Bab 60 Satu Gerakan
Bab 60: Satu Gerakan
“Memangnya tidak boleh?” tanya Yu Feifei balik.
Tak seorang pun tahu alasan Yu Feifei naik ke atas panggung.
“Boleh saja, tapi sepertinya tidak ada hubungannya dengan ‘dia’, kan?” jawab Mo Wendao.
Ia juga ingin memastikan, apakah tantangan dari Yu Feifei ini ada kaitannya dengan Mo Ling, sebab perlakuannya akan berbeda.
“Menurutmu bagaimana?” Yu Feifei balik bertanya, nada suaranya mengandung kelicikan.
Mo Ling juga bertanya-tanya, apa tujuan Yu Feifei menantang Mo Wendao. Pihak Mo Ling pun curiga, apakah Yu Feifei adalah bagian dari kelompok mereka.
“Andai kau memang bagian dari mereka, menurutmu aku akan berbincang selama ini denganmu?” Mo Wendao balik bertanya.
Karena tahu bukan, ia hanya ingin memastikan situasi yang sebenarnya. Kalau tidak, langsung bertindak akan terlihat buruk, dan Mo Wendao tidak ingin bermusuhan dengan semua orang.
“Jadi aku harus berterima kasih padamu?” Yu Feifei memutar bola matanya.
Ia merasa keputusannya untuk naik ke atas panggung sudah tepat. Ia ingin memberikan pelajaran pada pria sombong ini yang tidak menghormatinya. Setidaknya, ia sudah mencapai tingkat delapan tubuh fisik, sedangkan Mo Wendao baru tingkat tujuh.
“Tak perlu berterima kasih. Tapi kau benar-benar yakin ingin menantangku?” Mo Wendao ingin memastikan.
“Menurutmu aku naik ke sini hanya untuk mengobrol?” tanya Yu Feifei dengan nada menuntut.
Seolah-olah Mo Wendao mengira ia hanya ingin mengobrol, bukan menantang.
“Kelihatannya memang begitu!” jawab Mo Wendao yakin.
Bukan berarti Mo Wendao meremehkannya, hanya saja jarak kekuatan mereka terlalu jauh. Lagi pula, hari ini ia ingin membereskan orang-orang yang sudah menghalanginya.
“Kalau begitu mari kita buktikan di atas panggung!” Yu Feifei berkata dengan emosi.
Ia sangat sadar, Mo Wendao mampu mengalahkan Mo Ling, artinya ia memiliki kekuatan menaklukkan tingkat delapan tubuh fisik. Tapi itu bukan berarti ia pasti bisa mengalahkannya. Dari awal ia naik ke panggung, Mo Wendao sudah menampakkan sikap meremehkan, yang membuat Yu Feifei sangat kesal.
Tentu saja, perasaan diremehkan itu hanya menurut Yu Feifei sendiri.
“Kalau begitu, mari kita mulai!” ujar Mo Wendao, merasa tak ada lagi yang perlu dibahas.
Walaupun tidak terlalu pasti, ia sudah tahu Yu Feifei dan Mo Ling bukan satu kelompok.
Gaya Membalik Awan!
Mo Wendao langsung menggunakan Tiga Jurus Langit tanpa menahan diri.
Kali ini, Yu Feifei bernasib sial karena menantangnya di saat seperti ini. Mo Wendao jelas tidak akan segan, satu jurus saja cukup untuk mengakhiri pertarungan.
“Hanya bisa menyalahkan nasibmu!” Mo Wendao menatap Yu Feifei yang terlempar ke bawah panggung, lalu menghela napas.
Satu jurus!
Yu Feifei dikalahkan hanya dengan satu jurus oleh Mo Wendao, membuat banyak orang sulit mempercayai apa yang mereka lihat.
Mo Wendao yang baru tingkat tujuh tubuh fisik, mampu mengalahkan Yu Feifei dalam satu serangan, langsung membuatnya terlempar dari panggung.
Awalnya banyak yang menantikan pertarungan seru antara Mo Wendao dan Yu Feifei, siapa sangka hanya satu jurus saja Yu Feifei sudah tumbang.
“Benarkah dia hanya tingkat tujuh tubuh fisik?” tanya seseorang di bawah panggung dengan bingung.
Yu Feifei adalah tingkat delapan tubuh fisik, bahkan tidak sempat membalas serangan. Ini jelas-jelas pertarungan antara tingkat tujuh melawan delapan, tapi hasilnya seperti tingkat tujuh membully tingkat satu.
“Mana mungkin!” Yu Feifei yang ada di bawah panggung berteriak.
Ia tidak percaya dirinya bisa dikalahkan hanya dengan satu jurus, sama seperti mereka yang tingkat lima atau enam tubuh fisik yang sebelumnya sudah dikalahkan Mo Wendao. Apa bedanya dengan mereka?
Beberapa hari lalu saat menyaksikan pertarungan Mo Wendao melawan Mo Ling, butuh banyak jurus sebelum Mo Ling kalah. Walaupun Mo Wendao memang mampu mengalahkan tingkat delapan, Yu Feifei yakin, bahkan melawan tingkat sembilan pun ia masih bisa bertahan beberapa jurus.
Apakah Mo Wendao lebih kuat dari tingkat sembilan tubuh fisik?
