaknya merupakan persiapan untuk menempa senjata pada babak berikutnya. Jika ia kalah dalam tahap ini, kemungkinan besar ia juga tak akan berhasil dalam pertandingan selanjutnya.

Mo Wen Dao tidak menganggap kemampuan tempa lawannya jauh lebih rendah darinya.

“Tiga jam terlalu lama. Dua jam saja cukup!”

Murid lelaki tua berambut merah itu berkata penuh percaya diri.

Itulah pertama kalinya ia berbicara. Ucapannya cukup mengejutkan semua orang.

Untuk memurnikan sembilan jenis bijih itu menjadi bahan siap pakai, bahkan seorang ahli tempa pun membutuhkan waktu hampir dua jam. Dari mana datangnya keyakinan bahwa ia bisa menyelesaikannya dalam dua jam?

Jangan-jangan murid lelaki tua berambut merah itu sudah mencapai tingkat ahli tempa?

“Waktunya terlalu singkat, bukan?”

Tetua Ketujuh mengerutkan kening.

Menurutnya, waktu itu tak cukup bagi Mo Wen Dao untuk melakukan pemurnian kedua. Itu akan cukup merugikan Mo Wen Dao, sebab keunggulan Mo Wen Dao terletak pada pemurnian berulang.

“Pak Tua, sudah tak percaya diri?”

Lelaki tua berambut merah itu mengejek.

Melihat muridnya membuatnya bangga, lelaki tua berambut merah itu tentu merasa senang. Siapa yang tidak akan bangga memiliki murid seperti itu?

“Dua jam saja kalau begitu.”

Mo Wen Dao menyetujui.

Ia tak ingin Tetua Ketujuh kehilangan muka gara-gara persoalan ini. Mereka sekarang adalah “guru dan murid”; keberhasilan salah satu adalah keberhasilan keduanya, begitu pula sebaliknya.

Mo Wen Dao juga tidak menyetujuinya dengan gegabah. Ia sendiri sempat terkejut saat lawannya mengusulkan dua jam, tetapi ia ingin mencoba tantangan itu.

Kalau lawannya mampu melakukannya, ia pun seharusnya bisa.

“Kalau begitu, pertandingan dimulai!”

Tetua Ketujuh mengumumkan.