Bab 113 Kebangkitan Sang Guru Agung
"Entah apa lagi yang terjadi hingga bunyi lonceng ini terdengar," gumam Mo Wendao sambil membuka mata dengan perasaan heran.
Setiap kali lonceng itu berbunyi, itu pertanda akan ada sesuatu yang penting terjadi. Entah apa yang akan terjadi kali ini. Setelah berkemas sejenak, Mo Wendao meninggalkan pekarangannya dan bergegas menuju tempat berkumpul.
"Entah apa yang terjadi kali ini?"
"Sudah hampir dua bulan tidak ada misi!"
"Benar! Entah misi apa lagi yang harus kita jalankan kali ini?"
Begitu tiba di tempat berkumpul, Mo Wendao mendengar berbagai macam perbincangan. Semua orang sedang mendiskusikan alasan dibunyikannya lonceng tersebut.
"Kau baru sampai?" Mo Rui muncul di hadapan Mo Wendao.
"Entah apa alasan kita dikumpulkan di sini kali ini?" Mo Wendao sengaja mengalihkan pembicaraan.
Di atas panggung, tampak sembilan Penjaga Lingyun. Penjaga pertama sudah tidak ada di sana, digantikan oleh seseorang yang asing bagi Mo Wendao. Dilihat dari situasinya, Penjaga pertama kemungkinan besar telah berhasil menembus batasan dan memasuki Tahap Pascanatal.
"Aku juga tidak tahu!" keluh Mo Rui. Dia pun baru saja tiba dan tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
"Kesembilan Penjaga Lingyun sudah lengkap!" sela Mo Fei. Ucapannya membuat situasi saat ini terasa familier, mengingatkannya pada pertemuan-pertemuan sebelumnya.
"Apakah kalian menyadari bahwa Penjaga pertama yang terpilih bukan lagi orang yang lama? Ada orang asing yang tidak kita kenal!" tanya Mo Rui dengan rasa penasaran. Menurut pengetahuan mereka, sekalipun Penjaga pertama naik ke Tahap Pascanatal, seharusnya hanya tersisa delapan orang, bagaimana mungkin jumlahnya tetap sama?
"Semuanya memiliki kultivasi Tahap Pemurnian Tubuh tingkat sembilan!" gumam Mo Wendao dalam hati. Ia bertanya-tanya berapa banyak praktisi tingkat sembilan yang dimiliki oleh kediaman Bupati.
Di sela obrolan ketiganya, waktu berlalu dengan cepat. Setengah jam kemudian, hampir semua orang yang seharusnya hadir telah berkumpul.
Pekarangan milik Mo Ke'er kini telah berpindah tangan kepada Gu Feilong, sementara pemilik delapan pekarangan lainnya tidak berubah. Hal ini tidak terlalu mengejutkan bagi Mo Wendao, karena kekuatan Gu Feilong memang cukup baik.
Di atas panggung, hadir Bupati, Ling Feng, Zhou Yun, dan Penjaga pertama yang lama—yang kini kultivasinya telah mencapai Tahap Pascanatal. Karena syarat menjadi Penjaga Lingyun adalah belum mencapai Tahap Pascanatal, maka ia kini telah naik posisi.
"Apakah sudah semua berkumpul?" tanya Penjaga pertama. Pertanyaan itu hanyalah formalitas belaka.
"Sudah lengkap!" jawab seseorang. Mo Wendao tidak mengenali orang yang menjawab itu.
"Karena sudah lengkap, kalian beruntung kali ini. Bupati akan memberikan pengajaran, bukan untuk memberikan misi!" ujar Penjaga pertama sambil tersenyum. Pengajaran dari seorang praktisi Tahap Pranatal sangat berharga bagi mereka yang masih berada di Tahap Pemurnian Tubuh.
"Bupati akan mengajar? Sungguh kesempatan yang langka!"
"Sepertinya kali ini tidak ada misi!"
Berbagai bisikan terdengar dari bawah panggung. Mereka merasa kali ini lonceng dibunyikan bukan untuk tugas, melainkan untuk mendapatkan keuntungan.
*Uhuk, uhuk, uhuk!*
Suara Bupati menarik perhatian semua orang. Mereka tidak berani lagi bercakap-cakap karena takut memancing kemarahan Bupati. Saat melihat perhatian semua orang tertuju padanya dan suasana menjadi hening, Bupati mengangguk puas.
"Pengajaran kali ini bertujuan agar kalian dapat meningkatkan harapan untuk masuk ke sekte!" ucap Bupati, mengungkapkan tujuan utamanya.
"Begitu rupanya," batin Mo Wendao. Pantas saja Bupati turun tangan, ternyata untuk meningkatkan peluang mereka dalam ujian.
"Sudah berapa lama kalian berada di Paviliun Lingyun?" tanya Bupati. Pertanyaan itu membuat semua orang terjebak dalam ingatan masing-masing.
"Hampir sembilan bulan!" jawab Yu Le dengan lantang.
"Benar, sudah hampir sembilan bulan. Tiga bulan lagi, waktu ujian sekte akan tiba," tegas Bupati. Penjelasannya menjawab alasan mengapa mereka dikumpulkan saat ini.
"Syarat pertama untuk masuk sekte adalah bakat!" ujar Bupati. Bakat dianggap sebagai sesuatu yang sudah ditentukan sejak lahir, dan sejauh yang mereka tahu, tidak ada cara untuk mengubahnya.
"Bakat seperti apa yang dibutuhkan untuk masuk sekte?" tanya Du Yang sambil berdiri. Mo Wendao merasakan bahwa Du Yang hampir mencapai Tahap Pemurnian Tubuh tingkat sembilan; rupanya dia berlatih dengan sangat keras.
"Aku pun tidak tahu persis, namun berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, bakat di atas tujuh cincin biasanya dapat masuk ke sekte," jawab Bupati. Jawaban itu membuat hati banyak orang menciut, karena syarat itu berarti menutup harapan sebagian besar dari mereka.
"Tuan Bupati, jika bakat seseorang tidak mencukupi, apakah ada cara lain untuk masuk ke sekte?" tanya Yu Feifei. Ini adalah pertanyaan yang paling dinantikan semua orang.
"Jika bakat kurang, memang masih ada harapan, hanya saja...!" Sebelum Bupati menyelesaikan kalimatnya, sebuah suara memotongnya.
"Adik seperguruan, kakak seperguruannmu ini datang, kenapa kau tidak menyambutku?"
Suara berat dan kelam menggema di seluruh tempat. Semua orang terkejut, kecuali Bupati. Mo Wendao melihat raut wajah Bupati berubah drastis, tampak sangat tidak bersahabat dengan pemilik suara tersebut.
"Sepertinya dia seorang praktisi Tahap Master!" batin Mo Wendao. Ia merasakan aura orang tersebut jauh melampaui kekuatan Bupati, sama seperti wanita cantik yang pernah ia temui sebelumnya.
"Maafkan aku, Kakak Seperguruan, karena tidak menyambut kedatanganmu!" ucap Bupati sambil berbalik dan memberi hormat dengan sikap kaku. Hal itu membuktikan bahwa orang tersebut memang kakak seperguruan Bupati, namun nada bicara keduanya terasa sangat janggal.