“Melihat apa yang baru saja terjadi, aku jadi lebih menerima nasibku,” ucap seseorang yang sebelumnya juga dikalahkan Mo Wendao hanya dengan satu jurus.
“Benar, rasanya jadi lebih adil,” sahut orang di sebelahnya.
Banyak yang mengangguk setuju. Mereka pun merasa kekalahan mereka barusan tidak terlalu memalukan.
Yu Feifei yang tingkat delapan saja dikalahkan dalam satu jurus, apalagi mereka. Ini semacam penghiburan batin yang aneh.
“Mengapa bisa begini?” Mo Ling merasa sangat frustasi.
Awalnya ia mengira Yu Feifei setidaknya bisa bertahan beberapa jurus melawan Mo Wendao, agar nanti ia punya peluang ketika Mo Wendao sudah kelelahan.
Namun kenyataan pahit terjadi di depan mata, Yu Feifei hanya satu jurus sudah terlempar keluar panggung!
“Keduapuluh dua!” hitung Mo Wendao.
Itu berarti sudah ada dua puluh dua orang yang kalah. Siapa yang akan jadi yang kedua puluh tiga?
Mo Ling?
Itulah yang paling mungkin.
Namun, di luar dugaan, seseorang melompat ke atas panggung.
“Aku akan menantangmu!” seru Du Yang yang baru saja naik.
Tadi Yu Feifei sudah menantang Mo Wendao, jadi dari tingkat delapan tubuh fisik hanya tinggal Du Yang yang belum melawannya.
“Du Yang sudah tak bisa menahan diri!” gumam seseorang.
“Kira-kira bisa bertahan lebih dari satu jurus tidak?”
“Entahlah!”
Banyak orang mulai membicarakan Du Yang yang naik ke atas panggung.
Mereka ingin tahu apakah Du Yang lebih baik dari Yu Feifei, dan apakah ia bisa memecahkan rekor satu jurus Mo Wendao.
Melihat Du Yang naik, harapan Mo Ling kembali bangkit. Ia berharap Du Yang bisa bertahan beberapa jurus, setidaknya menambah waktu. Ia sudah merasa bahwa bertahan beberapa jurus sudah bagus, mengalahkan Mo Wendao tampaknya mustahil.
“Kau seharusnya tidak naik ke panggung,” kata Mo Wendao sambil menggeleng.
Ini adalah sebuah kenyataan menurut Mo Wendao. Du Yang seharusnya orang yang cerdas, kenapa malah menantang?
“Aku tak punya pilihan,” Du Yang tersenyum pahit.
Melihat Yu Feifei dikalahkan hanya dengan satu jurus, ia tidak merasa dirinya lebih baik. Tapi ia juga ingin mencoba, apakah ia bisa bertahan lebih lama dari Yu Feifei.
“Seperti keinginanmu!” Mo Wendao tidak banyak bicara.
Lawan ingin menantang, maka ia akan memenuhi keinginan itu. Namun, Mo Wendao tetap berniat mengalahkan lawannya hanya dengan satu jurus.
“Hati-hati!” Mo Wendao mengingatkan dengan tulus.
Gaya Membalik Bumi!
Mo Wendao langsung mengeluarkan jurus kedua dari Tiga Jurus Langit.
Setelah diperbarui oleh Mo Wendao, kekuatan Tiga Jurus Langit sudah jauh meningkat. Gaya Membalik Bumi bahkan sulit ditahan oleh tingkat sembilan tubuh fisik biasa.
Alasan Mo Wendao memakai Gaya Membalik Bumi, karena dengan bantuan Mutiara Roh, ia tahu kekuatan Du Yang tidak sesederhana tingkat delapan tubuh fisik, melainkan setara tingkat sembilan.
Sebagai bentuk penghormatan pada lawan!
Serangan balasan Du Yang tidak membuahkan hasil, ia tetap saja dikalahkan Mo Wendao hanya dengan satu jurus.
“Sampai jumpa lain waktu!” ujar Du Yang sebelum meninggalkan panggung.
Namun, melihat Mo Wendao mengeluarkan Gaya Membalik Bumi, ia pun sadar akan perbedaan kekuatan mereka.
“Keduapuluh tiga!” Mo Wendao menghitung lagi.
Sambil ia menatap Mo Ling, ingin tahu siapa lagi yang akan ia kirim ke atas panggung.
“Apa yang harus kulakukan?” Mo Ling sangat gelisah.
Dua orang barusan, naik ke panggung lalu langsung kalah dalam satu jurus. Kalau ia naik, juga tidak akan jauh berbeda.
“Keduapuluh empat, siapa berikutnya?” suara Mo Wendao bergema ke seluruh arena.
Ia tidak tahu, setelah contoh Yu Feifei dan Du Yang, siapa lagi yang ingin maju untuk jadi korban.
“Tampaknya aku harus naik sendiri!” Mo Ling menghela napas.
Memang, ia tidak punya pilihan lagi. Di sekelilingnya, dalam radius lima meter, tidak ada seorang pun yang tersisa.
Bagaimanapun juga, dua puluh tiga orang sebelumnya semua kalah dalam satu jurus, siapa yang mau jadi korban berikutnya?
“Aku menantangmu!” seru Mo Ling sambil melompat ke atas panggung.
“Sebelum bertarung, aku ingin menanyakan sesuatu!” Mo Wendao berkata dengan tegas.